Kopi Spesial Pangersa Cilame.

Menikmati kopi spesial winewine

SOREANG, akwnulis.com. Sebuah perjalanan kali ini cukup menantang karena ternyata meskipun dekat dari kota bandung apalagi setelah ada akses jalan tol soroja, maka durasi tempuh semakin singkat. Ya sedikit tersendat di jalan layang paspati adalah hal biasa, tetapi terbayarkan dengan kelancaran dikala memasuki pintu tol pasteur hingga keluar pintu tol soreang.

Dari pintu tol soreang perjalanan dilanjutkan menuju arah ciwidey dengan kondisi lalulintas cukup padat tapi lancar atau istilahnya RAMLAN (ramai lancar). Tepat di daerah Cilame, maka ambil jalur kanan dan tantangan dimulai. Jalan cukup sempit serta kondisi mulus – mulus berbatu, turun menikung seperti menuju dasar bumi lalu berkelok menanjang tiada henti dengan samping kiri adalah terbuka. Menyusuri lereng bukit yang memiliki pemandangan menyegarkan namun harus ekstra hati-hati mengemudi karena kemungkinan perewis eh pasalingsingan… berpapasan maksudnya dengan kendaraan berlawanan maka perlu perlahan atau bergantian karena kondisi jalan yang lebarnya pas pasan, kanan tebih dan kiri jurang. Wow pokonya mah.

Sebelum berangkat dan memenuhi undangan ke tempat ini sempat nggak nyadar bahwa lokasinya di daerah kecamatan Kutawaringin Kabupaten Bandung. Karena yang penulis ketahui bahwa daerah Cilame itu di sekitar padalarang perbatasan antara Kabupatun Bandung Barat dan Kota Cimahi, eh ternyata salah. Ini daerah Cilame yang berada di Kabupaten Bandung tepatnya di Kecamatan Kutawaringin dan melewati dulu daerah kecamatan Soreang.

Pendakian terus berlanjut, mobil meliuk melahap belokan dan tanjakan yang seolah tak berakhir. Tapi tenang kawan, semua pasti ada akhirnya. Jadi jalani saja dan gas terus, eh gabung sama injak rem yaa.. kombinasi gerakan kaki serta kedua tangan mengendalikan kemudi adalah sinergi dari pengemudi adalah sebuah keahlian yang dinamakan ‘bisa ngopir.’

Betul juga, akhirnya kondisi jalan agak melandai dan tiba di lokasi, sebuah bangunan permanen yang berdiri megah disamping bukit dengan pemandangan alam ciamik. Pemilik rumah atau villa inilah yang mengundang kehadiran kami dan memberikan suguhan spesial. Sajian kopi super spesial yang sementara tanpa label resmi. Biji kopi yang dihasilkan setelah diproses dan diroasting hingga siap digrinder diberi label KOPI PANGERSA. Tetapi yang disajikan ini berbeda, sebuah cairan bening kecoklathitaman yang memiliki keharuman cukup tajam.

Ini kopi apa namanya Abah?”

Kami memanggil sang pemilik villa dengan sebutan Abah, panggilan khusus kepada beliau.

Jangan banyak komentar, ayo cicipi dulu” Abah menjawab sambil tersenyum dan menuangkan sajian kopi super spesial ini ke gelas – gelas kecil untuk segera dinikmati bersama.

Wah keharumannya begitu semerbak, lalu tak pake lama disruput bersama. Mata terbelalak sedikit tak percaya, karena rasa kopinya luar biasa. Ada rasa wine yang mencengangkan (dalam makna sebenarnya) eh malah lebih wine serta keasaman tingkat dewa serta rasa manis yang mengigit plus begitu hangat menyapa rongga mulut, makin penasaran tentang cairan kopi apa ini.

Enak pisan, kopi apa ini Bah?”

