Kopi Arabica Sunda Hejo ‘Klasik Bean’

Kopi dalam balutan silaturahmi, kopi asli arabica klasik bean sunda hejo.

Photo : Sajian Kopi Sunda Hejo arabica / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Berkah silaturahmi itu salah satunya mendatangkan rejeki yang tidak disangka-sangka sama sekali. Begitupun dengan urusan menikmati kopi, tidak usah khawatir dengan stok yang sudah menipis, karena akan segera terganti.

Yakinlah itu.

Diawali dari sering mengganggu dengan share link tulisan blogku yang mayoritas berisi cerita tentang kopay (kopi) & ngojay (berenang) via japri kontak whatsapp kepada kolega, saudara dan teman-teman yang sudah ada di kontak smartphoneku… tentu semuanya sudah kenal duluan.

Tujuannya sangat sederhana, belajar memerangi hoax atau berita bohong/tidak jelas dengan membuat tulisan sendiri di blog dilengkapi photo hasil jepretan Smartphoneku.. sehingga hadir sebuah tulisan singkat dan ringan, …..mungkin nggak penting juga, tapi yang utama adalah…. diriku bisa bertanggungjawab atas apa yang di tulis dan dibagikan linknya kepada orang lain.

Gitu dulu yaach... oh satu lagi, rutin menulispun bisa menjaga otak tetap berfikir dan raga bergerak sehingga menghindarkan dari berbagai penyakit khususnya penyakit kepikunan lho.

Plus tulisan-tulisan ini bisa jadi warisan bagi anak cucu dan generasi selanjutnya.

Setuju khan?…. setuju aja, biar cepet.

***

Kembali ke hikmah silaturahmi tentang hadirnya rejeki, maka dalam pertulisan ini akan dibahas tulisan dengan tema ‘rejeki kopi’…....

Begini ceritanya… monggo… cekidot.

Photo : Kopi Arabica sunda hejo & prosesi V60 / dokpri.

** Rejeki Kopi **

Penulis mengenal beliau beberapa tahun lalu, sebagai pejabat di bidang audit dan pernah berinteraksi beberapa kali. Lalu sang waktu berlalu, tahun demi tahun berjalan tanpa menoleh ke belakang……. dan setahun terakhir berkomunikasi lagi karena memang nomor kontak WAnya masih tersimpan.

Komunikasinya bukan urusan dinas, tetapi mengomentari artikel di blogku yang dominan urusan kopi dan kopi dan kopi…. dan kopi.

“Kenapa sihh nulis kopi?”

Bentaar…..

“Emmmmm….. tema tentang kopi itu universal dan sangat luas, sehingga bisa dikaitkan dengan berbagai hal. Juga emang seneng kopi dan intensif sejak 2 tahun lalu”

Wadaw jawabannyaah….

Ternyata….. sekarang beliau sekarang mendapat amanah tugas di Kota Intan Garut, dan…….. yang cocok pisan adalah… sama-sama penyuka eh penikmat kopi.

Bedanya, diriku cuma penikmat saja, nah beliau sudah merambah ke implementasinya dengan menjadi owner cafe dan juga menjadi bagian proses produksi kopi dengan produknya Sunda Hejo Klasik bean.

“Mau nyoba kopi sunda hejo?, minta alamat lengkapnya”

Photo : Kiriman Kopi Sunda Hejo dan kawan-kawannya / dokpri.

Pesan via WA dari beliau, dijawab segera dengan memberi alamat lengkap…. ta-daaaa

Sehari kemudian sebuah dus besar JNE datang ke rumah dan diterima istri tercinta.

Awalnya bingung juga, tiba-tiba ada paket. Tetapi pas inget penawaran beliau, kayaknya kiriman kopi nich
.. Alhamdulillahirobbil alamin.

“Udah buka aja say, itu kiriman dari Pak bos,…. teman di Garut”

***

Malam hari baru tiba di rumah, dan setelah mandi serta tarawih… teringat untuk mencoba kopi kiriman beliau.

Melewati dus merah dan penasaran lihat isinya…. wadduh kok banyak banget ya?…

Kebayang nggak fren…. isi utamanya adalah sebungkus kopi arabica sunda hejo klasik bean, sebungkus kopi robusta dan sebotol kopi cold brew IPQ coffee... ditambah dengan beraneka makanan ringan oleh-oleh khas garut seperti kerupuk cungur, kripik bawang, dodol piknik original dan campur, dorokdok, kerupuk kulit, rangginang, roti bagelen plus baso aci instan….

