SAMBUTAN Keluarga Wanita sebelum Akad Nikah

Tantangan baru, belajar memberi sambutan pada acara keluarga. Siapa tahu ada yang perlu, monggo di copas aja.

Photo : Orat oretku sebelum tampil menyambut (26/01) / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com, Suasana sakral dalam kehidupan, salah satunya adalah momen bersatunya dua insan dalam ikatan janji suci pernikahan.

Momentum ini tentu harus dipersiapkan secara matang, karena jikalau disiapkan secara serampangan maka hasilnya adalah sebuah acara yang datar atau mungkin seakan hambar tanpa kesan.

AKW tidak akan membahas tentang detail persiapan pernikahan, tetapi ingin berbagi salah satu tugas penting yang mungkin saja tiba-tiba pembaca yang ketiban tugas sebagai perwakilan keluarga calon mempelai pria atau wanita untuk memberikan sepatah kata sambutan.

Ini dia hasil orat oret AKW, monggo :

‘SAMBUTAN PERWAKILAN KELUARGA CALON MEMPELAI WANITA pada acara AKAD NIKAH.’

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Assholatu Wassalamu Ala Asrofil Anbiyaa’i Walmursalin, Wa ala aliihi Wasahbihi Azma’in.

Yang Kami Hormati Keluarga Besar bp AMIRUDIN dan bu ALFRIZALNI – Tangerang beserta rombongan.

Yang Kami Hormati, Bapak, Ibu, saudara para hadirin.

Kami Perwakilan dari Keluarga Besar bp ZAENUDIN HIDAYAT dan bu NANI HERYANI – Cimahi ingin menyampaikan beberapa hal :

Bismillahirrohmanirrohiim…

Pertama-tama dan paling utama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke-Hadirat Illahi Robbi, Allah Subhanahu Wataala karena atas ridho, rizki dan Hidayahnya, Kita semua bisa berkumpul bersua disini dalam rangka sebuah acara penting dalam keadaan sehat wal afiat.

Photo : Suasana Prosesi Akad Nikah Dini & Irvan / dokpri

Shalawat beserta salam, marilah Kita limpah curahkan kepada Junjunan Kita Nabi Besar Muhammad Salallahu Alahi Wassalam, berserta Keluarganya, para sahabatnya, tabi’in-tabi’innya serta kita semua selaku pengikut ajarannya.

Kami awalnya bertanya-tanya,
“Siapakah pemuda ini?”
“Ada apa gerangan datang kesini bersama orangtua dan keluarga besarnya?”

Ternyata….

Ternyata, yang datang saudara IRVAN PRIBADI, S.Ikom. Dia adalah pemuda gagah, dengan niat membawa janji suci untuk menyempurnakan ibadah. Ditemani oleh kedua orangtua, keluarga dan saudara-saudari yang tak kalah sumringah, untuk membuktikan janji suci dalam acara akad nikah bersama adik kami Ananda DINI YULIAWATI, SE demi terwujudnya keluarga Sakinah, Mawaddah Warrahmah.

(Tarik nafas panjang dulu guys… baru pidatonya dilanjutkan…)

Tentu kami menyambut dengan tangan terbuka dan senyum merekah, semoga niat baik ini berbalut berkah dalam jalinan persaudaraan dengan silaturahmi yang indah.

Karena dengan menikah, akan menyempurnakan ibadah. Mewujudkan rasa tenteram dan tenang atau Sakinah. Memberi kesempatan salin mencurahkan cinta kasih, senantiasa jujur, saling melengkapi kelemahan dan menjaga kehormatan pasangan (Mawaddah). Satu lagi tentu Wa-Rahmah, Wa itu artinya dan, Rahmah itu Kasih sayang, bukan hanya saling mengasihi tetapi saling menjaga, saling melindungi, saling membantu dan saling memahami hak dan kewajiban masing-masing sebagai pasangan suami istri. Itulah sekilas harapan tentang wujud ideal keluarga, yang disebut dengan bahasa kekinian adalah KELUARGA SAMAWA.

Selanjutnya, Permohonan maaf kami yang sebesar-besarnya, jikalau penyambutan kami yang sederhana ini mungkin tidak berkenan di hati bapak dan ibu semuanya.

Tetapi yang pasti, ini semua bisa terwujud dan terlaksana, hanya atas izin dan rahmat dari Allah Subhanahu Wataala.

