Kopi D’Journey.

Sajian kopi tubruk yang…

Photo : Manual brew Kopi D’Journey / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Jalan Supratman Kota Bandung relatif lengang ketika raga ini melintasinya. Jadi bisa relaks menyetir tanpa khawatir tiba-tiba ada yang mlipir. Mendekati nomor 44 terasa keinginan mampir semakin kuat, maka tanpa perlu banyak bersikap tapi berpikir cepat. Banting setir ke kiri dan masuk ke area kantor yang asri.

Ternyata feeling so good, disambut ramah oleh petugas resepsionis dan langsung diantar ke ruang bapak sekretaris.

Gayung bersambut lagi, beliau lagi relatif santai sehingga bisa leluasa berdiskusi dan menimba pengalaman dalam menjalani dunia birokrasi.

Hal yang lebih penting adalah suguhannya, meskipun beliau sedang shaum sunah senen-kamis tapi tetap ngegrinder-in biji kopi sendiri pake grinder manual yg stainless trus menyeduh manual dengan pola kopi tubruk dan disajikanlah…. kurang ajar ini tamu ya, udah tahu pribumi lagi shaum.. eh malah minta dibuatin kopi, maafkan kakanda.

Kopi yang disajikan adalah kopi jabar dengan kode west java P.88 hasil roaster D’Journey. Pastinya dengan diseduh tubrukpun tetap muncul acidity medium dan body mediumnya dengan after taste selarik citroen hadir meskipun akhirnya hilang kembali.

Diskusi berlanjut dan sruputan kopi tubruk semakin menyemarakkan pertukaran pendapat dan kalimat yang menghasilkan sebuah jalinan kesepahaman tentang konsepsi dan arti kolaborasi.

Hatur nuhun seduhan kopina pak, jangan kapok bikin kopi buat akyu…. ahaay ngarep. Wassalam (AKW).

Obat Ngantuk.

Obat ngantuk mujarab.

BANDUNG, akwnulis.com. Dikala malam merambat hingga tiba dipergantian hari, sang kantuk seolah menjauh dan menyisakan raga yang bugar sambil ditemani alunan musik populer melalui earphone kesayangan ini. Tak ada tanda-tanda mengantuk sehingga jari jemari lanjut mengetik dan sesekali menjawab pesan whatsapp yang masih muncul di layar laptop.

Jam 01.00 dini hari, segera beres-beres peralatan kerja dan beringsut ke peraduan, tidak lupa sikat gigi dahulu agar memberi kesegaran dan menjaga kesehatan. Ternyata mengantuk perlahan-lahan datang hingga akhirnya terlelap dalam dekapan ketenangan malam yang beranjak menuju awal pagi.

Itulah awalnya kejadian pagi ini, terbangun sahur dalam kondisi lulungu, lulungu itu adalah teu acan kumpul sukmabayuna… halah apalagi ini istilah, maksudnya…… terbangun dalam kondisi masih ngantuk dan belum konsentrasi penuh, jadi kayak orang bego, bingung bingung. Rasa kantuk masih kuat mencengkram sementara waktu sahur sudah mepet… maka melahap nasi dan kudapannya dengan terkantuk-kantuk….. siapa suruh begadang hayoooo…

Shalat shubuh dipaksakan harus terlaksana sebelum rasa kantuk ini menguasai raga. Semangaaat….. lalu bergeraklah ke kamar mandi seiring kumandang adzan yang terdengar dari kampung sebelah, untuk menyikat gigi dan berkumur dengan listerine rasa siwak (lha jadi iklan merk, padahal belum ada permintaan endorse… ya sudahlah… amal we)….. untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut, apalagi di bulan ramadhan yg lebih khusus wajib bermasker maka aura dari mulut semakin wajib dijaga hehehehe.

Ternyata…. obat ngantuknya ada di kamar mandi.

Tuntas menyikat gigi langsung sambar botol berisi cairan kuning terang dan dituangkan di tutup botolnya….

Baru saja lidah menempel di tutup botol obat kumur, “Kok ada yang beda ya?… ini aromanya lebih tajam dari biasanya tapi tidak asing baunya?”

Kena di lidah terasa ada rasa pahit yang mendera, padahal baru satu sentuhan lidah saja.

Photo : Listerine & Dettol Antiseptic / dokpri.

“Astagfirulloh…. fuih.. fuihhh….” ….Reflek mulut disemburkan…. eh cairan yang ada dilidah disemburkan keluar karena ada rasa panas yang mengintimidasi lidah. Segera berkumur dengan banyak air dan menyemburkannya di wastafel, ternyata air semburannya berubah menjadi warna putih.

