Jurig Kopi – fbs

Geuning kitu saujratna mah.

Akwnulis.com, CIMAHI. Peuting nu simpé lain jadi tibra saré pikeun ngamalirkeun kacapé, tapi geuning ngadon nyileuk cénghar, teu puguh rarasaan.

Buru-buru babacaan tilu surat quran pangtungtungna, lumayan masih apal sanajan sok pabeulit jeung surah lianna, tapi angger cènghar. Tungtungna mah ngahérang. Ngagambar dina lalangit bari ngitung cakcak nu anteng balakécrakan.

Sabot panon anteng niténan lalangit.
Bray, lalangit muka dibarung sora ngahégak nu matak soak.

Uing ngagoak, tapi sora jadi peura, baham calawak teu disada.

Leungeun buluan kaluar tina lalangit, Uing ngayekyek musna pangacian. Kaciri ramo-ramona nyekel téko kaca, eusina cai hideung teu mangrupa.

Sora handaruan ngaruntuhkeun kawani, “Arabika atawa robusta?”

Uing disada, “Aaa..ra.. biii..ka”

Cur cikopi tina sungut téko nyurulung kana baham Uing nu ujug-ujug calangap.

Glek glek glek, nikmat pisan. Alhamdulillah.

Ti peuting harita, teu bisa saré saminggu lilana, cénghar satuluyna. (AKW).

Kangen & Arabica Manglayang Karlina

Berkunjung dan bercengkerama bersama orangtua dan Kopi Arabica Manglayang Karlina.

Photo Pemandangan di perjalanan ke rumah ortu / dokpri

Malam belum lama melewati pukul 9, tetapi rasa kantuk begitu kuat menyerang. Tapi jangan mudah menyerah… lawan kantuk itu.

Lawaan!!!!

Mungkin efek perjalanan yang cukup lumayan berkelok dan menanjak ke rumah orang tua tersayang di ujung wilayah Kabupaten Bandung Barat berbatasan dengan Kabupaten Cianjur. Ditambah makan malam yang super kenyang dengan sajian ‘bakakak hayam”*) original racikan ibunda juga udara dingin pegunungan membuat lengkap suasana untuk segera merebahkan raga di peraduan.

Eittts…. jangan menyerah duluuu… ada senjata pamungkas.

Jrengg!!!!

***

Peralatan perang segera di bongkar dari tas ransel kesayangan. Corong V60, kertas filter, termometer, gelas ukur dan jangan lupa…. bubuk kopi hasil ng-grinder tadi pagi… Kopi Arabica Manglayang Karlina dari Kiwari Farmers.

Meskipun timbangan digital mini nggak dibawa, tapi timbangan feeling aja diberlakukan dengan ukuran kira-kira…. urusan air untuk menyeduh… biarkan dulu mendidih di ceret dan diamkan 2-3 menit supaya suhunya bisa turun ke 90an derajat celcius.

Sudah siaaap?

Okee…. Filter V60 dibasahi dan buang airnya. Tuangkan kopi Manglayang Karlina hasil grinderan sekitar 4 sendok makan…. tuangkan air panasnya sedikit agar bubuk kopi membebaskan sisa oksigen yang terjebak disaat penggilingan. Setelah itu prosesi manual brew bergerak serasi memberi ruang kepada sang kopi untuk merubah diri dalam momen ekstraksi.

Hmmm….. harum menyeruak hidung.
Ekstraksi kopi single originnya menghasilkan rasa sepat sedikit manis, keasamanan medium high dan body bold bikin nyisa di lidah lebih lama. Taste yang muncul fruity yang menyegarkan serta sedikit karamel yang muncul di akhir peminuman… apaa sih bahasanya.. akhir seruputan… 🙂

***

Alhamdulillah, senjata pamungkas andalan bisa bekerja pada waktunya. Menstimilasi neocortex dan amigdala agar bisa sejalan dan menghasilkan ide-ide berharga serta rasa takjim penuh makna. Begitupun syaraf-syaraf kembali bergembira menambah stamina bercerita kepada orang tua tentang apa saja. Detik berlalu menit melaju, kami terus berbincang dalam cengkrama diselingi canda yang jarang bisa terlaksana karena alasan kesibukan kerja juga urusan dunia lainnya.

Aku masih segar bugar sementara Ayah yang mulai terlihat mengantuk. Ibunda tetep ceria dan bertahan dengan kecerewetannya… Alhamdulilah, semua sehat dan bahagia di hari tua. (AKW).

***

Sunrise di Kaki Manglayang

Mengejar harapan menuju kehadirannya.

Photo : Mentari mulai terbit di samping Gunung Geulis/Dokpri.

Berjalan menjejak tanah merah, yang tersenyum meskipun tetap menggigil karena dipeluk dinginnya pagi. Perlahan tapi pasti, kehangatan menjalari urat nadi kehidupan selaras dengan semakin menanjak perjalanan pagi ini. Nafas yang tadinya bergerak lancar sekarang mulai tersengal karena kompensasi untuk meraih kehangatan.

Meskipun dinginnya pagi menggempur dari segala arah, berusaha mendinginkan raga yang mulai membara. Pertarungan inilah yang mengukuhkan rasa sehingga bisa mencapai puncak bukit pertama yang menyajikan hamparan pandangan pagi yang mempesona.

Ternyata sang mentari masih sedang berusaha keluar dari mimpinya, sehingga perlu beberapa saat menunggu detik menata menit supaya bisa membidik sunrise pada saat yang tepat.

Ya.. tepat menurut penulis. Karena tepat itu bisa tidak sama, tergantung konteks dan sudut pandang.

***

Photo : Mentari berpadu dengan siluet tumbuhan di kaki gunung Manglayang/Dokpri.

Akhirnya sambil menenangkan sengal nafas yang kencang menuju normal, mentari muncul perlahan menyajikan kemegahan indahnya pagi hari yang penuh inspirasi.

Inilah salah satu momen yang harus senantiasa disyukuri, karena mentari masih terbit sesuai janji. Menyinari bumi membawa berkah Illahi. Wassalam (AKW).