Mendaki Lagi..

Akhirnya bisa menaiki hati, eh menaiki gunung andesit nan eksotis.

Photo : Santai duyuuu pren / pic by mr B.

Chapter 3
MENDAKI LAGI.

GUNUNG PARANG, akwnulis.com. Setelah beristirahat sejenak di sebuah bangunan tradisional sunda atau saung yang ternyata adalah warung, bisa sambil pesen kopi dan makanan ringan, kami disambut kang Baban, pemandu pendakian kali ini. Orangnya masih muda, ramah dan penuh percaya diri.

Tuntas duduk sejenak, kami bergerak mengikuti jalan dan mulai menaiki beberapa tangga menuju bangunan saung diatasnya yang berfungsi untuk tempat brefing persiapan pendakian sekaligus pemasangan alat-alat pengaman selama pendakian.

Ini adalah lanjutan cerita PERSIAPAN PENDAKIAN

Kembali dipertemukan dengan harnes, tali temali, carabiner dan helm pengaman serasa dejavu dengan kesenangan masa lalu yang sangat sering pergi ke gunung, yaitu Gununghalu… xixixixi… (itu mah nama kampung kelahiran dan orangtua atuh gaaan…..🤣🤣🤣🤣).

Tidak lupa berpose dulu dengan background spanduk Badega dengan berbagai photo pendakiannya… semangaaat, serasa adrenalin di dalam raga ini bergerak cepat dan detak jantung petualangan kembali berdegup lebih kencang dan perasaan tertantang begitu besar, Bismillahirrohmannirrohim.

Petualangan dimulai….

Bersama dua orang rekan dan satu orang pemandu, berangkatlah kami menapaki jembatan bambu yang sudah dibuat oleh para pengurus Badega Gunung parang ini untuk mempermudah pada pendaki pemula mencapai titik awal pendakian, karena sebelum ada jembatan bambu ini, harus berjuang lebih keras untuk mencapai titik pendakian.

Ternyata, perjalanan menapaki jembatan bambu ini terasa menyesakkan dada…. ketahuan jarang olahraga dan…. kegemukan yang mendera hihihihi….. jembatan bambu menanjak, belok kiri belik kanan, nanjak lagi… pegal menggerayangi lutut dan paha, tapi lawaan… kami bisaaa….

Pepohonan liar memberi tanda bahwa ini bukan saatnya main-main, mari belajar menyatu dengan alam, jangan lupa berdzikir dalam hati meminta selalu perlindungan dari Illahi Robbi.

Photo : Ee luwak ada biji kopinya / dokpri.

Langkah kaki perlahan tapi pasti, menapaki seutas janji untuk mencoba memenuhi tantangan menaiki gunung batu andesit ini, kondisi jembatan bambu yang agak elastis menjadi hiburan tersendiri sehingga agak ancul-anculan jikalau kita sedikit meloncat, ditambah juga nemu ceceran kotoran luwak yang lengkap dengan biji kopinya, “Ada yang mau coba?“….

***

20 menit berlalu dan sampailah kami di titik awal briefing, sebuah tempat cukup datar dan ada juga ayunan kayu dengan latar belakang pemandangan alam yang menakjubkan khususnya Danau eh bendungan Jatiluhur yang mempesona…. hilang sudah pegal dan penat yang tadi mendera disaat menapaki jembatan bambu yang cukup panjang dan menanjak ini.

Photo : Ayo manjaat / pic by mr B.

Tapi….. pendakian sebenarnya sedang menanti setelah briefing singkat ini.

Intinya, keamanan adalah yang paling utama, sehingga pemahaman, disiplin dan konsentrasi menjadi luar biasa penting termasuk kerjasama tim akan menentukan keberhasilan pendakian ‘mini’ ini…..

Carabiner harus selalu mengunci bergantian di sling adalah syarat mutlak pendakian ini. Pola pasang lepas pasang ini yang akan menjadi tantangan teknis. Klo urusan takut ketinggian sih… udah jelas dari awal, yang tidak berani ya sudah tunggu dibawah…. yang berani lanjut… yang berani diatas 75% lanjut, yang ragu-ragu… kembali, gitu aja kok repot.

