Salad & Teh Kasih Sayang

Sajian salad yang menemani kebersamaan…

Photo : Ranch Chicken Salad / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Getar hati melingkupi sebuah janji, menghiasi perjalanan hidup yang sesungguhnya adalah misteri. Disini sebuah kepasrahan diuji, “Apakah mampu memaknai hari tanpa tergoda kanan kiri?” … “Atau masih tergetar dan muncul rasa dan ingin seperti orang lain?”

Monggo jawab sendiri.

Begitupun dengan kehadiran pasangan hidup kita, terkadang karena terbalut rutinitas, seolah perjalanan hidup ini biasa saja, business as usual. Padahal, Allah Swt sudah memberikan kesempatan kepada kita untuk memilih manusia ciptaan-Nya untuk menjadi pasangan hidup, insyaalloh hingga ajal memisahkan.

Memang siih, ada yang milih sendiri via jalur bobogohan eh pacaranan yang sebenernya nggak ada administrasi tertulisnya hehehehehe, ada juga yang dipilihin… dipilihin ortu, teman atau dipilihin bos hehehehe.

Ada juga yang langsung terima tanpa proses pemilihan….

“Lha kok jadi bahas pemilihan seeh?”
“Maklum moo pemilu minggu depan, tanggal 17 april 2019”

“Jadi metode pemilihannya gimana brow?”

“Pertama e-purchasing, kedua pengadaan langsung, ketiga penunjukan langsung, keempat tender cepat dan terakhir pilihannya tender.”

“Deuh…… mentang-mentang ikutan diklat Barjas loo…..”

Photo : Marakesh mint tea / dokpri.

Diskusi tidak berlanjut karena memang beda situasi, yang satu ngapalin moo ujian, satu lagi persiapan moo nyoblos. Yang bikin satu tujuan sama adalah rasa kasih sayang yang semakin kuat dan tentu dihadapi, ditanggung dan disyukuri bersama.

Cara paling praktis tentunya berbincang berdua sambil makan di tempat yang nyaman dan romantis… ahaaay.

Ditemani sejumput chicken salad (jiaaah.. sejumput, padahal sepiring metung) dan sajian teh spesial atau artisan tea yang bisa direfill 2x (air panasnya). Pilihan kali ini adalah Marakesh mint, sajian teh tawar dengan aroma dan rasa mint yang menyegarkan.

Trus, salad kasih sayangnya begitu indah dipandang segar dan bercahaya. Ayamnya empuk bangeet, sayuran segar, potongan almond dan apel hijau dan saus dressingnya yang nikmat di lidah makin mengukuhkan kebersamaan ini, namanya Ranch Chicken Salad.

Photo : Ikan koi menemani kebersamaan kami / dokpri.

Kombinasi sempurna antara sajian salad dan Marakesh Mint tea siang ini. Menemani waktu bersama istri tercinta di salah satu restoran di jantung Kota Bandung. Perbincangan berlanjut ditemani gerakan gemulai ikan koi di pinggir meja kami, terkadang mendekat atau tiba-tiba menjauh sambil memamerkan warna warni tubuhnya yang mempesona.

Happy wiken kawan, selamat menikmati detik dan menit penuh kasih sayang. Wassalam (AKW).

Ngopi di Braga 2

Ngopi Arabica Gayo nikmat pisan.

Photo : Sajian kopi Arabica Atjeh Gayo dg V60/dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com, Sebuah seruan menggetarkan suasana siang itu, “Coba kopi Arabica Gayonya di V60 om!”

“Siapp” jawaban lugas tapi sopan dari sang pelayan memberi keyakinan bahwa pilihan menu yang diminta tidak salah.

Cerita lanjutan dari Ngopi di Braga 1 dimulai… jeng jreeng.

Suasana jalan Braga Kota Bandung berangsur normal dari kondisi macet menjadi padat merayap. Maksudnya mobil yang lewat sudah bisa bergerak perlahan.

Hanya butuh waktu sekitar 10 menitan, kopi pilihan tersaji apik dengan menggunakan cangkir khas berwarna putih dengan gagang runcing melancip.

Photo : Cangkir lancip bikin sip / dokpri.

Tadinya pengen nyoba kopi Arabica Pangalengan diseduh pake V60, tapi pas lihat daftar harganya… agak mengkeret karena untuk 1 sajian itu harganya 96ribu. Trus klo metode Ibrik/tubruk/french press dibanderol 79ribu.

“Katanya orang kaya, harga segitu itungan” terdengar sang Gerutu berkoar kembali disamping bahu kanan. Aku tersenyum, kali ini tidak usah responsif dengan ledekan.

Keep calm.

