Kopi & Puasa.

Nyeduh kopi di bulan penuh berkah, butuh seni dan nilai tambah.

Photo : Menu berbuka puasa dengan yang manis / dokpri.

PADALARANG, akwnulis.com. Sebuah kebiasaan akan membentuk watak, rutinitas menghasilkan budaya jika dikerjakan oleh banyak orang. Begitupun kebiasaan – kebiasaan yang dianggap sederhana, akan menyisakan jejak tindakan di dalam otak tentang sebuah peta perilaku manusia.

Terkait kebiasaan ngopi…… eh minum kopi juga sama. Setelah setiap hari minum kopi #tanpagula serta diberi kemudahan oleh Allah untuk bisa menikmati aneka cita rasa kopi yang sangat bervariasi, maka bulan ramadhan inipun harus bisa mengendalikan habipi (hawa bikin kopi)….. maksudnya bikin kopi di waktu berpuasa yaitu dari adzan shubuh ke adzan magrib.

“Kok sampai di-warning gitu gan?”

“Harus ituu!!!” jawaban berapi-api karena memang pengalaman diri sendiri. Apalagi baik di kantor dan di rumah, peralatan seduh manual ready every time.

Di kantor lebih lengkap lagi, mulai dari grinder, pemanas air, timbangan digital, termometer, gelas server, corong v60, filter, gelas kaca mini, teko leher angsa dari kaca, dan tentu beraneka bean yang siap grinder. Trus nyeduhnya nggak kenal waktu, bisa pagi, siang dan sore… suka-suka aja… dan dipastikan tiap hari digunakan untuk menyeduh kopi atau berulang-ulang.

Di bulan shaum, singkirkan dulu aneka peralatan tersebut dan masukan di lemari, khawatir reflek buka bungkus bean yang ada lalu digiling pake grinder trus… seduuuh aja dan srupuuut.

Syukur klo lupa lagi shaum sampe tuntas sruput…. tapi klo baru giling bean trus inget lagi shaum… bete donk, apalagi ke adzan magrib masih lama…… kebayang khan?

Photo : Kopi dan cangkir nangkub / dokpri.

Nah klo di rumah sih… kesempatan menikmati kopi bisa dilakukan setelah berbuka shaum, jadi peralatan kopi yang ada tidak harus terpenjara di lemari, tetapi cukup di telungkupin aja cangkir sengnya di nampan bersama teko goose neck dan tentu kopi yang akan diseduhnya…. itu tandanya jangan digunakan sebelum waktunya.

Beberapa kopi sudah antri untuk di seduh, tetapi bulan ramadhan penuh berkah ini harus lebih disibukkan aktifitas ibadah di bandingkan prosesi kopi (baca pencitraan diri….), ditambah dengan gangguan intensif dari anak cantik sang buah hati yang senantiasa ikut sibuk jikalau bersiap nyeduh kopi pake v60 di malam hari.

Akhirnya….. sikap sabarlah yang menolong kita. Contohnya sabar menunggu anak tidur dulu, baru bangun trus nyeduh kopi…. eh ternyata ikutan ketiduran sampai waktu sahur, jam 04.00 wib…. mana sempet prosesi manual brew dengan waktu yang terbatas… ya sudah.. besok lagi… besok lagi…. dan nggak jadi.

Photo : Cafe Otutu Leuwigajah / dokpri.

Akhirnya sempet juga ngopi dengan mampir di cafe deket rumah, itupun sebentar saja, demi ngopi yang sudah menjadi kebutuhan eh keinginan sejati.

Selamat berpuasa kawan, yang suka ngopi yaa… nanti setelah adzan magrib baru bisa kongkow dan ngopi, atau ngajakin diriku untuk ngopi bareng, pastinya setelah shalat tarawih dan witir supaya tenang hati. Wassalam (AKW).

Manual Brew di Negeri Singa

Menikmati nge-manual brew di negeri orang…

Waktu menunjukan jam 23.30 WS (waktu singapura) disaat bubaran diskusi kelompok di Lobby Hotel Boss. Phisik yang mulai lelah karena terforsir agenda kegiatan yang padat tetap terhibur dengan celoteh jenaka rekan-rekan disaat diskusi dinamisasi persepsi tentang makna dari konsep kepemimpinan kolaborasi…. halaah serius pisan nyak?.. kalem ini mah tetep blog yang bertema sederhana kok.

Jadi moo bahas apaan?…

Bahas kopi..

