Kopi Cirkunsum

Beredar di 3 wilayah dan dapat 3 kopi.

Photo : kopi tahu / dokpri

CIMAHI, akwnulis.com. Nulis tentang kopi memang membuat inspirasi tidak pernah berhenti. Meskipun bukan kopi dalam arti sebuah sajian kopi, tetapi tetap unsur kopinya menjadi bagian utama dalam drama kehidupan ini.

Minggu lalu, perjalanan raga ini beredar di wilayah Ciayumajakuning.. eh minus indramayu tapi ditambah sumedang. Berarti ke wilayah Cirkunsum… ah kamu mah bikin singkatan seenaknya banget.

“Lha… knapa ada yang sewot?”

Sebuah singkatan bertujuan mempermudah mengucapkan serta membuat menempel di memori lebih lekat. Meskipun terkesan lebay. Contohnya : GoimJekisam (Goreng Ikan Mas Jeruk Sunkist sambel)… itu khan seena’e dhewe… tapi khan jadi unik. Bener nggak?

Lupakan dulu singkatan-singkatan, sekarang kita bahas perjalanan ke wilayah Cirkunsum.

Pertama, Kopi Tahu (Tofu coffee)
Nah apa itu?… nggak usah pake mikir, ini hanya sajian kopi hitam tanpa gula ditemani tahu sumedang sepiring lengkap dengan cabe rawit (cengek) yang digoreng sebentar. Rasanya nikmat, sruput kopi, am tahu sumedang yang masih hangat dan empuk… nikmaat.

Mana lontongnya?….” Demi alasan pencitraan, maka lontongnya tidak tersaji pada gambar hehehehehe. Sajian ini hadir di daerah Ujungjaya Kabupaten Sumedang.

Photo : Kopi buah / dokpri.

Kedua, Kopi Buah (fruit coffee)
Kalau ini tersaji di daerah Beber Kabupaten Cirebon. Kopinya tetap kopi hitam tanpa gula, yaa kopi kapal api juga nggak apa-apa. Lagian sebagai tamu nggak sopan dong kalau minta pribumi nyiapin kopinya manual brew dengan metode V60 dan beannya arabica wine.

Nggak lucu atuh.

Maka cara terbaik adalah nikmati dan syukuri, terus buat kombinasi, photo dan jangan lupa bikin singkatan. Ini namanya Kopi Burusak (ramBUtan jeRuk SAlaK)…. kerasa khan maksanya?…. tapi jikalau ada komplen, saya terima. Tinggal edit dikit dan berubah, khan ini blog pribadi… lagian daripada share berita hoax mendingan bikun tulisan di blog pribadi dan… share. Bener nggak?

Photo : Kopi Luwak lieuk / dokpri.

Ketiga adalah Kopi Luwak lieuk (coffee alone).
Apa itu?…
Kopi ini tersaji di Wilayah Kuningan. Kopi luwak sachet… di klaimnya kopi luwak asli. Ya gpp… sruput aja. Urusan kualitas rasa.. ya pasti beda dengan hasil metode manual brew yang bersih tanpa ampas. Nah untuk namanya ‘Luwak lieuk‘ itu merujuk ke bahasa sunda ‘Luak lieuk’ atau culang cileung… eh masih sundanesse… artinya nengok kanan kiri dan ke segala arah karena merasa sendirian.

Naah… kopi luwak ini merasa sendirian karena tidak ditemani sajian lainnya hehehehehe.

Begitulah muhibah kopi ke 3 kabupaten di Jawa barat ini.

“Jadi kamu jalan-jalan itu cuman buat nulis kopi?”

Jawabannya jelas : BUKAN. Saya beredar dan berjalan-jalan ini karena tugas pekerjaan yang harus dikerjakan seiring peralihan tugas yang baru. Nah tulisan kopi ini sebagai bumbu penyemangat bahwa ada sisi lain perjalanan dinas yang bisa di eksplorasi.

Jalani, rasakan, tulis, dan nikmati…. secara keseluruhan.. jangan lupa Menikmati.

Dont forget, my blog principle is Simple Story With Simple Language (SSWSL). Wassalam (AKW).

MAKMUM SHALAT *)

Pengalaman pertama berjamaah sholat magrib di rumah dinas camat.

Photo : Sajadah tergelar / dokpri.

*)Sebuah cerita belasan tahun lalu, di ‘rumah dinas camat’.

Shalat magrib perdana di kost-an baru yang gratis terasa begitu syahdu. Rasa syukur begitu mendalam karena dapat tempat kost-an yang luas, deket banget kantor dan yang paling mantap adalah free of charge alias gratis.

“Kok bisa?”

“Alhamdulillah, rumah dinas camatnya nggak dipake. Jadi digunakan buat yang belum punya rumah atau tinggalnya jauh”

“Ohhh… iya bagus kalo gitu mah”

Tadinya mau ke mesjid yang terletak di seberang kantor, agak menanjak dikit. Tetapi hujan besar begitu mendera, ya sudah sholatnya disini saja.

