Obat Penenang – Kopluprégar

Ketenangan hadir melalui obat yang tepat.

Photo : Sajian Koplupregar lengkap dengan peralatan/ dokpri

JATINANGOR, akwnulis.com. Dinginnya malam di Kamar 103 Kampus Kiarapayung begitu kejam menghujami kulit tipis kami. Sesekali angin menyelusup, menyapa dengan seringainya menyusuri kuduk yang kerap meremang.

Untung saja obat penawarnya ada, beberapa bungkus obat penenang tradisional dengan peralatan lengkap satu kontainer plastik. Dibawa khusus untuk menghadapi situasi seperti ini.

“Obat penenang?, hati-hati ah, jangan sembarang bawa obat begitu. Nanti diciduk petugas”

“Udah selow aja kata Wahyu juga (maksudnya lagu Selow yang dinyanyiin Wahyu), cuman segini doang” sambil mengeluarkannya dari dalam kontainer.

Wahhh… ini mah banyak sekali, ah bahaya ini mah.. bahaya” suara parau kawanku yang phobia dengan penangkapan. Tangannya tak henti meremas bungkus alumunium voil.

“Baca atuh bungkusnyaaa…. ini bukan tablet isinya bro, isinya bijiiiii…. biji kopiiii”

“Biji kopi?… tadi katanya obat penenang?”

“Iya penenang hati yang sedang galaw karena rasa dingin dan kegamangan.. ahaaay”

“Sialaaan”

Segera berlari menghindari kejaran kawan yang kalap karena nggak terima dengan kejadian ini.

Makanya jangan phobia berlebihan.

***

Setelah peralatan lengkap di meja, prosesi dimulai. Pasang kertas filter dicorong V60, timbang biji kopi dan digrinder dengan ukuran suka-suka, goyang-goyang 2-6. Siapkan air panas dengan termos pemanas.. josss.

Sang waktu menjadi saksi dikala air panas membasahi dulu kertas filter, serpihan biji masuk saringan, proses blooming bikin harum ruangan yang sebelumnya diawali oleh aroma biji kopi Luwak Garut yang terpecah oleh keperkasaan mesin grinder.

92° celcius sebuah angka yang tepat untuk menyeduh biji kopi spesial dari salah satu tokoh di garut, nuhun pak haji Aam… currr, puter-puter.

Tes.. tes… obat penenang menetes di bejana kaca transparan.. horee.. horeeee…

Aroma khas arabica menyeruak menjadi penenang pertama, diikuti dengan acidity maksimal khas kopi luwak (jangan sambil bayangin kopi yang keluar dari ‘anu’ luwak yaaa….. ), body kopinya medium dan dari keseluruhannya nikmat maksudddnyaaah.

Photo : para pemburu ketenangan / dokpri.

By the way, anyway…. obat penenang itu bernama Kopi Luwak Premium Garut (Koplupregar) versi spesial yang diproduksi oleh CV Dwi putra laksana….

Srupuuut.. srupput, gelas-gelas mini menyambut kehadiran obat penenang suasana ini secepat kilat, sehingga 50gr kopi yang berubah jadi cairan hitam coklatpun tandas dalam waktu singkat.

“Alhamdulillah, udah pada tenang semuanya,……”

“Iyaaaaaaa.. tenang dan senang”

Dinginnya malam sekarang menjadi sahabat, karena dipererat kebersamaan yang berbalut ketenangan. Canda dan tawa serta cerita Bali, Bogor dan Sukabumi serta Cimahi menguatkan kembali chemistry yang telah terjalin kuat di kaki Gunung Manglayang ini. Wassalam (AKW).

Bukan Kopi tapi Makanan Sehat-i

Bukan hanya kopi tapi makanan sehari-hari bisa menjadi inspirasi.

Photo : Soup buah ala Serasa / dokpri

CILAKI, akwnulis.com, Setelah membombardir kawan sahabat, kenalan, bos-bos dan berbagai kontak di aplikasi whatsapps dengan link tulisan blogku ini, ternyata feedbacknya variatif. Mayoritas memuji tetapi ada juga sebuah cibiran yang mengiris hati. Trus dari sisi kesadaran membaca isi blog via link yang dikirimkan via japri, ternyata masih dibawah 50%… oalaaah, kebanyakan baca judul dan mini judul… udah aja ngasih simbol jempol.

“Lho kok tau panjenengan?”

“Jamannya wis canggih, ada data statistik yang bisa diolah lho”

Tapi tidak mengapa, itu semua nggak bakalan ngelunturin semangat menulis ini. Meskipun nulis tanpa kerangka baku, yang penting aliran ide dalam kepala menjadi buah pikir yang tersaji melalui tulisan, meskipun bukan cerminan utuh diriku yang fana ini.