Biarkan rasionalitas dan nurani serta isi dompet berkordinasi, sehingga kembali bisa menikmati sajian kopi yang sudah ada di depan mata dengan harga jauh lebih murah.

Entar klo pas ada waktu dan ada duitnya, diusahakan balik lagi dan menjajal rasa menyeruput suasana disini dengan sajian kopinya yang secara harga dijual paling aduhai selain kopi luwak.

“Lho kopi luwak ada, kok nggak pesen?”

Kembali senyumku mengembang, ada alasannya sehingga tidak terlalu menyukai kopi luwak. “Penasaran?… tunggu tulisan selanjuutnyaah”

***

Kopi Arabica Gayo tersaji dengan elegan, bercangkir putih dengan pegangan runcing dipadu dengan latar belakang biji kopinya dalam wadah kaca serta gelas server 0,25 liter yang elegan.

Photo : Alat Grinder kopi jadul / dokpri.

Nggak pake lama, segera dieksekusi, srupuuut……

Aroma kopi arabica memanjakan cuping hidung dengan keharumannya. Bodi medium menyisakan ketebalan rasa pahit diujung bibir bawah setelah cairan pergi meninggalkan lidah. Acidity medium menuju strong dengan taste fruittynya memberikan sensasi rilex sesaat dan betapa nikmatnya hidup di dunia ini.

“Jadi, jangan lupa bersyukur bray!!”

***

Sruputan terakhir menutup sesi relaksasi fikir serta raga yang haus atas sensasi rasa dari sajian kopi yang ada. Segera menghambur keluar restoran dan kembali ke dunia nyata.

Mobil tersenyum menanti dengan setia di pinggir jalan, hingga akhirnya kembali bersama menapaki kehidupan fana, Wassalam (AKW).

Ngopi di Braga 1.

Hikmah macet berbuah ngopi.

BANDUNG, akwnulis.com. Disaat melewati jalan legendaris di Kota Bandung, kemacetan mendera. Sehingga mobil yang ditumpangi tidak bergerak sama sekali, eh bergerak kok, tapi per sentimeter.

“Salah sendiri, udah tau lewat sini pasti macet. Mbok yaa cari alternatif lain atuh!!” Gerutu hati memarahi diri sendiri. Aku terdiam, nggak nyaman sekali diomeli.

Ternyata sang Gerutu terus aja manas-manasin hati ditengah kemacetan yang menggila. Bikin panas bukan hanya hati, tapi sampai ke ubun-ubun hingga otak nggak bisa mikir lagi.

“Tunggu kamu disini!!!” Teriakanku membuncah menghempaskan sang Gerutu dari sisi pikiran ini, seiring dengan mobil yang digunakan langsung parkir di kanan jalan, mereka ternganga terdiam.

Segera kaki menjejak batu granit lalu trotoar, menyesap nikmatnya menjalani sejarah di pinggir jalan Braga yang legendaris. Bersiul dan bergerak disambut jajaran lukisan kehidupan aneka bentuk yang tertata nyeni di pinggir jalan, juga di dalam bangunan yang berubah menjadi sanggar.

Segera insting alami bekerja di jalan yang penuh cerita ini, culang cileung sambil jalan, nyari kedai atau kafe kopi. Teteeeep kopaay.

Sambil berjalan melewati Toko Roti French, terlihat roti garlic dan bagelen tersenyum juga roti granat berpose gagah. Hotel Gino ferucci terlewati dan berharap di Sugar rush ada kopi, ternyata Closed. Pas nengok ke sebelah kanan, ada rumah makan sekaligus cafe legendaris di Braga yaitu Restoran Braga Permai. “Sugan aya di dieu (siapa tau ada disini)”

Ya harap maklum karena jarang nongkrong dan beredar jadi agak kuper tentang kedai atau resto yang nyediain meno kopi manual. Jadi prinsip ‘Malu bertanya, sesat di kopi’ segera dilancarkan.

Sebelum duduk, tentu tanya-tanya dulu, “Om, menu kopi seduh manual ada?”
“Ada de, monggo duduk dulu. Ini menunya….” segera tersaji menu kopi manual brew dengan 4 pilihan kopi : arabica Gayo, Peaberry bean, robusta Curup Bengkulu, arabica Pangalengan dan kopi luwak. “Wuasyiiik”

“Pilihan manual brewnya juga empat, V60, tubruk, ibrik blooming dan french press.” lanjut pelayan. Mantaabs.

Nggak pake mikir lagi, cari tempat duduk strategis dan bersiap menikmati sensasi kopi disini sambil menunggu kemacetan melengang.

…….

(Bersambung ke Ngopi di Braga 2 yach, anak cantik ngajak main dulu, AKW).