Kopi Arus Balik 2019

Meniti derasnya arus balik lebaran, perlu strategi dan berbagai persiapan.

Photo : Ngopay bray….. / dokpri.

KUNINGAN, akwnulis.com. Perjalanan mudik lanjutan yang lebih menantang adalah menghadapi arus balik, maksudnya ikutan arus balik yang diprediksi tepat di hari terakhir libur idul fitri yakni hari minggu tanggal 09 Juni 2019.

“Mudik kemana gitu?”

“Deket aja, ke Kuningan. Cuma pulangnya musti ikutan pusaran eh puncak arus mudik yang bagaikan air bah memenuhi seluruh jalur tol cipali yang menggunakan metode one way… semua sama-sama menuju arah jakarta.”

Mau nggak mau perhitungan harus mateng bingit, mengantisipasi berbagai kemungkinan di perjalanan karena penumpang yang dibawa rentan dengan kondisi kemacetan yakni seorang anak berusia 3,5 tahun ditambah seorang penumpang yang mual-mual duluan sebelum naik kendaraan.

Awalnya ingin kembali pulang lebih awal sehingga ada waktu beristirahat sejenak di rumah, sebelum kembali mengantor dan sibuk sama rutinitas kerjaan. Tetapi orang tua minta pulang hari minggu… ya sudah… nurut aja.

Inilah beberapa strategi dan persiapan yang dilakukan :

1. Secara berkala melihat kondisi jalanan atau rute yang akan dilalui via google map, apakah via tol dan bergabung dengan arus balik dari Jateng menuju jakarta atau via jalur non tol menyusuri wilayah majalengka-sumedang-bandung. Ya.. setiap 3 jam dilihat mulai H-1, sebagai bahan pertimbangan.

2. Sesekali lihat berita Televisi dan medsos… tapi sesekali aja. Soalnya klo liat medsos eh malah liat cuitan twitter, pic IG dan status temen di FB.. keterusan komen status temen.. jadi sesekali aja yaaa.

3. Nyetok makanan ringan dan minuman…. air mineral yang 600ml trus snacknya yang asin dan berasa manis… supaya nggak bosen dan variasi rassshaa di mulut.

Photo : Setermos kopi robusta rum / dokpri.

4. Pastikan kondisi fit karena akan memegang kemudi dalam waktu yang lebih lama dari biasanya. Ya… itu tadi, kondisi rute yang macet atau musti putar-putar cari alternatif jalan… jadinya jangan banyak begadang meskipun saudara lagi pafa ngumpul. Makan minum jangan berlebihan dan perlu mood booster plus disiapkan minuman penahan kantuk. Woalah… apa itu?… monggo cek photo diatas, itu adalah segelas kopi robusta rum dari pak bos Dodi KadisbunJB, diseduh manual sebelum berangkat dengan V60. Air panasnya sebanyak 300ml dan bubuk biji kopinya (kira2) 40-43gr… maklum gak bawa timbangan digital hehehe….. ini yang jagain mata supaya melek dan badan segar selama perjalanan.

Kopi Robusta Rum… Harum melek dan tidak memabukkan..

5. Yang terpenting setelah 4 poin diatas tentu meluangkan waktu shalat sunat 2 rakaat, bisa shalat dhuha di pagi hari atau shalat mutlak… berdoa kepada Allah agar diberikan kelancaran, kesabaran dan kemudahan dalam perjalanan arus balik lebaran tahun ini… Amiiin.

Berangkaaaat…. Cussss.

Alhamdulillah, perjalanan Kuningan – Cimahi selama 7,5jam. Penuh petualangan jalan alternatif hingga lewati pematang sawah karena ternyata google map nggak bisa deteksi jalanan ditutup panggung hajatan…. jadi putar-puter ke kebun dan jalan setapak… yang penting cukup satu mobil… hajaaar.

