Berubah…

Sekedar curhat dalam suasana perubahan.

BANDUNG, akwnulis.com. Dikala pandemi mengungkung negeri, disitulah segala perubahan terjadi. Sebagai mahluk tuhan yang tidak abadi maka bersiaplah berubah sebelum nanti akhirnya mati.

Suasana banyak berubah disertai disana sini muncul keluh kesah. Sejumput resah bergulung menjadi gelisah, dengan pertanyaan yang sama, berharap semua kenyataan ini segera kembali indah meriah.

Tapi, perkembangan hari ke hari, jauh harap dengan kenyataan hati. Disinilah semua mahluk diuji, apakah menggunakan kacamata bersyukur dan meyakini bahwa ini adalah skenario Illahi atau malah mencari pembenaran dan menunjuk suatu pihak yang melakukan kesalahan.

Pilihan berada ditangan kita. Karena merespon kejadian adalah hak masing-masing. Silahkan nilai dan tanggapi bahwa ini adalah momen untuk menyesuaikan diri dan belajar menerima kenyataan atau malah semakin terpuruk dalam ketidakberdayaan terkungkung pola pikir yang enggan berubah.

Pilihan di tangan kita, karena perubahan itu nyata. Wassalam (AKW).

EVAKIN, kerja, youtube & tiktok.

Hikmah evaluasi kinerja & EOM, jadi diajar youtube dan tiktok.

SUBANG, akwnulis.com. Melanjutkan tulisan tentang evaluasi kinerja bulanan bagi 12 BPR yang dipusatkan di satu tempat di Kabupaten Subang. Banyak suka duka dan cerita meskipun terkadang menuliskan dalam kalimat dan kata masih tersendat oleh kemalasan dan alasan kesibukan. Padahal memang sibuk dan agak malas nulis xixixixi….

Yang repot adalah persiapan acara dan lokasi meetingnya karena ini acara tatap muka perdana yang penuh dinamika dengan implementasi berbagai protokol kesehatan, lengkap bisa di baca di HIKMAH EVAKIN.

Disela-sela 4 hari tersebut, muncul juga tantangan lain yaitu kewajiban membuat testimoni video yang diunggah di channel youtube sebagai prasyarat kandidat EOM (employee of month) bulan agustus 2020 dengan batas waktu yang ketat…. wadaaw semangaat kakak…. tidak ada kata lain, yaitu SEMPATKANLAH.

Maka dengan segala kesempatan yang ada digelarlah syuting mendadak pake hape….. oalaaah, ternyata nggak cukup sekali… 5x gagal…. padahal cuman disuruh ngomong maksimal 1 menit… ampyun deh.

Alhamdulillah akhirnya bisa tuntas dan di upload di channel youtube, yang penasaran monggo di klik di PRASYARAT CALON EMPLOYEE OF MONTH.

Nah, ternyata efek sampingnya adalah melirik aplikasi lain yang berbasis video singkat dan ternyata lagi booming 3 tahun terakhir lalu hingga sekarang, yaitu TIKTOK.

Dulu pernah mencoba menginstal dan ikutan, tapi ternyata banyaknya hanya video singkat joget-joget nggak jelas dengan pakaian minim seperti berbikini atau baju tidur yang mengumbar syahwat…. langsung berhenti dan uninstal… unfaedah ini aplikasi.

Tetapi sekarang, pertimbangannya beda. Pertama dari sisi konten sudah variatif dan terdapat menu-menu pilihan minat ditambah sebagai bagian dari pengawasan terhadap anak dan ponakan yang beranjak remaja. Eh salah… anak masih balita… tapi juga udah seneng tiktokan…. nah ponakan-ponakan yang mulai ABG ternyata berkiblat di tiktok semuaaah….. jadi kita bisa ikut memantau konten-konten apa yang mereka tonton.

Maka dimulailah bikin akun baru serta upload video pendek kita…. caiooooo….. dan video yang diupload adalah dokumentasi kegiatan singkat baik kedinasan ataupun tentang hobby keseharian seperti urusan menikmati kohitala dan makanan yang menggugah selera dilengkapi sedikit kata-kata dan musik yang sudah tersedia……

Yang penasaran hasilnya silahkan di klik saja di :

1. EVAKIN BPR KARYA UTAMA

2. EVAKIN BPR INTAN JABAR

3 EVAKIN BPR MAJALENGKA JABAR

4. EVAKIN BPR CIPATUJAH JABAR

5. EVAKIN BPR CIANJUR JABAR

yang lainnya masih proses…. maklum amatiran hehehehehe.

Selamat menikmati dan bersama-sama menapaki perubahan zaman terutama era me-youtube dan tiktokan. Wassalam (AKW).

Renungan Suci Kemerdekaan 2020

Renungan Suci Virtual 2020 & perjalanan memori.

