Longblack Sejiwa

Memulai hari bersama sajian kopi yang memberi asa dalam diskusi

Photo : Secangkir Longblack membawa inspirasi, abaikan cake red velvetnya ya, bukan punyaku / dokpri.

PROGO, akwnulis.com, Sekuncup harap bersua nyata, semisal hanya ingin mencoba nikmati rasa tanpa harus bersusah payah memproses dengan daya upaya.

“Lagi malas bikin sendiri ya mas?”
“Kamuuh tau aja, kali-kali ngafee donk”

Cakap singkat di pagi yang sendu, semakin menebalkan ingin menguatkan harapan bahwa nyruput kopi akan semakin memberi arti indahnya hari ini.

Ternyata, gayung bersambut, harap dan nyata berjumpa, diawali dari sebuah perintah singkat untuk menemani ibu bos mengikuti meeting singkat di pagi ini.

Tak perlu pake lama, setelah merapihkan berbagai dokumen yang terserak di meja. Membawa bahan seperlunya, bergegas menuju tempat pertemuan, sebuah tempat yang suka dijambangi jikalau ada waktu di hari libur bersama istri tercinta, Cafe Sejiwa.

Salam kenal dan bertukar nomor kontak otomatis berjalan, cakap ringan hingga esensipun mengalir lancar. Meskipun disaat ingin menikmati sajian manual brew V60nya belum tersedia, agak masgyul siih. Tapi ini masih pagi, pukul 08.00 wib, yaaach wajar aja. Akhirnya hasrat bercengkerama dengan si kopi hitam dipenuhi dengan sajian hot longblack dengan beannya home blend cafe ini.

Alhamdulillah, kopi pertama hari ini. Perbincangan bersama tetamu dari Bank Mandiri berlanjut ditemani sedikit canda tetapi tetap fokus kepada tema tentang peluang investasi dan keanekaragamannya.

Sajian secangkir kopi hot longblack, membuka kenikmatan kopi hari ini. Meskipun beda dengan kopi racikan manual, tetapi tetap nikmat dan menyegarkan. Kemoon ngopay.

Ditambah lagi dengan menu sarapan berbasis buah-buahan segar. Anggur dibelah menemani irisan pisang dan dikawal barisan strawberry yang ranum memukau berpadu dengan oatmil menghasilkan padanan nyaris sempurna. Bicara rasa, jangan tanya, tetap pada dua pilihan, enak dan enak bingiit. Wassalam (AKW).

Longblack ice Sejiwa

Menikmati dinginnya kopi hitam, disini.

Photo : Longblack coffee di Cafe Sejiwa / dokpri.

Sebuah momentum kehidupan akan menghasilkan kenangan. Beraneka peristiwa terjadi, dijalani dan akhirnya terkadang terlupakan, setelah ditinggalkan oleh waktu yang terus berjalan.

Di era digital saat ini, begitu mudah meng-capture peristiwa yang kemudian hanyalah kenangan. Photo dan video sebuah peristiwa dengan smartphone mudah sekali dilakukan, meskipun beberapa hari kemudian bikin pusing karena memori hpnya kepenuhan.

Trus karena males backup, ya dihapus aja sebagian….. eeh ternyata dikemudian hari photo dan video itu dibutuhin…. pusing jadinyaaa. “Kok curcol seeeh?”

Ngobrolin sebuah momen yang terperangkap dalam photo hasil jepretan hape, sekarang mah sudah ada penyimpanan diatas awan.. eh cloud memory maksutnya. Jangan khawatir dengan ‘kehilangan’ karena Firmanpun tetap bernyanyi meskipun ‘kehilangan.’

Cara yang lain, titip di medsos. Sekalian narsis juga dokumentasi gratis dapet bonus jempol dan komen. Bisa juga di blog pribadi, pokonya banyak cara menyimpan sejuta kenangan yang ada di era serba terbuka saat ini.

Nah ngomongin nitip gambar di blog, persis kejadian pagi ini.

Terjadi miskordinasi antara jempol dan otak. Ada ketidakpasan eh teu nyambung pokonya. Jadi otak sudah memerintahkan upload gambar di blog ini tapi jangan dulu dipublish karena akan dipaduserasikan dengan tulisan.

Ternyata sang jempol mendahului mengambil inisiatif, klik ‘oke‘…. dan photonya publish duluan tanpa ada cerita apapun. “Kasian khan?”

Padahal ceritanya adalah sajian kopi hitam tanpa gula dengan disajikan bersama ice batu yang diformat longblack. Tadinya moo pesen manual brew specialty coffee di Cafe Sejiwa, eh ternyata habis. Langsung banting setir pesen Longblack aja.

Sebelumnya disini menikmati Kopi Afrika Duromina bersama istri tercinta, disini di Cafe Sejiwa.

Masalah rasa ya lumayan, dari kopi home blended jadi nggak tau beannya apa. Diolah pake mesin, jadi pasrah aja. Disajikan, sruput sruput, nikmati aja. Abis dech, yang penting tetap bisa ngopi tanpa gula.