Ikutan arus balik one way di tol Cipali, tersendat 30 menitan di pintu tol Palimanan…. lalu tersendat lagi beberapa kali di dekat rest area hingga akhirnya menyerah…. dan keluar GT Kalijati karena di layar android terlihat antrean panjang merah menghitam mendekati cikampek….. menyusuri jalan desa lalu jalan raya kalijati hingga akhirnya masuk lagi GT sadang dan Cipularang lancar jaya hingga akhirnya tiba di tujuan dengan bahagia.

Hanya saja efek minum kopi robusta rum hingga hampir 300ml berefek dahsyatt…. badan lelah tapi mata melotot… sampe jam 2 pagi… padahal esok hari wajib masuk kerja dimana yang mangkir akan penuh dengan sanksi ancaman…. woaaah, semangaaaaat. Wassalam (AKW).

Petugas Pembaca UUD1945

Selembar photo sejuta makna, legam bukan berarti kelam, tapi legam yang penuh harapan.

Photo : Sang Pembaca berkulit eksotik / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Ber-lebaran di kampung halaman tempat kelahiran adalah saat yang begitu berkesan. Selain bisa kembali bersua dengan kawan sepermainan juga mengembalikan kenangan masa kecil yang ternyata menjadi pondasi penting dalam menjalani kehidupan.

Jikalau mesjid besar Al-Kahfi mengingatkan kembali betapa ‘aktifnya(maksudnya aktif bermain dan iseng di mesjid dan sekitarnya).. maka sebingkai photo masa lalu, mengingatkan kembali tentang sosok kecil, lugu dan polos dengan kulit sawo matang sematang-matangnya karena senang sekali ‘natural salon tunning ‘ alias maemunah (moé manéh = berjemur langsung dibawah sinar terik mentari) sambil berburu layangan yang putus dan terbang tak tentu arah mengikuti gemulai angin kehidupan, yang juga ber-efek samping keringnya kotoran hidung sehingga disebut juga -moé korong-…. masa kecil anak kampung yang menyenangkan.

Cerita mesjid dan masa kecilku bisa dibaca di tulisan SELAMAT HARI LEBARAN.

***

Selembar photo sejuta kenangan, itu bukan hanya istilah, tapi nyata adanya. Kembali memandang photo ini, teringat terasa waktu itu betapa gagahnya, berbaju putih dan celana (pendek) putih… lho kok pendek?…. ya iya atuh, khan masih anak SD. Anak kecil yang punya mimpi besar.

Menjadi petugas upacara sebagai pembaca UUD 1945 di acara Upacara Bendera HUT RI di tingkat Sekolah… eh lupa lagi… atau tingkat kecamatan ya?… ah sudahlah… yang pasti ada bukti udah pernah jadi petugas pembaca…. bukti otentik berupa photo, titik.

Kembali urusan kulit, terlihat begitu legam membahana… mendekati level gelap kehitaman. Tapi jangan salah, kulit super gelap itu tahan terhadap alergi kulit lho…. trus kukurusukan (masuk ke semak-semak) di kebun atau pinggir hutan, nggak khawatir dengan gigitan nyamuk atau serangga. Mereka enggan mendekati kulit gelap, mungkin darahnya pahit sepet jadi males gigit sang nyamuknya hehehehe.

Trus bagus buat penyamaran, sedikit saja ada tempat gelap maka langsung bisa menyatu dengan keadaan menggunakan teknik kamuflase ala bunglon wkwkwkwkwkwkw…..

***

Tiga puluh tiga tahun berlalu, ternyata hobby membaca melekat dalam jiwa, jikalau dulu memang sebagai pembaca dalam upacara, maka sekarang membaca buku masih menjadi pilihan santai di waktu senggang, meskipun ada buku yang senantiasa sedih jikalau dibaca…. yaitu buku tabungan, hiks hiks hiks.

Satu lagi yang masih melekat dengan aktifitas membaca adalah membaca situasi, baca gejalanya, analisis sederhana dan lakukan tindakan, maka hasilnya akan didapatkan.

“Maksudnya gimana?”

Ahh…. pertanyaan yang agak panjang untuk dijawab. perlu bersua dan dijelaskan secara langsung tentang ‘membaca situasi’ ini, karena ternyata tidak cukup keinginan saja, tetapi harus berlatih dan akhirnya menjadi ‘keterampilan’….

