Keinginan vs Berat Badan.

Keinginan harus memperhatikan banyak hal.

Photo : Masih 58-62 kg – 2005 / dokpri.

CHAPTER I

PURWAKARTA, akwnulis.com. Sejak beberapa tahun lalu, ada rasa yang tidak biasa, muncul suatu keinginan yang berbeda dikala melihat berita ataupun sekedar cerita tentang sesuatu yang menantang diri untuk dicoba.

Meskipun terus terang terasa sangat riskan dengan kondisi sekarang, maksudnya kondisi phisik yang sangat berbeda dengan masa lalu yang bugar, segar dan ringan.

“Kok ringan sih gan?…”

Sebuah pertanyaan pendek yang ternyata malah menjadi terawang panjang akan cerita masa silam. Dimana masa-masa ideal…. ahay. Maksudnya berat badan masih dibawah 60 kilogram, tepatnya 58 kilogram dengan penampilan unyu-unyu dan badan tegap baru lulus pendidikan…..

Tapi… hanya berselang 3 tahun, peningkatan berat badan begitu cepat bergerak bagaikan deret ukur bukan deret hitung, hingga menyentuh angka 100 kilogram, fantastis…… hampir meningkat 2x lipat.

“Kenapa itu bisa terjadi?”

Jikalau diingat lagi, ini adalah kombinasi dari berbagai faktor yamg saling melengkapi. Pertama, disiplin olahraga yang musnah ditelan rutinitas baru menjadi pns muda. Lari pagi rutin sudah ditinggalkan, push-up 100x perhari sudah terlupakan serta olahraga rutin lainnya.

Kedua, makan tidak teratur. Maksudnya bukan jarang makan, tetapi jarang makan tepat waktu…. jadi makannya kapan saja dan lebih sering sehingga bukan sehari 3x… bisa sehari 7x hingga 8x… ajib khan?

Ketiga, yang dimakannya adalah makanan enak berlemak dan santan bikin nikmat. Sesekali sih sayuran dan buah, tetapi mayoritas adalah makanan resto padang, kikil/tunjang, gule kepala kambing, lidah, sop kaki, sop buntut, sate lemak dan beragamnya, rendang, seafood, serta bakso rudal, bakso keju, mie ayam, cuankie indomie, aneka kerupuk dan keripik, plus kue-kue serta snack yang selalu tersaji hampir setiap saat (waktu itu).

Keempat, aktifitas begadang yang cukup sering seiring tugas jadi ring 1 orang nomor 1 di Sumedang waktu itu ditambah status bujangan yang masih mencari pencerahan jiwa, sehingga waktu 24 jam serasa kurang untuk menjalani kehidupan.

Kelima, ketersediaan makanan dan kudapan serta minuman yang always ready di rumah dinas ataupun ditempat acara, tinggal ambil nikmati dan bahagia.

Photo : Posisi 99 Kg / dokpri.

Keenam, tentu tekanan tugas yang bejibun dan tak kenal waktu termasuk tiada kalender libur sabtu minggu, maka kompensasinya adalah jika tertekan maka makan, sedih langsung makan, senang juga makan, akhirnya setiap bulan musti ukur ulang baju yang dipakai karena lingkaran pinggang terus membesar.

“Oh my God”

Singkat cerita, 3 tahun ‘penggemukan‘ telah berlalu dan seiring perubahan rezim yang berkuasa maka kesempatan berpindah tugaspun terbuka…. Nyatanya, mengembalikan berat badan ke berat ideal semula terasa sia-sia karena di tugas lapangan justru semakin besar kesempatan kita bertatap mata dengan masyarakat yang begitu bersukacita di kala kita bisa menyantap dengan lahap hidangan yang disajikan oleh mereka.

“Oalaaah… terus sekarang udah kelihatan lebih ramping gan”

“Ramping pale lo, ini masih di angka kepala sembilannnnnn sembilaan”

“Lemu nian gan, heu heu heu”

***

Perbincangan sengitpun berhenti seiring dengan rencana dan keinginan yang terpendam ini, sebuah pertanyaan menggelayut, “Dengan berat badan sekarang, kira-kira mampu nggak yaaa?”