Usut punya usut, yang dipakai berkumur memang cairan kuning emas bening persis seperti listerine, tetapi ternyata ini adalaaaaaah…. Dettol AntiseptikAlamaaaak……. langsung berkumur-kumur berukangkali dengan air hangat…. aduuuuh.

Akhirnya segera berwudhu dan bersyukur masih diselamatkan dari berkumur dengan cairan dettol… ya sedikit sih nyobain…. tapi nggak full setutup botol.

Hilang sudah rasa kantuk berganti kesegaran penuh waspada dan kekhawatiran takut ada efek samping lainnya. Sampai siang menjelang sore, mata tetap segar dan badan terhindar dari lemas, ternyata itu salah satu cara kecil Allah SWT untuk mengingatkan hambanya agar memgendalikan rasa kantuk dan tetapi bisa beribadah sebagai bentuk syukur kepada-Nya.

Sebelum keluar kamar mandi, langkah yang penting adalah memisahkan botol listerine dan dettol, karena meskipun isinya sama ternyata rasa dan gunanya agak jauh berbeda. Selamat berpuasa di hari ke18, Wassalam (AKW).

Perahu Layar.

Jadwal Ngasuh di hari Libur…

Photo : Perahu layar spidol / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Perlahan tapi pasti sang pagi sudah mulai bergegas menuju panasnya siang, sementara aku masih mengasuh anak semata wayang yang sedang senang-senangnya bermain dan membuat berantakan segala macam. Apalagi Ibundanya sedang berdinas, maka praktis waktu mengasuh adalah sebuah keharusan.

Usia 4 tahun lebih adalah usia anak yang sangat tidak mau diam, selalu penasaran, ingin mencoba apapun tanpa takut dengan dampaknya… lha iya maklum anak-anak. Maka orang dewasanyalah yang lebih waspada, melihat gerak geriknya.. atau sekalian melebur bermain bersama, tertawa dan membuat anak nyaman bermain tanpa merasa sedang diawasi.

Lagian kita sebagai orangtua pasti lebih jago donk untuk berperan sebagai anak kecil, karena kita semua orang dewasa pernah menjadi anak kecil, “Coba acungkan tangan yang lahir langsung tiba-tiba jadi dewasa?…..”

Photo : Perahu layar berpenumpang / dokpri.

Pasti nggak ada, nah sementara sepintar-pintarnya anak, mereka belum punya pengalaman menjadi orang dewasa, maka kita harus memakluminya.

Meskipun, terkadang emosi kita berbuncah, suara meninggindan teriakan yang berkibar manakala melihat anak kesayangan nakalnya bukan main, dari mulai tak mau diam, naik turun meja makan, numpahin air di meja, naik ke kulkas sendiri, ngawur-ngawur terigu, dan beragam aktifitas yang menggetarkan hati…. maksudnya menyedihkan hati maka semuanya adalah berpusat pada pengendalian emosi.

Contoh kesabaran orang tuaku dalam menghadapi kenakalan diriku, bisa di baca di Ngendok-Ramadhan. Betapa menjadi orangtua yang baik itu butuh perjuangan & kesabaran.

Photo : Spidol faber castle / dokpri.

Hari ini.. eh hari minggu kemarin, adalah bermain bersama anak dengan memanfaatkan spidol susun dari fable castle, awalnya hanya menggambar-gambar tetapi setelah bosan, tertarik dengan gambar di kotak tempatnya ternyata bisa dibentuk menjadi bentuk lain dengan disertakan 9 buah konektor plastik yang bisa merangkai spidol spidol ini menjadi bentuk yang menarik.

Tadaaa….. salah satunya adalah membuat perahu layar… setelah mengutak-atik dan mencoba-coba, akhirnya berhasil juga (bapaknya) bikin perahu layar dari spidol. Anak senang dan bapak senang, menjalani hari libur dengan bermain bersama sambil menunggu ibunda nanti pulang kerja. Wassalam (AKW).

Melepas Dendam – Ramadhan

Belajar memaknai shaum dengan umurku..

KBB, akwnulis.com. Terkadang hardikan kalimat bisa lebih tajam dari sebilah pisau yang tajam, menyayat ke ujung hati dan bertahan lama dibawah uluhati dan menjadikan dendam tak bertepi.