“Oke dech, nanti ke ruangan ah, sambil ngopay, khan udah nggak berpuasa”

“Siyaap mas bro, eh tapi mendingan kontak-kontak dulu, khawatir lagi shaum sunnah syawal (nyawalan)”

“Ah banyak kali kau alasan”

Aku Malas berdebat, karena situasinya tidak memungkinkan. Tapi jikalau waktunya tiba dan bisa berdiskusi, maka ‘membaca situasi’ ini bisa menjadi tema yang (mungkin) menarik. Entahlah.

Kembali photo ini dilihat lebih seksama, terutama latar belakangnya. Barangkali ada wajah kawan-kawan masa kecil yang bisa diingat. Semua mirip, masih lugu, polos dan wajah asli urang lembur (desa) seperti akyuuu….

Semakin diperhatikan wajah-wajahnya, tetap saja belum bisa memastikan wajah-wajah siapa itu, ya sudahlah….

Selamat menikmati mudik dan berjumpa dengan kenangan masa kecil yang tak akan terulang kembali, Wassalam (AKW).

Mudik Lanjutan…

Berlanjut bergerak menjaga silaturahmi agar terus terajut.

CIMAHI, akwnulis.com. Disaat tuntas shalat Ied di kampung halaman tempat kelahiran, maka waktu terbatas dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk bersua dan bersilaturahmi dengan saudara, kawan dan handai taulan.

“Kok waktunya terbatas?”..

” Karena besok, sang istri harus bertugas sebagaimana tugas profesinya di bidang medis”

“Oohh….. gituu”

Maka sore harinya, kembali bergerak dan duduk dibalik kemudi. Meninggalkan kampung halaman menuju rumah tinggal selama ini.

***

Esok harinya, tugas menjaga anak semata wayang sebagai ‘bapak rumah tangga 1 hari’ mulai berlaku. Karena istri harus berdinas dulu… eh nggak satu hari, setengah hari saja.

Untungnya ada pembantu, sehingga tidak terlalu berat urusan dalam negeri eh… dalam rumah, yang perlu difahami bahwa urusan domestik perlu sekali-kali dirasakan dan dijalani… jaim jaan (jaga imah jaga anak)…..

Lalu….. preparing to go again.

“lha moo kemana lagi?….”

Bersiap meluncur ke Kuningan nanti sore setelah Istri tuntas ber-piket hari ini… cemunggutttt… Eaaa.

***

Pukul 14.00 wib, dengan packing super kilat maka kami bertiga sudah bergerak meninggalkan rumah (lagi) menuju Kuningan…. Kabupaten Kuningan, Jawa Barat (..musti jelas, ntar disangka ke Kuningan Jakarta, beda banget tuch)….

……….

“Kok ceritanya nggak tuntas?”… (selow mas bro, musti jadi pilot dulu nich… ntar udah agak santai… dilanjut nulisnya yaaw).

Selamat Lebaran 1440 H

Secuil kisah di Hari Fitrah, 1 syawal 1440.

Photo : Ceramah Iedul fitri di mesjid AlKahfi 050619 / dokpri.

GUNUNGHALU, akwnulis.com. Usai shalat Idul Fitri berlanjut musafahah (bersalam-salaman), bibir terus tersungging dan harapan bersua serta silaturahmi bersama saudara, handai taulan, kawan, tetangga dan sahabat sepermainan menjadi sebuah semangat yang memberi makna mendalam.

Shalat Sunat (muakad) Iedul fitri di Mesjid Alkahfi menerbangkan kenangan yang jauh di masa silam. 30 tahun lalu, dikala usia belia, mesjid ini adalah tempat bermain, bermain dan bermain sekaligus tempat menuntut ilmu agama, pondasi pemahaman agama yang menyelamatkan diri ini di kala dewasa.

Tempat balapan lari ataupun balapan naik sarung yang ditarik teman lainnya, mengitari mesjid yang licin dengan lantai porselen yang baru adalah agenda menyenangkan di mesjid ini. Meskipun harus berkorban di jewer DKM dan sarung jadi bolong-bolong karena gesekan dengan lantai…. itu menyenangkan… asli.

