Teknologi & Kasih Sayang

Kemajuan jaman dan menjaga kedekatan adalah suatu tantangan.

Photo : Hasil make up anak kicik / dokpri

Semilir udara segar di Ibukota membawa gemuruh rindu kepada anak tercinta yang menapaki setengah waktu golden age-nya. Ada rasa kangen mendalam yang tak bisa dikatakan dengan sebaris kalimat indah yang sederhana.
Memang anak kecil itu memiliki takdir dan aura kehidupan yang menarik siapapun untuk menyenangi, mengasihi dan mencintainya. Apalagi orangtuanya yang ditugaskan Allah untuk menghadirkannya menjadi generasi penerus dimuka bumi ini.

Tiba-tiba sepenggal cerita kehidupan 4-5 tahun lalu hadir dihadapan, mempertontonkan wajah anak manusia yang berwajah muram hopless karena vonis dokter untuk dipaksa ikhlas tidak akan punya keturunan, ohh…. dunia serasa runtuh mendadak.

“Tuhan tidak adil, Allah pilih kasiih….” teriak histeris memenuhi ruang imagi, menyesakkan dada yang sudah luntur karena airmata ketidakberdayaan. Pada saat yang sama, sering bersua dengan teman sebaya bersenda gurau dengan anak-anaknya…. “Sungguh bahagia”.

***

Alhamdulillah dengan kasih sayang Allah SWT kepada hambanya, perlahan bisa bangkit kembali dari serpihan kesedihan jiwa dan meneguhkan kembali keyakinan serta menggenggam kebenaran bahwa : “Ketidakhadiran anak dalam kehidupan bukanlah segalanya, itu hanya fragmen kehidupan yang harus dijalani dalam waktu singkat di dunia fana. Nilai keikhlasan menerima kenyataanlah yang menjadi pengantar pahala dan menjadi nilai strategis untuk selalu bahagia.”

Itu dulu….

Sekarang sedang belajar untuk senantiasa bersyukur atas segala karunia Allah Subhanahu Wataala, termasuk hadirnya Istri yang sholehah serta anak syantiek sholehah yang memasuki usia 2 tahun 6 bulan, Ayshaluna Binar Wardana.

Dan sekarang Merindukannya.. Sangatt..

Nggak pake lama, buka aplikasi Video call, banyak pilihannya. Yang udah biasa dipake ya whatsapps vidcall atau goggle duo. Trus klo lawan bicaranya pake Apple bisa manfaatin aplikasi facetime…. banyak pilihannya… ya inilah jaman kemajuan teknologi dan anak-anak tumbuh bersama kemajuan jaman ini.

“Hallo, Assalamualaikum!!!!… lagi apa anak cantik ayah?”
Dilayar handphone nggak ada jawaban, hanya wajah lucu anak kicik yang merengut, bibirnya tertutup, tangan dilipat dan wajah membesi…. ngambek dari sonohnya. Karena tau ayahnya nggak pulang malam ini karena harus tugas di Jakarta hingga esok hari.

“Sayangkuuu……”

Tetep nggak ada jawaban dan anak kicik bertahan dengan wajah cemberutnya.

Akhirnya sesi video callpun berakhir tanpa ada sebait kata dari anak tercinta. Hanya doa dari istri tercinta agar tuntas tugas dan pulang dengan segera.

***

Esok harinya, sore yang cerah menemani kembalinya raga ini ke rumah. Baru saja membuka pagar depan rumah.

Teriakan, “Ayaaaah!!!….” memberi rasa bahagia tiada tara. Tangan mungilnya terbuka sambil berlari menyongdong kahadiran ayah tercinta dengan wajah ceria.

Secepatnya dipeluk dan digendong, terasa kehangatan kasih sayang menyeruak dan menelusup direlung rasa, memenuhi syaraf dan pembuluh darah hingga akhirnya membuat dopamin bergerak di otak wujudkan sensasi bahagia yang harus disyukuri bersama.

Ternyata, kemajuan teknologi hanya menjadi pendukung atau sarana menjaga kedekatan dan pola asuh anak di usia golden age-nya. Karena kedekatan hakiki dan nyata yang akan menjaga stabilitas emosional anak dengan orangtuanya. Bukan gunakan gadget atau peralatan canggih lainnya sehingga anaknya ‘anteng’ sementara ayah ibunya juga sibuk dengan smartphonenya atau tv kabelnya.

Yuk luangkan waktu lebih banyak untuk menemani anak diwaktu senggang atau libur. Ajak bermain dan bercengkerama tanpa membawa atau memainkan jemari diatas kibod virtual di smartphone kita..

“Bisa?…. “
“Susah euy”
“Itulah tantangan kita”

Harus kita perjuangkan sodara-sodara, di Thailand sudah sejak tahun 2014 kampanye
‘Technology Will Never Replace Love’

“Caranya ??”
“Ya itu tadi, puasa hape… eh berenti sejenak mainin hape atau smartphone dan ajak bercanda serta bermain anak-anak kita semaksimal mungkin……”

Apalagi menurut penelitian, dimuat di The New York Post, November 2017, menyebutkan di Amrik sana, rata-rata 8 menit orang-orang mengecek Handphonenya.. bahkan studi lain menyebutkan 1 dari 10 orang mengecek handphonenya setiap 4 menit. Sementara studi di Inggris rata-rata warganya mengecek handphone 28 kali sehari… (The Great Shifting; hal 50;2018)

“Coba kita berapa menit sekali?… jangan-jangan lebih parah xixixixi.”