Jadi prinsipnya adalah… kopinya ada, ditemani balad-baladnya banyak bingit…. bikin meriah.

Photo : Aneka kopi Klasik Bean Sunda hejo / dokpri.

Maka perjalanan di saat pengiriman, sang kopi tidak merasa kesepian, tetapi bersendagurau dengan kawan-kawan oleh-oleh keringan lainnya. Membawa kehangatan dan kebersamaan hingga tiba di tempat tujuan.

Alhamdulillah, hatur nuhun Pak Is atas kirimannya. Semoga kebaikan ini tergantikan dengan rejeki yang lebih banyak dan penuh berkah… serta suatu saat bisa kongkow bareng di Rumah Kopi Rancasalak 771 Kadungora Garut, bercengkerama sambil menikmati racikan manual brew di situ, Insyaalloh.

***

Prosesi yang pertama adalah manual brew pake V60 Arabica Sunda Hejo klasik bean semi wash dengan komposisi 1 : 15, menggunakan air panas bersuhu 90° celcius..

cuuurrr…. pelan tapi pasti.. menetes di tabung server.

Setelah tertampung semua, dituangkan ke gelas kaca mini merk duralex (gelas kesayangan… cuman itu yang dipunyai hehehehe).

Srupuut……

Uenaaak euy… rasa kopinya yang khas dan segar menyeruak di rongga mulut, seluruh lidah dan menyebar ke aneka arah sambil yang pasti meluncur ke lambung untuk berkumpul dan berproses.

Kopi arabica ini di roasting pada tanggal 30 april 2019 lalu… berarti 12 hari lalu, … pas banget tuh. Bisa munculkan rasa dan karakter kopi yang sebenarnya.

Aroma harum menyeruak indera penciumanku, acidity medium dengan rasa buah-buahan… berefek zegaar.. eh zegaaar… eh segaaar.

Body medium dan ada sedikit after taste ninggal di belakang lidah dengan menyisakan sejumput rasa lemon dan tamarind…. yang bikin asyik adalah rasa segarnya spesial sehingga tak perlu berlama-lama 200 ml yang tersajipun tandas di seruput tanpa syarat.

Yang robusta besok lagi ah nyeduhnya, sekarang udah hampir tengah malam….. udah ngantuk moo bobo dulu, bersiap menjalani puasa di esok hari.

Xie xie, merci beaucoup Pak Bos, Pak Is…

Mantabs kiriman kopinya, Haturnuhun, Wassalam (AKW).

Kopi Ki Oyo – Rancah

Yuk seduh kopi robusta organik dari Ciamis…

Photo : Kopi Ki Oyo siap saji / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah wadah silinder hadir dihadapan, bergambar wajah orangtua dan disamping kanannya beberapa tangkai daun dan buahnya berwarna merah. Wuih itu khan gambar biji kopi mentah atau cerri, ini pasti kopi didalamnya.

Benar saja, tertulis “Kopi Ki Oyo” kopi khas Ciamis.

Dari packingnya yang sudah gaul abis menandakan semangat inovasi dan menyajikan produk patut diacungi jempol. Termasuk menurut ownernya, Pak Hendri. Produk kopi ini sudah masuk ke beberapa supermarket di Kota Tasikmalaya, ajib pisan nya.

“Ini berasal dari kebun kopi pribadi, milik keluarga pak, kami petik, sangrai dan digiling hingga di pakcing seperti ini. Ini untuk bapak, selamat menikmati kopi khas daerah Rancah Kabupaten Ciamis”.

Photo : Owner Kopi Ki Oyo, Mang Hendri / dokpri.

Tak ada kata menolak, selain ucapan terima kasih dan syukur atas kesempatannya menerima kopi khas keluarga pa Haji Oyo langsung dari ownernya. Nggak juga nanya harga karena ini diberikan gratis alias free…. Alhamdulillah yach.

***

Esok harinya di rumah, segera disiapkan peralatan seduh manualku. V60 dan kertas vilternya.. eh filternya, juga air panas 200 ml pada suhu 89° celcius mengekstraksi 30 gram kopi bubuk Ki Oyo sehingga menghasilkan sajian kopi harum alami. Kopi organik jenis robusta ini mengeluarkan aroma segar perkopian yang menenangkan pikiran.