Tuntas briefing terbitlah saat penting, memandang tebing batu andesit yang menjulang tinggi terasa mulai menggetarkan hati. Tetapi adrenalin terasa lebih banyak reaksi, pompakan semangat tiada henti.

Photo : Rehat sejenak di sela pendakian / pic by mr B.

Dihadapan kami trek pendakian sangat jelas apalagi dilengkapi pegangan besi beton yang tertancap kokoh di sepanjang pendakian.

“Oh pake pegangan besi, gampang klo begitu mah, aku juga bisa”

Nggak terpengaruh dengan komen kacangan itu, sekarang bukan hanya bicara tetapi aksi nyata. Klo sudah naik dan turun bersama, baru silahkan komentar sesuka-sukanya.

Perlahan tapi pasti, tangan memegang pegangan besi, tangan kiri memasang carabiner di sling dan kaki bergerak mengangkat tubuh keatas, perlahan tapi pasti….. akhirnya manjat lagiiii, Alhamdulilah.

Woaaah, angin mulai menerpa raga ini dan pijakan awal terlihat menjauh, detak jantung berdegup kencang, doa dipanjatkan, semoga semua baik-baik saja.

Ternyata… tantangan pasang-lepas-pasang carabiner di sling yang cukup merepotkan di awal tetapi setelah terbiasa, pendakian bisa berjalan cepat dan penuh semangat, perkampungan sekitar Gunung Parang dan kebun serta bendungan Jatiluhur menemani naiknya raga ini menyusuri gunung padang yang eksotis dengan fasilitas via ferattanya.

“Penasaran dengan istilah Via Feratta?… itu bahasa italia, artinya menggunakan besi, jadi disini pendakian dengan menggunakan besi pegangan… satu-satunya di Asia lho guys, keren khan?…

***

Perjalanan 2,5 jam mendaki hingga kembali turun dari pendakian Gunung parang ini menyisakan memori yang penuh arti, pengalaman luar biasa serta tes adrenalin yang nyaris sempurna. Ditemani pemandu pendakian, Kang Baban Badega GP yang ramah dan cekatan serta menghibur dengan lagu-lagu masa kini dari tas ransel yang dipakainya juga photo-photo akfitas pendakian menjadi momen tidak terlupakan.

Apalagi demi sebuah ciri pendakian yang berbeda, kami mencoba memggunakan baju batik kebanggaan masing-masing, sehingga pose diatas sana bukan pake baju olahraga biasa hehehehe…. meskipun terus terang lebih gerah dari biasanya.

Monggo yang mau mencoba, tinggal kepo-in aja IG : Badega Gunung Parang, biaya pendakian per-orang mulai dari 120rb untuk ketinggian 250 meter , atau 160ribu untuk 300 meter dengan jalur naik dan turun berbeda, atau bisa juga sampai puncak dengan biaya 360rb/per orangnya.

Insyaalloh aman selama mengikuti instruksi pemandu, pasang peralatan yang tepat, dan konsentrasi yang tenang, ada asuransi juga trus yang paling utama adalah berdoa kepada Allah SWT agar senantiasa mendapat perlindungannya. Juga klo nggak barengan sama pasangan hidup, istri atau suami, minta ijinlah demi kebaikan semua (xixixixi…. pengalamann pribadi yaaaach?… gubrak).

Photo : Sedikit mengambang dulu / Pic by Mr R.

Udah dulu yaaach, eh satu lagi, jika sudah turun dari pendakian, istirahat dulu sejenak di tempat awal pemberangkatan… luruskan badan, kaki dan hati, tarik nafas dalam-dalam sambil berucap syukur atas kelancaran pendakian hari ini.

Setelah istirahat mendinginkan badan, bisa juga mandi di kamar mandi yang tersedia, airnya segar dan bersih, ganti baju dan tentu shalat jika sudah tiba waktunya. Selamat mencoba mendaki kawan, jangan hanya mendaki hati tapi coba mendaki gunung andesit ini. Wassalam (AKW).

***

Menuju Gunung Parang.

Lokasi pendakian adalah tujuan, berangkat.

Photo : Terbang dulu yuuk… / dokpri.