#clingak
#clinguk

Amaan….. yuk nulis lagiiie.

***

Sebelum tiba di kamar, nyempetin dulu survey kolam renang fasilitas hotel yang berada di lantai 4…… keluar lift ambil arah kanan dan kiri sama saja bisa aksee ke kolam renang dan ruang terbuka serta area merokok yang bebas… (maklum di singapur khan nggak boleh merokok sembarangan)… air kolam renang membiru mengajak segera bergabung bercengkerama dalam gerahnya malam…

Sungguh menyenangkan andaikan bisa menceburkan diri di malam hari dengan background gedung tinggi terang benderang buricak burinong… nikmat sekali. Tapi harapan harus ditepis karena waktu untuk nyebur sudah habis……yaach… nggak sempet berenanggg….

Setiba di kamar tak lupa membersihkan diri dan shalat magrib-isya jama qashar (manfaatkan kemudahan fasilitas Allah).

Setelah semua tuntas baru nyiapin ritual kopi yang membahagiakan. Sebungkus kopi gayo aceh yang dibawa dari Jatinangor tersenyum ceria setelah seharian berhimpitan dalam koper hitam kesayangan. Corong V60 pinky, kertas filter segera tersaji sementara untuk air panasnya sengaja membeli cadangan air destilasi 1500 ml seharga 2 dolar singapura khawatir yang dua botol kecil fasilitas hotel nggak mencukupi.

Pemanasnya udah ready, fasilitas hotel… nggak pake lama, segera proses pembuatan air panas dimulai. Sambil menunggu mendidih, beresin dulu peralatannya di keramik hitam yang menjadi meja di kamar hotel….

Trekk!!!... suara katup mematikan sambungan listrik di ketel.. berarti udah mendidih nich. Diamkan dulu ahh…. teorinya supaya suhu turun dibawah 100 derajat celcius… karena manual brew itu aku mah yach ikutan di range 85 – 93 derajat celcius… supaya dapet originalitas ektraksi dari kopi yang akan tersaji.

***

Jangan lupa kertas filter di corong V60 di basahi air panas dulu… buang airnya. Lalu tuangkan bubuk kopinya kira-kira 4 sendok makan… siap-siap membebaskan oksigen melalui proses bloomin.. caranya tinggal seduh perlahan air panas di tengah2 bubuk kopi… sedikit saja… dan biarkan berbusa… itu klo berbusa.

Klo udah beres…. proses manual brew dengan kucuran air perlahan berputar dari luar searah jarum jam… biarkan bubuk kopi bersentuhan dengan panasnya air dan berekstraksi sempurna menghasilkan cairan kopi yang penuh citarasa.

Tunggu hingga tetes terakhir yang jatuh dari ujung V60 ke gelas yang ada.. gelas hotel. Soalnya klo bawa labu kaca buat nampungnya berabe.. takut pecah diperjalanan khususnya bagasi di bandara.

selamat menunggu.

***

Hasilnya…. Body medium cenderung bold.. kepahitannya agak getir heuheuheu. Acidity terasa tetapi stabil (medium), aroma biasa… tapi untuk rasa kebathinan begitu menggelora karena di negeri orang masih bisa menikmati kopi asli Indonesia dengan racikan V60 darurat versi peralatan ala kadarnya.

Srupuuut nikmat….. ingat ya untuk menikmati rasa original kopi wajib hindari gula dan pemanis lainnya. Gunakan temperatur yang cocok dan komposisi takaran kira-kira tetapi mendekati yang dikehendaki.

Trus jangan lupa mainkan imajinasi juga senantiasa berfikir yang positif, supaya ada keselarasan rasa dengan kopi yang dibuat dan dinikmati… jangan2 klo pas nyeduhnya sambil mikirin hutang piutang…. hasil kopinya bakalan pahiiiiiit bangeeeeddd…. silahkan cubbbbaa.

Oke itu saja sekelumit cerita tentang aktifitas singkat daaan…… nyeduh kopi di negeri singa, semoga besok lusa bisa hunting kopi di sini dan tentu menikmatinya disela-sela agenda kunjungan yang super duperr paddat merayap.

Balik ke meja dimana proses seduhan berada disini.

Wilujeng ngopi lur. Terima kasih, Wassalam (AKW).

Ngopi pagi di Pakuan

Bekerja di pagi hari sambil Nikmati sajian kopi asli di Gedung Negara Pakuan yang penuh harmoni.

