Kolam Renang V Hotel Bandung

Kolam renang dan kebersamaan.

Photo : Kolam renang V hotel Bandung / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Minggu pagi baru saja menyapa diri, dikala sang mentari mulai mengintip dari balik jendela hotel di lantai 5 ini. Sebenernya masih berharap bisa leyeh-leyeh dulu setelah seharian kemarin ikutan sibuk jadi panitia nikahan sepupu. Tetapi anak semata wayang begitu semangat, menagih janji untuk segera bermain air di kolam renang hotel.

“Hayu ayah, kita berenang” rengekan manja anak 3 tahun dengan gayanya yang ngegemesin. Sulit untuk menolaknya. Apalagi dari kaca depan kamar bisa langsung melihat ke bawah dimana kolam renang berada.

“Ayah, coba ajak dulu di jacuzzi di kamar penganten.. eh di kamar orangtua pengantin” istri ngasih opsi, pertimbangannya, airnya hangat dan mudah diawasi.

Setelah siap dengan stelan baju renang dan ban pelampung lengan kanan kiri, bergegas menuju kamar 501 yang dilengkapi jacuzzi di lantai atasnya.

Ternyata bukan itu harapan anak ini, pas masuk ke jacuzzi, “Ayaah ini bukan berenang, ini mah mandi bareng”

“Hehehehe…. anak ini bisa aja”

Akhirnya dengan bercucuran air, padahal sudah pake handuk. Bergerak turun via lift ke lantai satu, menuju kolam renang yang sebenarnya.

***

Kolam renang fasilitas hotel dengan kedalaman 1,2 meter. Cukup untuk anak remaja dan dewasa, anak kecil wajib didampingi atau digendongi orang tua, wajib banget karena beresiko tenggelam.

Ada juga paket 25ribu, untuk yang mau berenang plus dapet segelas jus.

Photo : Main air di kolam renang V hotel / dokpri.

Yang pasti anak cantikku seneng banget teriak-teriak meskipun pelukan erat di leher ayahnya nggak mau lepas. Jadi kombinasi senang dan takut, tapi nggak apa-apa, lebih aman begitu.

Kaki mungilnya digerak-gerakin berkecipak kecimpung di air, sementara kedua tangannya tetap memeluk erat leher ayahnya.

Moment kebersamaan ini tidak lama, karena seiring waktu, sang anak akan beranjak menjadi remaja dan dewasa. Investasi universal berupa kedekatan emosional kepada sang ayah yang akan ikut menentukan karakter dan kekuatan mental dalam jalani dinamika kehidupan. Selamat berenang, Wassalam (AKW).

Membelah pagi

Coretan singkat rutinitas senin pagi membelah jalan melewati Paspati

Photo : Dokumen pribadi

Membelah paspati dini hari yang sepi menjadi rutinitas alami di senin pagi. Memacu kendaraan serasa di jalan tol, meskipun pasti tetap harus siaga karena bisa saja ada penyebrang tiba-tiba yang mengakibatkan musibah tak terduga, Audzubillahimindzalik. Cuma tak berani memotret sambil menyetir karena itu berbahayyya sodara-sodara…

Sebelum sampai di Paspati, Perempatan jalan pasteur setelah keluar tol pun masih sangat lengang, 1-2 kendaraan yang melintas dengan malas. Lampu pengatur lalu lintas belum menyala, dilihat jam digital di dashboard jam 04.01 wib, “Pantesan masih dini hari.

Beberapa kendaraan plat merah terlihat bergerak di jalan, dan yakin tujuannya sama. Yaitu area gedung sate, gedung bersejarah yang sekaligus sebagai pusat pemerintahan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Photo : Dokumen pribadi

Tak perlu berlama-lama, rush hitam sudah turun dari fly over Paspati menuju lapang Gasibu, belok kanan dan belok kanan lagi, gedung sate yang warna warni menyambut diri, ‘Ngabagéakeun.’ Warna warni lampu LED yang terpasang sempurna di Gedung Sate menambah semarak dini hari ini. Perlahan memasuki area parkir yang ternyata masih lengang. Parkir di posisi strategis, itu yang dekat pintu masuk dan mesin absensi digital yang pake pengenalan wajah. Setelah absensi berjalan mulus, segera menghambur ke halaman dan mengabadikan gedung sate yang ‘buricak burinong” (terang semarak berwarna warni).

Photo : Dokumen pribadi

Puas memandangi gedung sate yang berwarna warni, segera menuju tujuan utama yaitu Mesjid AlMuttaqien, mesjid yang indah dan megah di lingkungan Gedung Sate. Dengan tiang -tiang putih menjulang dan nuansa coklat keemasan menambah syahdu suasana kebersamaan dalam balutan rasa tawadhu hamba kepada Allah Subhanahu Wataala.

Photo : Dokumen pribadi

Sebelum berwudhu, mengisi absensi juga penting karena secara administrasi kudu terdata, itu untuk catatan manusianya. Untuk catatan Allah mah jangan khawatir, langsung otomatis tercatat dengan syarat hadir pengajiannya ikhlas bukan karena absensi he he he.

Photo : Dokumen pribadi

Brserak sandal berpadu kebersamaan, semua sepakat untyk bersama-sama beribadah di Mesjid ini, meskipun ada yang terburu-buru yang penting bisa datang sesuai waktunya.

Raga dan jiwa dibasuh air wudhu yang dingin menyegarkan, bersiap mengikuti shalat shubuh berjamaah dan mendengarkan ceramah pengajian pagi yang senantiasa di nanti di senin pagi.

Bismillahirrohmannirrohim.

Suara syahdu bapak K.H  Miftah Faridh selaku Imam sholat shubuh pagi ini begitu menggetarkan hati, mendengarkan alunan kalam suci Illahi dilanjutkan dengan ceramah yang bertema Almuttaqien, (orang-orang yang bertaqwa), sesuai dengan nama mesjid ini.

Ceramahnya ntar ditulis selanjutnya, sabar yaa….  (Akw)