Photo : Musyafahah starts / privdoc.

Dahulu, di halaman mesjid terdapat penampungan air berbentuk bulat, di gunakan untuk berwudhu sekaligus kolam renang gratis bagi anak-anak bandel yang rutin masuk kolam yang disebut ‘kulah‘ untuk mencari kesegaran atau jika beruntung mendapatkan beberapa ‘kijing’, kerang air tawar yang cukup besar ukurannya sebesar telapak tangan orang dewasa dan bisa dimakan dengan memasaknya terlebih dahulu.

Di kolam ini pula, aku dan beberapa kawan di rendam dini hari di hari idul fitri karena insiden takbiran misterius di tengah malam, yang penasaran monggo di klik cerita lengkapnya di ….. PENTAKBIR MISTERIUS.

Ah…. banyak sekali kenangan masa kecil yang terlintas dikala sang Khatib Ied memberikan ceramah dalam bahasa sunda yang berirama. Mesjid ini yang sekarang begitu megah dan bernama Mesjid Al Kahfi, adalah bagian masa kecilku yang penuh keceriaan, tawa, suka dan duka…. mulai paham huruf hijaiyah, belajar kitab sapinah dan jurumiyah (meskipun akhirnya nggak tuntas karena lebih banyak main di sekitar mesjid)… tapi minimal halaman-halaman awal quran dan kitab kuning menjadi pembeda dalam memahami Nur Illahi, di kemudian hari.

Akhirnya sesi ceramah tuntas dan di momentum selanjutnya, saling bersalam-salaman, menebar senyum serta jabat erat dan rangkulan bahu dikala jumpa kawan sepermainan, sepengajian yang telah berubah menjadi sosok bapak-bapak (diriku juga hehehehe), ….. ah sang waktu ternyata tak pernah mau berhenti. Hanya kenangan yang mengajak berjumpa dengan suasana masa lalu meskipun hanya bermain di tataran imajinasi.

Hari ini, bersujud di rumah-MU ya Allah, di kampung tanah kelahiran, bersama keluarga kecilku termasuk my little princes yang begitu excited disaat berjumpa pertama kali dan menikmati suasana di‘Rumah Api’ (Bantu masak di kampung Eyang)….

Sebuah kisah memasak berselubung asap di dapur tradisional milik eyang kakungnya di rumah masa kecilku.

Allaaahu Akbar…. Allahu Akbar… Allahuakbar…. Laailahailallah huAllahu Akbar, Allaahu Akbar Walillahil hamd.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriyah.

Mohon dimaafkan segala khilaf, baik lahir maupun bathin. Wassalam (AKW).

Rumah Api*)

Cerita mudikku, bantu masak di kampung Eyang.

Photo : Aku lagi mriksa rumah api / dokpri.

GUNUNGHALU, akwnulis.com. Kali ini aku moo cerita ya guys… Cerita mudikku ke rumah eyang di kampung tempat kelahiran ayahku…

Perjalanan hampir 3 jam, tidak terlalu kurasakan karena lebih banyak terbuai dalam pangkuan ibunda dengan dengkur teratur yang berirama.

Tetapi pas terbangun, suasana siang sudah berganti dengan kegelapan, ternyata sudah melewati waktu magrib. Awalnya bingung lho, tapi karena ayah ibu ada bersamaku, ya sudah…. tenang sajaaaa….

Nyampe di rumah Eyang di kampung yang disebut daerah Gununghalu. Disambut pelukan hangat eyang istri dan eyang akung…. Alhamdulillah.

***

Perkenalan sama rumah api itu, pas jam 10 malem. Aku kehilangan ayah, ternyata ayah lagi mindahin lokasi parkir mobil ke tempat yg lebih strategis sesuai saran eyang.

Aku berjalan ke dapur dan ternyata eyang lagi pada masak…. woaaah langsung gabung donk, khan di rumah udah biasa masak segala macem (maksudnya main masak-masakan)…. “Eyang ikutan bantu yaaa”
“Iya cantik, silahkan”…. senangnya.