Photo : Ruang utama Gd Negara Pakuan / Dokpri.

Disaat sang mentari masih bersembunyi dibalik lelahnya hari, raga ini sudah melesat membelah sepinya jalan menuju kediamanan Gubernur Jabar. Perjalanan dari Cimahi Selatan ke jalan Otista satu Kota Bandung bisa ditempuh 15 menit saja, padahal klo siang hari pas padat-padatnya para pengendara beredar kesana kemari maka bisa 1,5 jam hingga 2 jam.

Jarum jam menunjukan pukul 05.25 wib tepat disaat moncong toyota rush ini memasuki gerbang kediaman jabar satu yang disebut gedung negara pakuan. Disambut kehijauan taman yang asri memberi kesegaran hakiki. Mobil bergerak melengkung ke kiri mengikuti arah jalan menuju parkiran di halaman gedung art deco ini, eh ternyata bukan yang pertama karena sudah berjajar tujuh kendaraan yang bertamu pagi itu.

Setelah parkir sempurna, mengemasi berkas yang harua dibawa. Yah meskipun bukan panitia inti acara pagi ini tapi persiapan itu penting. Jadilah pendukung acara yang baik.

Segera bergegas mengajak kaki untuk melangkah menuju gedung yang indah. Gedung bercat putih terang penuh kelembutan, gedung negara pakuan yang penuh dengan kenangan.

Photo : Stand sarapan / dokpri.

Menaiki sepuluh anak tangga menapaki ruang tunggu tamu terlihat beberapa undangan sedang berbincang. Bergerak memasuki ruang depan disambut kemegahan kursi-kursi dan meja klasik bertabur hiasan ukiran yang mempesona. Belum selesai dari situ, bergerak kembali semakin masuk ke dalam gedung dan di ruang utama sudah tertata 14 meja bundar dengan kanan kiri stand – stand makanan minuman yang dipersiapkan untuk sarapan.

Yummy……

Photo : Stand kopi Java Preanger gnhalu / dokpri.

Daan… yang bikin hati ini lebih berbunga adalah satu stand yang membuat pagi ini semakin ceria dan dijamin acara pagi ini akan lebih berwarna. Gimana ga seneng, grinder listrik ready, bean sudah standbye 2 botol besar, peralatan menyeduhnya ada, kertas filter ada dan tentunya V60pun sudah melambaikan tangan agar segera digunakan. Tidak lupa pemanas air yang berdiam gagah disamping kanan. Tapi masih harus bersabar karena barista sang penyeduhnya belum terlihat. Sabaar.

Tepat jam 06.00 wib para Tamu undangan yang hadir dipersilahkan menikmati hidangan. Pejabat Pemprov Jabar mendominasi, Pangdam III Siliwangi, Bupati Majalengka dan Sekdanya, Kepala BPN Jabar, Kakanwil I BJB & rengrengan. Unsur dari Polda Jabar, Polda Metrojaya, Kodam Metro Jaya, Kejaksaan Tinggi Jabar, PT. BJB, PT BIJB sudah lengkap dan mulai menikmati hidangan yang tersaji.

Disaat para tamu mengantri di stand makanan berat, segera menyelinap dan berdiri disamping barista gaul, namanya Kang Yuda. Masih muda, gagah dan pinter nyeduh kopi, ya iyaaa atuh… khan dia Baristanya.

Tepat pukul 06.30 wib, Pak Aher muncul dan bergabung bersama tamu undangan untuk bersama-sama sarapan dilanjutkan acara resmi yang dipandu oleh bagian keprotokolan.

Aku mah masih stay ditempat strategis, deket stand kopi. Tapi tetap mengikuti acara dengan khidmat.

Suara grinder menjadi musik pagi yang membumi, memberi suasana ceria di pagi yang sendu ini. Menghancurkan biji kopi java preanger gununghalu menjadi serpihan semi kasar pake ukuran 4,5 sampai 5 sehingga tidak terlalu halus. Tujuannya agar bisa tersaji kopi panas dengan metode V60 yang mengedepankan rasa sweet fruity, terasa maniis gitcu kayak aku… ahay.

Tujuannya menyajikan kopi tanpa gula cenderung fruitty adalah langkah bernas untuk memperkenalkan cara menikmati kopi tanpa gula dengan rasa yang relatif bisa diterima oleh seseorang yang bukan penikmat kopi. Bener saja, seorang bapak gagah berseragam mendekat, “Minta kopinya kang”

“Silahkan pak” Segera mengucur cairan kopi yang harum ke cangkir kopi karena kebetulan baru persekian detik tuntas membuat racikan perdana.

