Fiksi Dini Hari.

Sebuah cerita fiksimini tercipta, sambil menggendong anak tercinta.

CIMAHI, akwnulis.com. Tengah malam terbangun oleh rengekan si kecil yang badannya mendadak panas. Langsung semua posisi siaga, sesuai dengan posisi masing-masing. Pilihan digendong ayah adalah yang terbaik, meskipun ibundapun sibuk nyiapin obat, air minum hangat dan tetap terjaga hingga adzan shubuhpun tiba.

Sambil menggendong tubuh si kecil yang panas, terasa kekhawatiran menjalari sanubari. Berharap segera sembuh seperti sediakala dan sehat kembali.

Hampir 2 jam menggendong dan mengayun perlahan tubuh anak tercinta, sesekali ada rengekan dan sisanya memeluk erat leher ini, dia berusaha tidur tapi tidak nyaman karena tidak enak badan. Perlahan duduk di kursi dengan posisi tetap menggendong, anak kecil mulai terlelap.

Di kala akan ditidurkan, sang anak menolak dan merengek, akhirnya kembali diayun dan digendong untuk ke sekian kali… lalu kembali duduk di kursi.

Sambil duduk menggendong di kursi, tiba-tiba sebuah ide selarik tema hadir depan mata. Ide yang berbeda dengan basis ‘dilema‘, tak banyak tanya, sambil menggendong anak tercinta, segera menulis di smartphone sebuah cerita fiksi singkat dalam genre bahasa sunda.

Silahkan…..

Fikmin # Bagja Sulaya #

Peuting nu simpé ngajaul haté. Méré hariwang nu matak lewang. Sakedapeun ngarénghap, karasa beurat. Bangbaluh hirup beuki numpuk, abot nandangannana.

“Geura kulem Akang, tos ulah seueur émutan” soanten halimpu gigireun ngagedékeun haté. Tapi lain salsé kalah ka beuki lungsé. Gerentes téh, “Duh Gusti hampura.”

Garanyam ramona ngusapan kana tonggong, teras karaos angkeut kareueut napel kana lebah punduk, “I love u, darling”
“I love u too” Uing ngajawab rada ngageter, uteuk mah ngapung meuntasan sagara, ngeukeupan budak jeung indungna.

Saminggu campleng ngabaturan dunungan, bari kudu ngalayanan sapuratina. Iman jeung satia ukur jadi basa, nu penting bisa balik ka imah bari angkaribung dunya.

“Hatur nuhun Pah, usaha téh geuning mucekil, Si Ujang tiasa transfusi ogé kémoterapi, tuh segeran ayeuna mah” Jikan nyarios bari marahmay. Uing unggeuk bari imut, soca bareubeu neuteup raray murangkalih nu getihan deui sanajan masih teu walakaya. “Énggal damang Jalu.”

***

Itulah selintas kisah fiksi yang berhasil dibuat sekaligus menemani diri ini hingga pagi hari.

Jangan baper dengan jalan cerita yang ada, ini hanya fiksi, kisah rekaan yang idenya datang tiba-tiba dan datang begitu saja. Tak usah pula dihubung-hubungkan, ini hanya fiksi, baca dan nikmatilah.

Alhamdulillah, panas tubuh anak tercinta berangsur kembali ke suhu normal. Insyaalloh sehat kembali seperti sediakala. Wassalam (AKW).

Sakit

Harus istirahat dulu. See you next time.

Setelah mencoba bertahan dengan segala kekuatan phisik yang tersisa, akhirnya harus nurut dan tunduk dengan sebuah alasan, “Kasihan jangan sampai nular lagi ke anak”

Itu memang sebuah asumsi, bahwa sakitnya anak karena ayahnya juga sedang sakit. Trus nggak sembuh-sembuh pun karena ayahnya sakit tapi nggak mau berobat. Meskipun mungkin ada penyebab lain yang kita tidak tahu. Tapi asumsi itu semakin kuat… dan sebagai ‘kambing hitam’ akhirnya harus mengalah, berobat resmi sama dokter di poliklinik kantor. Diperiksa itu ini hinggga di ‘uap‘ segala, demi sebuah proses kesembuhan.

Maka beragam zat kimia bernama obat harus diakrabi kembali setelah hampir 2 tahun dihindari seiring pola hidup ketofastosis yang dijalani. Meskipun ada rasa malu dalam diri karena beberapa bulan belakangan ini pola ketofastosisnya juga nggak bener, banyak cheatingnya, tapi mengubah kembali sebuah kebiasaan perlu penyesuaian mendalam.

Maka rombongan Ambroxol, Sanmol, Salbutamol, Metilfrednica, Cefadroxil dan Cetirizine bersama-sama memasuki rongga mulut, lebur di aliran lambung dan hancur terserap aliran darah melaksanakan fungsi masing-masing dengan satu tujuan bersama adalah menyembuhkan penyakit batuk pilek yang begitu awet menemani aktifitas diri hingga hampir 1 bulan ini.

***

Dampaknya ke tubuh yang terasa nggak berapa lama adalah lemas, ngantuk dan tidak bertenaga. Makan sih nggak ada gangguan, tetapi rasa lemas dan pegal disaat antibiotik menyebar ke seluruh aliran darah untuk membasmi virus penyakit membuat malas bergerak dan aktifitas. Sementara istri tercinta bingung dan sedih karena anak semata wayang masih lemes dan mogok makan dan super rewel, nggak mau makan apapun kecuali ‘nenen‘ sama ibunya.

Sebuah perjuangan seorang ibu apalagi ayahnyapun terbaring lemas karena efek obat yang sedang bekerja, yang tabah ya istriku.

***

Semoga sembuh segera anakku Binar, ayah juga dan semuah-semuah-nya, Ibu, nenek dan semyanta senantiasa diberi kesembuhan dan kesehatan. Wassalam (AKW).