Halah bahasanya begitu mengerikan, emang mau cerita apa?... ”

Ah kamu mah, biarin atuh, lebay dikit. Daripada gabut nggak jelas mengerjakan apa di rumah maka mari bercerita tentang apa saja.

***

Siang itu, aku, asep, ilma, opik, agus dan adut bermain di area pasar selasa karena kebetulan sedang libur sekolah bulan ramadhan. Betapa menyenangkannya berlarian sambil tertawa-tawa, terlarut dalam permainan ‘ucing-ucingan‘ dan ‘ucing sumput’ (permainan petak umpet).

Klo permainan ucing-ucingan adalah satu orang jadi ‘ucing’ dan dengan hitungan 10 maka boleh mengejar mangsa dan menyentuhnya untuk menjadi ucing berikutnya, dan selanjutnya ‘ucing baru’ mengejar calon ucing selanjutnya dan selanjutnya…. pokoknya seruuu.. dengan kesepakatan tidak tertulis bahwa area pelariannya hanya sekitar pasar yang sedang kosong, karena hanya ramai di hari selasa saja (makanya namanya pasar salasa).

Saling berkelit, berlari secepat mungkin, gaya menghindar sekaligus naik ke atas bambu-bambu tempat penyekat los – los pasar hingga nyampe ke kerangka atap…. pokoknya nggak mikir jatuh, yang penting tidak kena sentuhan ‘ucing’ dan jadi ‘ucing berikutnya’.

Dari sekian banyak los pasar ini ada beberapa bangunan depan yang memang berpenghuni dan menjual dagangan baik sebuah warung Kang Uya, juga ada Tukang Jahit Mang Atang, termasuk tukang bubur Bi Eni dan satu lagi warung jual masakan… eh didepannya ada juga toko mebel ukuran kecil.

Nah keributan kami bermain, terkadang melewati aktifitas jual beli mereka, dan mayoritas tidak mengganggu, apalagi Mang Atang, meskipun kami masuk ke tempat jahitannya dan sembunyi dibawah mesin jahit, terkadang dilindungi… usut punya usut.. karena salah satu peserta aktif geng permainan kami adalah anaknya Mang Atang yaitu cep Ilma.

Ketika kami sedang melintas sambil agak merunduk di dekat warung Bi Eni, tiba-tiba, “Heeey, barudaak garandèng waè, arindit siah tong arulin wae didieu!!!’ Disèblok siah” (Hey anak-anak ribut melulu’ PERGiii.. jangan main diSINI!!!’ Akan saya siram yaa)….

Bagaikan halilintar menyambar pendengaran kami, membuat hati ini berdebar dan mata berkunang-kunang. “Kenapa bibi bertubuh besar ini marah-marah?”

Kami saling berpandangan, ini bukan permainan ucing-ucingan kami yang pertama, sudah sering dilakukan, kenapa baru sekarang menghardik dengan begitu keras, mengapa?

Permainan langsung break dan digelar rapat terbatas, otomatis status ucing dan non ucing gugur dengan sendirinya. Semua duduk melingkar di los D14 posisinya agak di belakang tetapi dasarnya sudah disemen sehingga enak dipake duduk dan mudah dibersihkan dari debu dan kotoran yang ada.

Ini tidak boleh dibiarkan”

“Kemerdekaan bermain kita sudah direnggut hari ini”

“Ayo lawan”

“Tunjukan kekuatan kita”

Wah betapa heroik kami semua membahasnya, padahal jelas-jelas hari masih panjang menuju beduk buka puasa.

Waktu itu kami belum paham dengan emosi orang dewasa, mungkin saja Bi Eni sedang ada masalah atau pe-em-es sehingga sensi terhadap kegaduhan kami, tapi yang terasa oleh kami adalah kesewenang-wenangan saja.

Segera berbagi usulan untuk membalas perbuatan ini, ada usulan bikin keributan bermain saja di depan warungnya… tapi takut dihardik lagi dan disiram air kotor.. itu khan berabe.

Eeemp apa yaa

Semua wajah kawan-kawan begitu serius memikirkan ‘revenge’ tanpa berfikir dampak apapun, maklum kami khan anak-anak yang belum bergikir panjang, baru bisa memaknai kehidupan dengan bermain.

Tiba-tiba, Asep bergerak menangkap seekor bebek yang kebetulan ngadèdod disamping tempat kami meriung (berkumpul),

Weeek….. weeeek, weeeek.. bebeknya berteriak-teriak dan meronta, tapi kalah oleh kempitan Asep, teman kami yang miliki badan paling besar.

