Masker & Kopi Sultan.

Matching-in masker dan Sruput Kopi Sultan…

Photo : Masker dan baju versi biru / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Perjalanan panjang di masa pandemi tidak menutup diri untuk menikmati sajian dan sensasi beraneka macam kopi. Meskipun rasa takut masih menggelayuti, tetapi bergerak tipis-tipis mencari sensasi kopi bisa meningkatkan imun karena menjaga bahagia.

Meskipun begitu protokol kesehatan yang paling utama. Makser… eh masker wajib digunakan, malah double jikalau harus (terpaksa) rapat dengan jumlah peserta lebih dari 7 orang (sesuai surat edaran pak bos)… masker sekali pakai dan masker modis.. itu tuh masker kain yang warnanya senada dengan seragam yang dipakai di hari tersebut.

Ih centil kamu khan bapak-bapak, ngapain maen matching matchingan… klo perempuan atau ibu-ibu wajar” Celoteh seorang pegawai perempuan melihat kecocokan antara masker dengan seragam.

Tak usah dijawab kawan, senyumin aja. Tak akan menang jikalau berdebat dengan kaum emak-emak. Biarkan celotehnya menjadi penghias rasa di hari yang penuh dinamika.

Photo : Masker dan batik, matching khan? / dokpri.

Lagian klo matching antara masker dan seragam nambah pede lho. Trus lebih aman kalau di double dan lebih modis pas di photo… asyik jadi rajin photo lho.. alasannya adalah untuk pelaporan kinerja harian sekaligus menyalurkan bakat narsis yang terpendam sekian ratus purnama plus waapada agar terhindar dari paparan virus corona sang virus seribu rupa.

Hand sanitizer dan spray anti kuman-bakteri-virus menjadi kawan setia yang waspada disamping tas punggung yang selalu menemani kemanapun pergi. Itulah salah satu sikap adaptasi kebiasaan bauuu…. eh baruuu.

Kali inipun bukan menyengaja datang demi kopi, tetapi undangan meetingnya ternyata ditempat yang bisa menyajikan kopi. Kebetulan banget khan?.. Alhamdulillah.

Setelah diskusi singkat dalam prosesi pemesanan, maka diskusi berlanjut dengan penuh keakraban meskipun tetap jaga jarak dan jaga perasaan, apalagi jaga hari hehehehe.

Nah, lagi rame diskusi. Tiba-tiba pelayan datang dengan membawa teko berlapis emas (ahaay lebay, tekonya kayak dilapis emas) dan tinggi menjulang dengan 4 gelas kaca mini plus satu mangkuk kurma. Ini dia sajian yang tadi dipesan, Qahwa Qurma Qoffee… Q semua, Maksudnya Qahwa Kurma Coffee.

Photo : Kopi Sultan nich / dokpri.

Kopi sultan nich, andaikan memang teko tingginya dari emas beneran. Pasti mahal harga sajiannya.

Tanpa mau menyiakan waktu percuma di sela diskusi, tangan langsung bergerak meraih gagang teko keemasan dan menuangkan cairan kopi yang ternyata tidak berwarna hitam kawan tetapi seperti air keruh putih kecoklatmudaan. Nggak usah khawatir, cobain aja dulu bray….

Srupuuut…..’

Emmm….

Rasanya mirip jamuuu, kopinya hampir nggak kerasa, tapi hangatnya sih bisa nyaingin KOJAMTAGUL. Lebih mirip sebagai minuman herbal dibanding minuman kopi inih mah…. tapi karena ini adalah pengalaman, maka tuangkan lagi… tuangkan lagi… sruput dan sruput hingga akhirnya jatah ber-empat orang bisa habis sendirian…. dasar rwO6.

Untuk rasa manisnya ternyata sambil makan buah kurma yang tersaji juga di mangkuk kaca. Jadi sruput carian qahwa kurma Coffeenya sambil kunyah buah kurmanya, gitcu.

Jangan lupa buka dulu maskernya dan simpan dengan hati-hati. Simpan di amplop atau di plastik dan dilipat maskernya baru di sakuan... disimpen dalam saku, ntar kelar minum kopinya yaa… pake lagi maskernyaaaa.

Rasa hangat rempahnya setelah disruput berkali-kali, maka kemungkinan hasil identifikasi lidah pribadi adalah daun sirih dan atau kapulaga…. ditanya ke pelayan tentang bahan dasarnya.. hanya gelengan kepala yang didapatkannya.. ya sudah gapapa.

