Mendaki Lagi..

Akhirnya bisa menaiki hati, eh menaiki gunung andesit nan eksotis.

Photo : Santai duyuuu pren / pic by mr B.

Chapter 3
MENDAKI LAGI.

GUNUNG PARANG, akwnulis.com. Setelah beristirahat sejenak di sebuah bangunan tradisional sunda atau saung yang ternyata adalah warung, bisa sambil pesen kopi dan makanan ringan, kami disambut kang Baban, pemandu pendakian kali ini. Orangnya masih muda, ramah dan penuh percaya diri.

Tuntas duduk sejenak, kami bergerak mengikuti jalan dan mulai menaiki beberapa tangga menuju bangunan saung diatasnya yang berfungsi untuk tempat brefing persiapan pendakian sekaligus pemasangan alat-alat pengaman selama pendakian.

Ini adalah lanjutan cerita PERSIAPAN PENDAKIAN

Kembali dipertemukan dengan harnes, tali temali, carabiner dan helm pengaman serasa dejavu dengan kesenangan masa lalu yang sangat sering pergi ke gunung, yaitu Gununghalu… xixixixi… (itu mah nama kampung kelahiran dan orangtua atuh gaaan…..🤣🤣🤣🤣).

Tidak lupa berpose dulu dengan background spanduk Badega dengan berbagai photo pendakiannya… semangaaat, serasa adrenalin di dalam raga ini bergerak cepat dan detak jantung petualangan kembali berdegup lebih kencang dan perasaan tertantang begitu besar, Bismillahirrohmannirrohim.

Petualangan dimulai….

Bersama dua orang rekan dan satu orang pemandu, berangkatlah kami menapaki jembatan bambu yang sudah dibuat oleh para pengurus Badega Gunung parang ini untuk mempermudah pada pendaki pemula mencapai titik awal pendakian, karena sebelum ada jembatan bambu ini, harus berjuang lebih keras untuk mencapai titik pendakian.

Ternyata, perjalanan menapaki jembatan bambu ini terasa menyesakkan dada…. ketahuan jarang olahraga dan…. kegemukan yang mendera hihihihi….. jembatan bambu menanjak, belok kiri belik kanan, nanjak lagi… pegal menggerayangi lutut dan paha, tapi lawaan… kami bisaaa….

Pepohonan liar memberi tanda bahwa ini bukan saatnya main-main, mari belajar menyatu dengan alam, jangan lupa berdzikir dalam hati meminta selalu perlindungan dari Illahi Robbi.

Photo : Ee luwak ada biji kopinya / dokpri.

Langkah kaki perlahan tapi pasti, menapaki seutas janji untuk mencoba memenuhi tantangan menaiki gunung batu andesit ini, kondisi jembatan bambu yang agak elastis menjadi hiburan tersendiri sehingga agak ancul-anculan jikalau kita sedikit meloncat, ditambah juga nemu ceceran kotoran luwak yang lengkap dengan biji kopinya, “Ada yang mau coba?“….

***

20 menit berlalu dan sampailah kami di titik awal briefing, sebuah tempat cukup datar dan ada juga ayunan kayu dengan latar belakang pemandangan alam yang menakjubkan khususnya Danau eh bendungan Jatiluhur yang mempesona…. hilang sudah pegal dan penat yang tadi mendera disaat menapaki jembatan bambu yang cukup panjang dan menanjak ini.

Photo : Ayo manjaat / pic by mr B.

Tapi….. pendakian sebenarnya sedang menanti setelah briefing singkat ini.

Intinya, keamanan adalah yang paling utama, sehingga pemahaman, disiplin dan konsentrasi menjadi luar biasa penting termasuk kerjasama tim akan menentukan keberhasilan pendakian ‘mini’ ini…..

Carabiner harus selalu mengunci bergantian di sling adalah syarat mutlak pendakian ini. Pola pasang lepas pasang ini yang akan menjadi tantangan teknis. Klo urusan takut ketinggian sih… udah jelas dari awal, yang tidak berani ya sudah tunggu dibawah…. yang berani lanjut… yang berani diatas 75% lanjut, yang ragu-ragu… kembali, gitu aja kok repot.

