Pagi & Sendu di Pangandaran.

Menjejak pagi yang menyisakan kenangan sendiri.

Photo : Kopi & pilu / dokpri.

PANGANDARAN, akwnulis.com. Pagi ini mentari masih sembunyi dibalik awan kelabu, hempasan angin pantai menitipkan sebuah rasa pilu, disitulah aku menemukan dirimu, tergeletak pasrah tanpa daya ditemani harapan semu.

Ingin bertanya padamu, tetapi yang hadir hanya ragamu. Asumsi menyelimuti kalbu, mungkinkan kamu adalah salah satu yang tertinggal dari kawananmu?… atau meloncat terlalu jauh dikala ombak menghempas pantai?… atau mungkin ragamu sudah berpisah dengan ruhnya di laut sana dan terbawa gelombang kesini tanpa bisa mengadu?… entahlah,
……..aku tidak berharap jawaban karena ragamu sudah damai terdiam.

Secangkir kopi yang dibawa untuk dinikmati, sekejap berubah tawar dengan rasa yang dilingkupi kesedihan.

Sebuah penghormatan atas kejadian yang menimpamu, aku sandingkan segelas kopi ini dengan ragamu yang terdiam tanpa kata-kata perpisahan. Menemani meskipun hanya sesaat ini.

Photo : Suasana sendu di Pantai Timur Pangandaran / dokpri.

Selamat jalan, semoga damai menyertaimu.

Perlahan pergi meninggalkanmu yang sudah berdamai dengan kenyataan, selamat menjalani pagi yang pilu di pantai timur pangandaran. Semoga seiring mentari beranjak meninggi, cuaca akan menjadi cerah dan harapan kehidupan kembali merekah.

Selamat beristirahat kawan kecilku, meskipun baru bersua dengan ragamu di pagi sendu, tetapi yakin bahagia dan damai sudah menantimu. Selamat tinggal ikan kecilku. Wassalam (AKW).

TAK SESAL BERLIKU

Ternyata pemandangan di pelupuk mata tidak sama dengan apa yang terjadi didalam pikiran dunia . #fiksihariini

Hamparan hijau sawah dan kebun menyejukan pandangan mata. Memberi ketenangan yang tiada tara. Padi berbaris menebar cita, berpadu dengan langit yang mengharu biru. Liukan sungai membelah bukit, di temani pepohonan rindang yang tumbuh segar. Sebuah rumah sederhana berhalaman luas melambaikan harap bahwa kedamaian itu sedang hadir disana.

Tiba-tiba menyeruak rasa, menggelitik keinginan dan mengekstraksi rasa iri dengan apa yang dilihat diluar sana. Sungguh rasa iri ini membuncah, melihat seorang bapak duduk di halaman depan rumahnya. Ditemani secangkir kopi hitam yang masih mengepul asap tipis kenikmatan, ditemani goreng singkong dan ubi serta kacang rebus. Sambil memandang pemadangan menghijau serta kesibukan beberapa binatang peliharaan yang asyik bercengkerama dengan alam, tak peduli dengan permasalahan kehidupan.

Betapa nikmat hidupnya, itu yang membuncah di kepala dan menggejolak di otak sementara diri ini hanya duduk termangu menatap kenyataan terpenjara oleh keadaan yang jauh berbeda. Duduk terdiam di kelas ekonomi Kereta Api Argo Parahyangan yang terus bergerak tanpa inisiatif mengikuti tarikan sang lokomotif.

Tak tahan dengan keadaan, jiwa berontak bergerak secepat kilat menembus kaca tebal kereta. Terbang menjauh melewati hamparan sawah dan kebun dengan udara yang begitu segar. Menuju rumah sederhana tadi di mana seorang bapak tua tengah bersantai sambil menikmati kudapan spesialnya. Ternyata masih ada, duduk santai di halaman depan rumahnya.

Tak banyak bicara lagi karena rasa iri sudah menguasai diri. Langsung jiwa ini menerobos masuk menguasai raga tua yang hanya bisa terpana tak kuasa menolak kedatangan yang tiba-tiba.

Gelap sesaat.. lalu perlahan membuka mata dan… aku sudah menjadi lelaki tua yang sedang duduk di kursi kayu lapuk sambil memandang hamparan sawah dan kebun yang sudah bukan miliknya karena telah terjual untuk membiayai kehidupannya dan kehidupan anak-anaknya yang tak kunjung mandiri miliki pekerjaan yang pasti. Mereka tidak mau jadi petani tapi pergi ke kota tanpa pendikan yang berarti. Akhirnya jadi pengangguran dan membebani orangtua yang semakin renta ini.

Rumah inipun……. ternyata hitungan bulan akan segera dilelang oleh pihak bank, karena tak kunjung mampu membayar angsuran pinjaman yang selalu musnah tertelan ganasnya kehidupan. Satu-satunya hiburan adalah memandang kedatangan kereta api yang saban hari hilir mudik membawa sosok-sosok manusia. Kumpulan manusia yang berpetualang dan menjalani ritme kehidupan yang nikmat, duduk empuk di kursi kereta yang membawa ke tempat-tempat yang menyenangkan. Apalagi raga yang mulai renta dan penyakit tua yang menggerogoti dilengkapi rapuhnya jiwa karena kondisi keluarga. Sungguh iri hati melihat semuanya.

Aku terhenyak dan tersadar ternyata disini kondisinya tak lebih baik. Malah tenyata lebih parah. Segera bersiap harus hengkang nich, daan kembali ke posisi semula. Duduk termangu di kereta.

Tapi…. jiwa ini tak bisa lepas dari raga renta ini. Terpenjara dan terjebak selamanya. Sesal sudah tiada guna. Akibat terbujuk iri termakan dengki, melihat orang lain bahagia padahal miliki masalah kehidupan yang begitu pelik rumit dan penuh duka.

Detik dan menit berlalu, terlihat gerbong akhir Argo Parahyangan telah hilang dari pandangan. Semakin derita terasa, tak kuasa menahan kesedihan karena harus terpenjara dalam raga entah siapa. Mulut gemetar teriak sekuat tenaga hingga akhirnya gulita menyapa.

Perlahan mata membuka dan terlihat langit-langit rumah yang kumuh dan penuh noda bocoran air hujan. Di samping kanan seorang ibu tua lusuh berkulit keriput memijit tangan ini dengan sesekali menyeka lelehan air matanya. Air mata kesedihan dan kepasrahan.

Aku kembali tak sadarkan diri, berjanji untuk menahbiskan diri, hanya bergaul dalam gelap dan temaram.(Akw).

Note : Mari kita syukuri apapun yang Allah SWT takdirkan dalam jalinan perjalanan kita. Angan terjebak dengan iri dengki yang berujung nestapa. Kesedihan dan Bahagia adalah satu paket yang saling melengkapi.

Cukup Jalani, Syukuri dan Nikmati.

Inspirasi dari seberang jendela Argo Parahyangan. (Ini hanya Piksi… eh Fiksi ), Wassalam.