Semoga kedatangan pemuda gagah dengan niat menyempurnakan ibadah ini segera terwujud dalam acara prosesì akad nikah.

Sebelum sambutan ini diselesaikan, ijinkan kami menyampaikan sebait pantun yang sudah kami persiapkan khusus untuk acara penyambutan :

MEMBAWA KERANG DIIKAT TALI
TAK LUPA JUGA SEKARUNG CUMI-CUMI
Dari Tangerang ke Cimahi
Membawa niat janji yang suci

MEMASAK IKAN BERALAS KAKI
TAK LUPA TUANGKAN MINYAK NABATI
Ingin mewujudkan persaudaraan abadi
Dalam ikatan pernikahan sejati
Disini, dimulai saat ini

PERGI KE KOLAM JADINYA BASAH
TERASA DINGIN SEKALIGUS CERAH
Setelah akad, semuanya jadi SAH
Dilanjut resepsi meriah yang penuh berkah.

Demikian yang dapat kami sampaikan, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh (AKW).

***

*)Acaranya di Ballroom V Hotel, Jalan Terusan Sutami III, Setrasari Bandung. 26 Januari 2019.

Berubah….

Jangan takut hadapi perubahan, jalani dan…

Photo : Ilustrasi Patung Dewa Gajah yg sedang bertapa / dokpri

Disaat banyak pihak berlomba menunjukan kemampuan dan keahlian, disitu terlihat juga yang masih terdiam dan gagap dengan perubahan. Padahal selama hidup perubahan itu adalah keniscayaan, atau boleh disebut perubahan itu adalah kehidupan itu sendiri.

Tetapi ada juga yang terlihat tenang meskipun hati kecilnya bergejolak ingin menapaki perubahan dengan segala tantangannya. Hanya secara perhitungan memang perlu strategi yang tepat agar tidak menjadi korban kekonyolan ditengah perputaran turbulensi kepentingan.

Apa yang harus dilakukan?..

Pertama adalah kenali diri

“Maksut lo, salaman tangan kanan ama tangan kiri trus senyum sendiri?”

“Ahay jangan sewot dulu kawan, baca dulu tulisan selanjutnya” senyum manisku memberi ruang berfikir sesaat dan mengurangi tensi emosional sang penanya yang begitu agresif dengan segala kekuranglebihannya.

Kenali diri tentu bicara komprehensif, disini yang paling sederhana adalah mengukur potensi diri serta ketahanan mental selama ini dalam hadapi aneka persoalan yang terjadi baik urusan gawean juga kehidupan pribadi. Itu dua sisi yang harus memiliki keseimbangan dan kesetimbangan. Bukan berarti harus 50 : 50 tetapi ada sisi flexibilitas disini, monggo terserah masing-masing ngitung persennya.

Kedua, pelajari seksama pokok penentu perubahan itu.

Apakah karena pimpinan baru dengan kebijakannya yang mengharuskan perubahan dan percepatan yang menuntut responsifitas tinggi, atau karena mertua baru (ini khusus yang baru nikah atau nikah lagi), perlu penyesuaian mental dan hati sehingga kondusifitas dunia perkawinan terjaga sempurna. Atau bisa juga karena perpindahan tempat tugas karena sebuah seremonial mutasi, ini juga berdampak serius jika tidak disikapi arif bijaksana.

Nggak percaya?, monggo coba aja”

Ketiga adalah jual diri. Jangan dulu berfikiran negatif dengan istilah jual diri, ini memiliki makna menunjukan potensi diri sesuai dengan pangsa pasar yang memang memerlukan kemampuan ‘khusus‘ kita. Klo kemampuan kita diukur rata-rata air dan sulit meningkat, ya tinggal ditambah dengan kemampuan soft skillnya sehingga memberi kenyamanan dan kedamaian bagi pihak yang menjadi pokok terjadinya perubahan.

Keempat, lakukan dan segera berubah.

Yang pasti mari senantiasa berubah, lha wong Ksatria Baja Hitam aja selalu ‘BERUBAH‘. “Masa kita enggak?”

***

Salam perubahan, sambil tak lupa menikmati seduhan manual kopi lanang EL’s hasil racikan Kang Fajar sang Barista Stocklot. Wassalam (AKW).