Tuntas mandi terus berwudhu, terasa badan segar hati tenang. Setelah berpakaian lengkap dengan sarung dan kopiah, sajadahpun tergelar diatas karpet merah di sudut ruang tamu yang difungsikan menjadi mushola sementara.

“Allahu Akbar…”

Takbirotul ihram terdengar menggema, awalan sholat magrib yang penuh sukacita. Sendirian memang, karena ini hari libur, minggu malam. Petugas piket 2 orang berada di kantor kecamatan, sisanya tentu bersama keluarga masing-masing atau dengan aktifitas lainnya. Nah besok senin pagi, barulah ramai kembali. Bekerja bersama melayani kepentingan masyarakat, bangsa dan negara ahaaay… merdekaaa.

Bacaan Alfatihah terasa syahdu, baca sendiri dan dengarkan sendiri. Jadi nilai bagusnya subjektif, ya nggak apa-apa khan?

“….. waladdollliinn”

“Amiin” suara makmum di belakang, membuat sedikit terhenyak. Sambil melanjutkan bacaan doa Surat Alkafirun, hati sedikit bertanya, “Siapa yang makmum?”

“Mungkin anggota satpop pp yang sedang piket, nyempetin ikut berjamaah” asumsi itu muncul karena pintu depan rumah dinas camat ini dibiarkan terbuka. Jadi yang mau masuk, ya tinggal masuk.

Di rakaat kedua, pembacaan surat Alfatihah ‘di aminkan‘ kembali oleh sang makmum, alhamdulillah berarti shalat magribnya bisa Jamaahan.

***

Rakaat ketiga terasa tenang, karena tidak ada prosesi ‘Aamiin’, yang pasti terasa tidak sendirian karena ada yang menjadi makmum.

“Assalamualaikum….. “ Attahiyat akhir telah selesai dan ucapan salam menjadi penutup shalat magrub kali ini. Wajah menengok ke kanan dan ke kiri.

Pas inget, tadi ada yang ikutan sholat, penasaran ah. Sebelum dilanjut dzikir reflek menengok ke belakang.

“Eh kirain siapa, ………”

Itu kata-kata yang akan keluar dari mulut ini, karena terbayang staf satpol pp yang piket berseragam lengkap sedang duduk bersila di belakang.

***

Tapi……

Ternyata tidak ada siapa-siapa, sesaat kucek-kucek mata sambil berdoa, “Astagfirullohal adzim…….. Jangan-jangan…. hiiiy”

Bulu badan (bukan bulu kuduk aja lho guys, tapi sebadan-badan) terasa meremang. Suasana sepi sesaat menyergap, segera membaca doa-doa yang dikuasai, serta tak lupa memohon perlindungan Allah SWT.

***

Menuntaskan rasa penasaran, segera bergegas keluar dari rumah dinas menuju kantor kecamatan yang berada tepat disamping bangunan. Terlihat Kang Yayan dan Pak Itang sedang duduk depan televisi sambil sesekali bercanda tawa.

“Tadi ada yang ngemakmum pas solat magrib di rumah dinas?”

Keduanya serempak, “Enggak pak, eh maaf belum sholat magrib” cengengesan, seolah kepergok belum sholat. Aku termangu, diam membisu.

“Ya silahkan solat dulu, biar saya piket sementara”

“Siappp Boss!”

***

Akhirnya malam itu, jadi ikutan piket dan bobo bersama para petugas piket kantor kecamatan. Ngariung tidur di tengah kantor. Wassalam (AKW).

RUMAH DINAS CAMAT

Cerita masa lalu di saat mengawali karier di kota leutik camperenik.

Photo : Kota Sumedang dilihat di puncak Toga / Dokpri.

Penugasan menjadi seorang Amtenaar*) muda di sebuah kecamatan dengan memegang jabatan perdana terasa begitu membanggakan.
Sebuah amanah jabatan dalam struktur yang pertama, dimana sebelumnya berkutat dengan jabatan fungsional pelayanan pimpinan.

Sebuah kebanggaan tiada tara, karena meskipun jabatan adalah sebuah tanggung jawab besar. Tetapi secara manusiawi tetap tergoda untuk merasa senang atau mungkin mendekati area kesombongan. Maafkan aku, karena jiwa muda yang masih bergejolak dan jam terbang kehidupan masih terbatas.

Hari kedua setelah dilantik oleh Bupati secara massal di sebuah Gedung olahraga, bergegas menuju kantor kecamatan yang dituju. Sebuah kecamatan yang berada di wilayah Kota Sumedang yaitu Kecamatan Sumedang Selatan.

***

“Selamat pagi pak, kalau Bapak Camatnya ada? Saya mau menghadap”

“Silahkan isi buku tamu dulu pak, ada keperluan apa?”