Ini belum dikasih nama, tapi hasil experiment abah dengan melakukan fermentasi sederhana dari cairan kopi yang diproses serta disimpan selama kurang lebih 4 bulan lamanya”

Euleuh…. kembali mata terbelalak, kaget disaat mendengarkan tentang proses pembuatannya. Ternyata begitu sulit dan lama, tapi memang setimpal dengan rasa yang ada.

Betapa prosesnya betul – betul harus telaten dan dilakukan seseorang yang memiliki jiwa seni. Karena mulai dari proses awal memanen biji mentah kopi atau ceri. Dipilah dan dipilih dengan cara memasukan ke kolam, lalu yang mngambang dibuang dan biji yang terpilih yang lanjutkan proses penjemuran eh pengeringan. Proses penjemuran juga kembali disortir dengan kasat mata melihat ukuran dan dites kembali dengan merendam di air lalu dijemur kembali hingga memenuhi standar yang diharapkan.

Barulah memasuki tahapan roasting dan dihasilkan biji sempurna siap dilakukan penggrinderan (penggilingan) dengan mode giling kasar lalu dilakukan penyeduhan manual menggunakan corong dan filter V60 untuk mendapatkan cairan kopi yang akan menghadirkan kenikmatan. Ternyata proses berlanjut, kumpulan seduhan manual brew V60 ini dilakukan proses fermentasi yang tentunya perlu trial and error berulang kali hingga akhirnya didiamkan pada suhu kamar selama murang lebih 4 bulan lamanya.

Proses penyulingan dalam fermentasi ini tidak dijelaskan detail oleh Abah, tetapi kemungkinan tingkat kerumitan dan kesabarannya itu yang menjadi dasarnya. Ini perlu seni, ketelitian, ketelatenan dan jelas modal karena biji kopinyapun terbaik, prosesnya panjang serta alat fermentasi dan penyulingan yang customize. Maka cara terbaik adalah bersyukur dan berterima kasih karena mendapatkan kesempatan langka bisa menikmati sajian kopi yang luar biasa.

Perjalanan pendakian dan liukan tajam tanjakan telah terbayarkan dengan sajian kopi ‘ajaib’ yang menghangatkan badan serta mempererat silaturahmi plus keakraban perbincangan sore hari ini. Sambil bersendagurau, memandang hamparan daerah kabupaten bandung serta tidak lupa ikut menyumbangkan lagu (maksudnya mencoba bernyanyi ternyata yang keluar suaranya sumbang hehehehe) karena hadir juga grup band yang sedang berlatih di basement villa ini. Oh ya sekaligus informasi bahwa Abah ini selain ahli meracik kopi spesial juga drummer handal yang begitu memukau.

Begitulah celotehan dan pertemuan dengan sajian kopi spesial kali ini. Sekarang harus pamit karena mentari mulai beranjak ke peraduan, sehingga perjalanan menuruni bukit perlu lebih hati-hati karena licin dan berkabut. Tapi rasa kopi spesial cilame ini terus membayangi, tapi tetep harus pulang. Hayu ah, go. Wassalam (AKW).

Arabica Puntang – Warsun.id

Bersua dengan kenyataan dan se cangkir kopi mini

SOREANG, akwnulis.com. Semilir angin sore menyapa raga tanpa basa-basi ditemani rintik hujan yang menyegarkan keadaan. Lalu lalang kendaraan terasa tenang tanpa teriakan klakson yang mengganggu pendengaran. Semua terlihat nyaman dengan keadaan masing – masing.

Tetapi ternyata masih ada yang tertatih dan belum berdamai dengan keadaan, perlahan mendekat dengan tatapan sayu dan badan lusuh, tentu di lengkapi aroma kesulitan yang dijalani sehari-hari. Dalam hati ingin membantu dengan segepok uang agar segera merubah kehidupan, tapi apa daya dengan segala keterbatasan. Hanya selembar uang ungu yang mewakili perhatian, semoga tawakal dan selamat menjalani kehidupan.

