Salmon Pasta Salad (SalpSa)

Jalan kaki lanjut makan pagi eh maksi. yummy.

Photo : Sajian Salmon Pasta Salad / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com. Berjalan kaki di jumat pagi menjadi rutinitas utama, meskipun tetap harus menyesuaikan dengan tugas yang ada. Target jalan 30 menit harianpun tetap diupayakan, meskipun tentu kendala malas bergandengan dengan aneka tugas membatasi gerakan kaki yang senantiasa kepengen bebas.

Jumat pagi inipun ternyata tidak terlaksana sempurna, karena hingga mentari mulai meninggi, raga ini masih berkutat di ruang kerja menyelesaikan tugas dadakan yang datang tiba-tiba (ya iya atuh datang tiba-tiba, khan tugas dadakan…. iyaa bener jugaa 🙂

Jam 10.01 wib baru bisa keluar ruang kerja dengan stelan masih training dan sepatu olahraga kesayangan, black terrex. Maka tidak menyia-nyiakan kesempatan, segera menghambur keluar area gedung sate dan menapaki jalan banda, belok kiri jalan martadinata… lurussss…. lewati 2 perempatan hingga akhirnya belok kiri ke jalan Cihapit. Lurus lagi hingga ada persimpangan yang deket Bank, lurus lagi menuju area Pet Park, jalan Cilaki.

Sambil terengah dan keringat mengucur, sampai juga ke tujuan.

“Nyari apa seeeh?”

“Iniiiiih” telunjuk mengarah ke cafe simple yang menyajikan menu makanan sehat dan bahagia serta tentu dengan harga yang ‘Lumayan‘.

***

Sajian kali ini adalah ‘Salmon Pasta Salad’

Icip-icip rasanya enak lho, pasta yang dibuat sendiri dengan warna warni yang lucu. Daun horenzo yang hijau lebar, potongan daging ikan salmon, tumis tomat ceri, paprika, jamur di karamel dengan saus italy.

Nggak pake lama, langsung disantap diawali Bismillah. Rasa pastanya enak gurih dan mengenyangkan. Ditambah segarnya horenzo dan paprika serta tumis tomat ceri. Untuk asupan protein maka daging ikan salmon itu adalah jawabannya. Saus italy-nya juga enak dan enak weeeh….

Alhamdulillah tandas.

Mengingat jadwal jumatan yang sudah dekat serta pertimbangan ketinggian matahari akan tepat di ubun-ubun. Maka niat berjalan kaki ke kantor harus diurungkan, apalagi perut penuh dan waktu mepet, jangan sampai shalat jumat telat.

Pleasee jemppuutt!!!

Wassalam (AKW).

Vietnamese Noodle Salad

Menikmati menu maksi yang sehat, ceunah.

Photo : Sajian Vietnamese Noodle Salad / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com, Dikala siang menjelang, senandung nada lapar memberi sinyal dengan suara kerubuk kerubuk dari dalam perut. Ingin segera berlari menuju kantin bawah dan pesan makanan minuman segera, tetapi ternyata terhalang oleh banyaknya pengunjung yang memiliki tujuan sama.

Dan… makanan favoritku saat ini ternyata begitu banyak yang pesan. “Emangnya pesen apa?”

“Pengen lotek atau karedok dan pencok leunca ditambah tahu tempe goreng, jikalau ada yaa.. nasi merah”

“Euh itu mah favorit semua orang, ngantrinya musti dari jam 10 pagi”

Jadinya niat bergabung di kantin diurungkan lagi, kembali berkutat di ruangan, ditemani air panas dan peralatan seduh kopi manual, bikin kopi lagiii….

***

Beres shalat dhuhur berjamaah, muncul tawaran maksi (makan siang) dari kolega lama yang ingin bersua.

“Kebetulan nich, mumpung masih jam istirahat”

Meluncurrr……

Kaki bergerak menyusuri jalan Banda dan belok kanan ke Jalan Bahureksa, cukup 11 menit berjalan kaki sudah tiba di lokasi Jalan Bahureksa No. 9 Bandung, Cafe Greensandbean.

