Ngopay di Meloh Cafe.

Ngopi Arabica Cikuray & Papandayan di kaki Burangrang

Photo : Sajian manual brew V60 Arabica Papandayan / dokpri.

PASIRHALANG, akwnulis.com. Menemukan tempat ngopi yang asyik ternyata tidak sulit, semenjak memutuskan menjadi Kotala-lover*), maka informasi tentang tempat ngopi seolah datang sendiri. Bisa rekendasi teman, iklan di IG, atau obrolan pribadi.

Begitupun hari ini, bisa menikmati kopi v60 arabica papandayan dan arabica cikurai dengan memandang awan tipis bermain di gunung burangrang.

Nama tempatnya ‘Meloh Cafe & Tent’, sebuah tempat menginap dengan suasana alami menggunakan tenda tetapi dengan berbagai fasilitas sekelas hotel berbintang, yang dikenal dengan istilah ‘glamping‘, glamorous camping.

Tempat bersantai yang menenangkan. Bisa mengembalikan mood dan semangat dalam menjalani kehidupan atau juga menjadi terapi jiwa jikalau galau sedang menyerang.

Photo : Latar belakang gunung burangrang / dokpri.

Sajian pertama adalah arabica papandayan dan sajian kedua arabica cikurai, menggunakan manual brew filter V60 dengan komposisi kopi dan air yang… pake feeling..🤠🤠🤠.

Pas ditanya rumus perbandingan, Neng Wini sang penyeduh menjawab bahwa komposisi airnya seteko kecil dengan 3 sendok makan kopi bubuk… trus panas airnya sampai mendidih ajaaa…. gampang khan?

Tapi itulah misteri kopi, terkadang menyeduh dengan presisi baik komposisi ataupun gramasi dan juga temperatur air panas yang tersaji… eh hasilnya biasa saja, nggak nendang sesuai harapan hati.

Ternyata, seduhan neng Wini dengan feelingnya bisa juga menghasilkan sajian rasa kopi asli tanpa gula yang memang karakter aciditynya medium dengan aftertaste fruitty, meskipun dari sisi body (rasa pahitnya), kopi papandayan lebih strong dan tebal dibandingkan kopi arabica cikuray.

Srupput….. hmmmm… nikmaat.

Photo : Sajian V60 kopi arabica papandayan / dokpri.

Oh ya, tempat ini tidak hanya untuk ngopi, tetatpi aneka makanan minuman juga tersedia dan jikalau yang pengen menginap maka terdapat beberapa tenda bersama dilemgkapi toilet di dalam ataupun yang tenda biasa dengan toilet terpisah serta fasilitas tenda besar yang juga bisa digunakan untuk pertemuan termasuk sebuah banguna mushola alami dari bambu yang bisa digunakan shalat sambil merasakan desau dan semilir angin penuh kesegaran.

Photo : Mushola di Meloh Cafe / dokpri.

Lokasinya berada di daerah Pasir Halang, Cisarua Kabupaten Bandung Barat. Akses dari arah Kota Cimahi melalui jalan kolonel masturi menuju arah utara ataupun dari daerah padalarang melewati jalan Ciloa KBB.

Udah dulu ah ceritanya, sayang nich kopinya cepet dingin…. selamat ngopay, Wassalam (AKW).

*)Kotala-lover : pecinta-kopi tanpa gula.

Fasilitas Bandara Kertajati 1)

Mengecek dan nyobain beberapa fasilitas bandara Kertajati : Toilet – Mushola – ATM.

Photo : Pintu Gerbang Bandara Kertajati / dokpri.

KERTAJATI, akwnulis.com. Turun dari mobil Toyota Hiace punyanya travel CTU (City Trans Utama) yang akses langsung ke lantai 3 terminal keberangkatan penumpang pesawat di Bandara Kertajati.

Ini tulisannya tentang antar moda, Menjajal perjalanan Antar moda ke Bandara Kertajati.

Photo : Eksis bersama duyuu / pic by Cacam.