Setelah menghilang dari pandangan, giliran waitres yang sudah hadir di depan dengan senyum manisnya, “Silahkan scan barcode untuk menunya kakak”

Cekatan jemari lentik membantu scan dan memilihkan menu makanan serta minuman dan tanpa banyak cingcong pilihannya adalah sajian kopi hitam tanpa gula yang bakal menjadi obat bengong.

Pilihan kali ini jatuh kepada arabica puntang, si kopi legendaris dari bandung selatan. Di minta dibuat dengan manual brew V60, tentunya dengan panas yang tepat yakni aliran 92 derajatan.

Sambil termangu menanti sajian kohitala arabica puntang, kembali hadir seorang ibu muda menggendong anak bayi dilengkapi kotak speaker lengkap dengan mic untuk ber solo karaoke dangdutan.

Tak banyak tanya, sebuah lembaran coklat berpindah tangan dan dengan sumringah diterima tanpa banyak tanya lalu pergi dengan tergesa.

Silahkan kaka, kopinya” Sebuah suara renyah membuyarkan lamunan. Dibalas dengan senyuman tulus terima kasih. Alhamdulillah sudah tersaji kopi hitam tanpa gula dengan manual brew V60.

Tanpa banyak diskusi maka kopi di bejana berpindah ke gelas kecil putih dan langsung dinikmati… srupuuut.. nikmaat. Bodynya tebel dan  aciditynya setrong dilengkapi arima khas dan aftertastenya adalah fruity dan selarik nangka plus kacang tanah… segerrr.

Betapa sebuah nikmat tidak harus di tempat yang super mewah, tetapi cafe biasapun bisa hadirkan rasa, tinggal bagaimana kita bisa memaknainya.

Sruput lagi…. segaaar. Kembali memandang ke luar dan lalu lintas terasa begitu lengang serta rintik hujan telah hilang berganti siluet pelangi penuh harapan. Wassalam (AKW).

***

Lokasi : Cafe Warsun.id – Soreang.

Old Coffee Soreang.

Suasana panas, mening ngopay dulu biar cekas.

Photo : Arabica gambung honey V60 / dokpri.

SOREANG, akwnulis.com. Setelah beberapa waktu tidak menampilkan tulisan tentang kopi, tibalah saatnya untuk kembali menikmati suasana sambil menyeruput sajian kopi kohitala.

Kali ini kopi yang dihidangkan adalah kopi arabica gambung dengan metode honey process. Sang Barista Andri, memainkan komposisi 1 : 10 dengan gramasinya 18gr bean dipertemukan perlahan tapi pasti dengan air panas 85° celcius.

Photo : Ornamen cafe sebelum masuk / dokpri.

Hasilnya sebuah sajian apik dengan botol server dan gelas kecil. Nggak pake basa-basi langsung disruput aja sendiri… rasanya ada manis-manisnyaa gitu.. manis gula merah berpadu dengan acidity medium berry-berry an juga body yang cenderang bersahabat, nggak memberi suasana ninggal yang dahsyat.

Ornamen dari mulai luar, lalu masuk ke dalam cafe maka berserakanlah barang-barang masa lalu, ada televisi yang berada diatas lemari jadul, sepeda yang tergantung di dinding dan Lampu Petromak memberikan suasana masa lalu yang kental dan memiliki karakter kesederhanaan.

Photo : Suasana Cafe / dokpri.

Oh iya nama kafenya cocok banget, yaitu old Caffee Soreang, berlokasi di seberang pintu masuk ke kantor samsat eh Kantor pusat pelayanan Bapenda Jabar wilayah soreang, yakni jalan Jl. Gading Tutuka I No. 68 Soreang.

Selamat ngopay kawan-kawan, apalagi siang panas terik gini… maka javanese arabica atau es kopi yang akan memberi sensasi kesegaran tiada tara. Wassalam (AKW).

***