Sepenggal dialog dengan petugas depan berseragam Satpol PP menjadi pembuka cerita pagi itu, di kantor yang baru. Sembari memperhatikan suasana kerja di kecamatan, rasa senang kembali menyeruak di dada, “Ini pasti uforia jabatan.”

Ruang tunggunya adalah bangku panjang yang juga digunakan untuk masyarakat yang mengajukan berbagai keperluan administratif. Di depanku, para petugas terlihat serius mengerjakan tugasnya masing-masing, baik menulis di buku-buku besar ataupun tenggelam di depan monitor komputer yang dilengkapi printer dengan suara khasnya. Begitupun suara mesin tik yang menandakan suatu proses pelayanan sedang berjalan.

“Silahkan masuk pak, Bapak Camat sudah menunggu”

Sebuah sapaan sopan yang membuyarkan lamunan, segera beranjak mengikuti langkah anggota Satpol PP menuju ruang kerja Camat.

***

Selamat datang, selamat bergabung……. dst”

Penyambutan ramah dari Pak Camat membuat penyesuaian di tempat baru ini bisa lebih akseleratif. Diskusi ringan diselingi petunjuk kerja dan kebiasaan disini, menjadi pedoman langkah untuk memulai bekerja lebih giat.

Fasilitas kerja berupa ruang kerja dan motor dinas edisi sepuh juga ada, termasuk jika mau menggunakan rumah dinas camat sebagai tempat kost dipersilahkan, ini yang menarik, yang menjadi pangkal cerita dalam tulisan ini, cekidot.

–**–

RUMAH DINAS

Rumah dinas camat ini berada tepat disamping kiri kantor kecamatan, pasti begitu, dengan tujuan agar seorang camat bisa dengan cepat mememuhi tugas dalam memberikan pelayanan terbaik kepada warga atau rakyat yang ada di wilayahnya.

Nah khusus di Kecamatan Sumedang Selatan ini, Camatnya tidak menempati rumah dinas karena rumahnya memang deket ke kantor, bukan hanya camat yang sekarang tetapi juga camat-camat terdahulu.

Jadi rumah dinas ini lebih dimanfaatkan untuk ruang penunjang kegiatan kecamatan, seperti untuk rapat-rapat ataupun ‘botram’,

“Are you know botram?”

Itu tuh makan-makan barengan dengan menu tertentu atau terkadang alakadarnya. Masak bareng-bareng di sela kerja, trus dimakan bersama seperti nasi liwet, jengkol, pete, kerupuk dan jangan lupa sambel dadak terasi plus lalapan, juga tahu tempe plus asin, nggak lupa ayam goreng, gurame bakar pais lele, gepuk juga sayur lodeh…. halaah party atuh ini mah.

Kembali urusan rumah dinas, tentu gayung bersambut. Diriku butuh penghematan dengan gaji terbatas, sehingga dengan menggunakan rumah dinas ini maka biaya kost bisa dihapus. Di tahun 2005, uang 300 ribu itu sangat berharga. Biaya kost 1 bulan bisa ditabung demi masa depan, hahaay. Klo nggak salah gaji tuh 1,1jt atau 1,3juta. Pokoknya penawaran kost gratis di rumah dinas ini adalah kesempatan emas, titik.

Nggak pake lama, segera beres-beres di kost yang lama dan kebetulan tinggal 3 hari lagi. Nggak terlalu banyak barang karena memang hanya seorang anak kost perantauan, cukup satu tas gendong besar dan 1 tas jinjing. Sama 2 dus buku-buku dan pernak-pernik. 2 kali balik pake motor juga selesai.

Dengan dibantu kawan-kawan baru di kecamatan, hari sabtu menjadi momen beberes rumah dinas agar layak digunakan. Kamar depan di setting sebagai kamar kostku, sementara 2 kamar lainnya difungsikan sebagai gudang tempat penyimpanan barang-barang inventaris kantor, meskipun untuk kamar darurat masih bisa difungsikan.

Lantai ruang tengah dibersihkan, di sikat dan dipel bersama-sama, lalu dipasang plastik dan terakhir karpet kantor. Sebagian dipasang satu set meja kursi dan diujung depan kamar dibuat menjadi mushola darurat, cukup buat 15 orang berjamaah.

Kamar mandi dalam diperbaiki, minimal ada air yang bisa digunakan mandi cuci kakus. Sementara kamar mandi belakang, dapur dan ruang gudang belakang praktis tidak digunakan karena kondisinya memprihatinkan.

Tapi itu nggak masalah, lha wong bujangan. Makan tinggal beli ke warung depan atau nebeng sama pegawai kecamatan klo makan siang. “Asyik khan?”

Esok harinya, aku mulai tinggal di rumah dinas camat itu. “Bismillahirrohmaniirohim…”

***

*)Amtenaar : pegawai negeri.

Cerita selanjutnya tentang rumah dinas ini segera dirilis. Wassalam (AKW).