MERDEKA 170819

Merdekaaa……. menggetarkan jiwa dan raga.

Photo : Pose dulu ah / pic by He

BANDUNG, akwnulis.com. Berkibarnya sangsaka merah putih dan sirine penuh semangaaat bergema menggetarkan jiwa-jiwa hadirin yang hadir dalam upacara besar ini, jiwa dan raga terlarut dalam rasa nasionalisme memperingati detik-detik proklamasi ke 74 tahun ini, 2019 tingkat provinsi jawa barat.

Lapangan Gasibu adalah lokasi ke sekian kali, raga dan jiwa ini ikut menjadi bagian sebuah upacara besar, sebagai penggembira.. eh peserta.. eh undangan lho… memperingati momen sangat bersejarah bagi bangsa ini, Bangsaku, Bangsa Indonesia.

Photo : Selfi setelah apel pagi / dokpri.

Upacara besar ini adalah puncak acara, meskipun rangkaian pentingnya sudah diawali dari dini hari tadi, acara renungan suci. Lalu upacara di tingkat Sekretariat daerah tadi pukul 07.30 wib dan setelah itu dilanjutkan acara Upacara besar di lapangan gasibu ini. Rangkaian acara terus berlanjut, hingga nanti sore upacara penurunan bendera.

Semua acara adalah sebuah pemaknaan tentang suatu perjuangan besar yang simultan, pararel serta sinergi dari seluruh komponen bangsa kala itu, 74 tahun lalu, 1945.

***

Photo : TMP Cikutra / dokpri.

Tadi dini hari, tepat pukul 00.00 wib sebuah rasa bangga dan hormat kepada para pahlawan kemerdekaan kusuma bangsa dihadirkan dalam acara renungan suci di Taman Makam Pahlawan Cikutra.

“Kepada Arwah para pahlawan, Hormaaaaat Senjataaa, Graaak!!!!”

Serempak tangan dan senjata memberi hormat. Lengkingan terompet perlahan tapi pasti, diawali dari suara tunggal lalu bersahutan penuh semangat tetapi terselip ada rasa menyayat hati. Lampu-lampu dipadamkan, obor-obor kecil di sekitar TMP menyala dikawal adinda para anggota Pramuka menambah khidmat dan penuh kedamaian, mengingatkan pada pengorbanan jiwa raga, harta benda, perasaan dan tertumpahnya darah-darah pahlawan demi sebuah kata, KEMERDEKAAN.

Photo : Narsis masa lalu / pic by DeA

Cukup lama tangan dan senjata dalam posisi hormat, getaran jiwa dan bayangan perjuangan para pahlawan terasa merasuk di jiwa, meskipun di hati kecil terselip rasa khawatir…. takut posisi hormatnya ini ada yang membalas.. upps.

“Tegak senjataaaaaaa…., Grakk!!!”

Kembali posisi ke sikap sempurna dan tangan kembali ke tempat semula, perlahan rangkaian acara renungan suci berlanjut dengan hening cipta, laporan dan doa.

MERDEKAAA!!!!!

Kemerdekaan kedaulatan negara yaitu NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) tidak diraih dengan mudah kawan, semua penuh pengorbanan yang tidak bisa terbayangkan oleh kita semua sekarang, para penikmat dan pengisi kemerdekaan.

Mari kita isi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya, rasa patriotisme dan bela negara adalah jiwa kita meskipun masing-masing individu memiliki cara berbeda. Indonesia adalah aneka, Indonesia adalah bhineka berbagai rupa warna, bahasa, budaya dan rasa karsa, tetapi semua terangkum dalam NKRI milik kita.

MERDEKAA…
MERDEKAA…
MERDEKAA..

***

Photo : jump dikit / pic by RH

Kegiatan belum usai, tetapi hasrat menulis dalam urutan kata terus membuncah tidak bisa ditunda, Selamat Dirgahayu RI ke 74, Wassalam (AKW).

Petugas Pembaca UUD1945

Selembar photo sejuta makna, legam bukan berarti kelam, tapi legam yang penuh harapan.

Photo : Sang Pembaca berkulit eksotik / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Ber-lebaran di kampung halaman tempat kelahiran adalah saat yang begitu berkesan. Selain bisa kembali bersua dengan kawan sepermainan juga mengembalikan kenangan masa kecil yang ternyata menjadi pondasi penting dalam menjalani kehidupan.