Sebelum memasuki pintu kaca bandara, maka seperti biasa berphoto bersama sebagai bukti kehadiran disini sekaligus untuk bahan eksistensi diri di dunia media sosial.

Lalu kami berjalan menuju pintu masuk melalui akses penerbangan internasional lho.

“Kok bisa?”
“Ya khan hari ini belum ada penerbangan lagi, jadi bisa akses dari sini”
“Ohh gitu…..”

Masuk melewati pintu pemeriksaan dan tas serta peralatan elektronik melewati mesin x-ray dengan para petugas yang ramah tapi tetap waspada.

Masuklah kami ke bandara yang begitu megah dan indah ini… meskipun memang masih sepi. Tapi hadirnya kami semoga bisa memberi warna berarti. Demi kemajuan dan kesiapan Bandara Internasional Kertajati ini menjadi bandara yang sibuk, keren dan tentu kebanggaan warga jabar tentunya.

Kami berlagak sebagai calon penumpang pesawat yang akan terbang dari bandara Kertajati hari ini. Jadi berkeliling sambil menikmati fasilitas, itu yang dilakukan.

Bergerak…..

Fokus pertama, kelengkapan toilet dan mushola, terletak di sayap kanan dan kiri bandara. Toilet wanita, toilet pria dan juga untuk yang berkursi roda serta nursery room, lengkap tersedia.

Berjalan agak ke dalam, tersedia ruangan untuk mandi dilengkapi dengan air hangat…. aiiih senangnya… pengen nyoba mandi, tapi takut ditinggal pesawat yang bisa terbang kapan saja… ahh lebaay kaaau.

Photo : Kamar mandi bandara lt 3 / pic by Fauzi.

Ada 16 kamar mandi dengan fasilitas air hangat, 8 buah untuk pria dan 8 buah ruang mandi wanita, cukup buat menyegarkan tubuh dan pikiran sebelum melakukan penerbangan jarak jauh baik luar jawa juga (nantinya) penerbangan luar negeri.

By the way, penerbangan umroh secara berkala sudah dilakukan tetapi memang belum setiap hari. Trus penerbangan haji semoga tahun depan bisa terwujud setelah 2 tahun ini berjuang untuk memenuhi segala syarat dan prasyarat yang harus dipenuhi.

***

Fokus kedua adalah ketersediaan mushola, tempat beribadah bagi umat muslim. Posisinya dekat toilet baik di sayap kiri dan sayap kanan.

Musholanya nyaman dengan hamparan karpet merah marun, tempat wudhu yang berjajar banyak serta pemandangan depan mihrab yang langsung melihat pemandangan lantai dua tempat penumpang yang akan boarding…. nyaman dan damai rasanya.

Photo : Mushola di sayap kiri lt 3 / dokpri.

Begitupun dengan mushola di sayap kanan, akses langsung pemandangan ke boarding room.

Jangan lupa siapkan boarding pass anda dan juga tanda pengenaal….

Fokus ketiga, adalah kelengkapan akses duit alias klo butuh duit pas di bandara….. Mesin ATM… tau khan singkatannnya?.. mesin buat ngambil duit sendiri atau.. ATM (Ambil Tsendiri Money 😀😀🤣🤣)…. maksa dikit boleh khaaan.

Jadi… keluar dari area toilet, kamar mandi air hangat dan mushola, segera nyari mesin ATM… clingak clinguk.. clingak clinguk.

Agak susah juga nyari ATM, setelah akhirnya bingung sendiri….. nanya dech ama petugas.

“Sebelah sana pak” Sambil menunjuk ke belakang. Penasaran, langkah kaki bergerak menuju arah yang dituju, memang dari arah depan tidak terlihat apalagi dari toilet…. ya iya atuh. Posisi ATM tersebut berada di tengah arah belakang lantai 3 ini…. nyaris tidak terlihat alias tersembunyi.

Photo : ATM bersama di lt 3 / dokpri.