Jabat tangan dan cakap berbalas menjadi pembuka cerita. Membahas masa lalu, masa kemarin, hari ini dan mungkin urusan karir di hari esok. Masing-masing membahas prinsip, mengedit cita-cita serta menempa rasa dalam tatanan birokrasi yang semakin penuh dengan tantangan dan harapan.

Cafe Greensandbean mengusung tema makanan dan minuman sehat juga gaya hidup yang menjaga alam secara komprehensif. Secara kemasan semua menggunakan daur ulang termasuk kantong plastik telo bag yang ramah lingkungan. Sedotan plastik sudah diganti dengan sedotan bambu, yang bikin terhenyak bagi yang baru menikmati sajian di cafe ini.

Photo : ‘Hawu’ Perapian tradisional di rumahku di kampung kelahiran / dokpri.

Apalagi kayak diriku yang lahir dan masa kecil di kampung, pas dapet sedotan kayu itu langsung teringat sama ‘songsong’, alat tiup buat ngebesarin api di kayu bakar yang menjadi bahan utama perapian kampung yaitu ‘hawu’.. heu heu heu heu.

Sajian makanannya berbasis sayuran beraneka daun, lalu bahan makanan seperti telur omega 3, shorgum, roti gandum, serta banyak lagi pokoknya mah….

Pesanan pertama, ‘Vietnamese Noddle Salad’…. wow sajiannya kereen, aneka rupa dan warna warni, langsung aja ambil posisi dan photo dulu, tuntutan jaman. Isinya vermicelli, mix green, carrot, cucumber, bean sprout, tofu, coriander, chicken, roasted peanut, mint, chili, vietnamese fressing, pita chip.. (copas dari catatan menu ini mah…:))

Minumnya teh panas aja, ada 4 pilihan. Yaa pesen salah satu, pake teko kaca dan bisa refill 3x… lumayan bisa ngirit.

Sebelum dinikmati, dressing vietnamesenya dituangkan ke sajian. Lalu perlahan dicoba….

Rasa asam dressing bikin sedikit dahi mengernyit, juga ada berbagai rasa yang berbeda dengan ekspektasi menari di lidah menyajikan kesegaran. Asam, manis, harum dan segar berpadu menjadi sajian rasa berbeda. Untung saja perut ini mudah menyesuaikan dan hanya memiliki 2 opsi terhadap makanan, yaitu enak dan enak banget, jadi mari kita nikmati.

Seiring waktu istirahat yang akhirnya habis, pertemuan singkat sambil maksi inipun harus usai.

Meninggalkan kesan yang banyak, baik dari sisi pertemanan, juga pengalaman rasa makanan sehat yang berbeda, juga jangan lupa urusan harganya.

“Makasih masbro atas traktirannya, jangan kapok yaa”

Kami berpisah dan kembali memasuki ritme kerja yang meniti waktu dengan segala dinamikanya, wassalam (AKW).

Bukan Kopi tapi Makanan Sehat-i

Bukan hanya kopi tapi makanan sehari-hari bisa menjadi inspirasi.

Photo : Soup buah ala Serasa / dokpri

CILAKI, akwnulis.com, Setelah membombardir kawan sahabat, kenalan, bos-bos dan berbagai kontak di aplikasi whatsapps dengan link tulisan blogku ini, ternyata feedbacknya variatif. Mayoritas memuji tetapi ada juga sebuah cibiran yang mengiris hati. Trus dari sisi kesadaran membaca isi blog via link yang dikirimkan via japri, ternyata masih dibawah 50%… oalaaah, kebanyakan baca judul dan mini judul… udah aja ngasih simbol jempol.

“Lho kok tau panjenengan?”

“Jamannya wis canggih, ada data statistik yang bisa diolah lho”

Tapi tidak mengapa, itu semua nggak bakalan ngelunturin semangat menulis ini. Meskipun nulis tanpa kerangka baku, yang penting aliran ide dalam kepala menjadi buah pikir yang tersaji melalui tulisan, meskipun bukan cerminan utuh diriku yang fana ini.