Tanpa berlama-lama, maka hasil seduhan ini disrupuuut… sambil dinikmati. Bodynya yang tebal bikin mata terbelalak, aciditynya nyaris tidak ada… yaa karena memang jenisnya robusta. Tastenyapun lebih fokus kepada pekatnya rasa, tapi tetap enak untuk dinikmati.

Photo : Manual brew V60 Kopi Ki Oyo siap dinikmati / dokpri.

Packing yang pas dengan isi kopi bubuk halus 150 gr, dengan harga jual di online antara 40ribu sd 47ribu (cek via tokopedia dan bukalapak, soalnya klo nanya langsung ama ownernya nggak enak… takut malah dikasih lagi beberapa kaleng gratis… khan jadi gimana gituuuh).

Kopi Robusta ini cenderung lebih menarik dicampur gula atau susu, bagi yang tidak biasa dengan rasa kopi pahit, karena sudah jelas bahwa #tidakadaguladiantarakita. Untuk penikmat kopi tanpa gula, maka nikmatilah kepahitan kopi robusta ini dengan senyum penuh keihlasan….

Apalagi dapetnya free, tinggal seduh dan nikmati. Tidak lupa ucapkan terima kasih kepada yang memberi. Jangan kapok ya… eeeh kok malah minta lagi… yu ahh.. srupuuut.

Selamat beraktifitas di hari selasa pagi yang segar ceria, Wassalam. (AKW).

Oleh – oleh Medan

Membawa buah tangan bagi rekan dan keluarga tersayang dari Kota Medan yang penuh kenangan kebersamaan.

Photo : Durian Sibolang siap santap / dokpri

Membeli oleh – oleh di luar kota untuk keluarga tercinta atau teman yang tidak ikut pergi bersama menjadi sebuah tindakan penuh makna.

Minimal berbagi perhatian dan merasakan sensasi makanan olahan atau minuman yang khas dari suatu daerah. Bisa juga bentuk barang yang melambangkan atau menunjukan keunikan wilayah tertentu.

Nah… di Kota Medan Sumatera Utara juga merupakan surga wisata kuliner dan juga wisata sejarah. Di sela-sela perjalanan dinas tentu bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk membeli sesuatu dan membawa buah tangan.

“Pilihannya?”

“Banyak bingiiit, yang sudah tidak asing lagi tentu Bolu Meranti, Bika Zulaikha, Manisan jambu, Lemang, Sop Sumsum, Mie Aceh Titi Bobrok, dan jangan lewatkan menyantap duren”

Photo : Toko Ucok Durian / dokpri.

Ngobrolin durian maka akan disebut ‘Durian Ucok’, itu sudah terkenal banget. Tetapi sekarang ada juga tempat makan duren kekinian yaitu Durian Sibolang yang terletak di jalan…. dengan tempatnya yang nyaman plus instagramable. Tinggal pilhan kita mau menyantap durian dimana, masalah sajian durian keduanya sama-sama menyajikan yang terbaik dan bisa diganti manakala yang dijanjikan tidak sesuai kenyataan.

Duren juga bisa dinikmati dalam bentuk pancake, jadi dagingnya sudah dipisahkan dan dibungkus denga lapisan lembut… siap makan pokoknya. Tapi harus hati-hati memilih karena mungkin saja sudah ditambah pemanis dan perasa duren (essence).. jadi yang aman… yaa belah dureeen.

Photo : Bolang durian / dokpri.

Untuk dibawa pulang, bisa juga dikemas menggunakan wadah plastik dan dibungkus rapat serta terakhir di-wrapping di bandara seharga 50Ribu per-barang baik kecil dan besar harganya sama.

***

Balik lagi ke oleh-oleh yang dibawa pulang maka selain Bolu Meranti dan Bika Zulaikha juga teri medan. Ikan teri mentah yang memiliki rasa khas lezat setelah diolah di rumah. Maka huntinglah ibu-ibu ke Pasar di Kota Medan sementara bapak-bapak termangu menunggu di dalam kendaraan Toyota Hiace yang menjadi saksi semangat belanja dari para emak-emak.

***

Ada yang lebih spesifik lagi buat penulis adalah… KOPi… yup yup.. kopi Sidikalang, Gayo, Mandailing, Lintong serta Ulee Krueng. Selain berburu biji kopinya juga mencari tempat kedai kopi atau cafe kopi yang menyajikan manual brew dengan V60 dan sebangsanya.