Lalu Eyang memberi peralatan memasak beneran, ada cocolek, garam, gula dan piring bumbu… lalu diberi meja kursi dan dipersilakan bekerja di rumah api.

Photo : I am Binar, still working at Fire house / privdoc

Iya guys, rumah api beneeraan… ada api yang membara dan membakar kayu, lalu diatasnya ada wajan besar berisi air santai dan potongan daging serta berbagai bumbu yang diurus sama eyang kakung. Eyang putri nyiapin bumbunya lalu membuat tumis sayuran, wortel mentimun… eh acar ya?…. Sambal goreng kentang, bihun, sambal dan goreng kerupuk…. waaah ramaiii….

Di rumah api, selain hangat juga asapnya yang bikin sensasi berbeda, seolah kabut menyelimuti malam dan bau khas asap ternyata bikin suasana mudik makin terasa. Aku mah terus aja bekerja membantu eyang, dan asap yang ada tidak bikin sesak atau perih di mata…. pokoknya jadi aneh tapi menarik… beneraan lho guys.

Ayah juga jadinya ikutan nemenin, ngobrol sama eyang istri dan eyang kakung, ibu juga… jadi di saat mendekati tengah malam, suasana rumah api makin ramai dengan celotehan dan berbagai sajian makanan untuk esok hari, hari lebaran.

Oh iya guys, aku juga kangen nenek, ibunya ibuku yang kali ini jauh, karena mudik ke Kuningan. Ingin menyusul, cuma nggak tahu gimana caranya, cuman bisa berdoa dan berharap semuga ayah ibu masih punya jatah libur dan bisa nyusul ke tempat nenek….. yach sementara rumah api menjadi penghiburku dulu…. Kemoon, masak lagiiii.

***

Catatan Binar, 030619.

***

*)Rumah api : Dapur di kampung, dimana proses memasaknya menggunakan kayu bakar, dalam bahasa sunda disebut ‘hawu’ dan aktifitas menghangatkan badan sambil cingogo/jongkok didepannya disebut ‘siduru’.

Hasil Mudik

Salah satu hasil mudik lebaran itu adalahhhhh…….

Beberapa garis hitam menari membentuk relief tidak teratur dan menghiasi telapak kehidupan. Garis tidak teratur itu seolah berusaha berbaris menyamakan persepsi dan memadukan janji dalam suasana yang belum pasti.

Awalnya begitu mulus seluruh permukaan cinta, terbungkus kaus yang berharga. Menjaga dari lembab sekaligus kering yang mendera. Sentuhan lotionpun menjadi agenda yang terencana sehingga hasilnya mendekati sempurna.

Melindungi dan mengayomi seluruh permukaannya seakan menjadi kewajiban utama. Merawat dan menjaganya adalah rutinitas dalam balutan prioritas.

Tapi itu dulu…

Yap… waktu sebelum mudik, dikala masih rutin menyibukkan diri dengan pekerjaan yang selalu muncul tiada henti. Maka merawat diri dan menjaga hati menjadi ciri kehidupan dari hari ke hari.

Photo : Tempat favorit sewaktu mudik/dokpri.

Sewaktu mudik… rutinitas merawat diri khususnya bagian bawah terabaikan. Karena bertemu saudara dan kawan sepermainan memang melenakan. Sandal dan sepatu sering terlupakan, apalagi sekedar ulasan pelembab kulit. Berlari kesana kemari tak hiraukan alas kaki. Bermandi lumpur atau tanah kebun, menjejak aspal juga batuan pengerasan jalan.

Hasilnya terjadi benih-benih dan gejala perpecahan suku, menyerang permukaan mulus alas kakiku. Ditambah dengan komplikasi gatal-gatal, kutil, mata ikan, hileudeun dan keongeun.

Dan…. setelah kembali ke rutinitas, sisa mudik masih terpampang nyata. Disini masalah perpecahan ini disebut dengan istilah rahasia yaitu : Ro2Mbéheun.

Wassalam, ( AKW )