Photo : Kopi Luwak Lembah Cimanong dijagain sama tikus besar.. eh luwak aneh / dokpri.

Banyak juga yang komplain dengan tulisan nglanturku tentang kopi.

“Kopi lagi kopi lagi”

“Mbok ya ngirim kopinya gitu lho, bukan tulisan aja”

“Bosen ih, ganti nulis yang lain donk”

Tapi tidak sedikit yang mendukung, apalagi dilanjut ngajak ngopi… ini yang asyik. Ada juga yang ngirim sampel kopi untuk diseduh sendiri dan minta dibuat review di blog ini.

Alhamdulillah, dengan tulisan tentang kopi, blog ini terus bisa tersaji. Karena kopi itu bisa ditulis dari berbagai sisi dan dimensi. Terkadang miliki makna hakiki atau juga hanya menjadi perlintasan malam yang sepi.

Kini menulis tentang hal bisa, yaitu menu makan siang. Hal yang biasa tetapi ternyata miliki berjuta makna.

Konsepnya adalah makanan berbasis sayuran dan buah, tetapi dengan penyajian yang apik biss memberi nilai tambah dan tentu urusan harga bisa berbeda.

Photo : Sajian salad roll ala Serasa yang ciamik / dokpri

Makan siang kali ini, adalah Salad roll dan soup buah ala Cafe Serasa yang bertempat di Jalan Cilaki Bandung, depan Pet Park dech atau klo yang doyan makanan jepang, diseberang bunderan Shabuhaci.

Aneka sayuran dibungkus pake kulit kayak lumpia gitu tapi tipis banget sehingga terlihat transparan. Dalamnya ada wortel, paprika, mentimun, kol ungu dan apalagi yaa?… disajikan dengan dressing home made yang rasanya enak.

Capit pake sumpit, celup ke mangkuk kecil dressingnya.. happ, nyam.. nyaam.

“Kenyang nggak?”

“Nggak euy hehehehe”

Buat ngenyanginnya pesen soup buah yang ditata ciamik, diatasnya ada taburan cornflake. Buahnya potongan apel, buah naga, semangka, mangga, melon dan…. euh keburu abis dimakan.

Oh ya dressingnya itu yoghurt lembut dengan rasa halus, terasa menyatu disaat masuk ke mulut, ada sedikit asam dan segurat rasa manis.

Gitu dech makanan kali ini, insyaalloh makanan sehat dan sehat-i, Wassalam (AKW).

Kenangan pertama mengenalmu..*)

Jumpa pertama memberi kesan mendalam, apalagi dilengkapi peristiwa yang tak terlupakan. lengkap sudah sebuah memori terpatri di hati dan terekam jelas di ingatan.

Photo : Mamang bandros sedang standbye / dokpri.

Segarnya udara pagi menambah energi untuk mengarungi hari yang selalu mudah untuk dijalani. Setelah masuk kelas diawali doa pagi serta menyanyi, tersaji bubur kacang hijau hangat yang diletakkan pada mangkuk warna warni.

Semua berdoa dengan seksama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya supaya si kacang hijau cepat berpindah ke dalam perut mungil kami. Kenapa kacang hijau?.. karena ini hari senin, klo selasa-rabu biasanya susu murni ditambah kue mari.

Nyam… nyam… nyam. Perut kenyang hati senang dan bu guru cantik kembali mengajak berdendang sesaat sebelum istirahat pagipun datang. Senda gurau bersama kawan disaat istirahat adalah momen yang begitu indah untuk dikenang. Tak banyak yang perlu dipikirkan. Cukup datang tepat waktu, berbaris berdoa dan bernyanyi, makan dan bernyanyi lagi sebelum akhurnya tiba waktu pulang.

Disinilah aku tumbuh bersama kawan lainnya, disebuah daerah pegunungan di perkebunan teh Bandung Selatan. Disini kami belajar mengenal teman dan bisa bermain sepuasnya meski dikungkung oleh bangunan dan taman menghijau yang cukup luas bagi kami untuk bersilaturahmi dengan alam dan menikmati aneka permainan. Dari mulai cungkelik cungkedang, panjat tali, komidi putar, rumah-rumahan, ucing sumput, rerebonan, balap karung serta yang paling trending adalah ayun-ayunan atau gugulayunan.

