Levitasi di tanah Sriwijaya.

Akhirnya mencoba loncat lagi dengan segenap perjuangan dan pengorbanan akibat meroketnya berat badan.

Perjalanan kali ini menyeberangi Selat Sunda menuju Pulau Sumatera, itu kalo perjalanan darat dengan mobil – naik kapal feri – naik mobil lagi. Klo via udara ya lurus aja kali… dari Bandara Husein Sastranegara hingga mendarat di bandara Sultan Mahmud Badarrudin II. Bandara ini berjarak kurang lebih 45 menit dari Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Maka kamipun dari Bandung sudah berbatik sehingga turun di pesawat bisa langsung naik mobil menuju tempat pertemuan tanpa perlu berganti pakaian. Jikalau ada keringat maks tinggal disapu dengan deodoran atau parfum yang setia menjadi kawan perjalanan. Turun dari mobil langsung kunjungan, praktis khan?…

Diluar kunjungan itu, ada target lain yaitu nambah koleksi Jumpshot dan Levitasi. Kesempatan pertama photo loncat dilakukan sambil peninjauan pintu gerbang Tol Palindra (Palembang – Indralaya), tapi ternyata gagtot (gagal total) apalagi suhu udara dan terik mentari menyengat ubun-ubun kami sehingga hasilnya seperti ini.

Photo loncatan yang gagtot / dokpri.

Jangan ngledek ya warganet, tapi perjuangannya wajib diapresiasi. Kesempatan kedua di sore hari berhasil menjadikan momen loncat yang indah (kata yang loncat). Perjalanan dengan perahu selama 1 jam menyusuri sungai Musi hingga tiba di Pulau Kemaro. Berpusing-pusing eh berputar-putar mengelilingi pulau kecil ini hingga akhirnya berJumpshot berlatar belakang pagoda kelenteng yang cerah penuh warna.

Photo : Semangat meloncat / dekpri.

Ternyata loncatan perdana berbuah tertawa karena disaat meloncat, jilbabnya ikut terbang dan menutupi mukanya. Jadi buat para abege puteri yang berjilbab juga ibu-ibu yang sudah berumur agar hasilnya maksimal, bukan wajah jadi ketutupan kerudung.

Photo : Jumpshot Kura2 Ninja / dokpri.

Gaya pertama adalah jumpsot Kura-kura Ninja dengan pakaian serba hitam menghasilkan photo loncat yang (bisa jadi) kenangan. Meskipun smartphone harus terjatuh dari saku pakaian karena tak siap pas dipaksa meloncat mendadak.

Photo : Levitasi (maksa) di P. Kemaro / dokpri.

Untuk photo levitasi kali ini belum mendapatkan hasil sempurna, banyak faktor terutama mancungnya perut dan otomatis berat badan meningkat sehingga ripuh bin repot untuk ngambil adegan levitasi. Yach segini ge lumayan.

Photo : Mentari sore di P.Kemaro / dokpri.

Sebelum meninggalkan pulau Kemaro ini tak lupa abadikan mentari sore yang tak lama lagi akan tenggelam di ujung cakrawala. (Akw).

Tanjung Lago1

Alunan irama aliran sungai Musi membuka kembali kenangan yang sudah menjadi memori. Ini adalah bagian pertama sebuah penggalan kisah anak manusia di bumi Sriwijaya.

Photo : Jembatan Ampera di saat malam tiba / Dokpri.

Gemericik riak gembira air sungai Musi menyambut datangnya hari yang bersatu dengan janji. Sedikit semilir amis menambah rasa untuk segera berkelana ke masa yang telah lama terlewati. Disaat menginjakkan kaki di dermaga pelabuhan Palembang, terasa getaran bahagia menjalar dalam dada. Karena sebentar lagi akan belajar bertemu muka dengan masyarakat, berbaur dengan mereka untuk memahami makna tugas sebagai pamong praja.

LST (Landing ship tank) milik Armatim TNI memandang kami yang kembali berbaris membentuk formasi sesuai dengan rencana penempatan tugas sementara di salah satu provinsi di Pulau Sumatera. Setelah 2 hari 2 malam tertidur di lambung dan buritan kapal perang pengangkut tank tersebut, pagi ini kami menaiki kendaraan bis dan truk militer serta polisi yang siap mengantar kami. Pasrah dan taat adalah modal utama, ikuti saja sesuai untaian takdir yang sudah dicatat di atas langit sana.

Kendaraan darat bergerak mengikuti liukan sendu jalan berliku dan pikiran waras ini mengatakan bahwa penempatan ini berada di luar kota. Betul ternyata, setelah perjalanan 2 jam nonstop menjauhi Kota Palembang, kami tiba di sebuah ujung jembatan. Kendaraan kami berbelok dan memasuki jalan desa yang berbatu dan berdebu. Selanjutnya 30 menit berlalu membelah tanah berbatu dan berdebu melewati area rawa-rawa air payau yang sesekali terlihat rumah sederhana yang ditopang tiang2 penyangga jadi seperti rumah panggung tetapi lebih tinggi.

Akhirnya perjalanan daratpun berakhir saat adzan dhuhur berkumandang. Iringan bus dan truk militer berhenti di halaman kantor pemerintah, kami semua berhambur dan harus kembali berbaris sesuai regu yang sudah ditentukan. Setelah pengarahan singkat, komando yang membahana, “Bubar jalan!!!” Betapa sejuk ditelinga. Semua ambil posisi duduk melingkar, ramsung makan siang dibagi dengan tertib. Serempak berdoa dan menyikat habis makan siang hanya berhitung detik saja. Sehabis sholat dhuhur kembali berbaris dan siap menerima perintah lebih lanjut. Satlak Elang, itulah nama pasukan yang menaungi kami, pamong praja muda dan Taruna Akabri serta Taruna Akpol.

“Perhatian Kompi II, Siaap Grakk!”
Serempak badan tegak, dada membusung. Tak lupa mata memandang ke depan dan pasang wajah super serius. “Peserta wanita membuat barisan tersendiri, kerjakan!!” “Kerjakan!” Kami menjawab serempak dan peserta wanita keluar barisan membentuk barisan terpisah. “Wah feeling gak bagus nich, kok dipisah” hati kecil bicara tanpa berani untuk sang mulut membuka.

“Seluruh Regu I, hingga IV segera menaiki KR yang tersedia, peserta wanita tinggal ditempat, laksanakan!!”. Dengan agak berat hati kami berbaris mengikuti jalan menurun, mengular dan tetap tertib. Ternyata menuruni tangga dari tanah menuju tepian sungai… “Alamak mau kemana pula ini?” “Diam kalian!!” Hardikan pembina kami menciutkan nyali, akhirnya diam tanpa banyak bersuara.

Photo : Perahu (agak) cepat bergerak di sungai Musi / Dokpri.

6 perahu kecil menyambut kami, dengan kapasitas 8-10 orang, masing2 menaiki perahu yang disebut perahu gethek. Berpendorong mesin dan disaat meluncur di sungai terdengar suara.. tek kettek… tek.. kettek.. kettek. Mungkin suara itu sehingga diberi nama perahu gethek, entahlah. Kami para siswa sekolah kedinasan merasa lega, bisa beristirahat sejenak bersandar di kursi kayu sambil bergoyang-goyang dibawa gerakan aliran sungai. Kaki-kaki bersepatu lars yang terasa kaku, sengaja diangkat menjuntai ke luar kapal, santai.

Ternyata perjalanan belum berakhir.. (bersambung).