Jikalau mesjid besar Al-Kahfi mengingatkan kembali betapa ‘aktifnya(maksudnya aktif bermain dan iseng di mesjid dan sekitarnya).. maka sebingkai photo masa lalu, mengingatkan kembali tentang sosok kecil, lugu dan polos dengan kulit sawo matang sematang-matangnya karena senang sekali ‘natural salon tunning ‘ alias maemunah (moé manéh = berjemur langsung dibawah sinar terik mentari) sambil berburu layangan yang putus dan terbang tak tentu arah mengikuti gemulai angin kehidupan, yang juga ber-efek samping keringnya kotoran hidung sehingga disebut juga -moé korong-…. masa kecil anak kampung yang menyenangkan.

Cerita mesjid dan masa kecilku bisa dibaca di tulisan SELAMAT HARI LEBARAN.

***

Selembar photo sejuta kenangan, itu bukan hanya istilah, tapi nyata adanya. Kembali memandang photo ini, teringat terasa waktu itu betapa gagahnya, berbaju putih dan celana (pendek) putih… lho kok pendek?…. ya iya atuh, khan masih anak SD. Anak kecil yang punya mimpi besar.

Menjadi petugas upacara sebagai pembaca UUD 1945 di acara Upacara Bendera HUT RI di tingkat Sekolah… eh lupa lagi… atau tingkat kecamatan ya?… ah sudahlah… yang pasti ada bukti udah pernah jadi petugas pembaca…. bukti otentik berupa photo, titik.

Kembali urusan kulit, terlihat begitu legam membahana… mendekati level gelap kehitaman. Tapi jangan salah, kulit super gelap itu tahan terhadap alergi kulit lho…. trus kukurusukan (masuk ke semak-semak) di kebun atau pinggir hutan, nggak khawatir dengan gigitan nyamuk atau serangga. Mereka enggan mendekati kulit gelap, mungkin darahnya pahit sepet jadi males gigit sang nyamuknya hehehehe.

Trus bagus buat penyamaran, sedikit saja ada tempat gelap maka langsung bisa menyatu dengan keadaan menggunakan teknik kamuflase ala bunglon wkwkwkwkwkwkw…..

***

Tiga puluh tiga tahun berlalu, ternyata hobby membaca melekat dalam jiwa, jikalau dulu memang sebagai pembaca dalam upacara, maka sekarang membaca buku masih menjadi pilihan santai di waktu senggang, meskipun ada buku yang senantiasa sedih jikalau dibaca…. yaitu buku tabungan, hiks hiks hiks.

Satu lagi yang masih melekat dengan aktifitas membaca adalah membaca situasi, baca gejalanya, analisis sederhana dan lakukan tindakan, maka hasilnya akan didapatkan.

“Maksudnya gimana?”

Ahh…. pertanyaan yang agak panjang untuk dijawab. perlu bersua dan dijelaskan secara langsung tentang ‘membaca situasi’ ini, karena ternyata tidak cukup keinginan saja, tetapi harus berlatih dan akhirnya menjadi ‘keterampilan’….

“Oke dech, nanti ke ruangan ah, sambil ngopay, khan udah nggak berpuasa”

“Siyaap mas bro, eh tapi mendingan kontak-kontak dulu, khawatir lagi shaum sunnah syawal (nyawalan)”

“Ah banyak kali kau alasan”

Aku Malas berdebat, karena situasinya tidak memungkinkan. Tapi jikalau waktunya tiba dan bisa berdiskusi, maka ‘membaca situasi’ ini bisa menjadi tema yang (mungkin) menarik. Entahlah.

Kembali photo ini dilihat lebih seksama, terutama latar belakangnya. Barangkali ada wajah kawan-kawan masa kecil yang bisa diingat. Semua mirip, masih lugu, polos dan wajah asli urang lembur (desa) seperti akyuuu….

Semakin diperhatikan wajah-wajahnya, tetap saja belum bisa memastikan wajah-wajah siapa itu, ya sudahlah….

Selamat menikmati mudik dan berjumpa dengan kenangan masa kecil yang tak akan terulang kembali, Wassalam (AKW).