Kaitan kopi yang bikin asyik adalah tempat beli kopi yang berkualitas itu berdekatan dengan tempat beli oleh-oleh yang sudah terkenal… seneng khan. Coba nich :

Photo : Toko Kopi Sidikalang.com / dokpri.

1. Di Jalan Mojopahit Kota Medan adalah tempatnya belanja Bika Zulaikha, nah beberapa meter di seberangnya adalah Toko Kopi Sidikalang yang menyajikan aneka kopi dari berbagai belahan nusantara serta peralatan membuat kopi.

Photo : Mesin Roasting Probat OttenCoffee / dokpri.

2. Di Jalan Kruing Kota Medan adalah tempatnya beli Bolu Meranti. Lagi-lagi di seberangnya, agak maju beberapa ratus langkah adalah tempatnya Toko OttenCoffee. Sebuah onlineshop terkenal bagi pecinta kopi. Tempat membeli aneka barang-barang yang terkait kopi termasuk mesin kopi serta alat untuk me-roasting kopi… dan kelebihannya satu lagi adalah di Toko OttenCoffee ini bisa juga menikmati manual brew V60, Cemex, Shiffon dengan berbagai pilihan kopi dalam dan luar negeri.
Penulis mencoba Kopi Kerinci Natural Proses, rasanya…. ini dia V60 Kopi Kerinci Natural Proses Otten Coffee.

Tapi ingat ya guys, belanja juga harus konsentrasi. Jangan serakah dan gelap mata, ternyata duit habis barangnya nggak guna.

Konsentrasiii… Wassalam (AKW).

Nyeduh Kopikir Bogor

Nyeduh kopi sambil mikir, kopi apa ini, misterius, tapi ah.. kok dipikir, nikmati aja Kopikir.

Senin pagi setelah tuntas mengaji, segera menggerakkan kaki untuk bersiap apel pagi. Tetapi karena waktu masih banyak maka dilanjutkan dengan diskusi bersama membahas banyak hal bersama para pejabat eselon dua, dari topik sederhana hingga yang agak serius , pembicaraan mengalir terbangun alami.

Tapi akhirnya segera undur diri karena ada tugas mandiri yang harus segera dimulai, apa itu?…. nyeduh kopiiiiii.

“Kenapa jadi penting?”

Pertanyaan yang standar, tapi selalu ada hal yang bisa dijadikan alasan. Pertama karena memang suka banget kopi dan kedua ini kopi gratis tis tis, dikirim via paket dari Bu Dewi yang bekerja di Pemerintah Kota Bogor. Ketiga, ini kopi lokal nusantara. Karena beberapa minggu belakangan hampir semua kopi yang tersaji adalah kopi luar negeri. Padahal kopi Nusantara is the best lho.

Hatur nuhun ya Bu Dewi.

Sudah 2 minggu lebih sang kopi ini dibawa kesana kemari. Tetapi belum ada kesempatan untuk menyeduh sendiri. Maklum lagi sok sibuuk hehehehe. Jadi menikmati kopi tanpa gulanya lebih banyak yang disajikan manual brew oleh orang lain.

Nah pagi ini… saat yang tepat sebelum apel pagi untuk menyeduh si hitam bubuk harum dari bogor ini.

Bungkusnya menarik, alumunium foilnya berlapis warna putih dengan gambar depan yang minimalis bertuliskanKopikir‘... maksutnyaa?… kopi + kir atau ‘kau pikir’ kali yaa?… atau kok pikir pikir?… entah lah, yang pasti dibawahnya ada tulisan kopi bogor.

Nggak pake lama, stalking dulu via gugel dan medsos, Instagramnya lucu… dan disebut berbagai varietas kopi di Nusantara, ada Gayo hingga Toraja juga Balinese and Javanesse… yang ini dari mana ya?… bungkusnya di bolak balik. Ada gambar kijang dan dibawahnya gambar karikatur yang menggambarkan suasana kota Bogor… jadi penasaran. Misterius yeuh.

***

Alat tempur segera disiapkan, kertas filter, V60, termometer, timbangan, gelas ukur dan tentunya air panas sesuai harapan. Nggak lupa basahin dulu kertas filternya dengan kucuran air panas sebelum bubuk kopi diseduh dengan sepenuh hati.