Tuntas briefing terbitlah saat penting, memandang tebing batu andesit yang menjulang tinggi terasa mulai menggetarkan hati. Tetapi adrenalin terasa lebih banyak reaksi, pompakan semangat tiada henti.

Photo : Rehat sejenak di sela pendakian / pic by mr B.

Dihadapan kami trek pendakian sangat jelas apalagi dilengkapi pegangan besi beton yang tertancap kokoh di sepanjang pendakian.

“Oh pake pegangan besi, gampang klo begitu mah, aku juga bisa”

Nggak terpengaruh dengan komen kacangan itu, sekarang bukan hanya bicara tetapi aksi nyata. Klo sudah naik dan turun bersama, baru silahkan komentar sesuka-sukanya.

Perlahan tapi pasti, tangan memegang pegangan besi, tangan kiri memasang carabiner di sling dan kaki bergerak mengangkat tubuh keatas, perlahan tapi pasti….. akhirnya manjat lagiiii, Alhamdulilah.

Woaaah, angin mulai menerpa raga ini dan pijakan awal terlihat menjauh, detak jantung berdegup kencang, doa dipanjatkan, semoga semua baik-baik saja.

Ternyata… tantangan pasang-lepas-pasang carabiner di sling yang cukup merepotkan di awal tetapi setelah terbiasa, pendakian bisa berjalan cepat dan penuh semangat, perkampungan sekitar Gunung Parang dan kebun serta bendungan Jatiluhur menemani naiknya raga ini menyusuri gunung padang yang eksotis dengan fasilitas via ferattanya.

“Penasaran dengan istilah Via Feratta?… itu bahasa italia, artinya menggunakan besi, jadi disini pendakian dengan menggunakan besi pegangan… satu-satunya di Asia lho guys, keren khan?…

***

Perjalanan 2,5 jam mendaki hingga kembali turun dari pendakian Gunung parang ini menyisakan memori yang penuh arti, pengalaman luar biasa serta tes adrenalin yang nyaris sempurna. Ditemani pemandu pendakian, Kang Baban Badega GP yang ramah dan cekatan serta menghibur dengan lagu-lagu masa kini dari tas ransel yang dipakainya juga photo-photo akfitas pendakian menjadi momen tidak terlupakan.

Apalagi demi sebuah ciri pendakian yang berbeda, kami mencoba memggunakan baju batik kebanggaan masing-masing, sehingga pose diatas sana bukan pake baju olahraga biasa hehehehe…. meskipun terus terang lebih gerah dari biasanya.

Monggo yang mau mencoba, tinggal kepo-in aja IG : Badega Gunung Parang, biaya pendakian per-orang mulai dari 120rb untuk ketinggian 250 meter , atau 160ribu untuk 300 meter dengan jalur naik dan turun berbeda, atau bisa juga sampai puncak dengan biaya 360rb/per orangnya.

Insyaalloh aman selama mengikuti instruksi pemandu, pasang peralatan yang tepat, dan konsentrasi yang tenang, ada asuransi juga trus yang paling utama adalah berdoa kepada Allah SWT agar senantiasa mendapat perlindungannya. Juga klo nggak barengan sama pasangan hidup, istri atau suami, minta ijinlah demi kebaikan semua (xixixixi…. pengalamann pribadi yaaaach?… gubrak).

Photo : Sedikit mengambang dulu / Pic by Mr R.

Udah dulu yaaach, eh satu lagi, jika sudah turun dari pendakian, istirahat dulu sejenak di tempat awal pemberangkatan… luruskan badan, kaki dan hati, tarik nafas dalam-dalam sambil berucap syukur atas kelancaran pendakian hari ini.