Chapter II

PERSIAPAN PENDAKIAN, lanjutan dari chapter I. Keinginan vs BB.

PURWAKARTA, akwnulis.com. Berat badan menjadi pertimbangan karena khawatir tidak kuat dalam menghadapi tantangan kenyataan. Tetapi semangat dalam diri tetap membara dan ingin membuktikan bahwa serpihan keberanian dan kemampuan itu masih ada, masih tersisa.

Segera berkontak dikala mulai merasa siap dan berat badan menjadi pembahasan prioritas, ternyata jawabannya menyejukkan, “Ah segitu mah nggak berat atuh Kakak”

Agak plong perasaan tertekan yang ada, langsung bersiap dan bersegera menyusun rencana, sebuah rencana yang pernah tertunda bertahun lamanya.

Berangkaaat……

Eh, persiapaaaaan…. dulu atuh.

***

Perjalanan dari Bandung ke lokasi yang sudah diimpikan bertahun-tahun lalu terasa menyenangkan, meskipun di tol Cipularang ada suasana sedikit beda, apalagi mendekati km93-91, rata-rata pengendara mengendurkan kecepatan dan lebih berhati-hati, sambil sesekali memandang sisa-sisa bukti benturan dan goresan akibat tabrakan karambol yang melibatkan 21 kendaraan beberapa waktu lalu,

Semoga para korban meninggal khusnul khotimah dan yang luka-luka kembali sehat seperti sediakala begitupun keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, keikhlasan dan ketawakalan.’

Mobil terus melaju….

“Bentar.. bentar, memangnya kakak mau kemana dan ngapain?”

Jawabannya senyum dikulum dam tatapan penuh arti, meskipun moncong kendaraan sudah menuju kepada arah yang pasti. Keluar dari pintu tol Jatiluhur belok kanan menuju daerah Sukatani. Selanjutnya tinggal ketik saja ‘Badega Gunung parang’ di aplikasi gugelmap.. dan ikuti perintahnya.

Dari keluar pintu tol hingga sampai di TKP memakan waktu sekitar 35 – 40 menitan, dari jalan utama purwakarta – bandung belok kanan melewati pasar anyar sukatani, daan… beneran masuk pasar… kendaraan berjalan perlahan menyusuri jalur pasar yang ramai pengunjung, hingga akhirnya melewatinya dan memulai perjalanan di jalan kampung yang cukup sempit tetapi lumayan sudah beraspal… ikuti saja belokan demi belokan.

Buat yang belum pernah ke lokasi dan suangaat bergantung dengan gugelmap

…..Pastikan pake operator yang internetnya stabil, jangan sampai putus petunjuk ditengah jalan dan akhirnya kebingungan….

…eh tapi jangan takut juga, gunakan saja ilmu dasar komunikasi, berhenti sejenak dan bertanya dengan santun kepada orang yang ditemui.

“Dupi ka Gunung parang ka palih mana?”…. Pasti dapet jawaban, kecuali nanyainnya ke sapi atau ayam.. dijamin makin tersesat kawan.

Kami kebetulan mengaktifkan guglemap di masing-masing smartphone dengan operator seluler yang berbeda, sehingga bisa saling melengkapi sekaligus membully kawan yang sinyalnya hilang terus hehehehe.

Ke lokasi Gunung parang ini lebih enak pake motor, tetapi jikalau berkendara roda 4 hindari pake sedan apalagi yang ceper, ntar nyangkut lho karena beberapa titik jalan mendekati tkp dalam kondisi yang cukup menantang dan sebaiknya kendaraan yang ground clearence yang tinggi… ya kayak avanza/xenia, elf,panther,kuda,katana,crv… lhaa kok disebutin semua?…… atau seperti kami menggunakan Toyota Rush (kok jadi kayak iklan ya?)…

Lanjutt……

Tiba di tempat yang dituju disambut dengan gerbang ‘Badega Gunung Parang’, perlahan tapi pasti kami memasuki area parkir dan disambut suasana alami dengan background gunung batu yang menjulang tinggi.

Photo : Nangkring di saung warung / Pic by Mr R.