“Mampu apa siih?”

Penasaran yaaaa?…. sebagai jawabannya monggo klik DISINI SAJA : CHAPTER II. Wassalam (AKW).

***

Kopi Bale Bengong.

Nongkrong di Bale Bengong…

JAKARTA, akwnulis.com. Adrenalin terasa terpacu manakala kita sedang mengejar sesuatu, atau bisa juga pas dikejar sesuatu… hiiiy.

Tapi ini sih posisinya mengejar coy, mengejar waktu katanyah… meskipun sudah tahu waktu itu tidak berubah, tetep aja 24 jam dalam satu hari. Waktu juga memiliki sifat ajeg yang kadang dinilai kejam karena zero kompromi, kalau sudah lewat ya sudah lewati saja. Kalaupun sudah mantan… maksudnya mantan waktu, ya sudah lupakan, itu semua sudah terlewati… bener nggak?…

Yang nggak setuju pasti sang memori, karena akan berusaha keras menyimpan dan menimbun kenangan, mengumpulkan peristiwa lampau serta berusaha sekuat tenaga menjaga semua kenangan agar tetap abadi sepanjang masa.

…. ntar dilanjut, dipanggil ibu negara dulu…

***

Kopi BGG

Secangkir kopi hitam dan kenangan masa silam.

Photo : Kopi BGG berlatar Gn Geulis / dokpri.

JATINANGOR, akwnulis.com. Semilir angin harapan yang berhembus dari gunung manglayang menerbangkan angan ke masa silam.

Dikala rabu siang dan sabtu atau juga hari minggu harus pakepuk berkoordinasi demi terwujud 1 flight yang terdiri dari 3 orang mitra plus 1 bapak bos…. dan segera turun ke lapangan untuk bermain golf.

Di hari sabtu atau minggu, jam 06.00 wib sudah nyampe disini karena harus segera mengantar bos bergabung dengan pemain lain, jangan tanya jam berapa dari rumah dinas yang berada di kawasan bandung utara… so pasti nyubuh.

Pada saat bapak bos sudah turun ke lapangan golf, maka saatnya ‘me time’, meskipun tidak bisa pergi dari area Bandung Giri Gahana Golf & resort tetapi disini banyak pilihan kegiatan untuk membunuh bosan mengisi waktu dengan berbagai kelakuan.

Photo : Secangkir kopi BGG & Ikan Koi / dokpri.

Terkadang berenang, fitnes, ikutan sauna ataupun latihan mukul bola golf (practise) di dekat kantin bawah. Yang paling sering berselancar di menu restoran, mengunjungi eh menyicipi beraneka menu makanan yang tersedia… free.. karena nanti dibayarin bapak bos, “Baik bingit khaan?”

Nah jam makan siang standby jikalau bapak bos main 9 hole. Tetapi klo 18 hole maka dilanjut sampai sore…. nunggu lagi sambil jalan-jalan atau main tenis di belakang daan…. makan lagiiii. Efeknya samping depan belakang lho… maksudnya lemak di badan… sehingga dalam 3 tahun bertugas… naik berat badan suangat signifikan.. dari lulus kuliah 59 kg jadi 101 kg…… wuiiih penggemukan berhasil.

Maksudnya nggak hanya makan disini, tapi juga di tempat dan kegiatan lain…. dulu… 18 tahun lalu… oh my god… wiss tuwirr…. tobaaat.

Photo : Photo bersama-sama / Pic by IS.

Inilah tempatnya, Bandung Giri Gahana Golf & Resort dimana sekarang bisa hadir lagi disini menjejakkan kaki dan menyandarkan perasaan dalam acara silaturahmi dinas yang penuh kekeluargaan.

Kopi hitam jatah rapat hotel di cangkir putih menjadi teman pagi ini, tanpa gula diantara kita. Kopi tersaji berlatar belakang gunung geulis membuat suasana kembali memgingat ke masa-masa melankolis. Sebuah momen awal bekerja yang optimis dan belajar memahami apa yang disebut ‘realistis‘.

Sruputtt dulu bray….

Selamat memungut kenangan sambil menyeruput kopi pembagian. Wassalam (AKW).