Pecak Bandeng & Bersyukur

Kuliner Banten dan Pengabdian.

Photo : Pecak bandeng & kopi hitam / dokpri.

BEKASI, akwnulis.com. Perjalanan panjang menuju Kabupaten Pandeglang perlu stamina dan keikhlasan. Sebetulnya jikalau tidak terjebak kemacetan cukup dengan 4-5 jam saja, itu dibuktikan dengan perjalanan tengah malam dari Bandung dan di tol Cikampek keluar di pintu tol Karawang Timur, menyusuri jalur arteri pantura hingga akhirnya masuk lagi di pintu tol Bekasi Barat…. amaan terhindar dari kemacetan di ruas tol Karawang – Bekasi.

Trus blasss….. membelah dini hari menuju tujuan melewati tol Jakarta – Merak dan tiba di Pandeglang disambut dengan kumandang adzan shubuh. Berarti sekitar 4,5 jam pejalanan karena dikorting waktu istirahat di KM72 Cipularang.

Pulangnya… perjalanan Pandeglang -Bandung ditempuh dengan waktu 9 jam perjalanan….. 2x lipaaat. Berangkat pukul 3 sore dan tiba di Bandung tepat pukul 12.00 malam.

Pertanyaannya : “Apakah semua harus disesali atau dijalani dan disyukuri?”

Untuk jawabannya maka kembali kepada kita sang penerima amanah sementara raga dan jiwa, yang hanya sebentar saja singgah di dunia fana.

Jikalau disesali, lelah sudah didapat, pegalpun memang tak perlu bercerita karena sudah menjadi kenyataan.

Maka….. cara terbaik adalah memaknai perjalanan ini dengan konsep tasyakur binnikmah.

Masih diberi kesempatan sehat dan kuat, masih diberi keluangan waktu untuk bergerak menyusuri jalan raya melintasi 2 provinsi yang tidak semua orang berkesempatan seperti ini.

“Bener nggak?”
“Bener juga”

Trus untuk keluarga di rumah, mungkin merasa terganggu karena tengah malam baru pulang sebentar … eh berangkat lagi dan besok malamnya dini hari baru tiba. Semoga pengertian keluarga yang di rumah menjadi bagian dari ibadah.

Semua lelah ini insyaalloh menjadi berkah, dan silaturahim dalam rangka tugas ini adalah rangkaian kerja yang juga bermakna ibadah.

***

Photo : berbagi ekspresi di sini / dokpri.

Tiba dini hari di kamis pagi bukan berarti menjadi hari libur, ada kewajiban masuk kantor yang tak terelakkan, apalagi tugas dan kerjaan lain sudah menanti.

Ya sudah jalani, nikmati dan syukuri.

Sebagai penutup cerita, photo awal di tulisan ini adalah penghibur di perjalanan di kala perut mulai terasa lapar. Sajian ‘Pecak Bandeng’ RM Ibu Khadizah di Kota Serang menyambut kami dengan segarnya ikan bandeng dan bumbu pedasnya yang begitu mengurai keringat serta cucuran air mata kepedasan. Dilengkapi dengan nasi putih yang pulen plus secangkir kopi tanpa gula, memberi semangat kami untuk tetap berkarya dan tetap ceria. Wassalam (AKW).