BERPISAH

Alhamdulillah, Akhirnya terbebas sudah..

KOPO, akwnulis.com. Perjalanan pagi sedikit berdebar mengingat akan ada keputusan besar yang ditentukan berdasarkan kondisinya, dilengkapi standar keilmuan dan pengalaman yang mumpuni. Tapi tetap terselip rasa khawatir andaikan putusan yang hadir jauh dari keinginan dan harapan. Namun itulah makna kehidupan, dimana harapan dan kenyataan tidak selalu seiring sejalan. Minimal adalah kita senantiasa tidak kehilangan harapan, berikhtiar optimis dalam segala hal.

Diawali dengan registerasi lalu antri untuk mendapatkan tindakan dan perhatian, diskusi santaipun berjalan dengan terapis yang bermasker double sebagai standar prokes yang dijalankan. Di lantai 3 RS Immanuel Bandung.

Masuk registerasi kedua dan beranjak ke lantai 1 untuk photo rontgen, sebuah pelayanan prima hadir dari Pak Amar, seorang ambulatory*) yang baik hati dan menjadi sahabat baru selama 3 bulan ini. Lancar sudah berphoto di ruang rontgen ini, meskipun ukuran photonya nggak bisa milih karena sudah ditentukan dan hasilnya adalah photo klise besar dan nggak berwarna, cuma hitam putih aja. Tapi tetap diterima karena itu syaratnya untuk kontrol ke dokter spesialis orthopedi.

*)Ambulatory adalah istilah yang digunakan untuk petugas yang melayani pasien rawat jalan, jadi pelayanan khusus dari mulai turun dari kendaraan di lobi hingga diantar ke tempat pendaftaran, rontgent hingga ke poliklinik.

Nah istilah bahasa inggris juga menyebutkan bahwa ‘ambulatory care’ artinya rawat jalan.

Tadinya kirain orangnya disebut ambulator, eh ternyata artinya beda lagi… ya udah ah.

Kembali ke lantai 3, getar khawatir melingkupi diri. Tertatih dengan kruk tongkat penyangga di tangan sebelah kiri, memasuki lift dan tetap optimis bahwa putusannya nanti dari dokter yang terbaik harus diterima dengan keikhlasan.

Bapak AndrieKW, silahkan ke ruang dokter” Suara perawat memanggil, maka raga ini bergegas. Dokter Alvin, seorang dokter muda yang berdedikasi, menyambut dengan wajah cerah dan senyum merekah meskipun tertutup masker di hampir separuh wajah.

Mempersilahkan duduk dan menunjukan hasil rontgent beberapa saat lalu, “Ini hasil photo rontgent terakhir pak, kalus sudah terbentuk di sisi kanan dan kiri tulang yang patah, serta kondisi tulang yang semakin membaik, bapak boleh lepas tongkat penyangga, Congratulation”

Alhamdulillahirobbil alamin” Sebuah ungkapan bahagia setelah 3 bulan terbatas bergerak karena harus berkursi roda dan kruk penyangga, hari ini kembali normal meskipun tetap harus ekstra hati-hati dan bertahap.

HORE…

HORE…

Tanpa banyak kata segera beranjak pergi dan hindari menggunakan tongkat penyangga. Tapi nggak ditinggal di rumah sakit tongkatnya, karena harus dikembalikan kepada pemiliknya.

Lalu kursi roda yang setia di bagasi mobilpun harus berakhir tugasnya, setelah sekian purnama menemani menjadi sahabat karib, hari ini harus rela berpisah dan kembali ke markasnya di Museum Sribaduga.

Meskipun harus tetap menggesek ATM untuk proses registrasi-terapi-rontgentphotograpy-kontrolisasi tetapi keputusan yang dinanti meringankan suasana hati. Lepas tongkat dan kembali normal sabihara bihari.

Goodbye kursi roda, dadah tongkat kruk penyangga. Tugasmu sudah tuntas menemani hari-hariku dalam menjalani kejadian patah kaki ini. Tak usah bertemu di lain hari, tetapi menjadi memori yang abadi. Wassalam (AKW).

PATAH TULANG 2

Cerita nyata sambungan dari cerita PATAH KAKI…

CIMAHI, akwnulis. Inilah kisah selanjutnya dari cerita PATAH MENYILANG yang terjadi senin (17/01) lalu. Sebuah pelajaran berharga dari sebuah kejadian.

(Ini cerita kisah nyata ya…. )

Hayu kita lanjutkan…

Apel pagi telah usai dan dilanjutkan briefing santai sambil berdiri bersama pak bos dan rekan – rekan struktural. Sambil diselingi tertawa, pembicaraan mencair jauh dari kesan formal. Beberapa informasi lanjutan tersampaikan dan intruksi pimpinanpun hadir untuk dilaksanakan.

Namun di saat akan merubah posisi kaki kiri, terasa linu menusuk hati. Datang dari telapak kaki kiri di pinggir kiri. “Wah kayaknya bener ini keseleo.”

Karena sakit semakin tidak tertahan, beringsut ijin untuk mendahului memasuki ruangan. Ternyata setapak demi setapak langkah kaki begitu menyakitkan. Peluh mulai hadir menandakan raga menahan dengan keterpaksaan. Tapi jangan galau, mari lawan kesakitan ini dan berihtiar untuk penyembuhan.