Photo : Kopi Luwak Lembah Cimanong dijagain sama tikus besar.. eh luwak aneh / dokpri.

Banyak juga yang komplain dengan tulisan nglanturku tentang kopi.

“Kopi lagi kopi lagi”

“Mbok ya ngirim kopinya gitu lho, bukan tulisan aja”

“Bosen ih, ganti nulis yang lain donk”

Tapi tidak sedikit yang mendukung, apalagi dilanjut ngajak ngopi… ini yang asyik. Ada juga yang ngirim sampel kopi untuk diseduh sendiri dan minta dibuat review di blog ini.

Alhamdulillah, dengan tulisan tentang kopi, blog ini terus bisa tersaji. Karena kopi itu bisa ditulis dari berbagai sisi dan dimensi. Terkadang miliki makna hakiki atau juga hanya menjadi perlintasan malam yang sepi.

Kini menulis tentang hal bisa, yaitu menu makan siang. Hal yang biasa tetapi ternyata miliki berjuta makna.

Konsepnya adalah makanan berbasis sayuran dan buah, tetapi dengan penyajian yang apik biss memberi nilai tambah dan tentu urusan harga bisa berbeda.

Photo : Sajian salad roll ala Serasa yang ciamik / dokpri

Makan siang kali ini, adalah Salad roll dan soup buah ala Cafe Serasa yang bertempat di Jalan Cilaki Bandung, depan Pet Park dech atau klo yang doyan makanan jepang, diseberang bunderan Shabuhaci.

Aneka sayuran dibungkus pake kulit kayak lumpia gitu tapi tipis banget sehingga terlihat transparan. Dalamnya ada wortel, paprika, mentimun, kol ungu dan apalagi yaa?… disajikan dengan dressing home made yang rasanya enak.

Capit pake sumpit, celup ke mangkuk kecil dressingnya.. happ, nyam.. nyaam.

“Kenyang nggak?”

“Nggak euy hehehehe”

Buat ngenyanginnya pesen soup buah yang ditata ciamik, diatasnya ada taburan cornflake. Buahnya potongan apel, buah naga, semangka, mangga, melon dan…. euh keburu abis dimakan.

Oh ya dressingnya itu yoghurt lembut dengan rasa halus, terasa menyatu disaat masuk ke mulut, ada sedikit asam dan segurat rasa manis.

Gitu dech makanan kali ini, insyaalloh makanan sehat dan sehat-i, Wassalam (AKW).

Kopi Luwak Lembah Cimanong

Ternyata, hampir saja sebuah rasa terlewati waktu yang tak mau memberi jeda.

Photo : Tampilan Kopi Luwak Lembah Cimanong dengan bungkus merahnya, abaikan penampakan mix rosegoldnya yaa / dokpri.

GEDUNG SATE, akwnulis.com, Hampir 3 bulan dikau teronggok begitu saja diantara koleksi kopi yang datang silih berganti. Tetapi tanpa banyak tanya, tetap santai jalani semuanya dengan setia.

Satu bulan lalu akhirnya dibuka, lembar merah bungkusmu mulai tersobek oleh sebuah keinginan. Sebesar harapan akan nama besarmu, kopi luwak.

Tetapi sebelum bijimu menyentuh grinder, tiba-tiba tertahan oleh sebuah keadaan. Karena sang indra penciuman belum menemukan aroma yang diharapkan. Padahal begitu besar perkiraan bahwa aromanya akan membahana memenuhi ekspektasi kehidupan. Akhirnya kembali bungkusan merah dikau terdiam dan mengonggokkan diri di meja eksekusi. Menanti proses ekstraksi yang tak pasti.

***

Hari ini, setelah menyeduh manual dengan V60 kesayangan stok kopi yang ada. Tiba-tiba tatapan ini tertuju pada bungkus merahmu.

“Mau dicoba Kopi Luwak Lembah Cimanong?”

“Hayu Kang, kita jajal” jawaban serempak 2 kawan dari divisi lain yang saat ini bernasib sama, galau karena perubahan lembaga. Tapi daripada galau mendingan dinikmati sambil minum kopi.

***

Langsung corong V60 dpasangin filter. Bean yang ada dalam bungkus merahmu ditimbang 30 gram, dimasukan grinder dan digiling dengan ukuran variatif, supaya bisa keluar beraneka bentuk yang nantinya memberi sensasi rasa berbeda.

Air panas ngejetrék, tandanya sudah siap. Dituangkan di teko kaca Suji berleher panjang. Langkah awal digunakan nyiram kertas filter. Lalu dipasang termometer, air raksa bergerak perlahan dan akhirnya terdiam di ukuran 90° celcius. Sippp.

