Tebing Breksi bikin iri.

Menjajal Tebing Breksi meski tak direncana tetapi berakhir ceria. Edisi beredar di Jogja.

Perjalanan bersama setelah seharian melaksanakan 3 paket meeting dan kunjungan… itu ruar biasa.

Kunjungan terakhir ke Instalasi Pengolahan Air Limbah Sewon memberi pengalaman tersendiri, yang penasaran bisa Klik Disini IPAL SEWON.

Sekarang acara bebas dan segera suara mayoritas ibu-ibu yang berkuasa. Dari opsi kembali ke hotel versi bapak-bapak yang langsung pupus oleh jeritan ibu-ibu yang bersama-sama bersuara, “Breksi.. breksi.. breksiii!!”

Segera pilot elf pariwisata mengarahkan kendaraan sesuai harapan dan keinginan meninggalkan daerah Sewon Kabupaten Bantul menuju Tebung breksi yang katanya seksi… seksi apanya ya? Jadi penasaran.

***

Perjalanan terasa begitu singkat padahal sekitar 19Km-an.. maklum sambil ngalehleh kecapean alias tertidur pulas. Alhamdulillahnya nggak ada yang iseng motoin posisi terkulai karena semuanya tidur serempak kompak dan penuh kebersamaan ditemani musik alami dari mulut bapak-bapak… zzzzz… kerrr.. keeer.. woaaaah.

Gujleeg!!!, mobil melewati gundukan dan jalan berlubang. Membangunkan sebagian besar penumpang termasuk diriku. Ternyata sedang menanjak di jalan desa, jalan terlihat di beton mulus tapi ada beberapa gundukan yang harus dilewati perlahan. Jalanan sempit yang agak rawan jika ada bus pariwisata melintas, sehingga perlu bergiliran. Untungnya kami ber-16 pakenya mobil elf yang praktis dan bertenaga besar.

***

Tebing Breksi adalah objek wisata baru yang dikembangkan dengan memadukan dan mengedepankan partisipasi masyarakat untuk bersama-sama memanfaatkan bekas galian batu ini menjadi sebuah kawasan wisata yang ciamik. Tak berani berkomentar banyak karena harus dapet informasi primer dari narsum yang tepat.

Jadi cerita ini adalah apa yang di rasa oleh diri sendiri dan dibalut asumsi serta prediksi plus tungak-tengok dikit di wikipedia.. apa bener Tebing Breksi ini seksi?

Cekidot….

Dari jalanan kecil ada petunjuk belok kiri, elf menuju kesitu dan jalan sedikit menurun. Baru 50 meter, kami terperangah karena ternyata di hadapan kami sebuah tempat parkir yang besar, banyak bis pariwisata berjajar parkir dan tak terhitung jumpah mobil pribadi plus ratusan atau ribuan orang tengah asyik dengan kesibukannya masing-masing.

Tiket masuk gratis tapi dikenai biaya seikhlasnya… pantesan rame bingiiit.. khan kita mah seneng yang gratisan hehehehe.. yang bayar hanya parkir pas masuk kawasan tersebut, Motor Rp 2.000, Mobil Rp 5.000, Mobil dan bis pariwisata 15.000. Untuk pengunjung mah saridona (seikhlasnya)… asyik khan gan?

***

Shalat dhuhur asyar Jama qoshor di mushola outdoor yang bersih dan nyaman sekaligus tempat wudhu dan toilet yang bersih membuat betah berlama-lama. Deretan warung makanan yang tertata apik memanjang di kedua sisi dengan aneka makanan yang variatif. Plus meja kursi yang khas di depan warung masing-masing plus kursi meja kayu di trap bawah yang makin memanjakan pengunjung untuk bersantai.

Jangan lupa siapin kostum yang pas yaa…. kaos dan celana kargo atau celana pendek plus sepatu outdoor atau sendal gunung… itu yang pas. Tapi kalaupun pake batik ya gpp… harap maklum beres kondangan langsung wisata xixixixixi….

***

Pilihan berkeliling lokasi ada 2 pilihan kendaraan tapi masing-masing ada konsekuensinya.

Pertama, menggunakan kendaraan offroad berupa jeep yang sudah berjajar menanti. Tapi ya siap2 rogoh kocek agak dalam… kayaknya. Soalnya nggak nanya2 berapa tarifnya.