Setelah istirahat mendinginkan badan, bisa juga mandi di kamar mandi yang tersedia, airnya segar dan bersih, ganti baju dan tentu shalat jika sudah tiba waktunya. Selamat mencoba mendaki kawan, jangan hanya mendaki hati tapi coba mendaki gunung andesit ini. Wassalam (AKW).

***

Menuju Gunung Parang.

Lokasi pendakian adalah tujuan, berangkat.

Photo : Terbang dulu yuuk… / dokpri.

Chapter II

PERSIAPAN PENDAKIAN, lanjutan dari chapter I. Keinginan vs BB.

PURWAKARTA, akwnulis.com. Berat badan menjadi pertimbangan karena khawatir tidak kuat dalam menghadapi tantangan kenyataan. Tetapi semangat dalam diri tetap membara dan ingin membuktikan bahwa serpihan keberanian dan kemampuan itu masih ada, masih tersisa.

Segera berkontak dikala mulai merasa siap dan berat badan menjadi pembahasan prioritas, ternyata jawabannya menyejukkan, “Ah segitu mah nggak berat atuh Kakak”

Agak plong perasaan tertekan yang ada, langsung bersiap dan bersegera menyusun rencana, sebuah rencana yang pernah tertunda bertahun lamanya.

Berangkaaat……

Eh, persiapaaaaan…. dulu atuh.

***

Perjalanan dari Bandung ke lokasi yang sudah diimpikan bertahun-tahun lalu terasa menyenangkan, meskipun di tol Cipularang ada suasana sedikit beda, apalagi mendekati km93-91, rata-rata pengendara mengendurkan kecepatan dan lebih berhati-hati, sambil sesekali memandang sisa-sisa bukti benturan dan goresan akibat tabrakan karambol yang melibatkan 21 kendaraan beberapa waktu lalu,

Semoga para korban meninggal khusnul khotimah dan yang luka-luka kembali sehat seperti sediakala begitupun keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, keikhlasan dan ketawakalan.’

Mobil terus melaju….

“Bentar.. bentar, memangnya kakak mau kemana dan ngapain?”

Jawabannya senyum dikulum dam tatapan penuh arti, meskipun moncong kendaraan sudah menuju kepada arah yang pasti. Keluar dari pintu tol Jatiluhur belok kanan menuju daerah Sukatani. Selanjutnya tinggal ketik saja ‘Badega Gunung parang’ di aplikasi gugelmap.. dan ikuti perintahnya.

Dari keluar pintu tol hingga sampai di TKP memakan waktu sekitar 35 – 40 menitan, dari jalan utama purwakarta – bandung belok kanan melewati pasar anyar sukatani, daan… beneran masuk pasar… kendaraan berjalan perlahan menyusuri jalur pasar yang ramai pengunjung, hingga akhirnya melewatinya dan memulai perjalanan di jalan kampung yang cukup sempit tetapi lumayan sudah beraspal… ikuti saja belokan demi belokan.

Buat yang belum pernah ke lokasi dan suangaat bergantung dengan gugelmap

…..Pastikan pake operator yang internetnya stabil, jangan sampai putus petunjuk ditengah jalan dan akhirnya kebingungan….

…eh tapi jangan takut juga, gunakan saja ilmu dasar komunikasi, berhenti sejenak dan bertanya dengan santun kepada orang yang ditemui.

“Dupi ka Gunung parang ka palih mana?”…. Pasti dapet jawaban, kecuali nanyainnya ke sapi atau ayam.. dijamin makin tersesat kawan.

Kami kebetulan mengaktifkan guglemap di masing-masing smartphone dengan operator seluler yang berbeda, sehingga bisa saling melengkapi sekaligus membully kawan yang sinyalnya hilang terus hehehehe.

Ke lokasi Gunung parang ini lebih enak pake motor, tetapi jikalau berkendara roda 4 hindari pake sedan apalagi yang ceper, ntar nyangkut lho karena beberapa titik jalan mendekati tkp dalam kondisi yang cukup menantang dan sebaiknya kendaraan yang ground clearence yang tinggi… ya kayak avanza/xenia, elf,panther,kuda,katana,crv… lhaa kok disebutin semua?…… atau seperti kami menggunakan Toyota Rush (kok jadi kayak iklan ya?)…

Lanjutt……

Tiba di tempat yang dituju disambut dengan gerbang ‘Badega Gunung Parang’, perlahan tapi pasti kami memasuki area parkir dan disambut suasana alami dengan background gunung batu yang menjulang tinggi.