Asep berkata, “Ini bebek Bi Eni, hayu kita sembelih aja sebagai pembalasan kita”

Kami semua berpandangan-pandangan, ada rasa tidak setuju yang terpancar dari wajah-wajah belia kami. Sesaat waktu seakan membeku, tidak ada ucapan kata dari mulut mungil kami, semua terdiam dan berbicara hanya dalam hati atau kepala masing – masing.

Kayaknya keterlaluan kalau sampai bebek tak berdosa ini kita sembelih tiba-tiba” Ilma berkomentar dan ditimpali oleh Adut, “Iya, lagian kita juga kali yang kelewat ribut”…. kami semua mengangguk dan sepaham dengan usulan terakhir.

Oke kawan, kita lepas ya bebek malang ini… pergi sanah!” Tangannya melepaskan pegangan bebek tadi dan membiarkannya pergi. Terlihat sang bebek begitu senang karena selamat dari kejadian mengerikan.

Kami semua akhirnya berbincang lagi dan bercengkerama sambil tertawa-tawa, dan seieing waktu menjelang adzan ashar, rasa kesal karena dibentak bi Eni perlahan pudar dan hilang, tiada dendam ataupun ingin memberi pembalasan karena itu hanyalah sebuah fragmen kehidupan.

Meskipun esok harinya dan esok harinya kamipun sering dihardik karena keributan yang kami lakukan, tapi kami terima sebagai bagian dari bentuk perhatian kepada kami anak-anak kecil yang sok dewasa dan selalu memaknai kehidupan ini begitu menyenangkan dengan berbagai permainan, persahabatan dan perhatian dari orang dewasa di sekitar kita.

Hari itu, kami belajar memaafkan dan belajar mengendalikan ketidaknyamanan hingga musnah tanpa ada niatan dendam pembalasan.

Selamat berpuasa di hari penuh berkah ini. Wassalam (AKW).

Kopi & Ramadhan

Perjalanan menikmati kopi di bulan penuh bonus pahala dari Illahi Robbi…

Photo : Espresso with flower / dokpri.

CIUMBULEUIT, akwnulis.com. Bulan Ramadhan yang penuh rahmat serta double-triple bonus pahala dibandingkan 11 bulan lainnya plus grand prize Lailatul qodar adalah momen tahunan yang sangat penting dan jangan dilewatkan. Karena belum tentu di tahun depan bisa berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan… (klo doa dan harapan pastinya pengen panjang umur dan setiap tahun bisa bersua dengan bulan ramadhan ini, panjang usia berkah dan bahagia tea geuning).

Meskipun tantangan dan godaan untuk bisa melaksanakan aneka ibadah dengan baik itu berrrat bangeet…. setelah sahur bawaannya ngantuuuk, padahal sebaiknya shalat shubuh lanjut tadarus.

Trus masuk kantor, maka bergumul dengan rutinitas pekerjaan yang tiada henti. Termasuk dinas luar yang cukup menguras stamina. Meskipun selama jam kerja dipersingkat, dari jam 07.30 dan jam pulang kantor pukul 14.30 wib, kenyataannya ternyata tiba di rumah jam 21.00 wib atau malah tengah malam karena harus mengikuti jadwal agenda tarling (taraweh keliling) di luar kota.

Tapi itulah indahnya kehidupan, bagaimana kita mampu mengatur ritme waktu yang ada dan menyeimbangkan prioritas ibadah di bulan penuh berkah dengan beban tugas pekerjaan yang tak kenal ini bulan mei atau bulan ramadhan. Jadi, seni mengatur waktu dan mengatur diri yang menjadi strategi.

“Trus gimana cara ngatur urusan prosesi kopi?”

Sebuah pertanyaan sederhana yang memiliki esensi dasar, di mana selama ini keberadaan kopi menjadi mood booster sekaligus alat diplomasi yang efektif di jam kerja ataupun di luar jam kerja.

Photo : Salah satu sajian bukber / dokpri.

Permasalahan yang muncul adalah, di bulan ramadhan ini nggak bisa nyeduh kopi siang hari dan disajikan dengan prosesi v60 dan basa basi. Atau ngajak kongkow dan ngopi di siang hari karena akan menjadi pembatal bagi ibadah puasa yang sedang di jalani.