Kedua, skuter. Nah ini mah gratis karena singkatan dari ‘suku muter’ alias kaki yang bergerak. Gratisss tis.. bayarannya adalah bersyukur kepada Allah SWT sudah diberikan nikmat kesehatan termasuk kaki yang kuat tanpa keluhan apapun… Amiin Yaa Robbal Alamin.

Tebing pertama adalah sebuah tebing batu Breksit… nah itu dia kenapa disebut kawasan wisata tebing breksit, karena awalnya ini adalah tempat penambangan rakyat dan yang diambil adalah batu breksit. Digunakan sebagai bahan dasar ukiran yang bernilai ekonomi.

Trus ada penelitian para ahli dan hasil penelitian pada ahli geologi ternyata batu breksi ini masuk ke dalam golongan batu purba yang berusia ribuan tahun… jadi nggak boleh diambil atau ditambang sembarangan.

Trus gimana?…

Kebijakan pemerintah untuk menutup begitu saja tentu akan berdampak terhadap sumber mata pencaharian masyarakat. Maka dalam rangka menjaga urusan ferut yang fundamental ini, perubahan menjadi tempat wisata yang baru adalah pilihan cerdas.

Sehingga batuan breksit dapat lestari dan masyarakat tetap berseri karena tidak terganggu kehilangan periuk nasi.

***

Yang bikin menarik diriku ada beberapa hal meskipun kunjungan inipun sangat singkat dan dadakan, tapi biasanya yang singkat dan mendadak itu yang ngangenin… apa seeeh.

Pertama, sinergi masyarakat seakan terbangun sempurna (ini mah analisis subyektif awaminisme), siapa berbuat apanya jalan apa adanya, bagian tiket parkir, yang jualan makanan, jagain mushola dan toilet, jagain spot photo diatas bukit yang disetting dengan kreatifitas hingga penggunaan alat mekanik yang bisa bikin pengunjung duduk diatas sangkar burung berbentuk telur setengah dan dikerek 2-3 meter diatas tanah trus di photoin sama yang jagain nya… bayar nya?… nah ini yg kedua.

Kedua, pola pembayarannya sukarela alias saridona tapi tidak gratis. Dan itu berlaku sejak pintu masuk. Yang dipatok hanya parkirnya saja sementara untuk masuknya pengunjung… terserah yang penting ngasih.. keren khan? Itu tidak hanya berlaku di pintu masuk, tetapi di tiap spot untuk berphoto, petugasnya sukarela membantu, motoin dan tidak minta bayaran tapi tersedia kencleng atau tempat uang dengan nominal bebas…. jadi siapin recehan. Karena klo duitnya 100rebuan trus berphoto buat dipasang di medsos di 10 spot.. atuh kudu 1 juta khan… nggak bangeet hehehehe… tapi juga jangan ngasih 1000 perspot bro… ingat toilet aja 2000 rupiah hehehehe.

Ketiga, dukungan fasilitas parkir yang luas serta infrastruktur pendukung seperti bangunan warung2, toilet dan mushola yang nyaman… bikin iri dech.

Keempat, adalah kreatifitas menyambungkan dengan tempat wisata lainnya yang bertebaran di sekitar tebing breksi tersebut sehingga para pengunjung mendapat kesempatan pilihan wisata yang beragam.

Udah itu aja dulu ah… udah sore, sebelum meninggalkan area tebing breksi ini tak lupa mengambil photo semburat mentari sore yang seakan nempel dengan tebing breksi. Haturnuhun, Wassalam. (AKW).

Ngeboldin 2 Ke Bungbulang

Ngebolang dinas sesi 2, rute Pangalengan – Cisewu – Bungbulang – Pakenjeng – Cikajang – Garut Kota – Bandung.

Setelah tuntas di 4 titik mengikuti alur rencana pembangunan SPAM Regional Bandung Selatan, Maka ngebolang dines dilanjutkaan….

Meskipun ngeboldin sesi 1 ini klo ngikutin pola aliran air mah terbalik. Dari hilir ke hulu. Padahal idealnya mah dari sumber di hulu hingga hilir, karena sudah hukum Allah bahwa air itu mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Berhubung ini mah peninjauan dan posisi para calon konsumen penikmat air sekaligus rumah tinggal kami para pebolangnya di sekitar cekungan bandung maka startnya dari hilir ke hulu.