BANDUNG, akwnulis.com. Gelapnya malam tidak menggoyahkan semangat untuk kembali mengingat jasa para pahlawan yang berjuang dengan gagah berani, penuh pengorbanan baik harta, jiwa dan raga untuk mewujudkan kemerdekaan bangsa indonesia tercinta 75 tahun lalu. Tepatnya tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Republik Indonesia di proklamirkan.

Malam menjelang 17 agustus tahun ini berbeda kawan. Tidak lagi menggunakan jas dasi dan kopeah hitam, berkumpul di gedung sate dan dilanjutkan perjalanan bersama menuju Taman Makam Pahlawan untuk mengikuti upacara renungan suci tepat pada pukul 00.00 wib.

Malam ini hanya perwakilan yang bisa hadir melakukan upacara terhidmat dan berbalut keheningan di tengah malam. Memberikan penghormatan kepada para pahlawan yang telah gugur di medan laga sekaligus seluruh pahlawan yang berjasa dalam meraih dan mengumandangkan kata ‘MERDEKA‘.

Sekaligus menguatkan diri dan mengingatkan jiwa untuk mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya termasuk berjuang menjalani protokol kesehatan dalam masa pandemi covid19 yang menjadi masalah manusia di muka bumi kali ini.

Untuk mengobati kerinduan berkhidmat bersama dalam upacara renungan suci, maka mencari catatan digital begitu nudah adanya… yaa mudah soteh klo memang pernah menulis, kalau tidak mah yaa… bablas angine hehehehe…. ternyata arsip digital catatan pribadi dari tahun-tahun yang lalu ternyata masih ada dan tersimpan dalam arsip jagad maya.

Meskipun hanya catatan di tiga tahun terakhir, bukan berarti tahun-tahun sebelum itu tidak ikut renungan suci…. ada juga arsip catatan 2012 meskioun maaih di blog gratisan…. Alhamdulillah Tetap setia mengikuti renungan suci tetapi memang minim dokumentasi.

Inilah link catatannya :

1. Tahun 2012 berjudul ULAH SOMPRAL

1. Tahun 2017 berjudul RENUNGAN SUCI 2017

2. Tahun 2018 berjudul TMP CIKUTRA 2018

3. Tahun 2019 berjudul MERDEKA 170819

Selamat merenungi malam yang semakin menggelap, tetapi gelora semangat kemerdekaan terus bergelora dan penuh semangat menyongsong esok yang lebih siap dalam hadapi ujian pandemi covid19 setahap demi setahap. MERDEKAAAAA, Wassalam (AKW).

Rindu Bapak Ibu.

Sebuah coretan rindu yang tertahan ‘sesuatu’.

Photo : Kopi Kerinduan / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Sejumput haru bersembunyi diujung dada kesendirian, sebait harap tetap dipegang meskipun kenyataan belum sesuai harapan.

Hari lebaran yang emosional, harus menahan rindu untuk tidak bisa wajah, raga dan jiwa bertemu langsung dengan kedua orangtuaku…..m yang sebenarnya jikalau hanya bicara jarak, sangat mudah untuk ditemui.

Bersimpuh di kaki mereka, memohon doa keberkahan dan keselamatan dunia akherat di momen hari suci pasca dilatih selama 30 hari di bulan ramadhan 1441 hijriah.

Memeluk ibu bapak dengan penuh kehangatan dan ketulusan, dimana karena merekalah, karena pengorbanan, pola pendidikan, motivasi dan keikhlasan kepada anaknya hingga segalanya dilakukan demi cita-cita hakiki yaitu agar anak cucunya kelak bahagia di kehidupan masa depannya.

Mendengarkan cerita dari ibu dan bapak, betapa kenakalanku di masa lalu adalah rangkaian kebahagiaan yang mengharu biru, tiada umpatan kasar atau bentakan, tetapi peringatan halus yang memberi ketenangan.

Berpose terbaik setahun sekali dengan senyuman dan tawa yang tak pernah habisnya lalu memposting di media sosial agar tahu bahwa dunia ikut bahagia melihat kita ceria, itu dulu karena sekarang harus menahan diri terlebih dahulu.

Maafkan anakmu ibu bapak, pandemi ini membatasi hadirnya raga tetapi jiwa dan asa tetap tidak bisa dihalangi untuk senantiasa menyayangimu sepanjang hayat ini.

Ketidakhadiran kami di kampung halaman adalah bukti kasih sayang kami untuk menjaga kebersamaan ini memiliki kesempatan lebih lama lagi.

Ah sedih….. tapi inilah pengorbanan. Jikalau tenaga kesehatan berjibaku di medan pertempuran menyelamatkan nyawa manusia yang sedang melawan ganasnya covid-19, maka kami disini berkorban untuk menghentikan penyebaran pandemi ini dengan menahan diri, mengendalikan rindu sekaligus menata rasa agar tidak memposting photo ceria bersama keluarga di media sosial kita.