Setelah semua siap, 48 gram bubuk kopi segera disentuh perlahan oleh kucuran mesra 400 ml air panas temperatur 90 derajat celcius…
Hmmm…. aroma harum kopi memenuhi ruang harap, bikin senin pagi semakin semangat setelah tadi pagi jam 03.00 wib sudah mandi karena jadwal shubuh berjamaah sudah menanti.

Tes….

Tes….

Tes…. tetesan cairan hitam kopi berkumpul di bejana kaca transparan.. ah nggak sabar nich untuk segera menikmati.

Tuntas di bejana segera dituangkan pada cangkir kecil kesayangankuu….

Daan…. srupuuut…. kumur dikitttt…. glek….

Dessss…… sebuah rasa menyeruak di pagi ceria. Aroma harum dengan kepahitan merata dan tertahan lama dibawah lidah (body bold… kayaknya blended arabica dan robusta… atau roastingnya maksimal.. dark roast.) Aciditynya rendah, taste yang muncul rasa dark coklat dan selarik rasa kacang tanah… yakin ini bukan javanesse coffee…. apa yaa?

Ah tapi nggak perlu banyak tanya, tapi nikmati aja.

Ntar klo ketemu bu Dewi, baru tanya-tanya lagi. Yang pasti kopikir yang sudah dikirim ini begitu nikmat. Malah 400 ml hasil manual brew hanya bertahan sesaat di bejana karena segera habis di nikmati bersama.

Hatur nuhun bu Dewi, Wassalam (AKW).

Diary Coffee 10

Puisi ringkas menjelajahi nikmatnya rasa dan nomena kopi.

Pagi menjelang kabut menipis
Langkah semangat dingin ditangkis
Mengitari kampus tanpa meringis
Supaya keringat lewati garis

Tuntas olahraga pagi
Dilanjut menyeduh kopi
Sudah pasti pake Vsixty
Senjata andalan untuk rasa hakiki

Pertama kopi tiam jadi pilihan
Beli di Mustafa tengah malam
Serasa murah setengah kilogram
Cukup 6 dolar sing sebagai penggantian

Ternyata rasanya biasa nian
Agak cenderung banyak campuran
Malah teman yang ikutan
Ngeluh ke lambung agak tertekan

Tapi secara keseluruhan lumayan
Buat nemenin ngopi bersama teman
Memberi sebuah pengalaman
Ngopi kopi dari seberang lautan

Kopi arabica sindoro sumbing
Menjadi pilihan penting
Dibawa pa rahmat berdaya saing
Rasanya mantab harum semriwing

Digiling khusus untuk diseduh
Manual brew semakun ampuh
Acidity medium Body tak rikuh
Bikin senang hati yang rapuh

Dilanjut kopi HS Purwakarta
Body bold acidity medium saja
Bikin kaya pengalamannya
Aneka kupi seantero nusantara

Ada lagi kopi bawaan pa Bambam
Bungkus ijo Bogorcoffee arabica
Sensasi aroma penuh warna
Acidity medium aroma ruaarbiasa

Bikin mood pagi menggelora
Segar tiada terkira
Apalagi ditambah kopi Robusta
Bikin melek semakin nyata

Itulah sejumput cerita
Tentang manual brew bersama
Di kampus kiarapayung tercinta
Hidup diklat RLA (AKW).

Pagi & Rejeki Kopi

Rejeki nyeduh kopi di pagi hari, bukannya habis … eh malah makin bejibun. hayuuu nyeduh kopaaay.

Pagi hari setelah berolahraga keliling bukit di kaki manglayang, sebuah ritual penting dipastikan harus dilaksanakan. Tentu dengan persiapan yang matang, ketelitian mendalam serta konsentrasi sepenuh hati untuk mengikuti tahapan yang miliki arti hakiki.

“Emang lo mau ngapain?”
“Ritual apaan?”

“Weits kalem dulu mas bro, ini bukan urusan kepercayaan kepada sang pencipta. Tapi ritual memaknai sebuah proses kehidupan yang tentu berkorelasi dengan hasil yang dicapai”

“Busyet dah tuh jawaban bikin pusing tapi penasaran, cepetan lo moo ngapain?”

***

Bukan jawaban yang dihadirkan tetapi tindakan nyata yang segera dilaksanakan. Keluarin 2 toples kopi hasil gilingan sendiri, ada Diq coffee-Ciwidey dan Kopi Lestari Arabica ditambah sebungkus Kong Djie Coffee sisa kemarin pemberian pa Doktor Bambam.