Eitts tapi sebelum bergerak ke tujuan selanjutnya, tawaran sarapan terlambat dari PT TGR tentu tidak ditolak dengan syarat ‘Makanan lokal cepat saji’, maksudnya?..

Yaitu makanan yang bisa cepet disajikan nggak usah nunggu lama. Makanan yang butuh proses seperti Sate yang musti dibakar dulu. Ayam kampung geprek yang musti nangkap dulu, kejar-kejar tuh ayam. Sembelih, bersihin, bumbuin dan dimasak trus finishing touchnya digeprek baru disajikan dan juga belum ngulek bumbunya. Sajiannya dijamin segar, enak dan menggugah selera tetapi perlu waktu menunggunya.

Ternyata bener juga sesuai request, hanya 5 menit setelah pesan, tersaji bermangkok-mangkok sop iga dan sop buntut sesuai dengan jumlah person yang ada. Tidak lupa untuk bos dan kru yaitu nasi putih, sambal cengek hijau dan teh tawar panas menjadi menu sarapan (kesiangan) yang maknyoooos. Yummy. Nyam nyam nyam.

(Sayangnya saking enaknya makan jadi lupa photo penampakan Sop iga dan sop buntutnya. Gpp ding, supaya yang baca jadinya nyipta-nyipta).

Photo : Sungai Cirompang Bungbulang / dokpri

Perjalanan etape 2 dimulai dengan menyusuri jalan raya pangalengan melewati Situ Cileunca hingga menembus perbatasan Kabupaten Garut tepatnya Kecamatan Cisewu. Jalan berkelok naik turun dihiasi pemandangan alam yang luar biasa, menjadikan sensasi yang ‘beda‘ padahal ini bukan perjalanan perdana. Eksotisme Situ Cileunca dipadulanjutkan dengn hamparan teh hijau Perkebunan Cukul mendamaikan hati, meskipun lambung agar berulah karena kendaraan yang ditumpaki… eh ditunggangi melesat agak cepat di jalan berkelok-kelok. Lembah menghijau dan jurang menghitam di kiri jalan memberi sensasi kengerian tapi mengasyikan, berpadu bukit berhutan yang hijau serta memancarkan misteri alam. Menjadi penyadar diri bahwa manusia itu hanya setitik debu di alam yang maha luas ini.

Perjalanan terasa lama padahal hanya 2 bokan dan 2 kontur jalan yang dilewati yaitu belok kiri – belok kanan – nanjak dan mudun (menurun), cuman karena kombinasinya sangat banyak jadi pinggang terasa dibetot sana sini dan perut serasa naik kora-kora. Ditambah kecepatan kendaraan yang lumayan kenceng, makin kebanting2 nich body. Untung aja safety belt memeluk erat, sehingga jarak 90 km bisa ditempuh lebih cepat 30 menit dibanding perhitungan googlemap.

Yuppp… setelah 2,5 jam berguncang-guncang (jalannya sih okeh tapi belok2 itu… wow pokona mah), akhirnya tiba di lokasi yang dituju yaitu PLTMH Cirompang yang terletak di Desa Cihikeu & Desa Bungbulang wilayah Kecamatan Bungbulang Kabupaten Garut. Pembangkit listrik yang berkapasitas terpasang 8 MW ini adalah salah satu unit usaha PT Tirta Gemah Ripah yang memanfaatkan sumber air dari Sungai Cirompang yaitu Bendung Cirompang (existing).

Disaat memasuki power house PLTMH serasa dejavu karena hampir setahun lalu wara wiri ke lokasi ini bersama-sama tim di kantor dalam rangka rangkaian kunjungan jugavtetapi dengan bos yang berbeda. Trus juga ada beda lali, kalau tahun lalu rutenya via Garut Kota dan. menginap di Bungbulang, nah sekarang dari arah berlawanan yaitu Pangalengan Kabupaten Bandung.

Peninjauan 4 turbin dan diskusi singkat di main control office membahas beberapa hal penting terkait keberlanjutan usaha ini. Dari sisi kepemilikan lahan sudah clear tinggal hitung-hitungan nilai usaha dan potensi permasalahan yang bisa menjadi hambatan di masa mendatang.

