Kopi Bunar di Ruang Gelap

Menulis lagi sambil menikmati ‘disayang-sayang’…

Photo : Sang Barista Ruang Gelap / dokpri.

CIAWI, akwnulis.com. Kali ini sebuah tulisan sederhana tentang perjalanan dan pengalaman diri, setelah beberapa hari sedikit terganggu untuk mengisi blog ini karena tergoda oleh content creator di medsos.

Maksudnya waktu luang yang disempet-sempetin menulis, terenggut oleh keasyikan belajar bikin konten buat di IG sehingga jargon ‘One Day One Article‘ agak terancam.

Untungnya kembali sadar dan kembali ke khittahnya, ngisi blog dengan kumpulan kata dan jalinan kalimat.

***

Sebuah kalimat tiba-tiba terlintas di kepala, ini bunyinya :

…..***Belajarlah mencintai sesuatu maka semesta akan membantu***

emhh…. kayaknya pas tuh buat diriku yang sedang belajar mencintai sesuatu.

“Pas gimana sih, kamu mah suka maksa nyambung-nyambungin ih”

Senyumin aja, karena tidak semua paham dengan kecintaan kita terhadap sesuatu. Yang pasti pengalaman membuktikan, bahwa kemanapun melangkah, selalu dimudahkan untuk bersua dengan sesuatu.

“Tau lah, pasti kopi khan?

“Benerrr, kamu jagoan”

“Bosen ah, coba cerita yang lain”

“Sabar donk ih, baca aja atuh”

Jadi inilah salah satu ceritanya…… Nah jikalau kita belajar mencintai maka berilah perhatian sepenuh hati, maka minim sekali kemungkinan bosan karena cintanya tanpa pamrih, begitupun dengan berusaha mencintai kopi…..

……Kemanapun bergerak raga ini, mayoritas sih urusan kerjaan, maka kedai kopi yang menyajikan kemurnian Kohitala selalu hadir dengan mudahnya…… booming bisnis kopi terutama di jawa barat memberi peluang usaha dengan menjamurnya cafe atau kedai atau warung kopi dengan kopi berkualitas dan proses manual brew yang berkelas. Maka begitu mudah untuk mencarinya, pesen, minum dan nikmati…. eh jangan lupa bayar yaaa.

Photo : Sajian kopi Bunar disayang-sayang / dokpri.

Cara mengapresiasinya ya itu tadi, belajarlah mencintainya meskipun dengan syarat ‘tanpa gula’ dan tanpa unsur lain, hanya bubuk kopi dan air panas beserta saringan yang boleh mewujudkan rasa kemurnian.

“Jadi semesta membantu itu gitu maksudnya?”

Yup, dengan diberi kemudahan bisa nongkrong dan ngopay di berbagai tempat tanpa perlu cape-cape merencanakan, itu adalah karunia dan dukungan semesta.

Seperti hari ini, bisa menikmati suasana cafe yang berbeda dengan atmosfer kebersamaan yang kental, diskusi komunitas termasuk para petani muda yang peduli dengan cara bertani kopi plus meningkatkan nilai petani dan produknya, plus barista yang riang penuh semangat memajukan kopi asli Tasikmalaya yaitu Kopi Bunar… Kamu keren.

Ruang gelap adalah nama cafe kopinya, berlokasi di samping belakang indomaret di pertigaan arah terminal Ciawi Kabupaten Tasikmalaya. Sajiannya adalah single origin bunar yang diproses wash, natural dan honey proses.

Photo : Suasana Cafe ruang gelap / Dokpri.

Nama lain kopi bunar honey adalah ‘disayang-sayang kopi’, agak terdiam dan mikir sejenak, tapi…. bener juga, honey atau hanni memang harus disayang-sayang.. aww.. aya-aya wae.

Sajian V60 dan japanessenya.bikin siang menjelang sore ini makin ceria. Kang Dani barista menyeduh sambil bercerita termasuk tentang ruang gelap, “Penasaran?... klo pas perjalanan bandung – tasikmalaya atau sebaliknya, maka memasuki wilayah ciawi, segera siap-siap untuk berhenti sejenak dan bersua dengan kopi bunar yang miliki rasa khas tiada tara.

Yuk Ngopi dulu yuk. Wassalam (AKW).

***

Gaung & Getar di Dusun Bambu.

Perjumpaan penuh makna tentang asal muasal semesta..

Photo : Bangunan Rongga Budaya Dusun Bambu / dokpri.