Akhirnya karena yang lainnya tidak mau mencoba… ya sudah daku habiskan saja… srupuuuut. Kopi ala timur tengah ini masuk ke raga dan memberikan sensasi berharga serta pengalaman yang tiada tara. Selamat mencoba meskipun rasa yang hadir diluar ekspektasi kira.

Makasih Pak T dan om P atas undangan meetingnya….

Ambil hikmah keanehan rasa dan pengalaman ngopi dengan teko emas yang khas hehehehehe. Wassalam (AKW).

Waspada yuk.

Harus itu, penting sekali.

Photo : Handsanitizer dan bunga / IG akwnulis

BANDUNG, akwnulis.com. Media sosial semakin booming pasca pandemi covid-19 melanda negeri. Kaum rebahan yang sebelumnya dicap golongan pemalas unfaedah menjadi bertambah banyak meningkat signifikan karena diperintahkan negara dengan slogan singkat #stayathome juga #workfromhome.

Kenapa booming?.. karena medsos menjadi tempat berinteraksi baru, bersilaturahmi sekaligus menginformasikan aktifitas diri kepada khalayak banyak

Tiga bulan telah berlalu, ternyata mencoba menjadi kaum rebahan itu tidak mudah, rasa bosan melanda, tertekan karena ingin melihat dunia luar, sementara belum ada kepastian bahwa vaksin buat sang virus hadir segera di hadapan kita.

Nah, sekarang muncul istilah new normal juga adaptasi kebiasaan baru (AKB) yang mulai melonggarkan pergerakan dengan pola terbatas dan protokol kesehatan yang ketat, tentu disambut antusias oleh masyarakat dan semua pihak untuk kembali beraktifitas.

Tapii…. protokol kesehatan menjadi mutlak diperlukan.

Kenyataannya ternyata belum semua paham, baik kaum rebahan dan non kaum rebahan. Mayoritas adalah anggapan sepele dan kembali beraktifitas biasa… sehingga kasus-kasus baru bermunculan dari momentum kerumunan salah satunya yang pasti tak bisa dihindarkan adalah pasar.

Maafkan jika pilihannya dengan istilah kaum rebahan dan rebahan, karena mungkin juga ada yang variatif antara seneng rebahan tapi sibuk beredar, jangan risau kawan, ini hanya istilah saja.

Jadi jikalau harus berinteraksi dengan kerumunan, pastikan kita siap dengan peralatan perang. Minimal menggunakan masker, bersarung tangan dan menjaga jarak dengan orang lain, gunakan handsanitizer dan mencuci tangan…. minimmmmal itu teh. Klo bicara maksimal… usahakan jangan berinteraksi dengan kerumunan….. tapi khan kita banyak kebutuhan yang perlu interaksi.

Ibu-ibu mayoritas berkomentar terkait belanja di pasar adalah, “Tapi da aku mah nggak bisa onlen, paling ke warung tetangga atau nyegat mang sayur yang lewat”

Photo : Ruang rapat jaga jarak / dokpri.

Maka kembali ke rumus tadi, gunakan masker dan sarung tangan serta jaga jarak. Senantiasa mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun setiap selesai berinterkasi dengan orang lain.

Begitupun jikalau harus meeting secara phisik, pastikan bahwa protokol kesehatan sudah diterapkan. Penyediaan handsanitizer bukan lagi hiasan, tetapi suatu kewajiban yang harus kita gunakan. Kursi meja berjarak minimal 1 meter harus didesain sedemikian rupa dan penggunaan masker sudah pasti, itu mutlak bin harus kawan.

Jangan sampai ketidakwaspadaan kita menjadi celah bagi sang virus covid-19 ini merajalela. Selamat beraktifitas kawan, Wassalam (AKW).

Catatan : akwnulis juga ada di IG, kepoin aja IG : akwnulis.

MASKER – fbs

Pakailah masker dengan bijak.

Photo : Sketsa hanya ilustrasi / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Poè ka opat bulan romadon, geuningan kudu ngilu gempungan di kantor. Padahal geus puguh aya panyarèk ti pamarèntah pikeun ngajedog berjamaah di imah.

Tapi geuning, keur pagawè nagri mah aya pasal, ‘lamun di butuhkeun, bisa dipanggil sawaktu-waktu‘. Jadi dina jam gawè, sanajan di imah bari meuweuh ku tugas jeung gempungan onlèn makè aplikasi ‘zum’, ogè kudu rancingeus mun di panggil atawa di titah ngadadak ku dunungan.

