Kuliner Sate Lilit.

Hindari shalatthree dengan kuliner bali.

Photo : Sate lilit dan kawan-kawannya / dokpri.

UBUD, akwnulis.com. Dikala perut sudah sulit berkompromi, maka sang otak akan terganggu oleh ketegangan usus-usus besar yang sudah haus dengan asupan makanan. Sering muncul sikap demonstrasi dari sang usus yang disulut oleh cemberutnya lambung yang memproduksi keasaman. Kerongkongan dengan gaya peristaltiknya sudah tidak bisa berbuat banyak, tinggal pasrah menghadapi situasi yang tidak menentu.

Begitupun dengan diriku, perut melilit harus dihindari, karena jika lewat waktunya makan maka akan terkena syndroma syalatthree. Gejalanya kepala mulai pusing dan agak sedikit telat dipake mikir, mudah tersinggung, lemes lalu muncul keringat dingin dan perut terasa kembung tak beraturan… atau dalam istilah bahasa sunda syalatthtree disebut juga dengan ‘salatri‘.

Photo : Nama Rumah makannya / dokpri.

Maka obat paling mujarab bukan dibawa ke dokter atau ke rumah sakit terdekat, tetapi bawalah ke rumah makan dan yang cepat dalam pelayanan serta penyajuannya. Agar bisa melakukan pertolongan pertama pada salatri, yaitu ‘segera makannnnn’,… makaaan dan makanannnnnnn…

Ini dia situasi dilematis yang sedang dihadapi, satu sisi takut salatri tapi kegiatan padat dan pilihan makanan serta tempatnya juga agak asing.

Bingung khan?…

Tenang… tenaang… nggak pake galau, googling aja, cari makanan yang pasti cucok, enak dan cheffaaat..

Keyword ‘sate lilit’ langsung menghadirkan berbagai pilihan, dan yang recomended adalah ‘Sate lilit di Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku’….. klik ‘direction‘ dan arah tujuan dalam kehidupan menjadi lebih jelas, khususnya menu makan siang khas bali.

Photo : Aneka gorengan dan keringan / dokpri.

Rumah makan Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku di daerah Kedewatan Ubud ini dari depan terlihat seperti warung biasa meskipun jelas ornamen ukiran bali tetap hadir sebagai pembeda.

Parkiranpun butuh perjuangan karena agak sulit dan terbatas di pinggir jalan.

Begitu kita masuk maka disambut meja kursi biasa rumah makan dan didepan kita terlihat pilihan beraneka menu makanan terutama goreng kulit euh aneka kulit yang diolah menjadi makanan ringan nan renyah.

Lalu kami diarahkan pelayanannya melewati itu, agak mlipir ke arah belakangnya… dann… ternyata di belakangnya luas bangeet…. ada bangunan2 tembok selerti joglo berornamen bali yang bisa digunakan makan lesehan bersama-sama mulai dari 6 orang sampai yang besar sekitar 15 orang… wuaaah serasa di rumah suasananya…

Photo : Akses masuk ke arah dalam / dokpri.

Segera pesan sate lilit dan kawan-kawannya serta teh tawar dingin untuk menghapus rasa dahaga di siang terik yang begitu ceria.

***

Sajian makanannya enak banget, rasa rempah-rempah khas balinya meresap dan menyeruak di lidah serta berpesta di mulut, menghapuskan lapar menjauhkan diri dari gejala Shalattthree hehehehe… nambah lagi ah.. am.

Kuliner bali yang mengenyangkan sekaligus memberi nuansa tempat yang damai meskipun agak butuh perjuangan untuk mencari parkiran. Selamat berusaha dan beredar di dunia fana ini kawan, Wassalam (AKW).

***

Alamat :
RM Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku,
Jl. Raya Kedewatan No. 18, Kecamatan Kedewatan, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali.

T&M di Sukabumi

Kembali berceloteh tentang T&M alias tugas dan makan, maka ditulislah apa yang sudah dimakan. Jangan lupa baca doa sebelum makan.

Perjalanan menuju wilayah Kabupaten sukabumi tak lepas dari tunainya tugas dan terpenuhinya janji. Memenuhi undangan rapat adalah salah satu kewajiban, jarak yang terentang menjadi pengalaman tersendiri untuk dijalani dan tentu ditafakuri.

Bandung – Sukabumi tepatnya daerah Cikidang berjarak 140 kilometer dan jarak tempuh versi gog-mep 4 jam 34 menit dalam kondisi lalulintas normal. Klo kenyataan bisa mencapai 7 jam lebih karena kemacetan sudah dimulai dari turunan jembatan layang paspati menuju pintu tol pasteur akibat dari proyek gorong-gorong yang katanya sebulan lagi kelar. Trus padat merayap di jalur tagog apu padalarang, daerah Karang tengah Cianjur karena aktifitas bubrik (bubar pabrik) dan terakhir yang parah di daerah Cimangkok Sukabumi dengan suasana sama karena aktifitas keluar masuk kendaraan dan karyawan pabrik di wilayah tersebut.