Gitu ceritanya. Makasih buat yang udah komen. Sekarang jadi jelas maksudnya gambar apa. Hatur nuhun. (AKW).

Kopi Ethiopia Duromina Sejiwa

Menikmati kopi afrika bersama ibu negara.

Photo : Sajian kopi Arabica Ethiopia Duromina / akw.

BANDUNG, akwnulis.com, Bangunan lantai 2 bercat putih dengan kaca bening memberi akses pandangan menerawang dan terbuka. Terletak di Jalan Progo Kota Bandung, bernama Cafe Sejiwa.

Melewati cafe ini sangat sering karena dekat dengan tempat bekerja kadang sambil jalan kaki di pagi hari dan dipastikan masih tutup. Di kala sudah buka, nggak punya waktu untuk sekedar mampir. Ya sudah, nanti aja kalau sempet.

Apalagi Ibu negara juga reques, pengen nyoba nongki disitu. Ya sudah cocok deh. Perlu kordinasi dan diskusi lebih lanjut. Kemungkinannya di hari wiken, klo nggak sabtu ya minggu.

Tapi, itupun masih ada tapi. Ibu negara juga dines antara sabtu dan minggu.

‘Garuk garuk nggak gatal deh‘ (garo garo teu ateul, bhs sunda).

Akhirnya mah gimana nanti sajaaah..

***

Ternyata, takdir itu memang rahasia kawan.

Ibu negara kebetulan ada tugas di dekat kantorku, dan jam istirahat bisa dimanfaatkan ngopi bersama, alhamdulillah.

Mau cerita makanan di Cafe ini ya?”
“Nggak, aku mah mau cerita sajian kopinya”

“Ih gitu kamu mah, kirain mau review sajian makanan dan minumannya!!!”

“Jangan marah atuh, da aku mah pengen nulis kopi, yaa tambah suasana lainnya yang bisa dirasakan langsung”

“Ya nyerah, gimana kamu aja”

Bukan tidak mau menulis tentang makanannya, tapi khan memang nggak makan. Ntar nggak obyektif. Jadi inilah cerita tentang kopi yang tiada henti.

Trus juga jangan nge-judge, “Kok ngopinya kopi di luar jawa barat atau malah kopi luar negeri, nggak cinta kopi jabar ya?”

Diriku ini dengan segala keterbatasan, yaa ngopi sesuai dengan stok kopi yang ada. Trus kalau di cafe, situasional. Jikalau ada sponsor maka coba yang specialty coffee. Tapi klo sendirian, yaa cari kopi yang harganya terjangkau dengan saku.

“Ih kapan cerita kopinya?”
“Bentaaar atuh laaah”

***

Yang disajikan sesuai pesanan adalah kopi arabica Ethiopia Duromina.

“Kenapa milih itu?”
“Karena harganya tengah-tengah”

Jadi dari penelusuran singkat di daftar menu yang bejibun, khusus untuk manual brew terbagi menjadi 3 pilihan. Ada kopi lokal, kopi internasional dan terakhir specialty.
Nah kopi internasionalnya arabica Ethiopia Duromina.

Yang bikin bangga, specialty coffeenya adalah Arabica Gunung Puntang, alhamdulillah. Tapi nggak pesen itu karena baru kemarin nyeduh sendiri di kantor.

Sekarang ke kopi ethiopia yaa…. klo liat tulisan di botol kopinya, ada taste notenya stonefruit, blacktea, bergamot, cocoanibs.

“Naon eta?”
“Stonefruit itu bisa apel, apricot dan cherry, bergamot sejenis jeruk dan cocoanibs adalah biji cocoa”

Cuma karena keterbatasan pengalaman rasa dan memang bukan tukang icip icip rasa kopi, jadi yang dapat dirasakan tastenya memang acidity medium dengan selarik rasa segar jeruk serta rasa pahit yang simpel, menebal diujung, baru itu saja.

Photo : Kopi dan laptop = kerja sambil ngopay / akw.

Oh iya, sajian Arabica Ethiopia Duromina ini dengan menggunakan metode manual brew V60. Disajikan dalam nampan mini beralaskan kertas dengan tulisan ‘sejiwa’, botol servernya bener-bener botol dan cangkirnya menggunakan cangkir espresso warna coklat ditambah dengan segelas sedang air putih dengan es batu.

Ibu negara asyik dengan hidangan dan minumannya. Alhamdulillah, akhir kesampaian berdua nongkrong disini meskipun dalam waktu yang terbatas.

Euh, ada sedikit agak kurang nyaman. Pas ke toiletnya, ternyata bekas seseorang merokok. Akibatnya asap bergulung di dalam toilet yang sempit dan terasa begitu menyesakkan. Cuma posisi terjebak karena nggak kuat nahan kencing. Jadinya kencing sambil menghirup asap rokok dalam ruang sempit, nasiib.

Udah ah, yang pasti untuk sajian kopinya enak. Harga persajian kopi manual berkisar antara 25ribu – 55ribu. Srupuuut, tandas. Hatur nuhun (AKW).