Gura giru muru ka kantor, pas tepi langsung asup lift muru ka lantey 12, tempat gempungan.

Rohangan rapat geus di sèt, korsi paanggang 2 mèteran, jandèla dibarukaan, kaambeu bau taeun, èh disinfèktan.

Gempungan mimitina mah lancar, ngan nincak menit ka 20, Haji Uton ngalenggerek bari kawas nu eungap. “Astagfiruloooooh..” kabèh paburisat lalumpatan, lain nulungan.

Langsung kontak ka petugas kesèhatan, teu kudu lila, datang nu marakè APD, nulungan nu kapiuhan, biur ka IGD rumah sakit.

Gempungan bubar, kabèh hariwang, sieun kumaonam.

Sajam ti harita, aya bèja. Haji Uton lain kasarad korona, tapi kapiuhan ku panyakit sèjèn nyaeta virus basusa (bau sungut puasa) kakekeb masker, cag. (AKW).

***

Catatan :

fbs : Fiksimini basa sunda, tulisan fiksi singkat dalam bahasa sunda, maksimal 150 kata.

Masker & masker.

Yuk nganggo Masker yuk….

Photo : Masker motif smile / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Mahabuna carita pageblug korona geus ngageunjleungkeun sa alam dunya. Geus lain ukur carita nagara tatangga, tapi ayeuna pandemi geus aya hareupeun soca kalawan nyata.

Tuluy kudu kumaha?

Geus teu kudu loba carita, ayeuna diwajibkeun makè masker teh. Masker kaèn keur sakabèh rahayat, bisa diseuseuh tuluy dipakè deui… èh dipoè heula, dilèot (diistrika). Masker anu sakali makè tuluy dipiceun mah keur tanaga mèdis nu ayeuna jadi pahlawan pejoang panghareupna dina enggoning mariksa, ngarawat jeung ngubaran dulur – dulur urang nu didiagnosis positif keuna ku pageblug si covid-19 nu goib tèa. Teu kaciri nyiliwuri tapi nyata loba korbanna.

Photo : Biar eungap agar tidak engap-engapan / dokpri.

Kukituna, ayeuna mah mun kapaksa kaluar ti imah makè masker. Mun perlu di double supaya leuwih pèdè. Prinsipna ‘mending eungap tibatan engap-engapan‘. Mawa semprotan hand sanitizer jeung sabun, bisi manggih cai ngocor, pancuran jeung sajabana, ulah loba kalèkèd langsung kokocok.. kadè lain ngocok, bèda deui hartina èta mah.

***

MASKER

Mari gunakan masker jikalau ‘terpaksa‘ keluar rumah. Wajib hukumnya karena demi keselamatan diri dan juga keselamatan kita semua untuk mencegah tertular viros covid-19 yang terus memakan korban seiring perjalanan waktu dari hari ke hari.

Photo : Maaf ini salah, pake masker anak, nggak cukup / dokpri.

Sebetulnya tidak ingin menuliskan tentang pandemi ini, tapi apa mau dikata, memang ini menjadi tantangan bagi saya, kami, kamu, kita semua dan seluruh manusia di seantero dunia.

Maka lebih baik gunakan masker dengan hati dan pikiran yang tetap gembira. Karena dengan kegembiraan bisa menjaga mental kita tetap kuat dan waspada serta bisa menjalani ketidakjelasan ini dengan tenang dan bijaksana.

Gunakan masker kain yang memenuhi standar, jika dimungkinkan. Jika tidak, maka minimal yang bisa menutup hidung dan mulut. Malah disarankan yang bermotif lucu seperti motif sedang tertawa atau ngupil… lumayan khan jadi hiburan.

***

Kukituna ulah bingung ningal photo simkuring atanapi dina rupi sketsa nu nuju nganggo masker. Teu aya maksad agul, nanging seja ngadugikeun wirèhna nganggo masker gè moal ngirangan wibawa. Malih mah tiasa nyumputkeun kumis tur janggot nu badami nyarambung janten nyaingan kumis – janggot Toni Stark – Iron man Ketua Paguyuban KumjebungTobar (kumis janggot nyambung teu makè ubar) Internasional.

Photo : Anggota KumjebungTobar / dokpri.

Ogè kanggè nu nuju dièt, masker tèh tiasa ngabantos. Carana gampil, upami waktosna barang tuang, si masker ulah dilaan. Anggo wè teras, insyaalloh moal seueur tuangeun nu lebet kana patuangan.

