Berubah….

Jangan takut hadapi perubahan, jalani dan…

Photo : Ilustrasi Patung Dewa Gajah yg sedang bertapa / dokpri

Disaat banyak pihak berlomba menunjukan kemampuan dan keahlian, disitu terlihat juga yang masih terdiam dan gagap dengan perubahan. Padahal selama hidup perubahan itu adalah keniscayaan, atau boleh disebut perubahan itu adalah kehidupan itu sendiri.

Tetapi ada juga yang terlihat tenang meskipun hati kecilnya bergejolak ingin menapaki perubahan dengan segala tantangannya. Hanya secara perhitungan memang perlu strategi yang tepat agar tidak menjadi korban kekonyolan ditengah perputaran turbulensi kepentingan.

Apa yang harus dilakukan?..

Pertama adalah kenali diri

“Maksut lo, salaman tangan kanan ama tangan kiri trus senyum sendiri?”

“Ahay jangan sewot dulu kawan, baca dulu tulisan selanjutnya” senyum manisku memberi ruang berfikir sesaat dan mengurangi tensi emosional sang penanya yang begitu agresif dengan segala kekuranglebihannya.

Kenali diri tentu bicara komprehensif, disini yang paling sederhana adalah mengukur potensi diri serta ketahanan mental selama ini dalam hadapi aneka persoalan yang terjadi baik urusan gawean juga kehidupan pribadi. Itu dua sisi yang harus memiliki keseimbangan dan kesetimbangan. Bukan berarti harus 50 : 50 tetapi ada sisi flexibilitas disini, monggo terserah masing-masing ngitung persennya.

Kedua, pelajari seksama pokok penentu perubahan itu.

Apakah karena pimpinan baru dengan kebijakannya yang mengharuskan perubahan dan percepatan yang menuntut responsifitas tinggi, atau karena mertua baru (ini khusus yang baru nikah atau nikah lagi), perlu penyesuaian mental dan hati sehingga kondusifitas dunia perkawinan terjaga sempurna. Atau bisa juga karena perpindahan tempat tugas karena sebuah seremonial mutasi, ini juga berdampak serius jika tidak disikapi arif bijaksana.

Nggak percaya?, monggo coba aja”

Ketiga adalah jual diri. Jangan dulu berfikiran negatif dengan istilah jual diri, ini memiliki makna menunjukan potensi diri sesuai dengan pangsa pasar yang memang memerlukan kemampuan ‘khusus‘ kita. Klo kemampuan kita diukur rata-rata air dan sulit meningkat, ya tinggal ditambah dengan kemampuan soft skillnya sehingga memberi kenyamanan dan kedamaian bagi pihak yang menjadi pokok terjadinya perubahan.

Keempat, lakukan dan segera berubah.

Yang pasti mari senantiasa berubah, lha wong Ksatria Baja Hitam aja selalu ‘BERUBAH‘. “Masa kita enggak?”

***

Salam perubahan, sambil tak lupa menikmati seduhan manual kopi lanang EL’s hasil racikan Kang Fajar sang Barista Stocklot. Wassalam (AKW).

Kopi Simpanan Mertua

Menikmati Kopi Simpanan Mertua, cekidot.

Photo : Secangkir Kopi Jantan Simpanan Mertua / dokpri

Mencari tempat untuk menikmati sajian kopi dengan manual brew di Kota Medan membawa raga ini beredar via grab menuju satu tempat di Kota Medan yaitu Jalan Setia Budi… itulah tempat ngopi sejati…. kata mbah Gugel.

Namanya Repvblik Kopi, menarik sungguh… eh sungguh menarik. Makun semangat tuh menuju kesana.

Pas nyampe.. suasana bangunan lama yang elegan dengan ramah menyambut kami. Kombinasi warna putih dan hijau menyiratkan kejayaan masa lampau berpadu dengan sajian yang nanti akan dinikmati.

Photo : Repvblik kopi di sore hari / dokpri

Tetapi ternyata kedatangan kami kurang pas waktunya, 30 menit lagi akan tutup, karena buka dari pagi hingga jam 18.00 wib saja.

Jadi……

Yang ready hanya Kopi tubruk aja dan yang pake mesin… espresso saja… eeuhh…

Agak terdiam sesaat….. mikir dulu.

Tring..!!!

“Pesen mbak kopi tubruk spesial disini dan cemilan yang ada aja”

“Oke pa, kopinya ada Kopi Simpanan Mertua… Kopi Jantan sebentar dibuat”

“Wah apa itu?”

Mbaknya hanya tersenyum, “Saya buatin dulu pesanannya ya pak, waktunya terbatas, ntar saya jelasin”

Kami mengangguk meng-iya-kan.

***

Setelah tersaji dihadapan kami, ternyata Kopi Jantan dari Kopi Simpanan Mertua rasanya beda, acidity yang khas dan body medium yang dihasilkan dari biji kopi arabika mandailing yang sudah disimpan dulu selama 3 tahun sebelum proses roasting memberi pengalaman berbeda. Meskipun penyajiannya dengan tubruk saja, ada aroma dan rasa yang spesial… kebayang klo di manual brew dengan V60 atau kalita….. wuiiih yakinnn tuh originalitas rasa yang muncul akan mencengangkan….

Tapi gepepe…. ini juga rejeki… yuk kita nikmati.

Untuk espresso lebih terasa dari harumnya aroma kopi, untuk rasa hampir mirip kopi lainnya karena proses mekanik mesin membuat rasa original biji kopinya tersamarkan dan cenderung rasa pahitnya yang menyapa lidah.

Sayang sekali waktu ternyata tak bisa kompromi, setelah teguk terakhir lalu kami pamit meninggalkan kafe kopi yang elegan ini. Eh nggak lupa bayar bill-nya dulu. Wassalam (AKW).