Tetapi memang itu adalah arah menuju tangga ke ruang boarding setelah check in di lantai 3, jadi bakalan terlewati. ATM yang tersedia adalah 2 unit ATM bersama yang dapat digunakan oleh berbagai kartu ATM… dengan syarat untuk Kartu debit tentu saldonya ready dulu.. baru bisa ditarik.

Jadi meskipun ini ATM Bersama, tetep aja menggunakannya giliran, seorang-seorang. Nggak boleh bersama-sama, khawatir malah confused dan akhirnya error lho guys.

Photo : Kantor Kas BJB & 2 ATMnya / dokpri.

Turun ke lantai 2, belum nemu ATM lagi dan di lantai 1 baru ketemu 4 buah ATM sekaligus termasuk kantor kas PT BJB Tbk. 2 buah ATM bersama dan 2 buah ATM BJB terletak di depan kantor BJB yang sudah bisa digunakan untuk bertransaksi termasuk ‘najongkeun‘.. 🤣🤣🤣…

“What the meaning -najongkeun- sir?’

“Itu tuch, aktivitas merehab atau merestruk utang….”

“Ohhh….. “

Ah udah ah, kok malah bahas urusan unfaedah, ini khan lagi obrolin fasilitas bandara kertajati.

Satu lagi ada fasilitas money changer BRI, tapi isinya belum lengkap. Semoga segera dilengkapi dalam waktu dekat.

Photo : BRI money changer / dokpri.

Oke guys, itu tiga fokus lainnya tentang bandara ini, setelah ditulisan sebelumnya membahas tentang Antar Moda ke Kertajati’... semoga tulisan ini bisa melengkapi informasi bagi para calon penumpang pesawat terbang yang akan menggunakan bandara ini, insyaalloh mulai tanggal 15 Juni 2019… eh hari ini yach?…

Bener bingit, kemooon… terbaaang. (AKW).

Millenial dan Sholat Jama 2

Pengalaman menggunakan fasilitas sholat jama di bandara Radin Intan II.

Photo : Dokumen akw

LAMPUNG, akwnulis.com, Ini lanjutan dari tulisan terdahulu : Millenial dan Sholat Jama,

Terdiam sejenak, trus dilihat lagi petunjuk arah ke mushola laki-laki, ternyata belok ke arah kiri. Pantesan ada tanda yang dipasang darurat. Pake kertas HVS, kayaknya sering yang mirip aku, dengan pedenya buka ini pintu, padahal salaaah.

Setelah berbelok kiri lalu belok kanan , akhirnya terlihat gelaran sajadah hijau, “Eh tapi kok kecil banget ya mushola nya?”

Sebuah pertanyaan menggerayangi hati. Perlahan mendekat, dan mendekat. Ternyata…..

“Apa coba?”
“Mau tahu atau tahu banget?”

Duh maaf para pembaca, supaya ada efek penasaran yaaa…..

Ternyata itu adalah fasilitas bandara bagi yang akan menggunakan untuk beribadah sholat jama. Baik jama qashar ataupun sholat jama takdim dan jama takhir. Tulisannya yang cukup mencolok dapat membantu para penumpang yang akan melaksanakan sholat sesuai pilihannya.

Beranjak ke dalam, tersedia mushola kecil yang cukup bersih dengan nuansa kecoklatan. Bisa menampung kira-kira 20 orang jemaah. Sebelum ke mushola disamping kirinya ada tempat wudhu dan di sebelah kanan toilet laki-laki dan perempuan yang diatur terpisah.

“Ya iya terpisah, khan klo barengan mah nggak etis”

***

Penulis segera berwudhu dan kembali ke tempat sholat jama tadi. Memang hanya nampung 6 orang, tetapi cukup bagi yang akan sholat jama.

Bukan apa-apa, jikalau tidak terpisah memang sering menimbulkan kesalahfahaman dan ujungnya kekhusukan sholat yang terkorbankan.

Photo : dokumen akw.