“Alhamdulillahirobbil alamiin, akhirnya kami bisa tiba disini, tempat yang sudah lama ingin mencoba dan merasakan tantangannya”.

Segera menuju saung dan ternyata warung, sebagian lagi bergegas ke tanah lapang untuk berpose dengan latar belakang gunung parang…

woy….. ikutaaaan… loncaaat… cetreek.

To be continue Chapter III, MENDAKI LAGI. Wassalam (AKW).

***

Kopi Lungo Pwkt.

Bersua dengan kopi Lungo di Purwakerto… eh purwakarta Jawa barat.. srupuut.

Photo : Lungo Coffee Cangkir pink & pelayan yang tiba2 lewat / dokpri.

PURWAKARTA, akwnulis.com. Bergerak pergi membawa raga, menyusuri jalinan kisah yang selalu bersekutu dengan waktu yang tak pernah menoleh sedetikpun terhadap apa yang sudah dilalui… dan jangan lupa jikalau waktu, kesempatan dan dompet bisa kompromi, maka mampirlah di kedai kopi atau cafe kopi.

“Trus ngapain?”

“Ya pesen aja kopi dan makanan, trus nikmati”

“Aku mah nggak suka kopi!!!”

Ah aku terdiam sesaat lalu tersenyum dan lebih bersyukur, karena bisa menikmati seduhan kopi tanpa gula adalah salah satu karunia kenikmatan dari Allah Swt, apalagi tidak semua orang bisa menikmatinya.

“Ya sudah jangan dipaksain brow, ini khan cuman saran”

“Okey”

***

Photo : Cafe Kakota Purwakarta / dokpri.

Perjalanan menapaki hari memberi sempat munculkan harap. Seolah menjadi sebuah doa yang bersambut, maka kedai kopi atau cafe kopi bisa ditemukan tanpa perlu bersusah payah bertanya ke sana kemari.

Kebetulan sekarang kedai kopi sudah ramai bertebaran di seantero kota, jadi mudah mencarinya.

Hari inipun dikala beredar di Kota Purwakarta, maka tuntaskan dulu segala asa, selesaikan tugas yang diemban tanpa tersisa, baru sebelum pulang mampirlah di sebuah cafe yang menyajikan menu kotala, kopi tanpa gula.

Photo : Kopi Lungo gelas ke-2 / dokpri.

Memang bukan kopi saring manual brew, tapi tak apa, sambil membuka laptop menyelesaikan laporan tugas hingga tuntas.

Duduk manis di kursi yang nyaman, dilayani neneng cantik ramah, buka menu dan dicari halaman kopi….. eh ada Kopi Lungo…

Jikalau artinya berdasarkan bahasa jawa maka artinya adalah ‘pergi‘ atau bepergian, bertualang.. travelling kali yach?, berarti cocok pisan untuk dinikmati bagi penikmat kopi yang senang pergi-pergi eh bepergian kesanah kemarih… meskipun masih kota-kota lokalan dan regional saja plus sesekali lintas pulau.

Back to Lungo Coffee…. pertanyaan tentang arti lungo tidak dijawab tuntas oleh sang pelayan, bingung juga kali dapet pertanyaan yang aneh. Tapi kelihatan langsung diskusi dengan manajernya dan… terlihat mengernyitkan dahi… 😜😜… ya sudahlah.

Di daftar menu, kopi lungo itu penamaan untuk double espresso + ekstraksi espresso…. ya anggap saja kepahitgetirannya 2,5X espressso…. “Kebayang khan pahit nikmatnya?”

Yang pasti sajiannya memuaskan lidah dari sisi body kopi yang very strong dan tebal, serta jelas ninggal di bawah lidah tetapi less acidity apalagi taste-berry.. itu tidak ada sama sekali… yang pasti ini sajian kopi pahit sepahit-pahitnya…

“Nikmat kah?”…

Tentu tetap nikmat dan penuh berkah, mencerahkan fikir menenangkan otak yang seharian berkutat dengan probabilitas angka dimana menjadi target di akhir desember nanti.

Aww…..

Sruputt…. ngetiiik… tik tuk tik tuk.. mikir… ngetik lagi… srupuut… gitu aja bolak balik sambil sesekali melihat suasana cafe Kakota yang di datangi tamu yang berganti-ganti.