Ini kembali kepada rumus seni menyesuaikan, jadi ngopinya tentu setelah berbuka puasa dan lebih banyak dilakukan sendiri di rumah… eh bersama anak cantik yang selalu nempel jikalau tahu ayahnya di rumah, seperti yang tertuang dalam tulisan ‘Kopi Arabica Bali Banyuatis. Ada juga prosesi kopi yang dibuat di rumah, tetapi tidak sempet ditulis.. eh kopinya keburu diminum sampai habiiss….. maklum puasaa.

Photo : Meeting dilanjut bukber / dokpri.

Nah klo diluar rumah, tetep rumusnya adalah dalam balutan semangat bekerja. Tetapi meetingnya digeser mendekati waktu berbuka puasa, yaa mulai sekitar jam 16.00 wib dan berakhir sesaat sebelum adzan magrib berkumandang.

Soalnya klo setelah adzan masih membahas urusan kerjaan, yakinlah akan bercampur dengan pembahasan korma, kolak, bubur kacang, kolang kaling, bubur lemu, bala-bala, gehu, pacar cina, agar-agar, puding dan sebangsanya… dijamin tidak efektif.

Setelah tuntas shalat magrib, baru makan berat dan dikala adzan isya berkumandang, meeting bubar. Diriku bergeser ke lokasi mesjid tempat taraweh keliling.

“Lho kok bisa?”
“Bisa masbro, cari tempat meetingnya berupa kedai atau resto yang dekat dengan lokasi tarling, berees dech”
“Pinter juga kamu”
“Alhamdulillahirobbil alamin”

Apalagi di bulan ramadhan ini, mentraktir berbuka puasa itu besar banget pahalanya…. so jangan segan mentraktir berbuka puasa…. seperti yang kemarin kami rasakan.. rapatnya lancar, bukbernya seru, makanan dan minumannya ajiib dan… dibayarin pula. Hatur nuhun bu Ev dan mr Dan.

Photo : Mesjid yang bersiap menerima jemaah shalat tarawih / dokpri.

Jadi kuncinya adalah sebuah seni menyesuaikan, serta tenang dalam mengambil keputusan untuk melaksanakan meeting ditempat tertentu.

Selamat menunaikan ibadah puasa, sambil menjalani dan menyelesaikan tugas-tugas negara. Wassalam (AKW).

***

Kolam Renang Hotel Puri Khatulistiwa

Menikmati segarnya air setelah peristiwa menegangkan.

SUMEDANG, akwnulis.com. Beningnya airmu agak mengganggu konsentrasi meeting hari ini. Apalagi suasana bulan puasa yang berbeda dengan hari-hari biasa, semakin besar dorongan jiwa untuk segera bercengkerama. Meeting eh workshop tugas negara tetap terlaksana dan harus pintar-pintar mensiasati waktu serta menjaga stamina jangan sampai kendor sebelum waktu adzan magrib tiba.

“Tahu workshop nggak?”

“Tauuuu……. bapaknya work dan ibunya shop.. shopping”

“Ah… ngacoo itu, udah ah”

Memasuki ruang workshop terkait tingkat kesehatan perbankan, langsung membahas angka… lieuur.

Membahas angka di bulan puasa terasa berbeda. Baik rasa juga suasana. Tidak ada snack di meja juga sajian makan siang dengan menu aneka rupa. Tetapi itulah tantangannya… ayoo semangaaat.

Di mulai dengan pemaparan angka-angka yang awalnya begitu enak di pandang, tetapi lama kelamaan berubah menjadi liukan cacing kecil hitam yang terus bertumbuh. Rupa ular tiba-tiba terpampang nyata, king cobra dan black mamba…. oh my good, snake.

Keduanya mendesis dan siap menyerang tanpa ampun, apalagi racunnya yang bisa mengakibatkan kebekuan syaraf dan kematian dengan cepat, begitu menakutkan.

Raga sudah tidak bisa menghindar, karena ternyata terikat dengan aneka angka yang berubah menjadi borgol lembut tapi kuat, sehingga hanya mata dan otak yang masih bisa bergerak.

Di saat kedua ular berbisa berwarna hitam legam keperakan semakin mendekat, keringat dingin ketakutan mengucur deras. Badan digerakkan sekuat tenaga tidak bergeming sedikitpun.

Tolooong……

Di kala kepasrahan tiba, teringat sebuah ayat Alquran, ‘Ud uni astaziblakum‘ …. berdoalah pada-Ku maka akan Aku kabulkan. (Al Mukmin 60).

Tolong hambamu yaaa Alloooh”…. sebuah ucapan doa meluncur indah di puncak ketakutan dan kepasrahan, menembus ujung langit pengharapan.