Pantun RLA XIV

Rangkaian asa penuh suka duka selama 4 bulan yang penuh makna dalam genre pantun sederhana

Abege seksi jualan panci
Dibeli selusin langsung berhenti
Ungkapan ini bukan puisi
Tetapi aneka kumpulan cirahan hati

Tali terkait dibalut semen
Mengikat kawan semakin erat
Wawancara skype dan seleksi online
Pembuka jalan menjadi peserta Diklat

Wajah kusam dioles arang
Lari ke warung membeli koran
Pengumuman kelulusan adalah kenyataan
Kampus Kiarapayung awali pembelajaran

Gunung Manglayang indah sekali
Udaranya segar nyaman di daki
Kami datang dari Jabar, Jogja dan Bali
Luaskan wawasan dalam koridor reformasi birokrasi

Layar berkibar di bukit ini
Tautan jemari merengkuh hati
Juga 7 kab/kota di Jabar adalah kami
Jalin silaturahmi serta persaudaraan hakiki

Buah coklat berdaun mini
Campur ketumbar hindari basi
Kami peserta diklat Reform Leader Academy
Siap belajar, berinovasi dalam kerangka kolaborasi

Masak ikan kembung tanpa gula
Dicampur garam dan sayur selada
Wujudkan whole of government secara nyata
Di tempat kerja juga nanti ke seantero nusantara

Anak sapi makan jerami
Kambing sehat, berlari kesana kemari
Bonus demografi tantangan kami
Hasil diklat ini, harus menjadi solusi

Ke perkemahan jalan kaki bersama
Peluh menetes hati terbuka
Millenial menjadi fokus utama
Tema diskusi, hasilkan solusi nyata

Ikan bersirip di dalam samudera
Berenang meliuk pamerkan gaya
Policy brief & policy paper kami susun bersama
Buah fikir kami, sumbangsih bagi negara

Pergi ke hutan mencari kakak tua
Hindari lumpur dapatkan cucakrawa
Kami kampanye ke seantero kota
Ditambah survey online di seluruh indonesia

Kopi robusta dicampur arabika
Diseduh air mendidih tanpa gula
Hasilkan konsep dan rekomendasi bersama
Beri kemudahan millenial untuk berusaha

Photo : Ketua Kelas menerima piagam penghargaan Kelas dari Ketua LAN RI / dokpri.

Pa Sigit adalah ketua kelas kami
Sosoknya riang, seksi meski terkadang menyendiri
Ruang riung adalah RBN kami
Memberi ruang & aktivasi millenial sejati

Arabika puntang dicampur kopi Aroma
Hasilkan rasa membumi penuh pesona
Gedhong rembulan Sibangbara bergema
RBI Jogja, Kabupaten Sukabumi & KBB bersama

Kopi Kintamani enak rasanya
Kopi Kiwari, harum penuh asa
Viral Sukabumi & Loka Yowana Kriya
RBI Kota Sukabumi & Bali pulau dewata

Kumpulan kaleng isinya kopi juga
Tidak hambar dengan rasa luar biasa
Gudang gandeng, switch in dan Rumah Moeda
Dari Jabar, Bandung-Cimahi, Bogor dan Purwakarta

Photo : Ketua LAN RI dengan produk Kopi Kiwari dari pengusaha millenial di Jabar / dokpri.

Menyeduh kopi gunakan teko leher angsa
Hasilkan kejutan rasa yang tak akan terlupa
Konsep ini sudah sampai kepada negara
Di KSP melalui ibu Deputi III

Aura Kasih menari di pinggir kali
Ikan terpana, buaya terdiam sambil mengintip
Terima kasih LAN RI atas kesempatan ini
Membimbing kami menjadi kreatif, profesional, inovatif yang Kolaboratif.

Menenun batik bergambar singa
Goreskan canting, ikuti rasa nurani
Hatur nuhun Bapak Kepala LAN dan Pak Kapus PKP2A I beserta jajarannya
Kami bangga menjadi alumni diklat di kampus ini.

Photo : Coach kami, Pak Desi F sedang beraksi / dokpri.