Photo : Seloyang Bandros / dokpri.

Ditempat ini pula mulai mengenal aneka makanan dan beberapa jajanan meskipun terbatas. Karena untuk jajanan, ibu kepala sekolah pasti pasang muka galak dan suara menggelegar sehingga hanya sedikit pedagang yang berani berjualan jajanan atau mainan. Satu jajanan yang jadi favorit adalah ‘bandros’, jajanan khas jawa barat yang bahannya adalah terigu, kelapa dan garam. Dibuat dengan menggunakan loyang cetakan, dimasak mendadak dengan memasukan adonan putih agak encer tersebut ke loyang dan dibawahnya dipanaskan oleh bara api yang menggunakan bahan bakar potongan kecil kayu bakar.

Bentuknya atau sebutan lainnya yaitu ‘kue pancong’ dan tersaji hanya dua rasa yakni original berarti agak asin dan manis, jika ditabur gula putih diatasnya. Belum berfikir rasa-rasa variasi lha wong gitu aja selalu ludes diserbu oleh kami, anak kecil haus jajan.

Aku punya selera setengah mateng sehingga hasilnys masih lembek dan lembut atau sekali-kali cukup kering sehingga ada kriuk dikit pas dikunyah di mulut kami. Itulah sensasi yang terejam di memori ini.

Yang lebih bikin nggak terlupakan tentang bandros ini adalah sensasi tenggelam akibat rebutan bandros. Dibilang tenggelam mungkin agak lebay, tapi itulah kenyataan.

Sekolah kami TK Melati milik PT Perkebunan Nusantara VIII di Bandung Selatan memang dikelilingi taman serta selokan kecil dan di depan sekolah kami ada selokan yang cukup besar buat kami anak TK.

Siang itu kami berkumpul mengelingi mamang bandros yang lagi hits saat itu. Pas satu baris bandros tuntas dimasak, kami bersiap menerima dengan sigap. Hanya saja karena ingin duluan jadi berebut dan saling dorong. Akibatnya aku dan Dade temanku terdorong ke belakang serta kecebur ke selokan.

Gujubar…….. semua terkesiap dan siap membantu. Tapi kami berdua yang tenggelam sudah bisa berdiri lagi di selokan yang cuma berkedalaman 40cm. Yang jadi judul tenggelam karena wajah kami.. eh kepala kami yang meluncur duluan menyentuh permukaan air selokan sehingga tenggelam ‘sesaat’ :).

Bu guru TK yang cantik terlihat datang tergopoh dengan wajah pucat pasi khawatir anak didiknya menderita luka. Tetapi sesaat tersenyum lebar melihat kami yang tertawa-tawa sambil menyantap banderos setengah mateng yang udah campur sama air selokan. Meskipun sudah pasti basah kuyup dan kedinginan. Tukang banderos hanya bisa terdiam dan serba salah. Tapi menjaga pikulan peralatan dagang lebih utama dibanding membantu kami, karena itu menyangkut hajat hidupnya.

Sejak itu keakraban kami dengan banderos semakin erat, tiada hari tanpa jajan sang bandros dengan menu tetap, setengah mateng. Termasuk disaat kami mulai menginjak sekolah dasar, banderos panas tetap setia menanti di halaman depan sekolah untuk ditukar dengan uang receh yang kami pegang. Meski tentu mamangnya berganti-ganti orang.

Photo : Bandros siap tersaji dokpri.

Udah mateng pak, ini bandrosnya!!”, suara mamang bandros membuyarkan kenangan, terlihat sajian hangat satu loyang bandros yang membangkitkan kenangan. “Makasih mang” selembar uang berpindah tangan, selarik kenangan memperkaya ruang. Hatur nuhun mang. (Akw).

*) Maksudnya kenangan pertama mengenal bandros.