Byaar…. selarik cahaya membutakan mata.

Sekejap saja semua hilang dari pandangan, ular king kobra dan black mamba serta borgol yang menelikung raga sudah tidak ada bekasnya.

Mas, bangun mas, itu peserta workshop pada ngeliatin” bisikan halus di telinga kiri mengembalikan ingatan dan kondisi yang dihadapi. Ternyata ketiduran di saat workshop hingga terjerembab ke bawah meja…. itulah yang menimbulkan suara berisik dan memancing rasa ingin tahu peserta workshop lainnya.

Sambil nyengir menahan sakit dan malu hati, segera beringsut keluar dari ruang pertemuan. Melarikan diri dari kenyataan, menghambur menuju kolam renang biru yang sedari tadi menunggu dengan setia.

Tanpa membuka baju, segera meloncat ke dalam kolam renang yang begitu segar. Berkelindan mesra dalam kecipak air bening penuh kasih sayang.

Kolam renang berbentuk ujung melengkung dengan kedalaman variatif menjadi pilihan menyenangkan, setiap ujung ovalnya dengan kedalaman 1,2 meter dan ke arah tengah lebih dalam menjadi 1,4 meter. Untuk kolam renang anak terpisah dengan kedalaman 60 cm.

Buat yang nginep tinggal nyebur aja, tapi klo yang cuman moo berenang tinggal bayar 40ribu per orang baik weekday atau weekend. Langsung dapet air seger sekolam renang sama pinjeman handuk serta loker.

Lokasinya strategis di area kampus-kampus ternama di Jatinangor, Sumedang.

Sambil berendam kembali teringat king kobra dan black mamba tadi… wuiiiih untung cuman sebatas mimpi… meskipun malu karena ketiduran dan terjatuh ke lantai tapi dua poin penting adalah : pertama, bisa selamat dari serangan ular yang mematikan dan kedua, menjalani shaum dengan kesegaran setelah berenang.

Selamat menjalani hari-hari puasa dengan segala aktifitasnya. Kerja tetap terlaksana dan ibadah bisa menjadi penyempurna, Wassalam (AKW).

***

Catatan : Tempatnya nyata tapi ceritanya fiksi ya mas bro, lumayan sambil ngabuburit.

Lokasinya di Hotel Puri Khatulistiwa, beralamat di Jl. Raya Jatinangor No.KM, Cibeusi, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat 45363.

.

Munggahan.

Hayu ah balakécrakan…

ALAK PAUL, Ngajémprak dina samak ngurilingan rangginang jeung opak. Aya ogé Ma Nini nu geus pikun, nu lian émok tapi ieu mah ngadon ngadangkak.

Balakécrakan bari ocon, nyocolan peda beureum maké sangu tutug kurupuk jeung liwet kastrol, teu poho sambel dadak seuhah lata-lata pleus daun déwa ogé kulub pucuk gedang. Jéngkol jeung peuteuy mah geus nungguan dihuapkeun ti tatadi.

Sagala karungsing ngilang, bangbaluh hirup leungit. Kagantian ku kabungah bisa ngariung babarengan bari ngeusian beuteung séwang-sewangan.

Udud kéréték, bako molé jeung pahpir jagong atawa nu boga kawani gedé di sadiaan linting kucubung, kagok édan. Aya ogé udud togog nu badag enjum, eusina menyan bodas, bako, cengkéh jeung kayu manis.

“Meungpeung bisa kénéh godin” kitu ceuk Si Udut bari pelenyun kana linting kucubung. “Hayu béakkeun liwetna euy” Haji Alit mairan bari ngedukan kastrol. Nikmat pisan.

Teu hilap, kopi 3 sendok mucung ditinyuh ku cai ngagolak, matak ngahégak tur nikmat. “Tong digulaan euy, pamali”

Hatur nuhun.

Wilujeng munggah palawargi. (AKW).

Cerita Ramadhan – Mancing yuk.

Menunggu waktu berbuka puasa dengan berbagai aktifitas yang menyenangkan, salah satunya mancing lho… mancing sesuatu.

Photo : Kolam pemancingan dilihat dari tempat persembunyian/dokpri.