Jangan lupa air pembersih filter dibuang dulu. Air panas 300 ml sudah ready. Bubuk kopi dituangkan di corong V60, air panas 90° derajatpun beraksi. Awalnya untuk proses blooming dulu dilanjutkan dengan sentuhan hakiki, proses ekstraksi melalui pertemuan air panas dan biji kopi yang sudah membelah diri.

Tak berapa lama, tetes demi tetes hadir di gelas server. Bersiap untuk menikmati.

“Mangga atuh, silahkan”

Gelas server berisi cairan kopi luwak lembah cimanong disorongkan dan serempak rekanku sudah memegang gelas kaca masing-masing.

Currr……

….

Srupuuut….
Srupuuttt…..

“Ow may gattttt… enak euy” itu reaksi pertama dariku. Ternyata ada sesuaty yang terpendam selama ini.

Dari awal memang agak kurang tertarik sama dikau karena aromanya hambar, nyaris tidak ada. Jadi disimpulkan sementara, ah rasanya biasa saja, padahal mahal belinya.. agak nyesel tadinya. Klo nggak salah 125ribu/100gram bean hasil roastingnya.

Ternyata, body-nya nampilin level medium yang layak dinikmati dan yang paling keren adalah Acidity-nya, kerasa bangeeet…… sebuah keasaman rasa yang nyaris sempurna tanpa diganggu bayangan pantat luwak yang pernah mengeluarkan biji kopinya.

Trus yang bikin meringis adalah sensasi ‘Ninggal‘-nya, sebuah ungkapan sederhana yang bermakna bahwa dibelakang lidah terasa menempel rasa asam dan sedikit kegetiran dalam waktu yang cukup lama padahal kopinya sudah lewat dan ngendon di lambung kita.

Enak pisan itu rasa yang tertinggalnya… ruar biasa.

***

Maafkan daku yang sudah menyia-nyiakan dikau, hai kopi luwak lembah cimanong Ciwidey, kamuuh luar biasaaa…

Kamipun bertiga menikmatimu sambil menanti perjalanan waktu hingga adzan magrib membahana di Mesjid Almuttaqien. Wassalam (AKW).

Siki Kopi

Ihtiar nedunan kahoyong kikindeuwan.

#FikminBasaSunda

Biwir cameuh bareuh, ngaganggu raga jadi teu bisa reureuh. Humarurung diharudum sarung, panas tiris tilas geubis.

“Kunaon atuh bet ngalanto ka deukeut jarian, jadi wéh tigebrus, dasar aki-aki murag bulu bitis” Sora halimpu Nini Acih karasa ngagantawang kana jiwa, ngaguratkeun tunggara.

“Duh néng Acih, kikindeuwan Aa, ieu téh alatan ihtiar keur nedunan kahayang salira”, Aki Apud ngaharéwos bari biwir tipepereket, jamomom peurih keneh.

Nini Acih ngarandeg, sakedapeun ngahuleng, tuluy nanya ka Si Aki nu keur adug songkol, “Har dupi Aa milari naon atuh ka palih dinya?” Sora halimpu jeung lemes basa, langsung nanceb kana jajantung keuna pisan kana mamarasna.

Ki Apud maksakeun nyéréngéh. “Muhun geulis, Aa ngungudag careuh nu leupas padahal geus diwewelan siki kopi tilu kilo.”

Si Nini tuluy ngadeukeutan, “Nuhun Aa, mugi careuhna énggal kapendak, ogé kopina tiasa urang leueut bari sosonoan.”

Aki apud kéom, imut haseum ngabayangkeun siki kopi dina careuh nongtot bool.

***

Cimohay, ba’da Ashar (AKW).

Nyeduh Kopi Luwak Tanpa Luwak

Akhirnya bisa juga nyeduh dan merasakan sendiri sensasi kopi LTL.

Menindaklanjuti permintaan secara terhormat dari kakak senior… ahayy formil pisan…. maksutttnya postingan terdahulu tentang Kopi Luwak Tanpa Luwak menyisakan kepenasaran….

Tetapi sesuai kode etik pribadi dari blog ini yang berusaha keras mengusung originalitas, jadi klo emang belum nyeduh olangan… ya belum bisa ngasih review…

***
Nah pagi ini waktu tersedia, sambil nemenin Asyaluna Binar yang lagi sarapan trus dia-nya lanjut ke Posyandu maka prosesi seduh menyeduh bisa dilaksanakan secara tuntas… monggoo….

Dengan manual brew V60, air panas 85 derajat celcius dan putaran brew versi arah jarum jam serta perbandingan 1 : 10 makaaa…..

Segera sachet hitam bergambar orang salaman atau ngasih kopi ya?… background coklat trus hitamm weh.. didalamnya ternyata dibungkus lagi dengan kertas dan pembatas kertas agak keras yang tujuannya agar bisa langsung diseduh Aroma beannya asam menyengat, dapet sampelnya satu sachet 10 gr.