Konstruksi PLTM Cirompang ini tersebut terdiri dari bangunan Intake (bangunan sadap) yang saling berbagi dengan saluran irigasi yang sudah ada. Lalu terdapat kolam Sandtrap (bangunan pengendap pasir), Saluran pembawa (Waterway) beserta Tunnel (terowongan) dengan panjang ±173 meter. Lalu air mengumpulkan diri di Headpond (kolam penenang). Disitu terdapat penyaringan dan pengendapan terakhir sebelum diterjukan ke dalam Penstock (pipa pesat) dengan panjang ±2 km. Air melesat hingga masuk ke 4 buah Turbine dan Generator di dalam Power House (Gedung pembangkit). Berproses memutarkan turbin untuk hasilkan listrik. Kondisi eksisting pada saat peninjauan, 2 turbin sedang bekerja dan 2 turbin lainnya idle. Hal ini disebabkan beberapa faktor, yang utama adalah debit pasokan air yang relatif terbatas dan mekanisme pemeliharaan dari turbun-turbin yang ada.

PLTM ini bekerjasama dengan PLN untuk proses jual beli listrik yang tentunya memberikan keuntungan bersama. Kususnya kepada PLTM Cirompang dan tentunya bagi PT Tirta Gemah Ripah.

Tuntas dari power house, shalat dhuhur dan asyar segera ditunaikan di mushola sederhana. Daan… . Tawaran makan siang disambut ceria, karena sop iga dan sop buntut yang tadi disantap di Pangalengan telah hilang ditelan bantingan tubuh akibat jalan berkelok dan turun naik serta naik turun.

Sajian goreng ayam kampung, bakar ikan dan sambal lalap serta ditutup dengan nyruput air kelapa muda mengembalikan kesegaran dan tentu rasa kenyang. Kembali diskusi ringan dengan beberapa pegawai PLTMH, terkait harapan peningkatan debit air sungai melalui sodetan sungai yang berfungsi untuk tambahan irigasi bagi masyarakat. Dimana dengan chatcment area diatas 1.000 ha hingga maksimal 3.000 ha maka pemerintah provinsi jawa baratlah yang berwenang mengelolanya. Sehingga dianggap akan mudah koordinasinya karena kewenangannya di level pemerintahan yang sama… sruput dulu air kelapanya dan jangan lupa nanti kelapa mudanya dibelah untuk dinikmati daging kelapa mudanya.

Akhirnya peninjauan PLTM Cirompang selesai sudah, kami bergegas memasuki Fortuner dan Rush karena rintik hujan berubah lebat.
Ternyata…. titik peninjauan belum berakhir karena tujuan baru harus di buru yaitu Bangunan aset milik salah satu BUMD Provinsi juga yang terletak di daerah Cikajang Garut.

Apa mau dikata, siapkan phisik dan mental untuk nikmati jalan berkelok dan naik turun di kisaran 2 jam perjalanan. Waktu menunjukan pukul 14.45 wib disaat kendaraan menjejak kembali di jalan raya Bungbulang menuju Pakenjeng Kabupaten Garut.

Sesuai perkiraan hampir tepat 2 jam, kami memasuki area luas dengan bangunan-bangunan besar eks pabrik, sisa kejayaan BUMD masa lalu.

Di lokasi tak banyak berbincang karena yang ada hanya segelintir pegawai saja. Di satu ruangan terlihat menumpuk seperti rumput kering yang sedang di pak, ternyata itu stevia kering. Tumbuhan dari Paraguay yang diolah menjadi pemanis alami pengganti gula. Iseng-iseng dijumput secuil onggokan stevia itu. Masukin ke mulut dan dikunyah. Rasanya… manisss bingit.

Lalu kru dan bos masuk ke pintu sebelah yang terdapat mesin-mesin pengolahan teh. Sementara diriku kebelet pipis, melangkah keluar dan mendekati pekerja, “Kalau toilet sebelah mana?”
“Gedung sebelah pak, pintu kedua”
“Terima kasih.”

Langsung bergegas khawatir tak kuat menahan rasa. Ehh ternyata musti sabar karena toilet cuma satu yang moo pake banyakan. Terpaksa antri dengan menahan sekuat hati. Lumayan 10 menitan antri baru dapet giliran… surrrrr… legaaa.

Balik ke tempat mesin teh ternyata bos sudah selesai peninjauannya. Ya sudah kita nenyesuaikan dan pamit kepada pekerja yang ada.

Alhamdulillah titik peninjauan usai pada pukul 17.25 wib. Segera bergegas naik di kendaraan dan bersiap pulang ke Bandung via Kota Garut dan menyusuri jalur jalan nasional.