Teu percanten?… mangga cobian

Hayu ngaranggo masker palawargi!, Wassalam (AKW).

Flores Red Honey vs Covid19

Antara Waspada, kerja dan Arabica Flores yang menggoda selera.

Photo : Masker & petugas / dokpri – sketsa.

BANDUNG, akwnulis.com. Pas kebagian jadwal piket di kantor.. eh masuk kantor, maka berbagai perlengkapan juga disiagakan. Masker kain dipakai, hand sanitizer di botol kecil udah masuk saku celana kanan, sabun cair di celana sebelah kiri. Tak lupa semprotan kecil berisi disinfektan untuk menyemprot gagang pintu dan permukaan toilet disaat kebelit eh kebelet pipis atau eek. Plastik sarung tangan buat bikin kue juga ready di tas, dan jas hujan jikalau memang hari hujan.

Bukan parno bin panik tapi waspada, sebuah prinsip yang harus dipegang dalam memerangi wabah ‘gaib’…. halah kok segitunya pake sebutan gaib segala. Memang bener kok, tapi ini hanya istilah, karena virus corona tidak terlihat tetapi efeknya dahsyat dan kita tidak tahu virusnya ada dimana dan sedang apa sama siapa?….

Maka antisipasi pencegahan pribadi menjadi penting dan utama. Begitupun dengan pembatasan jarak yang jelas atau bahasa kerennya phisical distancing… pembatasan jarak phisik harus menjadi prinsip, tak peduli sedekat apapun…. buatlah jarak.

Photo : Arabica Flores Red Honey siap minum / dokpri.

Lha pusing dengan istilah, kemarin – kemarin nyebutnya social distancing, belum paham bener… eh udah diubah lagi. Kayaknya yang dulu anak sosial yang bikin dan sekarang anak fisika yang nimpalin, trus anak biologi istilahnya belum muncul?” Sebuah celotehan yang mengundang senyum, lumayan ngurangin stres dalam suasana menegangkan ini sambil memori menerawang masa-masa menyenangkan di kala menjadi siswa SMA.

Tiba di kantor tentu bekerja, disemprot dulu, hand sanitizer, cuci tangan dan tetap masker menutup sebagian muka. Tuntaskan konsep dan perbaiki segera, buat surat serta koordinasi dengan berbagai pihak plus video conference dengan mitra – mitra yang tersebar diseantero jabar dan banten raya.

Tetapi jangan lupa, dikala jam istirahat tiba, maka hiburan hakiki diri ini adalah menyeduh kopi dengan sebuah prosesi yang tak luput dari dokumentasi.

Menu makan siang sudah diorder ke mamang ojol via aplikasi, sambil menanti saatnya menyeduh kopi dengan metode Vsixti (v60) dan pilihannya adalah Arabica Flores red hani (honey) hasil roasting Suka Sangrai.

Maka….. jeng.. jreng… proses pembuatan kopi tanpa gula yang mungkin lama dan bertele-tele bagi yang tidak biasa. Tapi jangan salah kawan, dibalik keribetan prosesi penyeduhan manual ini tersimpan keribetan…. eh sama aja, tersimpan sebuah kenikmatan dan rasa syukur yang semakin menguatkan kita untuk senantiasa nyeduh kopi sambil senantiasa bersyukur atas nikmat kehidupan dari Allah SWT.

Sesaat ketegangan karena pandemi corona agak terlupa, seluruh indera dalam raga fokus kepada prosesi di depan mata, hingga akhirnya hadir se-wadah kopi panas kohitala yang menggoda selera.

Tuangkan ke gelas kecil…. dan… srupuut.

Owww….. Body medium, acidity medium serta rasa segar menengah mengitari lidah dan rongga mulut bagian tengah. Menyegarkan pikiran dan menenangkan harapan, rasanya medium tetapi mampu memberikan ketenangan, Alhamdulillah.

Selamat berkarya dan tetap waspada, dimanapun berada. Protokol kesehatan menjadi utama dan nyeduh kopi secara manual jangan tertunda. Semangaaaat, Wassalam (AKW)

***

Catatan di bungkusnya :

Flores Red Honey Single origin, Farm : Aurelia Dagabo, Process : Red honey, Altitude : 1300 – 1500 Mdpl, Varietas : Kartika, Lini s 795, Roaster : Sukasangrai, Flavor notes : Vanilla, Orange, Brown sugar, Herb.