Corong V60 pink, filternya, gelas ukur dan sendok serta botol tabung buat nampung langsung tersaji.

“Oohhh bikin kopiii…. ini ritual yang kami tunggu…” sebuah jawaban tegas yang juga sekaligus meninggalkan diriku.

“Wah jangan-jangan beliau tersinggung” dalam hati bercerita sendiri.

Ya sudah.. segera ritual manual brew V60 digelar. Kopi Diq Coffee menjadi pembuka dilanjutkan menyeduh kopi Kong Djienya Belitung….

Jreng….

Currr….

***

Ternyata dugaanku salah besar. Yang tadi seolah tidak acuh dengan ritual nyeduh kopi sudah kembali dengan segenggam kopi…. asyikkk.

Kopi yang ada belum tuntas diseduh.. ternyata meja panjang ini sudah penuh dengan aneka kopi dari berbagai wilayah.. Alhamdulillahirobbil alamin.

Betul kata agama, rejeki itu datang dari arah yang tidak terduga. Tanpa dikomando terkumpul berbagai kopi yang siap dinikmati diantaranya :

Pertama, Singa coffee Java Arabica dibawain sama om Roni.

Kedua, kopi sumatera Mandheiling versi Indoculinaire yang bawa pakde Adhi & Om Jun.

Ketiga, kopi Sumatera Mandheling by Exelso di kasih oleh om Mukti.

Keempat, Aceh Coffee Ulee Kareng ini dibawain lagi sama Om Roni.

Kelima, kopi bubuk Cap Liong Bulan, Bogor dibawain sama om Ajaw.

Keenam, Kopi Aroma Mokka Arabica Giling halus dibawain om Yayan.

Ketujuh, 3 rangkaian kopi dari Indoculture yaitu : Kopi Bali, Kopi Toraja dan Kopi Aceh… ini teh lupa euy.. om Bambam kayaknya.

Ke delapan, Sumber Coffee Kopi Manggar dari Kang Agus dapur. Lengkap sudaah.

***

Jadi stok bejibun…. Alhamdulillah. Penyeduhan semakin gampang karena kopi bubuk sudah tersedia dari berbagai sumber yang ada. Tinggal bagaimana menyeduhnya, apa rasanya dan yang pasti….. bisa menikmati bersama hasil manual brew V60 tanpa gula ya mas broo.. Wassalam (AKW).

Kopi Zain – Tretes

Menikmati si hitam harum sambil B-gadang.

Dikala sebagian tetangga sudah terlelap dalam mimpi masing-masing. Penulis masih termangu di ruang makan, sambil memandang ke luar jendela yang sudah dipastikan gelap gulita.

“Ngapain begadang mas bro?..”

Sebait kalimat yang standar, tapi perlu diberi penjelasan agar menghindari mispersepsi yang bisa berakibat diluar kendali.

“Jagain ibu mertua yang lagi sakit sambil ‘anyang-anyangan’… meracik kopi dengan seduhan manual ala V60”

“Ohh… gitu. Yo wis lanjutkeen…” Suara sedikit puas menggema dan beberapa detik kemudian menghilang dibalik neocortec yang terus bekerja.

Bubuk kopi yang terbungkus kertas alumunium voil hitam disajikan, ditimbang dulu…. ada 20gram. Sambil menunggu air panas mencapai tingkat kepanasan 93 derajat celcius yang diinginkan. V60 yang sudah terpasang filter dikucuri air panas dispenser. Baru kopi bubuk dimasukan ke V60 yang dilafisi kertas pilter…. eh kebalik… dilapisi kertas filter.

Air mendidih sudah siaap…. ujung gooseneck secepatbya ambil peran, berputar indah searah jarum jam. Diawali proses blooming lalu prosesi brewingpun berjalan perlahan tapi pasti….. tetesan cairan hitam nikmat menebar aroma keharuman yang mempesona… Yummy.

Srupuut… kumur dikit… tahan dibawah bibir…

Glek

Body yang strong alias kepahitan yang mendalam, dengan aroma mendekati harum cempedak. Acidity medium disertai sedikit fruity… ueenak tenan.

Inilah hasil manual brew kopi Zain Prembon-Tretes.

Alhamdulillah, ibu mertuapun tidak banyak keluhan meskipun tadi minum air rebusan cacing tanah/kalung demi alasan pengobatan diagnosis penyakit Typhusnya. Wassalam (AKW).