TARIK NAFAS

Ternyata.. heuup… aaah

DAGO, akwnulis.com. Menata hati dan menjaga emosi adalah sebuah pertempuran abadi. Dikala gejolak jiwa muda berontak untuk mencari pembenaran terhadap kondisi yang ada, disitulah pertempuran tak kasat mata terjadi. Sebuah pertentangan kecil, bertumpuk dan tersusun hingga akhirnya mengkristal menjadi api amarah yang dikipasi oleh kewenangan dan kekuasaan. Apalagi jika sang pembisik sarat dengan kepentingan, maka kobaran amarah bisa membakar nalar dan segera mengejar untuk raihan kepuasan.

Hampir saja logika terselimuti oleh nafsu sesaat, dan mungkin akan mengakibatkan kerusakan yang besok lusa disesali. Manakala itu hampir terjadi, sejumput nurani masih bersinar menemani diri. Mengingatkan dengan satu kalimat, “Tarik nafaslah dan berdiam sesaat kawan.”

Pilihan yang bijak dikala kegalauan tingkat dewa mencapai puncaknya. Maka dipaksalah seluruh tulang dan otot yang sedari tadi menegang agar sedikit lemas dan rilek, dengan diawali sebuah tarikan nafas panjang. Lalu perlahan dilepaskan bebas kembali alam.

Heuuup….. aaaaah”

Sekali lagi ah, “Heuuup…… aaaah”

Ternyata mujarab kawan, perlahan tapi pasti otot dan urat nadi menjadi tenang, peredaran darahpun berjalan kembali normal tidak menumpuk disatu sisi dan akhirnya bisa berakibat fatal. Tulang bergerak mengambil formasi tidak resmi, dari sebelumnya menyangga raga penuh arogansi.

Mengapa kamu begitu mudah diprovokasi?”

Sebuah tanya memberi keteduhan lainnya, memberi tahu bahwa suatu kesalahan tindak hampir terjadi akibat sebuah reaksi diri yang melupakan check and recheck dan tabayun. Tapi emosi yang diutamakan akibat informasi yang sepihak dan bisa merugikan.

Tarikan nafas kedua ketiga dan selanjutnya mengembalikan lagi keseimbangan pada jiwa dan raga. Memberi ketenangan seutuhnya dan menyadarkan akan arti kehidupan singkat di dunia fana ini. Sehingga tidak perlu menegangkan otot dan mengikuti emosi, tapi kendalikan agar menjadi sebuah potensi yang menghasilkan sesuatu yang berarti. Wassalam (AKW).

Duduk Sejenak.

Sebuah perjalanan panjang & duduk sejenak.

KOREA, akwnulis.com. Sebuah perjalanan kehidupan masih terbentang memanjang, sebuah keharusan bagi manusia untuk terus maju dan jalani tahapan demi tahapan seiring arus waktu yang tak mau menoleh kemasa lalu.

“Bolehkah duduk sejenak?”

Pertanyaan singkat yang akan hadirkan jawaban dengan berbagai perspektif.

Pertama, Sebuah jawaban yang akan melarang melakukan itu. Tetapi untuk terus bergerak dan bergerak karena kehidupan yang dianggap terbentang luas itu adalah juga diyakini sangat singkat. Sehingga duduk sejenak bisa berakibat terlepasnya momentum kesempatan sukses yang diraih sebagai fondasi kehidupan. Pokoknya manfaatkan seluruh waktu untuk bergerak, bersiap, bekerja tanpa jeda untuk meraih sukses di waktu yang terus mendera.

Kedua, Ada juga yang mendukung dengan duduk sejenak dan mungkin lebih lama. Dilanjutkan kongkow bersama kawan sambil menyecap minuman kesukaan yang penuh citarasa. Bertabur cerita absurd dan tawa bersama, menghentikan sang waktu sehingga duduk-duduk sejenak menjadi lebih dari sehari…. tapi tidak mengapa yang penting bahagia.

Ketiga, dari dimensi ini tentu menjawab bahwa berhenti duduk sejenak dalam rangkaian perjalanan panjang adalah sebuah hal yang wajar dan perlu dilakukan. Karena sebuah perjalanan butuh rehat untuk menyeimbangkan adrenalin pengejaran tahapan kesuksesan dengan ketenangan bathin, meskipun hanya menghela nafas sesaat sambil duduk dibawah pohon rindang keemasan… hmmmmm.. Alhamdulillah.

Tidak semua orang bisa rehat sejenak dikala meniti derasnya gelombang waktu, atau ada juga yang terjebak dalam pusaran kemalasan sehingga tak bisa (tak mau) beranjak dan terus berkutat dengan waktu yang stagnan. Maka keseimbangan itu penting kawan…

Satu lagi yang paling penting adalah rehat batin yang merupakan kewajiban Umat manusia kepada Tuhannya. Aku muslim dan kewajiban bersujud rutin dengan rumus wajib pada waktu tertentu 5x sehari dengan aturan waktu tertentu.

Sebuah kewajiban hakiki agar perjalanan hidup lahir dan batin meraih sukses bukan hanya di masa depan, tetapi sukses penuh berkah dalam setiap fase kehidupan, duia & akherat.

Duduklah sejenak, bertafakur atas perjalan hidup yang sudah dilalui dan persiapan untuk tahap selanjutnya. Jangan lupa jika waktunya telah tiba, bersegera ambil wudhu dan bersujud dalam shalat kita.

Mari bersyukur sambil mengingat perjalanan kehidupan di 2019 dan bersiap menyongsong penuh Optimisme di 2020 dengan peningkatan kualitas dan kapasitas diri terutama nilai ibadah sebagai hamba Illahi. Wassalam (AKW).