Tepukan & Gigitan.

Perlu ketenangan dalam memberikan tepukan…

COBLONG, akwnulis.com. Kedatangannya yang senantiasa tidak terduga. Dengan kemampuan menyelinap yang luar biasa, mampu hadir tanpa ada suara, itulah dia.

Tetapi kali ini berbeda, kehadirannya tanpa sengaja tertangkap sensor deteksi ujung mata. Sehingga dikala tiba dan akan melakukan aksinya, harus gagal akibat sebuah gerakan cepat berupa tepukan.

Yup, tepukan kawan. Tidak harus dengan sepenuh tenaga. Tetapi cukup liukan ringan yang mampu memberi hantaman tak terperi. Seperti tajamnya lidah melebihi runcingnya cutter manakala berhasil menyayat hati.

Maka berhati-hatilah dengan tepukan dan ucapan, terkadang tidak sengaja tetapi menciderai perasaan dan mengendapkan dendam tak berkesudahan.

Satu hal lagi, terkait kehadirannya yang penuh rahasia. Terkadang memang mengesalkan dan tentu mengagetkan, tetapi diwaktu yang lain muncul kerinduan dengan dengungan yang khas dan menjadi kawan manakala kesepian mendera. Meskipun mayoritas kehadirannya akan dihadapkan dengan pilihan yang sulit, ditangkap, ditepuk atau malah dipukul hingga jatuh tak berdaya atau malah hancur tak berbentuk karena himpitan dua telapak tangan.

Karena, jika tidak ditepuk maka kemungkinan besarnya mengigit. Akibatnya jelas sekali, minimal gatal dan bentol atau yang lebih parah adalah membawa penyakit yang merugikan bagi tubuh dan sekitarnya. Hingga membuat kita pingsan dan tak sadarkan diri.. eh sama aja ya?, karena penyakit yang disebabkan gigitannya.

Oh ini teh cerita tentang nyamuk ya?” Sebuah tanya menyeruak diantara dengungan yang bersuara.

Ya memang cerita tentang nyamuk, semoga sebuah cerita singkat ini memberi warna dalam kewaspadaan menjaga kesehatan raga dan kewarasan jiwa”

Maka silahkan menepuk, tapi kalau bisa dengan perasaan. Sehingga sang nyamuk jatuh tak berdaya tapi tidak hancur tanpa sempat menggigitkan jarum yang dimilikinya pada kulit kita. Karena perikenyamukanpun harus kita pegang teguh prinsipnya selain tentu nilai-nilai perikemanusiaan.

Selamat menepuk nyamuk dan menghindari gigitannya. Happy Weekend guys, Wassalam (AKW).

Shalat bermusik

Ini bukan jenis shalat yang tak sesuai tuntunan agama lho, tapi shalat yang dihiasi lantunan nada.

“Allahu Akbar.. Allaaaahu Akbar”, pembuka adzan dhuhur menggema. Menjadi seruan wajib bagi umat muslim, untuk segera meninggalkan urusan dunia dan meninggalkan kepentingan lain demi berbakti kepada Illahi Robbi.
Berwudhu dengan syahdu, Tahiyatul masjid dan sholat qobla menjadi pembuka. Barisan jamaah semakin tertata untuk bersama-sama sholat dan berdoa.

“Allahu Akbar…”, Takbiratul ihram dipimpin Imam sholat begitu damai, suasana hening dan sedikit suara tarikan nafas para jemaah, memberikan nuansa kepasrahan yang kaffah. Semua terlarut dalam khusyunya

***
“Di suaa…tu hari tanpa sengaja…”, suara Anji dengan iringan musik yang akrab di telinga memecahkan konsentrasi menjadi kepingan debu kegalauan yang mengoyak keheningan rakaat kedua shalat dhuhur berjamaah ini. Disaat sedang berusaha melaksanakan sholat se-khusyu mungkin, tentunya berusaha konsentrasi untuk mencoba berserah diri. Ternyata harus buyar karena lantunan nada dan syair lagu yang pernah hits beberapa waktu lalu.

“Ah sialan, siapa tuh yang sholat ga silent dulu or matiin hapenya!”, gerutu dalam hati meluncur tanpa tertahan. Hancurkan ketenangan dan hasilkan kegundahan. Secara phisik dan realita, rakaat selanjutnya tetap terlaksana tetapi nilai hakiki dan makna sholatnya sudah berbeda.

Yakin juga bukan diri ini yang terganggu dan terbuyarkan konsentrasi, tetapi juga jamaah sholat lainnya termasuk Imam sholat, entahlah.

Ingin sekali mendatangi orangnya, omelin ampe puas supaya kapok tuh. Tapi… apa menyelesaikan masalah?

Keselnya lagi, sebelum sholat khan udah ada pengumuman, “Perhatian para hadirin jamaah shalat dhuhur, bagi yang membawa alat komunikasi agar mematikan handphonenya atau mode agar tidak mengganggu khidmatnya ibadah shalat.”

Juga pengumuman dalam bentuk tulisan yang ditempel di dinding mesjidpun ternyata tidak cukup untuk menjadi pengingat.. Grrrrrrr.. sebbel dech.

***

Ada ide juga agar DKM disarankan beli alat pengacak sinyal telepon pada area masjid khususnya area sholat sehingga tidak ada panggilan masuk selama di mesjid. Pengennya nyumbang, tapi kayaknya belum kesampaian duitnya trus DKMnya jangan-jangan nggak bisa ngoperasikan.

Sebagai langkah sederhana, ya mulai dari diri sendiri dulu dech. Pertama pastikan Smartphone ini mode silent atau posisi mati disaat akan beribadah sholat di mesjid. Atau kalau bisa simpen di ruangan aja nggak usah dibawa sholat, dengan syarat beres sholat bergegas ke ruangan untuk ambil HP.

Soalnya pernah nyoba 3 hari, sholat nggak bawa HP disimpen di ruang kerja. Lakadalah.. beres sholat asyik ngobrol sama temen dan pa ustadnya sampe lebih dari 1 jam. Nyampe ke ruangan, tanda miscall ada 10x dari bos dan beberapa rekan… ternyata ada rapat mendadak dan perlu bahan. Akibatnya ya terbayang… keburu-buru kesana kemari dan telat hadir rapat, nasib.. apes dech.

Ah udah ah… pokonya bagi yang baca ni tulisan, dimohon bingiit buat muslim yang moo ibadah sholat berjamaah.. please luangin waktu 5 detik nengok HP, switch ke mode Silent baru wudhu atau masuk ruangan mesjid. Urusan pas sholat ternyata masih ada HP yang berdering…. ya minimal bukan HP kita.

Trus ingetin kawan kanan kiri supaya aware dengan HP masing-masing.

***

“Allahu akbar… Allaaahu Akbar…..” Adzan Ashar memanggil, bergegas raga ini menuju mesjid. Nggak lupa mode silent dulu HP kesayangan baru wudhu dan memasuki ruang dalam mesjid untuk bersiap shalat ashar.

***

Rakaat ketiga, “I will always loveee youuu… kekasihku….” Suara sahdu Pasya Ungu kembali menggetarkan kedamaian, jelas berasal dari shaf kedua.

“Astagfirullahal adzim….. .”

Bandung, 010318. (AKW).