Secara kasar dengan perhitungan rasa, terlihat bahwa rasio jumlah kendaraan dengan kapasitas jalan sudah tidak seimbang. Apalagi kalau membandingkan data pertumbuhan mobil dan motor yang beredar di jabar di bandingkan pertumbuham jalan… itu pasti jauh pisaaan. Makanya konsep pemerintah tentang pembangunan jalan tol sukabumi – bandung menjadi stategis. Alhamdulillah tol Bocimi (Bogor – Ciawi – Sukabumi) sedang dibangun. Harapannya tentu lanjutannya yang sudah di konsep dalam dokumen pra desain adalah sukabumi – Ciranjang, Ciranjang – Padalarang yang selanjutnya terkoneksi dengan ruas tol Cipularang.

Tapi ada hal penting lain yang menyangkut kebijakan pemerintah terkait pembatasan umur kendaraan bermotor roda empat dan roda dua. Hanya saja implementasinya belum jelas hingga kini.

Photo : Mesjid besar di Warung Kondang-Cianjur / dokpri.

Balik lagi ah ke urusan cerita perjalanan kali ini. Yang pertama sebelum masuk ke wilayah sukabumi, singgah dulu ke Mesjid di daerah Warung Kondang Cianjur ….. untuk sejenak rehat dan laporan kepada Sang Maha Pencipta. Nuansa sejuk dan damai menyelimuti rasa memberi kesejukan sebelum berlanjut menuju arah tujuan dunia.

Photo : Interior Mesjid di Warungkondang / Dokpri

Memasuki wilayah Cimangkok Sukabumi maka jalan tersendat dan lebih sering terdiam. Ya gimana lagi… tinggal sabar dan sabar. Akhirnya mendengarkan musik dan ber WA ria menjadi hiburan sementara.

Alhamdulillah perjalanan yang tersendatpun bisa terlewati hingga memasuki wilayah kota Sukabumi… wah waktunya sudah cocok untuk makan siang….. Sambil menuju daerah Cibadak yang menjadi perbatasan menuju Kabupaten Sukabumi, disitu menemukan pengalaman berkuliner yang bisa jadi rujukan dikala perut keroncongan dengan rasa yang dijamin ngangenin.

Photo : Rumah makan di Cibadak / dokpri.

Lebih tepatnya ditunjukin sama pa bos yang dulu pernah lama bertugas di Sukabumi. Beliau nunggu kami dan makan bareng-bareng. Warungnya sederhana sempit dan tempat duduk terbatas. Posisinya juga tidak dipinggir jalan, tapi sedikit masuk ke gang. Untuk parkir mobil harus di seberang jalan, itupun rebutan.

Menu yang tersaji adalah aneka sop baik sop daging, sop kikil, sop babat serta aneka jeroan ayam, sapi, kambing plus dendeng sapi dilengkapi perkedel kentang serta kerupuk aci. Sopnya disajikan panas – panas, nikmat pake bingit dech. Trus pelayan dan (kayaknya) merangkap pemilik juga lincah dan ramah melayani para tamu yang datang. Dengan harga terjangkau, kami bisa makan sepuasnya dan melewati siang ini dengan ceria.

Photo : Capture Yutub Bazit.

Perjalanan di lanjutkan menuju wilayah bukit Cikidang tempat meeting akan dilakukan. Bicara Cikidang maka serasa akrab karena sudah dipublikasikan onlen di yutub dengan akun ‘bazit‘ yang mentraslate adegan film yang dibintangi bruce willys dengan bahasa sunda yang agak kasar tapi jadi menghibur dengan judul ‘nyasab ka cikidang‘, buat yang ngerti bahasa sunda dijamin tersungging minimal senyum simpul. Ah udah ah… kok jadi ngomongin bazit.

Tiba di tempat meeting dan dilanjut nginap mungkin nanti ditulisnya, sekarang lagi concern sama kulinernya. Esok hari jam 11 siang meetingpun usai, segera kendaraan dikebut menuruni perbukitan Cikidang hingga tiba di pertigaan jalan raya yang menghubungkan Cibadak dengan Palabuanratu. Sopir reflek mengarahkan kendaraan ke kanan dan berhenti di halaman warung sate.

“Kok brenti disini pa?” Kami bertanya. Sang sopir jawab malu-malu, “Maaf pa, itu daging kambing mentah yang menggantung menarik saya untuk berhenti”.

“Moduuuuss kamuu!!!” Kami serentak teriak sambil tertawa, karena memang kami semua sudah mulai merasa lapar.

Photo : Sate + sop + kopi item / dokpri.

Ternyata feeling sopir terbukti benar, sajian sate kambing dan sop kambingnya maknyus dilengkapi dengan minuman penutup yang begitu ngangenin yaitu kopi item minus gula. Entah apa merknya tapi rasanya cukup memuaskan lidah dan nenangin hati. Meski nggak pake V60 ataupun fresh bean yang di grinder ngedadak, tapi bisa bertemu segelas kopi pahit adalah kenikmatan yang wajib disyukuri. Alhamdulillah.

Itu saja secuil cerita kuliner jalur Bandung ke Cikidang Sukabumi PP. Selamat wayah kieu (Waktu saat ini). Wassalam. (Akw).