Lanjuut….

Itulah sekelumit kepahitan nikmat alias kenikmatan pahit di salah satu cafe di kota Purwakarta Jawa Barat, dengan harga sajian 18 ribu per cangkir, maka pesan 2xpun masih cukup di dompet plus bisa traktir beberapa kawan, diawali oleh cangkir pink dan kedua bercangkir hitam, isinya tetap… secangkir kopi pahit nan nikmattt. Selamat menjalani hidup, kawan. Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
Cafe Kakota, Jl. Jenderal Sudirman, Pasar Jumat, Nagri Tengah, Purwakarta, Purwakarta Regency, West Java 41114

Gayo Wine Stasiun Kopi

Cerita perkembangan blogku sambil menikmati sajian V60 Gayo Wine di dekat Situ Buleud.

Photo : Sajian V60 Gayo wine di Stasiun Kopi / Dokpri.

Perjalanan hidup adalah misteri, meskipun sering kita ingin semua yang akan terjadi adalah sesuai alur fikir diri. Padahal disitulah indahnya kehidupan, ketidaktahuan adalah berkah kehidupan.

Begitupun diriku bersama blog akwnulis.com ini yang sudah melewati tahun pertama. Yup, dahulu masih platform gratisan yaitu akwnulis.wordpress.com. Cukup menikmati dengan berbagai kemudahannya, terutama dari sisi ke praktisan bisa nulis di Smartphone, masukin image, tuntaskan editing dan posting saat itu juga tanpa perlu membuka laptop atau PC.

Kekurangannya cuma satu, ada iklan dari wordpressnya yang tentu tidak bisa diriku kontrol, dan yang keren adalah iklan yang tampil di blog wordpress ini akan sesuai dengan tema iklan yang pernah di klik oleh seseorang yang sering berselancar di dunia maya.

“Wah asyik, blognya banyak iklannya, traktir donk”

“Kamu teh punya villa ya?, kok iklannya vila mulu”

Berbagai pendapat yang memberi semangat untuk membuat blog tersebut menjadi lebih baik dan bebas iklan.

Itu bukan iklan aku hiks hiks hiks.

***

Alhamdulillah seiring waktu, blog inipun sudah menanggalkan embel-embel gratisannya. Namanya menjadi akwnulis.com, dan yang paling signifikan adalah halaman blog ini adalah bersih dari iklan. Sehingga lebih nyaman dalam membukanya.

Eh kok jadi bahas blogku seeeh, kita khan mau ngopi dan nongki-nongki…

“Siaap?…”
Meluncurrrrr

Photo : Salah satu sudut cafe yang bebas asap rokok / dokpri.

Memasuki halaman kafe terasa nuansa cozy yang dibangun. Jajaran kursi outdoor juga yang berada di dalam ruangan. Sebelah kanan langsung terlihat kesibukan beberapa pegawai dan tentunya kasir yang melayani pembayaran.

Yeaah, Akw sudah tiba disini, Stasiun Kopi Purwakarta.

Pilihan tempat di siang hari ini masih sangat mudah, apakah mau smoking room ataupun ruangan yang bebas asap rokok. Pastinya “No Smoking room” jadi pilihan, rekanku yang perokok ngikut aja. Giliran dia mau merokok, yaa tinggal keluar aja, gampang khan.

Photo : Lesehan outdoor Stasiun Kopi / dokpri.

Akw memilih tempat duduknya yang strategis, disamping jendela yang langsung bisa melihat ke arah luar. Jadi kalau janjian dengan seseorang, bisa langsung lihat siapa yang datang, apalagi kalau blind date, siapa tahu yang datang nggak cocok dengan profilenya, khan bisa siap-siap.

****

Sajian pertama adalah kopi Arabica Gayo wine yang menggunakan teknik manual brew V60 dan sajian kedua adalah ‘fied enoki mashroom’, itu tuh jamur enoki digoreng crispi disajikan dengan saos siap cocol. Panduan yang tepat untuk cemilan menjelang makan siang.