“Duh pahit nich, ga pake gula ya?”, Bapak berseragam meringis. Kami tersenyum, Kang Yudi menjawab, “Nggak pak, ini kopi asli dan dinikmati tanpa gula.”

Setelah bapak tadi berlalu, segera mengambil cangkir yang sudah terisi kopi. Menyeruput pelan-pelan, terasa sensasi manis buah-buahan menyeruak di seluruh rongga mulut. Enak dan kayaknya cocok untuk yang tidak biasa ngopi. Tapi dari sisi body kurang paten, acidity sedang dan ya itu tadi sweety diutamakan. Rasa manis ini didapatkan dari proses penyeduhan diatas V60.

V60 itu yang mirip corong dan digunakan untuk nyeduh kopi bubuk. Jangan lupa sebelum nyeduh menggunakan kertas filter yang disiapkan khusus. Tapi sekarang udah banyak yang jual. Harga V60 dari mulai 70ribuan yang berbahan plastik hingga ratusan ribu atau jutaan, itu yang keramik dan stainless stell. Sebelum kopi dituangkan dalam V60 yang udah dilengkapi kertas filter, basahi dulu kertas filter dengan air panas. Lalu tuangkan kopi bubuk yang sudah digiling tadi dengan ukuran 28gr/sajian/cangkir. Air panas yang dituangkanpun harus diukur, kang Yudi ini pake di 75 sd 85 derajat celcius. Jadi termometer adalah teman setia barista.

Proses penyeduhan pun harus bertahap. Tahap awal adalah blooming, yakni menyeduh sedikit bubuk kopi tersebut dengan tujuan melepas CO2 yang terjebak di dalam bubuk kopi. Diam beberapa saat, klo udah kelihatan ngaburukbuk ada gelembung udara itu tandanya proses blooming selesai dan siap seduh.

Ternyata cara nyeduhnya ini yang bisa hasilkan rasa kopi yang berbeda. Jika ingin mendapatkan rasa sweety maka putaran seduhan melingkar searah jarum jam dan berputar dari arah luar sementara untuk meraih rasa body atau level pahitnya kopi (ini biasanya untuk yang udah biasa ngopi item.. ya espresso juga dopio) maka menyeduhnya fokus dari tengah secara dominan.

Karena nempel terus sama sang Barista, maka yang bisa dinikmati adalah 2 cangkir versi sweety dan 2 cangkir versi body yang dapet rasa pahitnya citarasa kopi asli parahyangan dari dataran tinggi Bandung Selatan.

Itulah sekelumit kisah tentang ngopi gratis kedinasan. Pekerjaan tuntas dan ngopi aslipun bisa bergelas-gelas. Jangan merasa ribet dengan proses dan aturan pembuatan kopi yang berbelit dan memakan waktu. Karena jangan salah dalam proses itu terletak suatu makna keindahan. Bagaimana sebuah proses seduhan yang berbeda menghasilkan rasa yang berbeda?…

Amazing bingit dech.

Trus rasanya kok pahit?… coba pelan-pelan dan kontinyu. Maka lidah akan terbiasa dan mampu membedakan mana yang memang dibuat pahit karena ngejar bodi, keasaman aciditynya ataupun rasa manis buah-buahannya. Yakini kopi tanpa gula itu nikmat, tidak pahit karena lebih pahit kehidupan ini.

Jikalau kopi yang tersaji masih teuteeeep terasa pahit, ambil kaca. Sruput kopi pahit sambil pandangi wajah kita yang manis. Insyaalloh hati sedikit berbunga dan mulut senyum dikulum.

“Nanaonan ari kamu, nginum kopi bari ngeunteung?!!”

(“Kamu ngapain, minum kopi sambil bercermin?”) Paling itu yang bakalan terucap.

Nggak percaya? Silahkan coba.

Photo : Gubernur & pimpinan Instansi / dokpri.

Alhamdulillah, pak Gubernur Jabar tuntas berpidato setelah prosesi penandatangan dengan beberapa pihak dalam rangka pengamanan pilkada 2018 dan juga percepatan pembebasan lahan PT BIJB. Diakhiri dengan doa dan photo bersama. Kamipun tuntas menyeruput cangkir kopi ke-5, buatan sang Barista.

Hidup pagi ceria. Wassalam.(Akw).