Kopi Sore di Sampireun.

Kopi sore di ujung senja.

GARUT, akwnulis.com. Angin semilir membelai wajah lelah yang sedang bersandar santuy di kursi kayu setelah berlari-lari kecil mengelilingi eh mengitari keindahan danau alami yang memiliki daya tarik tersendiri.

Sambil menarik nafas panjang, hadirlah secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap kesempurnaan. Berlatar pagar tanaman (bukan pagar makan tanaman yaaa) dan suasana sore yang menuju temaram, keberadaan secangkir kohitala melengkapi ke-santuy-an ini dan memberi aneka makna.

Jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota, terhindar dari hinggar bingar klakson karena kemacetan lalulintas dan gerutu penumpang yang terjebak dalam labirin jalan di kota Bandung… disini tenang dan tentram kawan.. meskipun memang harus mengorbankan waktu dan sebagainya… tapi itulah kehidupan.. ada pengorbanan dan hadirlah suatu harapan. Meskipun itu semua adalah secuil fragmen kehidupan yang memberi pelajaran bahwa apapun yang terjadi senantiasa di syukuri dan ditafakuri.

Photo : Danau Kampung Sampireun / dokpri.

Pahitnya kopi hitam yang menyapa indera perasa di ujung lidah ternyata bisa berpendar menjadi gula-gula kehidupan dengan rasa manis alami yang sulit membuat definisi, inilah salah satu dari unlimited-nya nikmat Illahi yang (kembali) wajib disyukuri.

Kembali semilir angin sore membawa berita bahwa sebentar lagi Adzan mahrib akan menggema. Sungguh tidak terasa, serasa sekejap bersandar di kursi dan menikmati kopi ini… ternyata waktu begitu cepat berlalu.

Mari bergegas kawan, memenuhi panggilan Illahi untuk bersujud sesuai dengan janji. Wassalam (AKW).

Kampung Sampireun.

Menikmati keheningan di tengah suasana alami.

Photo : Suasana gerimis di dermaga Telaga / dokpri.

GARUT, akwnulis.com. Perjalanan dari Kota Garut menuju lokasi yang dijanjikan ternyata masih butuh perjuangan. 48 menit bergerak, baru bisa tiba ke tujuan. Dengan jarak 14 kilometer dari Kota Garut, sebetulnya bisa ditempuh dalam waktu 25 sd 30 menitan. Tetapi kondisi jalan yang pas untuk papasan dua mobil serta berkelok, sering menyebabkan terjadi persendatan dan harus berhenti untuk mempersilahkan kendaraan lain berpapasan lebih dulu. Secara keseluruhan jalan aksesnya sih oke, trus untuk yang baru pertama kali, jangan lupa pake google map ya guys…. soalnya banyak pertigaan-pertigaan yang akan dilewati.

Photo : Double espresso di Sampireun Resto / dokpri

Malah dikala hampir sampai, terdapat petunjuk ‘1 km lagi’… wahh semangat nich, bentar lagi nyampe… eh ternyata setelah berkelok-kelok, plang yang sama ada lagi…. ‘1 km lagi’… heuheuheu… tapi setelah itu memang 1 km ke depan kita akan tiba di lokasi Kampung Sampireun Resort yang terletak di Jl. Raya Samarang – Kamojang, Sukakarya Kec. Samarang Garut Jawa Barat, 44151.

“Ngapain kesitu?.. bulan madu yaaa?”

“Ahay kepo, sirik kamuuh!!!”

***

Apapun tujuannya yang pasti diawali niat yang baik. Akhirnya tertera petunjuk besar bahwa lokasi sudah didepan mata. Kendaraan segera belok kiri dan memasuki jalan berbatu dengan polesan semen agar pengendara nyaman melewatinya… yaa sekitar 700 meteran.

Photo : Restoran / dokpri.

Nyampe aja, sebuah resort yang menawarkan ketenangan, kenyamanan dengan suasana alami yang bikin rutinitas kehidupan seakan rehat sejenak. Menarik nafas kesegaran dan membebaskan indra penglihatan serta pendengaran untuk bersinergi dengan alam dan kehijauan. Ditambah telaga alami yang menjadi ikon resort ini semakin mengukuhkan persahabatan dengan alam dimana cottage-cottage yang ada, mayoritas menghadap telaga dan bisa langsung menikmati karena tersedia dermaga pribadi dan (by request) perahu-perahu kayu kecil untuk digunakan.

Menilik nama tempatnya yaitu ‘Kampung Sampireun Resort & Spa’, maka selain keindahan alam dan fasilitas hotel berbintang juga pelayanan spa yang berkelas.

Tapi penulis tidak suka spa dan message karena tidak suka dipijat, jikalau dipijat bukan relaksasi yang didapat malah nyareri awak (sakit badan), entahlah kenapa…. tapi itu adanya.

Photo : Rombongan ikan menyambut / dokpri.

Cottagenya berbagai macam kelas dan fasilitas, buat info lengkap tinggal cari aja via aplikasi… sekarang jamannya canggih. Harga dan rincian fasilitas plus photo suasana sangat mudah didapat dan berada di smartphone kita, dengan syarat ada kuota internetnya atau deket wifi yang kita tahu paswordnya.

“Trus kamu moo ngulas apaan kesituh?”

“Ih jangan sewot dulu, selalu ada sesuatu yang bisa diceritakan dari setiap objek. Banyak hal sederhana yang bisa kita syukuri dan tafakuri kawan”

“Ya sudah, tulisss!!!”

Photo : Dermaga Utama / dokpri.

Sebuah perintah yang bernada kekesalan. Kenapa harus sewot, selow aja. Menulis di blog ini mengalir saja, apa yang dirasa dan dilihat, dicoba untuk diceritakan. Ada juga yang tidak perlu karena informasinya mudah untuk diakses. Deal khan?

Setelah dari lobby, terasa perut keroncongan. Wahh… harus diisi nich. Ternyata ke restorannya harus menelusuri sisi telaga, ditemani gerimis hujan. Ya gimana lagi…..

Berjalan menelusuri sisi telaga, tidak lupa mengabadikan sisi dermaga yang membentuk lanskap sempurna. Setelah sisi telaga terlewati, beberapa anak tangga menyambut. Semangatt….

Photo : Cah Kangkung Sampireun / dokpri.

Tanpa banyak tanya, maka menu makanan dan minuman yang ada segera dipesan dengan catatan ‘jangan lama-lama’. Sajian sop buntut, cah kangkung dan double espresso plus segelas teh tawar panas telah menenangkan perut yang kelaparan ditemani gerimis serta suasana alami yang menenangkan.

Tuntas makan siang menjelang sore, maka bersiap memasuki cottage yang sudah ditentukan. Tapi sebelum masuk cottage, menyempatkan dulu mampir di kolam renang cottage ini.

Photo : Kolam renang Kampung Sampireun / dokpri.

Kolam renang kecil berbentuk persegi empat terletak di depan tempat spa & message. Suasana agak temaram ditambah ada pohon besar di samping kirinya dengan akar-akar menjuntai…. awwww…. besok aja ah pagi-pagi berenangnya.

Akhirnya perut kenyang dan badan lelah menjadi sebuah padu serasi untuk segera beristirahat di sore hari. Ditemani gerimis yang masih setia. Wassalam (AKW).