Sampai jumpa di cerita ngeboldin (ngebolang dines selanjutnya) hari ini, klo di lihat di guglemep perjalanan ini menempuh jarak 231 km dengan waktu tempuh perjalanan 11 jam 20 menit 52 detik dengan rute melingkar menyusuri sebagian kecil daerah di Jabar. Wassalam. (AKW).

Ngebolang dines di Cimaung

Cerita ngeboldin (Ngebolang dinas) etape 1 sama bos ke wilayah Cimaung Bandung Selatan. Berkunjung untuk mengamati, memaknai dan tentunya silaturahmi ke jalur SPAM Regional dari JDU – Reservoir – IPA – Praset – Intake.

Photo :Tim yang nyubuh udah ready di Tollgate / dokpri.

Adzan shubuh menemani pergerakan dari rumah yang berada dipinggiran kota menuju titik kumpul di pinggiran kota (juga) tapi pinggir yang lainnya, ah ribet amat, rumah di Cimahi dan ketemuan di exit tol Mohammad Toha, gitu aja repot. Oh ya, Tentu tak lupa menyegerakan mencari mesjid yang terlewati untuk tunaikan kewajiban rutin harian sebagai bentuk ketaatan hamba.

Hari ini adalah dinas luar perdana di awal tahun 2018, istilahnya ngebolang. Berkeliling untuk melakukan monitoring, koordinasi dan fasilitasi urusan kerjaan yang berkaitan khususnya urusan infrastruktur di Jawa Barat.

Tuntas sholat shubuh, bergegas menuju titik kumpul yang telah disepakati. Gerbang tol Moh Toha masih lengang meskipun tetap gagah menyongsong hari dan menyambut siapapun yang keluar masuk dengan syarat mutlak membawa dan menempelkan e-tol. Jikalau ada yang make tongtol alias tongkat e-tol ya itu sah – sah saja, lha wong tujuannya membantu pengemudi agar tidak menjulurkan tangannya terlalu jauh.

Eh kok jadi bahas tongtol seeh?… gpp atuh, apalagi tongtolnya yang warna pink dan hijau muda. Lucu kayaknya.

Tepat pukul 06.00 wib bos dateng dan sang pengantar sekaligus penanggungjawab objek yang akan dikunjungipun tiba yakni dari PT Tirta Gemah Ripah, salah satu BUMD Pemprov Jabar inipun bersiap memimpin konvoy. Mini konvoy tepatnya karena hanya 4 mobil doang.

Photo : Peninjauan Titik ahir JDU / dokpri.

Titik pertama adalah ujung JDU yang akan nyambung dengan jaringan yang dipasang PDAM Kota Bandung. JDU itu singkatan dari Jaringan distribusi utama, yaitu jaringan pipa yang menghubungkan reservoir dari IPA dengan SR.. oalaaah apa lagi itu?… IPA Instalasi Pengolahan Air dan SR itu sambungan rumah.

Photo : Semburat mentari pagi menyambut kami / dokpri.

Konvoy bergerak lagi dan pukul 07.02 Wib sudah tiba di Titik kedua dipinggir jalan raya Ciherang – Cangkuang yang berada di wilayah Kecamatan Cangkuang Kabupaten Bandung. Melihat batas pemasangan JDU oleh Disperkim Provinsj yang terhubung dengan jaringan PDAM. Nah disini ada rencana penambahan PRV.

Bingung lagi… apa itu PRV?

Yang spontan muncul di otak ada 2. Pertama, PRV di Daerah Gerlong hilir yaitu nama perumahan elit, Parahyangan Rumah Villa. Komplek perumahan tempat tinggal bigbos dahulu.
Kedua, adalah kendaraan dinas tunggangan para sekretaris OPD di Pemprov Jabar. Oppps…. itumah CRV :).

Nyerah?… Akhirnya googling dech.

Tuh mahluk PRV adalah sebuah alat untuk mengatur ketinggian tekanan air sehingga sesuai dengan kondisi jaringan. PRV adalah Pressure Regulating Valve. Kebayang khan klo nggak diatur tekanannya. Air nggrojok dari sumber reservoir begitu besar langsung masuk jaringan pipa yang lebih kecil, ya jebol. Rencananya dititik kedua ini akan dipasang PRV untuk memaksimalkan penyaluran air bersih kepada masyarakat pelanggan.