Bentar.. bentar.. berarti filter V60 dan corong V60 nggak perlu dipake nich

Ambil cangkir biasa, sobek atasnya dan didudukin di cangkir… plek.

Segera diseduh sama air panas yang tersedia…. tungguu cairan nikmat ini turun ke dasar cangkir…

Inilah hasilnya : …… menghasilkan cairan kopi warna coklat terang yang menjanjikan harapan.

Sruuputt… mmmmmmhhh… nikmattt,
Aciditynya sedang-sedang saja tetapi setelah dicecap lama di lidah rasa asamnya menebal. Ada rasa fruty yang muncul…. rasa jeruk citrun… ada ih.. beneer.

Untuk body lite, nyaman di lidah enak di tenggorokan, nyaris tidak pahit sama sekali. Ada rasa teh hijaunya juga….

Ahhh teguk lagi.. jangan2 salah lidah ditambah imajinasi :)… tapi yakin da.. itu yang bisa dirasa lidah…

Kesimpulannya kopi luwak tanpa luwak ini relatif tingkat acidity mirip kopi luwak sukirya tapi dari sisi bodynya agak berbeda. (Maklum jarang-jarang minum kopi luwak…. kecuali di kasih hehehehe).

Kesimpulan universalnya…. nikmat pisan ngopi item luwak tanpa luwak teh para hadirin. Apalagi bersama anak istri. Wilujeng pakanci. Wassalam. (AKW).

***

Catatan :
Yang pengen tuh kopi musti order olangan, Kontak saja Bp Ir. Oleh Supardjo di Nomor 08239662227. Hatur nuhun.

Kopi Luwak Tanpa Luwak

Sebuah cara berbeda menghasilkan cita rasa yang mirip adalah sebuah ihtiar yang perlu dimaknai bersama

Sebuah perjumpaan berbuah pengetahuan, tapi tentu harus ada pengantar kata untuk membuka dan selanjutnya terserah anda.

Ngomongin kopi pasti tiada habisnya karena mau tidak mau dan suka tidak suka terdapat sisi misteri dari kopi yang tersaji. Mengapa disebut misteri ?… karena sebuah rasa yang tersaji belum tentu sesuai persepsi padahal metodenya sesuai dengan resep yang dilakoni.

Banyak bingit faktor yang mempengaruhi… eiit tapi ini bicara kopi asli tanpa gula tanpa susu ya guys.

Ntar kita bahasnya yaa….

Sekarang moo ngobrolin dulu kopi luwak tanpa luwak.

Pasti pada tau khan klo kopi luwak itu the bestnya kopi dan harganya selangiit.

Tapi aku mah secara pribadi sedikit kurang suka dengan kopi luwak dengan dua faktor penyebab. Pertama karena rasa aciditynya tinggi yang kedua serasa nggak mood pas inget bean ini ngbrojol dari pantat luwak…. awww gimana gitu… dan mungkin ketiga urusan harga hehehehe. Tapi klo ada yang ngasih gratisan… pasti diterima dengan senang hati, itu mah rejeki.. Alhamdulillah.

Seperti kopi luwak sukirya pemberian bos Zanettera Mr Steven… pasti diseduh dan dinikmati. Makasih ya bos.

***

Nah hari minggu lalu tanggal 6 mei 2018 ada acara Wirausaha baru tuh di halaman gedung sate, pa Gubernur dan jajarannya hadir dan ada stand bazaar para wirausaha baru termasuk tentunya stand kopi. Disinilah bisa bersua dan dapet wawasan baru tentang kopi LTL (Luwak Tanpa Luwak).

Yang jadi pelaku eh… yang ngelakoninnya bapak Insinyur Oleh Supardjo dari UKM Sangrai Kopi selaku produsen ‘Java Linggarjati Coffee’ dari Desa Bayuning Kecamatan Kadugede Kabupaten Kuningan. Beliau melakukan teknik pembuatan kopi luwak dengan cara fermentasi menggunakan enzim yang terdapat dalam usus luwak…. menarik khan?… jadi pengen liat langsung ke lokasi.

Rasa kopi yang hasilkan mirip dengan kopi luwak pake luwak, dan hasilnya itu bisa semakin mantabs jika di proses lebih dari 3 minggu bakalan muncul rasa citrus dengan metode semi wash.

Sebagai sampel satu sachet kopi luwak tanpa luwak sudah ada di genggaman.

Memang belum dipublikasikan secara masif karena masih dalam posisi percobaan, tetapi idenya keren dan merupakan terobosan dalam pengolahan kopi sehingga dapet nilai tambah yang signifikan.

Sebagai produk utamanya saat ini adalah Java Linggarjati Coffee. Sudah ada di tangan, sebungkus 200gr beannya. Ntar digrinder olangan dan segera diseduh nich.

Tunggu yaa reviewnya. Wassalam (AKW).