Menanti berbuka puasa setelah shalat asyar dikenal dengan istilah ngabuburit… malah dipanjangin kata kitu menjadi ‘Ngabubur beurit’ (membuat bubur tikus), nggak ada korelasinya bukan?… tapi sebagian besar aku dan teman2 di kampung ini meng-amini kepanjangan kata tersebut. Pemahaman kolektif tentang arti nggak nyambung tapi sepakat…

Ngabuburit ini beragam aktifitas beraneka kegiatan, yang ideal ya.. Tadarus, pengajian, ngikutin taklim, pesantren kilat dan kegiatan keagamaan lainnya. Tetapi bagi aku yang menyenangkan adalah main… main dan main…. bisa petak umpet, kucing-kucingan, sondah, sorodot gaplok, rerebonan, gatrik, perepet jengkol jajahean hingga main lodong sang meriam bambu… eh nggak lupa juga main layangan, nyalain petasan dengan berbagai varian seperti petasan cecengekan, petasan banting, mercon, petasan buntut beurit (ekor tikus) hingga petasan segeda kepalan tangan anak-anak. Terkadang juga ikutan mancing serta berenang di sungai… pokoknya menyenangkan dech.

Oh iya kadang juga terinspirasi oleh buku Enid blyton ‘5 Sekawan’ dan acara Pramuka, maka kami berlima menjadi detektif cilik yang melakukan acara ‘mencari jejak’ menelusuri perkampungan, sawah, sungai dan kebun hingga pinggir hutan sekitar rumah… sambil tidak lupa mengumpulkan tambahan buat berbuka puasa seperti tomat, bonteng eh mentimun, jambu air, jambu batu, pepaya serta terkadang dapet belut ataupun ikan kehkel.

Ada yang menjadi George, Julian, Dick & Anne serta yang apes berperan jadi Timmy si anjing setia. Berjalan bersama dengan mengendap dan waspada, mata fokus untuk mengamati hal yang mencurigakan ataupun buah-buahan ranum nan masak yang siap petik. Pemeran Timmy yang bawa tas untuk menampung hasil para detektif cilik.

Bukan mencuri lho, karena ngambil buahnya di kebun paman dan ua ataupun kebun sendiri. Klo belut biasanya sambil bawa alat pancing khusus dan aktifitasnya disebut ‘ngurek.’

***

Hari ini off dulu jadi detektif karena kawan-kawan banyak yang berhalangan. Agus dan yayan lagi bantuin ortunya di warung, opik ngejar target ngarit (menyabit rumput) untuk domba kesayangan, dan Deni Adut serta Cacan kayaknya nggak enak body… akhirnya mondar mandir sendiri sambil berpikir keras, “Ngapain ya?”

Berjalan di halaman rumah, trus keluar menuju kebun diatas bukit. Naik ke dahan jambu klutuk sambil melihat suasana. Tadaaa…. disebelah selatan berjajar kolam ikan besar dan tepat di dekat rumah Pa Hamzah, orang-orang sedang asyik ‘kongkur‘… itu sebutan untuk mancing bareng2 di satu kolam. Terlihat wajah-wajah serius yang memandang lurus ke arah kolam, melihat ‘Kukumbul‘ (apa ya bahasa indonesianya??)… penanda bahwa alat pancing itu disambar ikan atau tidak… heningg dan tegaang.

Tring…… aku ada ide.

***

Segera ke kamar dan membuka laci meja belajar… ahaa masih ada stok petasan sebesar ibu jari. Trus ke warung beli kertas pahpir atau papir yang buat linting tembakau dan dinyalakan jadi rokok kretek dadakan. Nggak lupa juga korek apa gas. Trus ambil kertas bekas kalender untuk dibentuk jadi sesuatu.

Berjalan riang menuju lokasi pemancingan. Sambil membawa perahu kertas yang telah dipasang petasan dengan sumbunya yang dibungkus kertas pahpir… tujuannya untuk memperlambat sumbu petasannya terbakar.

Tiba di pinggir kolam.. pelan-pelan mencari tepian yang tidak ada pemancing. Sehingga tidak mengganggu para pemancing yang sedang konsentrasi dengan ‘kukumbul‘ masing-masing. Lagian mereka nggal ngerasa keganggu kok, lha wong cuman anak kecil yang ikutan nimbrung sambil main kapal kertas di pinggir kolam.

Setelah puas bermain kapal kertas, misi dimulai. Dengan gerakan rapih tersembunyi, ujung kertas papir dinyalain pake korek gas. Trus perahu kertas di simpan ke air kolam dan dibuat ombak dengan tangan sehingga pelan tapi pasti perahu kertas bergerak ke tengah kolam…..

Jengjreng…..