Photo : Kantor Instalasi Pengolahan Air SPAM bdg selatan / dokpri.

Perjalanan berlanjut ke titik ketiga, memasuki jalan desa yang berkontur nanjak berkelok serta relatif sempit untuk ukuran Toyota fortuner. Untungnya kami mah nyetirnya Toyota Rush, ramping lincah dan lumayan irit. Perjalanan terasa nyaman karena kanan kiri adalah kebun sayuran yang menghijau manjakan mata. Jalan berkelokpun tidak terlalu mengocok perut karena ada tumpuan lain yang bisa alihkan perhatian, hingga akhirnya jalan berbelok kiri menurun lalu tekuk kanan memasuki jalan beton hingga tiba di gerbang area perkantoran yang terletak di dataran tinggi Cimaung Pangalengan ini. Tertulis megah di atas gedung, SPAM Regional Bandung Selatan.

Diskusi dan peninjauan titik ketiga ini cukup hangat terutama diskusi yang membedah dari awal alur cerita dari SPAM Regional ini. Mulai sumber air dari Over flow PLTA Cikalong dan Sungai Citanduy, masuk ke Intake, trus Kolam Prasedimen, ngalir terus ke Instalasi Pengolahan Air, Reservoir terus ke pipa JDU, dibagi per sistem PDAM Kabupaten Bandung dan PDAM Kota Bandung hingga akhirnya sampai ke SR di rumah-rumah masyarakat.

Photo : Gunung Patuha dilihat dari lt atas gd IPA / dokpri.

Pembahasan ditemani jagung dan kacang rebus serta kopi hitam sekaligus sarapan kami pagi ini di dataran tinggi Cimaung Bandung Selatan. Terkait sumber anggaran yang multi sumber baik APBN via Dirjen SDA dan Dirjen Ciptakarya KemenPU juga APBD Provinsi Jawa barat dan APBD Kabupaten Bandung dan APBD Kota Bandung. Juga urusan lahan dan kewenangan pemerintahan menjadi pembahasan yang menarik dengan kerangka kerjasama sinergis antara tingkatan pemerintahan. Termasuk menyeruak istilah BASTO dalam diskusi ini. Awalnya kirain tentang bakso (maklum efek belum sarapan jadi yang kepikirannya makanan) tapi pas lama-lama diperhatikan adalah urusan serah terima aset. Yakin ini mah yang dimaksud Basto itu adalah Berita Acara Serah Terima Operasional.

Photo : di lantai atas gd IPA / dokpri.

Tuntas diskusi sambil duduk dilanjutkan diskusi sambil melihat instalasi pengolahan dari mulai pipa masuk ke area IPA, masuk di sistem pengolahan hingga ke reservoir. Naik tangga ke lantai atas terlihat bak penampungan air raksasa seperti kolam renang dengan kedalaman 6 meteran. Melewati itu menuju lantai atas bagian luar terdapat beberapa lubang besar yang ditutup besi-besi baja sehingga tidak khawatir untuk diinjak. Udara sejuk memanjakan kami dan di lantai atas ini segera kami menikmati pemandangan alam yang luar biasa, ke utara terhampar dataran cekungan bandung dan di arah selatan berdiri gagah Gunung Patuha.

Tuntas dari lantai atas, kembali turun ke lantai bawah dan keluar bangunan gedung menuju halaman kantor dimana 2 reservoir air berada. Melihat secara langsung terasa berbeda dengan pemaparan di kantor, padahal dengan objek yang sama. Sehingga peninjauan obyek pekerjaan itu sebuah keharusan. Selain bisa melihat kasat mata bukan sekedar imajinasi juga bisa melihat beberapa potensi permasalahan yang musti diantisipasi, lebih khusus lagi adalah menambah silaturahmi.

Titik keempat terkait peninjauan Sistem Penyediaan Air Minum Regional Bandung Selatan ini adalah lokasi kolam Prased yang terletak sekitar 4 km dari lokasi IPA dan reservoir. Bergeraklah mini konvoy ini menuju lokasi Prased yang masih berada di wilayah Cimaung ini. Peninjauan titik keempat ini menjadi akhir ngabolang (sementara) di awal tahun 2018 ini. Sekaligus titik awal ngabolang awal tahun etape 2 menuju wilayah Garut selatan.

Tunggu yach di tulisan selanjutnya. Wassalam. (Akw).