Punten, panggil Pak MSR” Sebuah permintaan meluncur dari mulut ini dan langsung ditanggapi rekan-rekan. Pak MSR ini adalah pegawai di kantor yang juga punya keahlian memijat urut serta membantu salah urat, keseleo dan aneka kepegalan dalam raga kehidupan.

Tak pake lama, pak MSR hadir dengan minyak zaitun sebagai senjatanya. Tangan terampilnya segera memegang telapak kaki kiri dan menjelajahi kemungkinan urat – urat yang bergeser akibat ‘tijalikeuh‘ tadi.

Ada rintihan dan beberapa teriakan tertahan di saat proses urutisasi terjadi. Sebuah harapan terpatri, semoga segera membaik karena tugas strategis menanti.

Tugas strategis apakah?”

Tugas strategis banyak atuh, sesuai peran dinas. Namun minggu ini sebuah rapat kerja dengan Komisi II DPRD Provinsi Jabar menjadi prioritas, yaitu pembahasan tentang raperda inisiasi desa wisata dan Neraca Satelit Daerah… yang lokasinya di ujung selatan sukabumi tepatnya di kawasan Ujung Genteng Kabupaten Sukabumi.

Maka kondisi kaki yang tijalikeuh tidak menghalangi keberangkatan, meskipun tentunya ada sebuah rasa ‘nyanyautan‘ sepanjang jalan selama kurang lebih 7 sampai 8 jam.

Cara mengalihkan rasa sakit tentunya dengan melakukan aktifitas yang menjadi hobi pribadi, yaitu menikmati sajian kopi dan mendokumentasikan dalam bentuk tulisan di blog www.akwnulis.com serta membuat video yang selanjutnya di upload di kanal yutub @AKWchannel.

Hasil tulisannya bisa dibaca di KOPI HITAM & LAUT UJUNG GENTENG dan KOPI HALU BANANA – Pelabuanratu serta PAKANCI – fbs.

Nah untuk video di kanal youtube ada beberapa yang dibuat yakni : MENIKMATI KOPI DI PALABUANRATU SUKABUMI lalu UJUNG GENTENG – CILETUH : mantay kerja kerja monitoring ngopi.

Alhamdulillah tugas dinas yang diemban bisa dituntaskan berlokasi di ruang pertemuan villa ujang ujung genteng, meskipun dengan setelan sebelah kaki menggunakan sendal jepit karena kaki kiri ternyata bengkak dan linu – linu setiap digerakkan plus semaleman sulit tidur karena ternyata sakitnya itu semakin meningkat. Param kocok dan obat oles sedikit menghibur dan mengalihkan rasa sakit tersebut.

Tentunya satu hikmah bahwa kesakitan ini mengingatkan diri bahwa diri ini adalah mahluk lemah yang tiada daya upaya tanpa kehendak Allah Sang Maha Pencipta. Hanya terkilir eh tijalikeuh saja, betapa segala aktifitas terganggu dan terasa tersiksa. “Alhamdulillah cuma kaki kiri yang terkilir, bagaimana kalau dua-duanya?”

Nah setelah tuntas bertugas, maka selasa sore (18/01) bertolak kembali ke bandung menempuh perjalanan panjang nonstop 7 jam 12 menit dengan tentunya menahan sakit di kaki kiri yang terlihat tidak baik – baik saja.

***

Suasana pagi hari di halaman RS Halmahera Bandung sudah ramai kendaraan dan lalu lalang orang. Dibantu sang Driver untuk registerasi pasien baru, maka tinggal duduk manis di mobil dan setelah menunggu sekitar 35 menitan, baru beringsut masuk dengan tertatih-tatih.

Prosedur periksa tekanan darah dan keterangan diri, isi formulir, dipanggil suster, diperiksa dokter, disuruh rontgent, balik lagi ke dokter… daan… inilah hasilnya : ruas tulang kedua diatas jari kelingking kaki kiri patah menyilang.

Astagfirullohal adzim, patahnya menyilang dan menghasilkan 2 ujung tajam”

Tanpa banyak diskusi, pak Dokter dengan lugas dan singkat meminta operasi segera karena beresiko radang dan merusak jaringan. Resep dituliskan dan keluar dari ruang dokter menuju ruang administrasi… nah ini yang degdegan… bukan untuk ambil obat dan bayar rawat jalan tapi… estimasi kemungkinan operasi serta biayanya yang ternyata mendebarkan hati.

Benar saja, biaya obat-konsul-rontgen hari ini dibawah 1 juta, namun estimasi jika operasi disini sekitar 50jtan cukup menyesakkan… duh aya-aya wae.

Berbagai pertimbangan hadir di benak ini, meskipun rasa sakit mendera namun tindak lanjut segera menjadi utama. Maka diskusi dengan istri sudah pasti, kontak agen asuransi juga dilakoni termasuk opsi apakah cukup ke ahli patah tulang saja?… semua berseliweran di kepala. Tapi nanti dulu… ini mewakili pimpinan di acara IKAPI juga menanti… ya udah meluncur dulu dengan tertatih dan meringis tapi tetap tugas harus dilaksanakan karena belum mengajukan ijin cuti…. (BERSAMBUNG).

***