Contoh begini, di mushola yang cukup besar. Kami bertiga sudah mengambil posisi solat di shaf hampir belakang mendekati hijab atau pembatas tempat sholat perempuan, mepet kanan. Maksudnya mengatakan secara tidak tertulis, “Kami lagi sholat jama, yang mau sholat biasa, jangan ikutan”

Eh ternyata tetep aja ada calon makmum yang sebenernya mau sholat dhuhur biasa, ngemakmum ke kami. Meskipun sebenernya tidak apa-apa, tetapi bagi kami yang lagi sholat, jadi sedikit buyar konsentrasi. Mau ngomong, “Ini mah lagi sholat jama” sambil nengok ke belakang.

Atuh BATAL sholatnyaaa……

***

Jadi pemisahan tempat sholat dengan sholat jama menjadi sebuah solusi cerdas dalam menjaga kekhusukan sholat. Disini menjadi menarik, karena yang mau sholat biasa ya pilih di mushola dan yang sholat jama bisa lebih konsentrasi. Di mesjid rest area KM57 Jakarta-Cikampek, pemisahan area shilat jama dengan yang sholat biasa adalah dengan memberikan papan petunjuk di beberapa shaf belakang.

Satu lagi, kalau di mushola Bandara Radin Intan II ini tertutup sementara untuk yang khusus area sholat jama dibatasi oleh kaca dan bisa langsung menembus memandang jalanan di depan bandara. Jadi harus khusyuk sambil memandang tempat sujud, jangan ngitungin jumlah mobil yang lewat hehehehe.

Ntar di postingan selanjutnya bahas sholat jama, karena merupakan fasilitas dari Allah Swt kepada umat muslim.

“Penasaran?”

“Tunggu postingan tulisan selanjutnya” Wassalam (AKW).

Khusuk di Mushola Mall

Dilema disaat kenyataan tidak sesuai harapan, terpaksa sebuah rasa dikorbankan demi harapan di masa mendatang.

Ini hanya contoh photo Mushola yang cukup representatif / dokpri

Photo : Contoh Mushola yang representatif di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. (Dokpri)

Adzan magrib berkumandang tepat di saat parkir di halaman mall, alhamdulillah. Segera bergegas menuju mushola yang terletak di basement. Ternyata… udah banyak orang yang antri wudhu. Bersiap menunaikan kewajiban rutin umat islam. Selesai wudu dalam antrian yang lumayan, kembali menunggu karena mushola kecil ini udah penuh.

Iseng diitung kapasitas mushola, yang cuman dua baris ini. 1 imam dan 11 makmum, euleuh cuman maksimal 1 losin eh 12 orang. Padahal yang moo sholat banyak. Sabarr…. tunggu aja. Ternyata tidak lama dan kloter keduapun siap menunaikan sholat.

Dapet posisi jajaran kedua dan segera takbirotul ihram, ‘Allahu Akbar’ mengikuti imam. Imamnya anak muda dan melafalkan Alfatihah serta surat Al Insyiroh di rakaat pertama dengan fasih dan enak iramanya.

Tetapi ternyata memakan waktu lama dan membuat antrian selanjutnya tidak sabar. Muncul celetukan, “Musholanya kecil banget nich”, “Lama banget sih, banyak yang ngantri nich”. Terus terang kekhusukan yang begitu sulit didapatpun terusik. Sang imam muda bertahan dengan bacaan tartil dan gerakan tumaninahnya. Yang ngantri dan merasa kelamaan nunggupun semakin gencar menggerutu.

Diriku terjebak dalam dilema, tapi tak bisa berbuat apa karena keriuhan diskusi hanya di otak saja. Kekhusukan terpaksa tergadaikan, berganti dengan rasa iba merasakan nasib pengantri sambil tetap ikuti gerakan sholat sang imam muda.

Sejumput doa terpanjat, semoga musholla kecil ini segera berubah menjadi luas, lapang dan nyaman serta jamaah yang akan sholat juga tetap banyak. Amin.