KBB, akwnulis.com. Terdengar suara lantang dan penuh keyakinan, “Jauh sebelum terjadi dentuman keras atau Big Bang yang menciptakan alam semesta, dikala sunyi dan gelap adalah inti dari alam raya, maka yang paling awal hadir menjadi pendahulu adalah dua elemen, yaitu gaung dan getar”

Suwerr guys, melongo mendengar penjelasan singkat dari seorang sesepuh yang ‘tidak sengaja berjumpa’ di Rongga Budaya.

“Getar dan gaung inilah yang menjadi cikal bakal alam semesta, sebelum terjadinya Big Bang yi, getaran dan gaung yang bersinergi, bergerak dan bersuara bersama, menghasilkan energi yang menggerakkan proses dentuman besar terjadi…..”

Woaah… masih melongo…

Penjelasan yang menjadi khazanah wawasan baru, karena ini adalah bagian dari intrepretasi keilmuan dan juga spiritualitas yang disampaikan dalam kerangka budaya dan pelestariannya.

Disini…. di Rongga Budaya.

“Apa itu rongga budaya?”

Photo : angklung di rongga budaya / dokpri.

Rongga budaya adalah sebuah bangunan yang asri, dengan seluruh elemen bangunannya dominasi bambu, dari atap, dinding, lantai hingga tulisan identitas bangunan ini. Didalamnya terdapat beraneka peralatan musik dari bambu seperti angklung, calung, celempungan, dogdog lojor, dan juga karinding.

“Dimana itu?”

“Hayoooh kepooo” Senangnya menggoda yang penasaran.

Sebelum menjawab tempat dan lokasi, kembali pikiran tertuju kepada gaung dan gema dan senangnya bisa berbincang singkat dengan seorang seniman yang begitu antusias berbagi cerita tentang bambu nusantara serta philosophis yang terkandung dalam alat musik spiritual yang bernama ‘karinding‘.

Pembahasannya nanti yaa tentang Big bang & karindingnyaa…… Cekarang khan moo jawap duyu question tadi brow…. ih sok sok bahasa generasi millenial padahal mah masuk generasi …. kolonial… upssst.

Rongga budaya adalah sebuah bangunan yang didedikasikan oleh owner sebuah tempat wisata edukasi berbasis alam yang berpadu dengan restoran, tempat makan yang berpadu dengan alam serta menjadi pilihan untuk outdoor activity di Bandung Utara yaitu Dusun Bambu.

Rongga budaya menjadi bagian penting identitas dan mungkin roh esensi nama ‘Dusun Bambu‘, dimana menjadi tempat edukasi serta kumpul bersama siapapun dan tentunya para seniman, tokoh masyarakat yang peduli dan menggawangi tentang kekayaan nusantara yang sarat makna dan multi manfaat yaitu bambu, bambu nusantara.

Photo : Kaum selpiisme lagi berkumpul / dokpri

Keluar dari area belakang Rongga budaya maka langsung disuguhi dengan indahnya danau di area ini yang berpadu padan dengan aktifitas lalayaran paparahuan, tempat makan diatas danau serta tidak lupa sebuah aktifitas yang sama, dilakukan oleh hampir semua orang, dengan alat dan gaya masing-masing dengan tema wisata selpi…. hehehehe..

“Dimana itu alamatnya?”

Jangan manja ah, tinggal buka smartphone. Jangan hanya WAan atau update status aja, tapi pake google map atau aplikasi perjalanan dengan keyword ‘dusun bambu’…. jreng… hitungan detik langsung ketemu, dengan catatan kuota internet atau wifi gratisannya lagi on.

Photo : Tempat makan pinggir danau / dokpri.

Tapi buat yang malas nyari yaa.. ini dech lokasinya :

Dusun Bambu Resort
Website : dusunbambu.id
Alamat : Jl. Kolonel Masturi Km11 Kartawangi Cisarua Kabupaten Bandung Barat Jawa Barat.
CP : 022- 82782020

“Okeh, puaskan?”

“Belummm…..”

Harap maklum aja, diriku khan bukan pemuas, udah kesinih ajaah…. ditunggu.

Photo : Kokolétrakan / dokpri.

Segera raga bergerak meninggalkan Rongga Budaya, menjejak rumput dengan kaki telanjang, agar merasakan langsung silaturahmi dengan alam sambil belajar memainkan kokolétrakan. Yup Kokolétrakan, alat musik sederhana dari dua bilah bambu yang bisa menghasilkan musik ringan dan riang, sebuah tandamata dari Abah Wawan, sesepuh rongga budaya. Wassalam (AKW).