Jalan Kaki & Kopi

Berjalan kaki rutin sambil mengejar kopi untuk diseruput itu adalah ‘sesuatu’

Photo : Trotoar di Jalan Banda / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com, Berjalan dipagi hari di lapangan seperti Gasibu dan Saparua memang menyenangkan, tetapi semakin banyak orang yang sadar bahwa olahraga itu kebutuhan dan fasilitas lapangan yang ditata apik semakin baik maka berlari kecil, berjalan cepat atau jalan santai sekalipun jadi bejibun banyak orang.

Trus menyiasati berolahraga di hari kerja juga tentu agak sulit mengatur waktunya. Pernah berfiķir jam 06.00 wib udah di kantor jadi bisa berjalan-jalan keliling gasibu atau area gedung sate. Ternyata agak sulit dilakukan jikalau rutin tiap hari karena harus berangkat jam 05.00 wib dari rumah, maklum rumahnya berposisi di bandung coret.

Kecuali hari jumat, karena ada agenda rutin shubuh berjamaah dan pengajian di mesjid AlMuttaqien maka setelah itu bisa digunakan berjogging ringan sebelum memulai mengerjakan tugas-tugas yang ada.

Tapi…. seminggu sekali nggak cukup brow.

“Gimana kalau rutin tiap hari bergerak atau minimal berjalan 30 menit?”

“Hayuu… siapa takuut”

***

Maka pembiasaan dimulai, dicoba sambil menuju tempat makan siang. Jadi sebelum jam 12.00 wib, sudah prepare.

“Duh sholat berjamaah dhuhur gimana?”

Bisa kita coba di mesjid lain selain gedung sate saja. Tepat jam 12.00 wib, langkah dimulai, ‘Al awalu bin niat’… berjalan kaki keluar dari gerbang belakang gedung sate, menyusuri Jalan Banda. Berhenti sejenak menunggu traffic light menghijau di perempatan Riau-Banda. Lanjut lurusss… melewati Gedung Pos, kantor Satpol PP Jabar juga melihat aktifitas olahraga di area lintasan GOR Saparua.

Photo : Trotoar di jalan Belitung-Bandung / dokpri

Belok kanan ke Jalan Aceh, lurus. Trus ke arah Jalan Sumbawa, belok kanan ke Jalan Belitung, lurus. Lalu belok kiri di jalan Sumatera. Ternyata lumayan, jalan santai sambil nengak-nengok pemandangan udah ngabisin waktu 25 menit guys, keringat perlahan muncul dan badan agak hareudang.

“Trus mana kopinya?… harus sesuai judul dong kalau bikin tulisan!!!”

“Kalem donk, khan judulnya juga -jalan kaki & kopi-, jadi dibahas dulu jalan kakinya baru ngopi. Itupun klo buka hehehehehe”

Tik

Tok

Tik

Tok

***

Setelah 25 menit berlalu maka untuk menambah 5 menit menuju terus aja jalan melewati SMP 2 Bandung hingga akhirnya kedai kopi yang dituju sudah terlihat di depan mata, Colony Coffee.

Posisinya hampir persis di seberang SMP 2 Bandung, dulu mah area Rumah Makan Praoe nah sekarang ganti jadi Cafe Colony dan di ujung kiri berbatasan dengan bangunan Kantor BTN, disitulah tujuan siang ini.

Photo : Kopi Bandung Utara / dokpri

Sajian yang dipesan tentunya single origin manual brew specialty coffee donk, dan pilihannya jatuh ke Kopi Bandung Utara.

Vidi Sang barista segera mengukir kreasi menyiapkan beraneka peralatan yang menjadi andalannya. Timbangan, filter, corong V60 hingga biji kopi sudah siap unjuk gigi. Dengan komposisi 15 : 15, panas air 85° celcius segera beraksi dengan awalan blooming dilanjut proses ekstraksi yang miliki banyak arti.

Aku mah nikmatin aja prosesnya dan tinggal nunggu hasilnya.

Ahh… haa.

Tersaji dalam botol kaca yang menjaga suhu tetap stabil selama dinikmati, tentu gelasnya menemani.

Srupuut….. aroma kopinya menyeruak. Body-nya lite, tapi acidity-nya medium high serasa ada sesuatu yang ‘ninggal’diujung bibir disaat kopinya sudah tandas direguk. Tastenya fruitty juga muncul selarik rasa segar teh (kayak yang bener aja ya?… jangan2 salah rasa.. ah sudahlah. Klo nggak percaya ya coba aja sendiri).

Gitu deh jalan kopi eh jalan siang hari ini.

“Trus makan siangnya gimana?”

“Itu dibahas lebih lanjut guys, sekarang mah ngobrolin jalan kaki terus ngopi”

Eiiy nggak puguh!!!

Senyum simpul menjadi jawaban hakiki, wilujeng ngopay bray, Wassalam (AKW).

Hobiku Triatlon

Aktifitas masing-masing dan kegemaran itu berbeda-beda. Termasuk kecintaanku pada ‘Triatlon’, kamu gimana?

Akwnulis.com, Cimahi. Terkadang memang demi hobi, manusia bisa lupa dengan pemikiran rasional. Membiarkan terbawa aliran emosi tanpa mempertimbangkan olah fikir dan investasi waktu serta biaya yang dihamburkan.

“Bener nggak?”

Ah nggak perlu dijawab, biarkan menjadi tanya yang menggantung di langit angan. Memberi ruang untuk tersenyum simpul dengan segala pembenaran.

Dari mulai aneka olahraga seperti tenis meja, tenis lapangan, batminton, futsal, sepak bola, voli hingga olahraga ekstrem semisal terjun payung, paragliding, motorcross, diving dan banyaaak lagi. Ada juga yang seneng nyanyi, sehingga kalau ketemu mikropon langsung sambar dan berteriak, padahal harus dilihat dulu suasana sekeliling, jangan-jangan itu mikropon buat mengumandangkan adzan di mesjid… ups.

Ada juga yang senengnya membaca, buanyaak banget yang punya hobi ini. Hanya saja memang membacanya adalah membaca situasi atau membaca tulisan di medsos yang besar kemungkinan adalah hoax.

Membaca situasi butuh intuisi yang tajam, karena tidak bisa semua orang melalukan. Jurusnya bisa menggunakan ‘halimunan’ atau jurus ‘Sembunyi di tempat terang’. Dibutuhkan juga nalar yang kuat karena perlu analisa secara cepat dan multitasking, minimal prosesor i7, RaM 5 Gb ditambah dengan kebutuhan memori tidak terhingga… “Naon sih kok jadi spek komputer?”

***

“Sekarang hobiku apa?” Sebuah pertanyaan retorika dengan menunjuk diri sendiri.

“Aku mah atlet Triatlon!!” Sebuah jawaban tegas yang membuat sang penanya terdiam mematung, mata memandang terbelalak dan melihat sekujur tubuh dari atas ke bawah lalu terdiam tanpa bahana.

Tatapan komprehensif menganalisis bentuk tubuh yang sangat jauh dengan body atlet. Udah mah pendek gembrot lagi ditambah perut yang macung, lengkap sudah.

“Nggak percaya?”

Dia menggelengkan kepalanya, Aku tersenyum. “Nih lihat photo-photonya, ada lomba Teriak, lomba Sholat khusuk dan lomba nangkap balon, disingkat Triatlon”

Sang penanya terdiam dan berusaha senyum simpul ditemani cekikikan halus dari atap ‘kobong‘ (asrama putra) Pondok Pesantren Al fatah. Wassalam (AKW).