Aku beringsut perlahan seolah sudah bosan bermain di pinggir kolam yang sunyi padahal banyak orang. Maklum memancing di bulan ramadhan khan nggak bisa sambil merokok dan cemal cemil hehehe….

Mundur perlahan.. mundur… mundur dan pergi meninggalkan area kolam seolah bosan dengan permainan… menuju bukit kecil dekat kebun yang lokasinya lebih tinggi dari kolam, padahal perasaan tegang takut petasan yang tersembunyi di tengah perahu kertas keburu meledak.

Seperti yang diperkirakan… para pemancing cuek bebek dengan kehadiran dan kepergianku… betul2 konsentrasi. Sesekali terdengar umpatan karena umpannya habis ikannya nggak ada. Tapi di seberangnya tersenyum karena kailnya disantap ikan mas atau gurame…. ditarik seeeeeet pancingannya dan diangkat ikan yang meronta di atas air tersangkut kail, ada juga yang baru nglempar mata pancing ehhh… langsung disambar ikan…. istilah singkatnya ‘Clom Giriwil’.

Ikan yang didapat, dilepas dari mata kail dan akhirnya berpindah ke korang (tempat ikan) yang dibawa masing-masing.

***

Tepat 4 menit setelah itu…. Duaarrrrrrrrrrrrrr!!!!!……… Suara petasan ditengah kolam membuyarkan konsentrasi.

“Wadaaaw….”
“Naon etaa?”

“Koplxxxk….!!!@#$%!!….”

Gujubar…!!!!

Ada yang melompat ke belakang ada juga yang harus terjatuh ke kolam karena reaksi kekagetannya.

Aku terdiam di ketinggian, sambil senyum dikulum, “Proyek tuntas tas tas….” dengan badan tetap merunduk terhalang semak, hawatir membuat para pemancing sadar bahwa aku adalah pembuat keonaran.

Lembayung sore menemani para pemancing yang mulai berkemas dan tak sedikit yang masih menggerutu. Akupun pulang dengan cerita ngabuburit yang menegangkan dalam proyek perahu kertas kesayangan… met berbuka puasa kawaan.

Wassalam (AKW).

Cerita Ramadhan – CENSi

Cerita Ramadhanku, nostalgia masa yang menyenangkan.

Sahur hari ketiga baru saja tuntas, aku masih bersandar di kursi tuang makan sambil meringis. Apa pasal?… karena terlalu semangat makan minum di kala sahur? Akibatnya kekenyangan. Perut kembung karena kepenuhan hingga terasa air minum yang masuk masih ada di tenggorokan.

Padahal makan sahurnya tidak banyak, hanya nasi, indomie goreng, perkedel kentang, daging rendang, tumis buncis, tahu goreng ditutup sama popmie dan segelas susu murni serta dua gelas air putih… eh lupa kurma 7 butir.

“Klo kekenyangan pas buka puasa sih wajar anak-anak, tapi klo kekenyangan sahur mah, teungteuingeun” Ujar ibunda sambil tersenyum penuh arti.

Aku mah diem aja sambil nahan rasa bunghak dan agak pengen muntah. Soalnya takut nggak kuat sampai magrib, padahal khan target tahun ini harus tuntas hingga 30 hari shaumnya, atau disebutnya cacap (b.sunda)

Obat kamerkaan (kekenyangan) ternyata sederhana yaitu terapi CENSi alias Centong Nasi. Caranya, aku tidur telentang dengan kepala diganjal bantal. Baju bagian atas dibuka, trus ayah ngurut dari mulai dada hingga ke perut dengan menggunakan centong nasi sambil baca doa…. juga agak neken tuh centong nasi ke perut.

Tring!…

Tak pakai hitungan menit, perut terasa enakan, nafas tidak tersengal dan rasa ingin muntahpun hilang.. alhamdulillah, terapi centong nasi berhasiiiil..

“Makasih ayaah”, Aku peluk ayahku lalu menyambar peci dan sarung serta sajadah. Bergegas menuju mesjid yang baru saja tuntas mengumandangkan adzan shubuh.

Sambil berjalan menuju mesjid, terang bintang dan rembulan masih setia menemani. Bintangpun berterima kasih kepada kegelapan, karena dengan adanya gelap maka sinarnya semakin cemerlang.(AKW).

***

Catetan : Ilustrasi photo diatas adalah centong nasi plastik, sebenernya pas baheula kejadian yang digunakannya centong kayu. Berhubung belum pulang kampung jadi ilustrasi centongnya seadanya. Maaf yaa.