Photo : Nangkring di saung warung / Pic by Mr R.

“Alhamdulillahirobbil alamiin, akhirnya kami bisa tiba disini, tempat yang sudah lama ingin mencoba dan merasakan tantangannya”.

Segera menuju saung dan ternyata warung, sebagian lagi bergegas ke tanah lapang untuk berpose dengan latar belakang gunung parang…

woy….. ikutaaaan… loncaaat… cetreek.

To be continue Chapter III, MENDAKI LAGI. Wassalam (AKW).

***

Kopi RenBis BUMD

Sensasi minum kopi praktis sambil bikin sesuatu….

Photo : Kopi & Topi / dokpri.

KUTA, akwnulis.com. Menjelang malam, suasana di sepanjang jalan Kuta Bali tetap semarak, hilir mudik manusia dengan segala passion dan keinginannya, menjadikan malam yang ramai dengan celoteh serta dentuman musik yang menggetarkan hati.
Tetapi karena tugas negara harus tuntas dikeesokan hari serta kekuatan raga ada batasnya, maka diputuskan memisahkan diri dari semarak malam dan kembali ke tempat menginap untuk bergumul dengan laptop kesayangan dan mencumbui aplikasi microsoft office untuk menghasilkan sesuatu yang berguna.

Tetapi sebelum tiba di hotel, menyempatkan diri mampir di Toko oleh-oleh Khrisna di dekat bandara I Gusti Ngurahrai yang memang buka 24 jam…… Belanjaaa…….

Nggak ding…..

Photo : Isinya 2 bks kopi luwak & 2 bks lanang peaberry / dokpri.

Cuman nyari kopi asli yang penyajiannya praktis buat menemani kerja malam depan laptop malam ini.

Berkeliling menyusuri rak-rak besar di Toko Khrisna pas midnight guys… tetep rame banyak orang… hingga akhirnya menemukan pilihan kopi yang memang praktis dalam penyajiannya.

Sekotak kopi ini harganya Rp 52ribu, isinya 4 buah bungkusan, 2 buah kopi luwak dan 2 buah kopi lanang peaberry yang dibuat oleh Bali Iswara….. ditambah sebuah topi pelindung panas juga buat sedikit bergaya dikala beredar di pulau dewata.

***

Di kamar hotel 2320, kopi praktis ini dieksekusi. Tinggal buka, trus khan ada telinganya kanan kiri. tempat aja di dinding gelas, buka bungkusnya… tingggal currrrr…. perlahan tapi pasti, air panasnya mengekstraksi…. meneteslah cairan kopi yang harum dan penuh misteri.

Hmmmm….. bikin semangat nich.

Sang mata ternyata tetap segar padahal jam hampir mendekati pukul 01.00 dini hari….. maka diisi dengan kutrat kotret dan membuat power point tentang Rencana Bisnis BUMD berdasarkan pasal yang ada dalam Pmdn 118/18….. ketikkkk…. ketik.

Rencana bisnis adalah rincian kegiatan (BUMD) dalam jangka waktu 5 tahun yang selanjutnya di break down dengan RKA, yaitu rencana kerja dan anggaran pertahun.

Photo : Beberapa slide presentasi renbis rka / dokpri.

Permendagri 11/2018 ini merupakan turunan dari PP 54/2017 yang memberikan pegangan pasti dalam menyusun arah kebijakan BUMD sehingga singkron dengan perencanaan daerah dan berproses secara bertahap dengan pelibatan seluruh elemen terkait (stakeholders) baik internal maupun eksternal.