Makan sirih dicampur busa
Sedikit nasi diatas baja
Makasih kami untuk coach yang luar biasa
Pa Desi & Pa Yonathan yang bersahaja

Mawar berduri basahi raga
Mawar mewangi tidak semua
Awal juli kita bersua
Awal nopember ini akhirnya berpisah jua

Kopi Pangauban berbentuk biji
Di grinder kasar untuk Vsixty
Maafkan semua perilaku kami
Jikalau ada yang tidak berkenan di hati

Photo : Diplomasi kopi / dokpri.

Kopi pahit disajikan pagi
Kopi Luwak cocok siang dan malam hari
Kami pamit bukan sekedar pergi
Tetapi melangkah pasti, mengubah Negeri.

HIDUP RLA XIV!!!!

Wassalamualaikum Wr Wbr.
Kiarapayung, Nopember 2018 (AKW).

TMP Cikutra 2018

Merenungi sebuah intisari dari para pejuang kemerdekaan sejati.

Photo : Dokumen pribadi

Julang tinggi tugu menhir raksasa yang berpasangan menyambut kedatangan kami, pembawa jejak kaki kecil penuh niat plus harap. Sunyi dan temaram terasa menusuk jiwa, padahal bukan sendiri ada disini. Banyak raga bergerak menuju titik kumpul, dikelilingi dan diiringi ribuan jiwa yang berjasa mengantarkan kemerdekaan bagi kami, Indonesia NKRI.

Detak jam kehidupan terus bergerak menuju titik kulminasi 00.00 wib. Sementara berbagai raga dengan balutan seragam aneka rupa mulai membentuk barisan yang tertata. Jas dasi dan peci hitam terlihat berjajar rapih menjadi ciri para Aparatur Sipil Negara, begitupun seragam upacara militer dari anggota TNI dan POLRI, Ormas Kepemudaan serta unsur masyarakat.

Photo : Persiapan Renungan Suci / Dokpri.

Hormat dan Grak menjadi jodoh yang tak terpisahkan, memberi nuansa kepatuhan sekaligus kepasrahan. Sementara dinginnya malam tak berani mendekati raga-raga yang berbaris rapi, hanya bisa mengelilingi tanpa mampu memegang kendali. Begitupun nyamuk malam hanya terdiam di pucuk rerumputan, seakan terlarang untuk menyentuh kulit kehidupan yang begitu tekun serta taat terhadap instruksi teriakan Komandan.

Rangkaian upacara penghormatan bagi arwah para pahlawan berjalan khidmat dalam kegelapan. Lengkingan terompet memecah keheningan, menjadi satu-satunya musik yang membelit rasa mengendalikan pikir. Semua hening sehening heningnya.

Lengkingan terompet terus bergerak menelusuri relung hati, memberi sebuah arti bahwa kehadiran kita semua di tengah malam ini adalah sebuah apresiasi. Janji dan renungan suci, penghormatan kepada para pahlawan sejati yang berjuang meraih dan mempertahankan kemerdekaan negeri.

5.774 orang disemayamkan disini 5.132 orang Angkatan Darat, 19 orang Angkatan Laut, 242 orang Angkatan Udara, 177 orang Polri, 71 0rang sipil dan 193 orang pahlawan tak dikenal.

“Untuk menghormati Arwah Para Pahlawan, Hormaaaat Graakk!!!” Sebuah instruksi membahana, peserta serentak mengangkat tangan, menempelkan tangan kanan di dahi. Hormat sejati.

Meskipun terus terang saja, tak berharap hormat ini dibalas, sungguh… jangan dibalas yaaa… please.

***

Photo : Makam yang rapi / dokpri.

Akhirnya prosesi renungan suci berakhir sesuai janji, semua hadirin bergerak meninggalkan lokasi. Tak ada satupun yang memisahkan diri untuk berdiam diri hingga pagi. Semua pulang menuju mimpi yang dirajut dengan penuh warna warni.

Selamat berpisah kawan, selamat tinggal Taman Makam Pahlawan Cikutra. Wassalam (AKW).

***

Tahun lalu juga Renungan suci lho.. ini nich RENUNGAN SUCI 2017.

—————————–
Catatan :
Ini adalah satu-satunya upacara seremonial yang dipastikan tidak ada peserta yang kabur, menyelinap dan pulang duluan dengan alasan apapun. Apalagi nongkrong merokok sendirian di belakang barisan. Semua tertib datang dan pulang secara bersama-sama lagi.

Kenapa coba?… ayooo tebak.. 🙂