Diary Coffee 3

Catatan puisi ke-3 ku tentang Kerja-Kopi-Kerja.

Bolak balik order dopio
Juga tak lupa single espresso
Sambil diklat atau pas ngaso
Ngopi teruss hilangkan nelongso

Ikuti diklat modernisasi pengadaan
Jadi tantangan ditengah kesibukan
Ternyata penuh perjuangan untuk paham
Apalagi yang digunakan bukan bahasa awam

Untungnya mesin kopi setia menemani
Espresso dan dopio segera tersaji
Black coffeepun standby menanti
Diklatpun jadi penuh arti

Makasih LKPP dan MCAI
PWC membagi ilmu hakiki
Meski terkadang kernyitkan dahi
Karena bahasa asing jadi pengantar hampir tiap sesi

Berlari ke Hotel Horison ruang burangrang
Forum OPD bidang ESDM berkumandang
Nikmati kopi sambil berdendang
Kopi hitam enak dipandang

Disaat harus bergerak ke Kertajati
Mampir sesaat di rest area Cipali
Cobain Espresso-KFC se-sloki
Ngecash agar semangat kembali.

***
Beranjak menuju ibukota
Tugas lain membawa kesana
Berjibaku tentang sanitasi sebagai pokja
Agar jabar sehat terus berjaya

Senyum berseri di KA Priority
Membawa sebotol cold brew sejati
Kiwari farmer sajikan janji
Manglayang Karlina yang bikin pasti

Tiba di Gambir mencari kopi
Temukan pilihan di sudut kiri
Dunkin black coffee adem sendiri
Nikmati rasa tak perlu sensasi

Di Arya duta tugu tani
Cold brew kembali beraksi
Bersanding dengan espresso satu sloki
Tak takut dengan apa yang terjadi

Belum tuntas hilangkan resah
Karena ternyata harus berpindah
Akhirnya ke meja ini hijrah
Bersama kolam renang yang basah

Kembali ke ruang rapat, Kopi hitam ala panitia tersaji
Rasa sederhana tapi nambah lagi
Semua harus disyukuri
Barulah berkah menanti.

Minggu I-II Maret 2018 (AKW).

Kok Nggak Pede?..

Sebait kata segumpal cerita tentang kecewa.

Photo : Pesawat mendarat di Bandara LIA / Dokpri.

(Kok nggak pede, sebuah puisi.)

Entah apa yang terjadi
Dalam pertemuan ini
Mulut terkunci tanpa arti
Padahal raga hadir pribadi

Jikalau tidak menguasai materi
Kenapa atuh nggak nyiapin sebelum kemari?
Atau minimal koordinasi
Dengan pemilik informasi

Yang paling mudah nyalahin orang
Satu telunjuk terpentang
Padahal empat jari lainnya menentang
Tinggal wajah ini tercengang

Jadi hadir saja tidak cukup
Perlu didukung dokumen hidup
Juga aneka angka plus hurup
Maka dijamin masalah tertangkup

Alasan tak paham arah kebijakan
Menjadi tak pas dan tak relevan
Karena sebelum ke tempat tujuan
Lapor dulu sama tuan

Atau bisa juga akibat kepagian
Hilang konsentrasi lupa makan
Tapi itu bukan alasan
Karena bisa di antisipasi dengan sopan

Akhirnya semua kejadian
Harus bisa menjadi cerminan
Jangan terulang di lain kesempatan
Jadi pede dan terdepan.

Argo Parahyangan, 280218.(AKW).

Diary Coffee 2 – APPSI

Puisi ke-2 seputar Rakernas APPSI tapi tema utama tetaplah.. Kopi :).

Sekuntum mawar merah
Tersenyum merekah
V60 menyeduh hingga terengah
Hasilkan segelas kopi Gayo nan indah

Cold brew Kiwari Farmer beraksi
Selalu teguh munculkan sensasi
Rasa dingin bersaksi
Menemani Rakernas APPSI

Kopi Java Preanger Ahertiani
Memberi rasa wangi membumi
Rasa sweety bercampur rapi
Sajikan minuman segar mewangi

Pejabat dari Sultengpun minta lagi
Setelah cold brew luwak manglayang dinikmati
Java Preanger semua dirasai
Tiga varietas pulangpun menemani

Ibu pejabat Sulselpun tak mau kalah
Cicipi rasa kopi hilangkan lelah
Satu seruput kurangi resah
Ternyata dibalas dengan sepasang coklat besar yang renyah

Pejabat Sultra yang tak terlalu suka
Karena kopinya mesti tetap bergula
Jadi hanya coba sedikit saja
Lumayan agar menjadi pecinta kopi pemula

Masuk lift berbuah berkah
Bertemu bos Steven yang lagi sumringah
Proyek Cisanti makin merekah
Luwak Sukirya datang lebih dari tiga buah

Masih sekuntum mawar merah menemani
Berpadu dengan espresso yang berani
Single shot coba di jabani
Di Trans Luxury Hotel ini terjadi

Tugas L.O akhirnya kelar
Layani tamu Rakernas para bos amtenaar
Termasuk beberapa sosok tenar
Yang mungkin 2019 bersinar

Setelah 3 hari tunaikan tugas
Saat bersama keluarga hilangkan cemas
Tapi panen tomat cheri tak bisa lepas
Digabung dengan kopi segelas
Hasilkan rasa yang bikin gemas.

Cimahi Selatan, 240218. (AKW).

Diary Coffee 1

Sekelumit catatan ngopi dalam minggu-minggu ini.

Capuiku*)

Sebuah perjalanan menapaki hari
Bergerak acak tanpa kendali
Meski urusannya warna warni
Tapi tak lupa dengan diary kopi

Hotel Newton rapat Arsitek
Jadi delegasi Biro Sarek
Ambil kopi tak jelas merek
Ubah sikap jangan saklek

Rooftop D’pavildjoen menjamu sore
Sajikan dopio jangan sok kere
Swafoto sambil teriak, “Horeee!”
Semua hepi yuk mareee…

Cappucino juga tidak lupa
Meskipun hanya hiasan saja
Karena sekarang sudah tanpa gula
Hanya pandang kaca, manis terasa

Libur bersama keluarga
Espresso Tobi’s Estate pembuka
Babycinno tambah dua
Belajar merajut bahagia

Bumi Cemara V60 mewangi
Menyemarakkan sore yang sunyi
Biji puntang digiling berseni
Hasilkan seduhan aroma alami

Dinginnya diatas kota cimahi
Menjadi cerah karena sajian kedua kali
Kalita dan V60 berbagi
Kopi asli makin membumi

Hitam pekat berbuih roso
Yang pasti bukan baso
Juga buihnya bukan dari rinso
Ambroggio tetap nyoba espresso

Sisanya seduh sendiri saja
Biji asli kopi luwak sukirya
Manual brew takaran bersahaja
Hingga akhirnya habis tak bersisa.

Bye frend. Salam kopii. (Akw).

*)Catatan Puisi Aku.