Banyak lagi menu lainnya, termasuk kata pelayannya adalah ‘steak maranggi’, tetapi berhubung perut masih agak terisi, ya ditangguhkan dulu pesan makanan beratnya hehehehe.

Kopi Gayo winenya sesuai ekpektasi, disajikan dengan botol server hario dan gelas kecil. Dituangkan perlahan di gelas, srupuuut…. nikmaaat.

Sebuah rasa khas gayo wine menggoyangkan lidah, memberi sensasi rasa fruity yang mengena, paduan rasa berry dan anggurnya memberi suasana berbeda. Meskipun memang cukup kuat rasanya bagi pemula, tetapi nikmatnya disana, disaat lidah dan perasa di sekitar mulut disergap aliran acidity yang medium high dengan body medium tetapi menebal rasa pahit dan asamnya di akhir lidah, sebuah sensasi rasa memberi kesegaran penuh makna.

Photo : Fried Enoki Mushroom siap dinikmati / dokpri.

Nggak lupa juga ngemil jamur enoki goreng crispi sambil berbincang bersama kawan, colek saus sambalnya baru masuk ke mulut, renyah garing dan nikmat, Alhamdulillahirobbil alamin.

Bagi yang penasaran dan kebetulan beredar di Kabupaten Purwakarta, posisinya di pusat kota di dekat Situ Buleud. Tinggal ketik di googlemap ajaStasiun Kopi Purwakarta’, pasti jumpa.

Oh ya, klo bawa mobil parkirannya bisa masuk ke halaman 2-3 mobil ataupun dipinggir jalan saja. Itu jikalau siang hari dan bukan .alam minggu, karena dimalam minggu jalan ini ditutup, menjadi arena rendervouz dan kuliner jalanan yang penuh sesak dengan manusia lalu lalang.

Trus giliran bayar, semua free. Alhamdulillah, Pak Bos Purwakarta datang menemui, menemani minum lopi dan nongki-nongki hingga akhirnya ngebayarin semua yang tersaji, “Hatur nuhun pisan Pak Bos RH”

***

Oke gitu dulu ya para pembaca setia blogku. Selamat menikmati blog ini tanpa iklan dan jangan lupa ngopi,

“Kenapa harus ngopi?”

“Karena pahitnya kopi dapat mengurangi atau menghilangkan pahit getirnya kehidupan”

Sampai jumpa di tulisan berikutnya, Wassalam (AKW).

Diary Coffee 10

Puisi ringkas menjelajahi nikmatnya rasa dan nomena kopi.

Pagi menjelang kabut menipis
Langkah semangat dingin ditangkis
Mengitari kampus tanpa meringis
Supaya keringat lewati garis

Tuntas olahraga pagi
Dilanjut menyeduh kopi
Sudah pasti pake Vsixty
Senjata andalan untuk rasa hakiki

Pertama kopi tiam jadi pilihan
Beli di Mustafa tengah malam
Serasa murah setengah kilogram
Cukup 6 dolar sing sebagai penggantian

Ternyata rasanya biasa nian
Agak cenderung banyak campuran
Malah teman yang ikutan
Ngeluh ke lambung agak tertekan

Tapi secara keseluruhan lumayan
Buat nemenin ngopi bersama teman
Memberi sebuah pengalaman
Ngopi kopi dari seberang lautan

Kopi arabica sindoro sumbing
Menjadi pilihan penting
Dibawa pa rahmat berdaya saing
Rasanya mantab harum semriwing

Digiling khusus untuk diseduh
Manual brew semakun ampuh
Acidity medium Body tak rikuh
Bikin senang hati yang rapuh

Dilanjut kopi HS Purwakarta
Body bold acidity medium saja
Bikin kaya pengalamannya
Aneka kupi seantero nusantara

Ada lagi kopi bawaan pa Bambam
Bungkus ijo Bogorcoffee arabica
Sensasi aroma penuh warna
Acidity medium aroma ruaarbiasa

Bikin mood pagi menggelora
Segar tiada terkira
Apalagi ditambah kopi Robusta
Bikin melek semakin nyata

Itulah sejumput cerita
Tentang manual brew bersama
Di kampus kiarapayung tercinta
Hidup diklat RLA (AKW).