Karena….. mungkin banyak yang berduka atau malah merasa pengorbanan ini menjadi sia-sia akibat terjebak oleh sebuah kultur budaya yang sebetulnya bisa kita tahan sementara.

Ah sudahlah, jangan berfikir pengorbanan rasa ini sia-sia, ikhlaslah menata asa, karena hanya Allah SWT yang tahu pengorbanan kita, semoga menjadi pahala yang menyelamatkan kita di dunia dan alam akherat nantinya.

Tetap jaga silaturahmi dengan memanfaatkan teknologi tanpa harus pergi-pergi di masa pandemi ini.

Secangkir eh setengah cangkir kopi coldbrew cukup mengerti kegundahan ini, ditemani semerbak bunga sedap malam yang mekar mewangikan kesepian malam ini. Tanpa banyak basa basi merelakan diri disruput gelas pergelas hingga sebotol 250 ml tandas tuntas tanpa ampas dan keharuman bunga seolah tiada batas.

Banyak sekali yang ingin dituliskan untuk mewakili kegundahan ini, tapi biarlah sisanya tersimpan di sanubari dan catatan hakiki milik alam semesta ini.

Bapak dan ibu, maafkan kami.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah.

Jiwa semoga kembali suci dan bersiap melanjutkan hari, menjaga ibadah seperti sebelum idul fitri, serta tidak lupa kembali menulis tentang hari ini dan cerita kopi.

Semoga pengorbanan ini menjadi berkah, dan sembuhkan gundah menjadi masa depan yang indah. Wassalam (AKW).

Kopi FWA anti COVID19

Yg lain kerja dirumah, aku mah ngopay aja.

BANDUNG, akwnulis.com. Perkembangan penyebaran Virus yang dikenal dengan COVID19 diantisipasi dengan banyak hal, termasuk aktifitas tugas rutin dari aparatur sipil negara. Pagi ini … eh sejak tadi malam istilah yang paling ngetren di jagad maya yang melingkupi lingkungan WA grup, line dan Telegram serta WAcall adalah istilah FWA.

Naon eta FWA?”

Eta geuning, yang sudah ramai diperbincangkan dalan beberapa hari eh minggu terakhir, yaitu…. bahasa simpelnya dulu yaa… para pegawai bekerja di rumah.

Ohhh…. itu, trus kenapa baru tadi malem ramenya?

Karena di lingkup pemprov jabar, tadi malam eh kemarin sore Surat Edaran Sekdanya terbit dan otomatis menjadi pedoman untuk mulai mengatur mekanisme bekerja di rumah.

Trus hubungannya kerja di rumah dan FWA apa?”

“Ih nggak sabaran kamu mah, slow sloww”

“Okeh okeh”

Sambil benerin masker yang terpasang diwajah, eh di depan idung dan mulut, maka mencoba meraba-raba… membaca berulangkali dan (mencoba) memahami tentang instruksi pemerintah pusat hingga daerah yang disebut dengan istilah FWA (flexible working arrangement) yang pengertian bebasnya adalah pegawai dimungkinkan melaksanakan tugas di rumahnya masing-masing secara fleksibel demi menekan penyebaran pandemi COVID19.

Maka diaturlah fleksibelnya kehadiran para ASN ini dengan berbagai prasyarat, diantaranya dilakukan sistem shift sehingga bergiliran melaksanakan tugas dikantor, kecuali Pejabat Tinggi Pratama dan Pejabat Administrator atau level I dan II di setiap unit kerja.

Tapi yang kebagian bekerja di rumah juga tetep kudu (harus) produktif, dengan cara melaksanakan tugas yang diberikan dari pimpinannya plus melaporkan secara online pekerjaannya melalui aplikasi TRK dan absensi online dengan KMOB dimana posisi lokasi rumah menjadi lokasi dinas luar selama FWA ini berlangsung.

“Trus hubungannya dengan kopi gimana?”

Gampang pisan, karena diriku ternyata masuk kategori yang dikecualikan.. sehingga musti stanby di kantor seperti biasa selama FWA ini. Jadi….. kopilah yang menjadi teman setia, menemani kesepian ini hiks hiks hiks…. karena jika bersosialisasi dengan teman lain… atuh melanggar prinsip ‘Social Distancing’…

Naon deui eta?

Ih kamu mah euweuh kanyaho, itu di medsos berseliweran infona, intinya hindari kontak dengan siapapun, dan jaga jarak”

Nah karena bersentuhan atau kontak dengan orang lain mah dilarang, maka kontak paling aman mah sama…

sama Kopi… hehehehe

maka…..

Hari pertama FWA diberlakukan, kopi Lanang Arabica Peaberry yang menemani….. prosessss……. dengan metode V60 dan panas 90° celcius, komposisi 1 : 15 dan gramasi (kira-kira) 19gr maka berproseslah……. manual brew perdana FWA di ruangan kerja sambil tidak lupa mengerjakan tugas-tugas rutin sebagai Abdi Negara. Wassalam (AKW).