Yogya, Kopi & Mati

yogya dan kopi, bersabarlah.

SOSROWIJAN, akwnulis.com. Perjalanan kali ini adalah kembali ke kota kenangan, Yogyakarta. Tentu berbalut penugasan kedinasan, tetapi di sela padatnya jadwal harus bisa mlipir sedikit untuk menikmati si kopi hitam. Maka skenario dirancang meskipun eksekusinya menyesuaikan, ada plan A, plan B dan no plan alias spontan lihat situasi.

Ternyata yang kepake adalah No plan euy, karena keberangkatannya begitu mendadak acaranya cukup padat. Jadi harus pinter – pinter baca, yakni baca situasi.

Perintah datang di rapim dan tak banyak waktu berkemas. Langsung pesan tiket kereta untuk keberangkatan di malam hari. Tentu stasiun Bandung menjadi saksi, berangkat sendiri karena yang lain agak kesulitan kalau didadak untuk berangkat. Ya sudah, Bismillah.

Dengan perkembangan teknologi maka pemesanan tiket kereta dan hotel bisa dilakukan segera. Apalagi setelah vaksin 3 kali, sudah tidak lagi harus rapid tes antigen.

Nah kesempatan pertama menikmati kopi adalah cafelatte di stasiun bandung, akan tetapi harapan tinggal harapan. Waktu yang tersedia begitu terbatas sehingga pilihannya adalah bersegera memasuki stasiun dan mencari gerbong KA Mutiara Selatan yang akan menjadi tempat bermalam sambil bergerak menuju stasiun tugu yogya.

Kesempatan kedua adalah menikmati kohitala di restoKA atau menunggu petugas restoKA yang bergerak mendatangi penumpang secara berkala. Baiklah ditunggu di kursi saja sambil sedikit rebahan meluruskan badan dan pikiran karena akan menghadapi perjalanan dengan estimasi selama 8 jam.

Tapi lagi – lagi harus bersabar karena menu kopi hitam sudah keburu habis di gerbong lainnya. Hehehe gagal ngopay kedua kali. Maka pilihan terbaik adalah mencoba kontak istri dan anak dan ngobrol ngaler ngidul di telepon. Sudahlah malam ini dipastikan untuk beristirahat dulu.

***

Tepat jam menunjukan pukul 03.30 wib waktu yogyakarta. Raga ini harus turun dari gerbong dan bergegas keluar. Karena kalau tidak segera turun, akan terbawa pergerakan kereta selanjutnya, menuju pemberhentian akhir di stasiun gubeng Surabaya.

Maka setelah keluar area stasiun tugu bergegas menyebrang jalan dan memasuki jalan gang menuju jalan sosrowijan. Pede saja seperti yang sudah biasa di yogya, padahal bermodal petunjuk googlemap di smartphone. Tujuannya jelas sebuah hotel kapsul yang bernama The Capsule Hotel Malioboro.

Kok milih hotel kapsul sih?”

Ada beberapa pertanyaan senada dan jawabannya simpel saja. Itulah gayaku, menikmati menjadi backpackeran beberapa jam adalah kebahagiaan tersendiri. Sekaligus mengingatkan diri pada ujung kehidupan bahwa segala keindahan, kemudahan hidup ini akan berakhir pada kotak tanah nan sempit, gelap dan lembab dikala nyawa sudah tidak dikandung badan. Nah kotak hotel capsule ini bisa mengingatkan lagi itu semua.

Terkait sruput kopi masih harus menanti kesempatan dengan sabar. Sekarang saatnya meluruskan badan dan terlelap sejenak. Wassalam ( AKW).

Dilema Hati.

Itulah kehidupan, pasti ada kesedihan.

BANDUNG, akwnulis.com. Pagi yang sebenarnya ceria tiba-tiba berubah drastis menjadi duka. Betapa semangat awal yang menggelora harus terhapus sirna tanpa kata karena pemandangan yang tersaji di depan mata.

Dia tergolek lemah tanpa bisa menggapai rasa, disampingnya sebuah harapanpun terdiam ditemani kesunyian. Sungguh dilema mendera hati tetapi konsekuensi kerasnya kehidupan memang tidak pandang bulu. Besar kecil menjadi relatif manakala hukum rimba menjadi kuasa, tapi itulah kenyataan yang ada.

Dilema mendera rasa, hati tersiksa tapi itu nyata. Bukan tidak ingin kejadian pagi hari ini mewujud dihadapan mata, tetapi sebuah dampak yang hadir karena kenakalannya beresiko terhadap banyak hal. Mau tidak mau pertimbangan diberikan sanksi setelah sekian purnama melakukan pelanggaran adalah keniscayaan.

Akhirnya dapat ditemukan sosok yang selama ini bergerak lincah di gelap sepi menikmati makanan atau bahan makanan yang seolah sengaja tersaji, padahal disimpan untuk dinikmati di kemudian hari. Terjerat lemah di tengah alat perangkap ditemani sepotong indomie mentah yang ternyata bukan hanya disukai oleh manusia.

Maafkan semua ini harus terjadi, tapi itulah kehidupan tidak ada yang abadi. Hiks hiks hiks, Semoga ini adalah kejadian yang terakhir. Karena betapa sulit membangun semangat jikalau kita terpuruk dalam kesedihan. Menjumputi serpihan harapan dan merajutnya menggunakan perekat kepercayaan. Hatur nuhun, Wassalam (AKW).

Pagi & Sendu di Pangandaran.

Menjejak pagi yang menyisakan kenangan sendiri.

Photo : Kopi & pilu / dokpri.

PANGANDARAN, akwnulis.com. Pagi ini mentari masih sembunyi dibalik awan kelabu, hempasan angin pantai menitipkan sebuah rasa pilu, disitulah aku menemukan dirimu, tergeletak pasrah tanpa daya ditemani harapan semu.

Ingin bertanya padamu, tetapi yang hadir hanya ragamu. Asumsi menyelimuti kalbu, mungkinkan kamu adalah salah satu yang tertinggal dari kawananmu?… atau meloncat terlalu jauh dikala ombak menghempas pantai?… atau mungkin ragamu sudah berpisah dengan ruhnya di laut sana dan terbawa gelombang kesini tanpa bisa mengadu?… entahlah,
……..aku tidak berharap jawaban karena ragamu sudah damai terdiam.

Secangkir kopi yang dibawa untuk dinikmati, sekejap berubah tawar dengan rasa yang dilingkupi kesedihan.

Sebuah penghormatan atas kejadian yang menimpamu, aku sandingkan segelas kopi ini dengan ragamu yang terdiam tanpa kata-kata perpisahan. Menemani meskipun hanya sesaat ini.

Photo : Suasana sendu di Pantai Timur Pangandaran / dokpri.

Selamat jalan, semoga damai menyertaimu.

Perlahan pergi meninggalkanmu yang sudah berdamai dengan kenyataan, selamat menjalani pagi yang pilu di pantai timur pangandaran. Semoga seiring mentari beranjak meninggi, cuaca akan menjadi cerah dan harapan kehidupan kembali merekah.

Selamat beristirahat kawan kecilku, meskipun baru bersua dengan ragamu di pagi sendu, tetapi yakin bahagia dan damai sudah menantimu. Selamat tinggal ikan kecilku. Wassalam (AKW).