***

Jadi mulai sekarang, lawan ketergantungan kita kepada handphone atau smartphone kita. Kendalikanlah bukan kita yang dikendalikan…

Semangaaat!!!!
Selamat mencoba. Wassalam (AKW).

TAK SESAL BERLIKU

Ternyata pemandangan di pelupuk mata tidak sama dengan apa yang terjadi didalam pikiran dunia . #fiksihariini

Hamparan hijau sawah dan kebun menyejukan pandangan mata. Memberi ketenangan yang tiada tara. Padi berbaris menebar cita, berpadu dengan langit yang mengharu biru. Liukan sungai membelah bukit, di temani pepohonan rindang yang tumbuh segar. Sebuah rumah sederhana berhalaman luas melambaikan harap bahwa kedamaian itu sedang hadir disana.

Tiba-tiba menyeruak rasa, menggelitik keinginan dan mengekstraksi rasa iri dengan apa yang dilihat diluar sana. Sungguh rasa iri ini membuncah, melihat seorang bapak duduk di halaman depan rumahnya. Ditemani secangkir kopi hitam yang masih mengepul asap tipis kenikmatan, ditemani goreng singkong dan ubi serta kacang rebus. Sambil memandang pemadangan menghijau serta kesibukan beberapa binatang peliharaan yang asyik bercengkerama dengan alam, tak peduli dengan permasalahan kehidupan.

Betapa nikmat hidupnya, itu yang membuncah di kepala dan menggejolak di otak sementara diri ini hanya duduk termangu menatap kenyataan terpenjara oleh keadaan yang jauh berbeda. Duduk terdiam di kelas ekonomi Kereta Api Argo Parahyangan yang terus bergerak tanpa inisiatif mengikuti tarikan sang lokomotif.

Tak tahan dengan keadaan, jiwa berontak bergerak secepat kilat menembus kaca tebal kereta. Terbang menjauh melewati hamparan sawah dan kebun dengan udara yang begitu segar. Menuju rumah sederhana tadi di mana seorang bapak tua tengah bersantai sambil menikmati kudapan spesialnya. Ternyata masih ada, duduk santai di halaman depan rumahnya.

Tak banyak bicara lagi karena rasa iri sudah menguasai diri. Langsung jiwa ini menerobos masuk menguasai raga tua yang hanya bisa terpana tak kuasa menolak kedatangan yang tiba-tiba.

Gelap sesaat.. lalu perlahan membuka mata dan… aku sudah menjadi lelaki tua yang sedang duduk di kursi kayu lapuk sambil memandang hamparan sawah dan kebun yang sudah bukan miliknya karena telah terjual untuk membiayai kehidupannya dan kehidupan anak-anaknya yang tak kunjung mandiri miliki pekerjaan yang pasti. Mereka tidak mau jadi petani tapi pergi ke kota tanpa pendikan yang berarti. Akhirnya jadi pengangguran dan membebani orangtua yang semakin renta ini.

Rumah inipun……. ternyata hitungan bulan akan segera dilelang oleh pihak bank, karena tak kunjung mampu membayar angsuran pinjaman yang selalu musnah tertelan ganasnya kehidupan. Satu-satunya hiburan adalah memandang kedatangan kereta api yang saban hari hilir mudik membawa sosok-sosok manusia. Kumpulan manusia yang berpetualang dan menjalani ritme kehidupan yang nikmat, duduk empuk di kursi kereta yang membawa ke tempat-tempat yang menyenangkan. Apalagi raga yang mulai renta dan penyakit tua yang menggerogoti dilengkapi rapuhnya jiwa karena kondisi keluarga. Sungguh iri hati melihat semuanya.

Aku terhenyak dan tersadar ternyata disini kondisinya tak lebih baik. Malah tenyata lebih parah. Segera bersiap harus hengkang nich, daan kembali ke posisi semula. Duduk termangu di kereta.

Tapi…. jiwa ini tak bisa lepas dari raga renta ini. Terpenjara dan terjebak selamanya. Sesal sudah tiada guna. Akibat terbujuk iri termakan dengki, melihat orang lain bahagia padahal miliki masalah kehidupan yang begitu pelik rumit dan penuh duka.

Detik dan menit berlalu, terlihat gerbong akhir Argo Parahyangan telah hilang dari pandangan. Semakin derita terasa, tak kuasa menahan kesedihan karena harus terpenjara dalam raga entah siapa. Mulut gemetar teriak sekuat tenaga hingga akhirnya gulita menyapa.

Perlahan mata membuka dan terlihat langit-langit rumah yang kumuh dan penuh noda bocoran air hujan. Di samping kanan seorang ibu tua lusuh berkulit keriput memijit tangan ini dengan sesekali menyeka lelehan air matanya. Air mata kesedihan dan kepasrahan.

Aku kembali tak sadarkan diri, berjanji untuk menahbiskan diri, hanya bergaul dalam gelap dan temaram.(Akw).

Note : Mari kita syukuri apapun yang Allah SWT takdirkan dalam jalinan perjalanan kita. Angan terjebak dengan iri dengki yang berujung nestapa. Kesedihan dan Bahagia adalah satu paket yang saling melengkapi.

Cukup Jalani, Syukuri dan Nikmati.

Inspirasi dari seberang jendela Argo Parahyangan. (Ini hanya Piksi… eh Fiksi ), Wassalam.