Maka bergabunglah ilustrasi gambar kopi dan pasal – pasal di Permendagri ini dalam bentuk power point yang mungkin berguna untuk siapapun yang memerlukan..
monggo sedooot….

Selamat menikmati kopi dan mempelajari presentasi tentang rencana bisnis ini…. ketik ketik.. sruputttt. Wassalam (AKW).

***

Catatan :
Buat yang moo download sabar dulu ya, plug in nya lagi diinstal dulu. Jadi sekarang liat capturenya dulu aja yaa… Maaf.

Wild Luwak Coffee.

Bercengkerama dengan Luwak sambil nikmati Wild Luwak Coffee di sini….

Photo : Senyum Ayu Baristi dan se cup Wild luwak coffee / dokpri.

UBUD, akwnulis.com. Berjalan diantara para penjual kerajinan di pasar Ubud Gianyar Bali bikin betah dan panas terikpun seolah bukan halangan. berbagai produk kriya, bermacam kerajinan menghadirkan pilihan yang sangat beragam.

Tetapi karena bukan itu fokusnya, maka hanya sebatas cuci mata dan nengok kanan kiri saja, sementara ibu-ibu dengan kemampuan alamiahnya pasti akan memilah memilih dan akhirnya menjinjing hasil pilihan terbaiknya untuk menjadi souvenir seseorang.

Setelah lurus dan hampir mencapai ujung pasar kerajinan Ubud ini, akhirnya sepasang mata tajam dengan moncong berkumis menyambut dengan senyum liarnya.. interesting.

Bulu halus hitam menutupi seluruh raga yang begitu lincah dan gemulai, mengajak lebih masuk ke dalam sebuah kedai yang dominan hiasan bali.

Photo : Cafe Bali Star di Ubud Gianyar Bali / dokpri.

Tiba di dalam disambut lebih akrab oleh para baristi Kafe Bali Star dengan senyuman tulusnya dan menawarkan berbagai varian kopi asli yang menggugah selera, klo nggak salah namanya Ayu.

Berhubung sang moncong berkumis sudah menguntit terus dari belakang, tak ada salahnya mencoba bercengkerama lebih akrab meskipun bebas dari kepentingan.

Perlahan tapi pasti kulitku bersentuhan dengan telapak kaki eh tangan mungil yang lembut tapi penuh tenaga untuk mencengkeram… awww… Sang Luwak tetrsenyum sambil nengok ke kanan dan ke kiri, “You kenapa?, sakit tangannya?”

“Nggak Wak (maksudnya luwak), cuman geli-geli gimana gitu”

Sang Luwak tersenyum penuh arti, lalu bergerak menaiki pundak, leher dan kepala… aduh calutak pisan (Nggak sopan), tapi mungkin inilah dampak dari sok akrab….. jadi aja nggak mau lepas, susah mau berpisah… ada chemistry kayaknya…

Photo : Senyum penuh kegetiran / pic by NN.

Sambil sang Luwak masih bertengger, pilihan kopi yang akan dinikmati tanpa gula semakin menarik.Di cafe Black Eye sudah menikmati manual brew V60 arabica kintamani, maka di Cafe Bali Star ini harus mencoba yang paling spesial… yaitu ‘Kopi Luwak Liar’.

“Apaan tuh?”

Kopi luwak liar adalah kopi yang langka karena tidak ditanam dan tidak dibudidayakan, begitupun luwaknya bukan luwak yang berada di kandang atau di penangkaran, tetapi luwak liar yang berada di hutan…..

Tadinya memang tidak tertarik dengan kopi luwak, karena selain terbayang binatang luwaknya yang terkungkung jeruji kandang dan mungkin jadi sedih karena keterkekangan, juga dari sisi harga memang bisa di nilai selangit.

Tapi disini, rasa penasaran adalah sebuah modal untuk mencoba sajian kopi yang berbeda, biji kopi yang berasal dari hutan dan di fermentasi oleh pencernaan luwak liar, maka bisa menghasilkan rasa spesial khas bin unik.

“Ini jenis kopinya arabica atau robusta?”

“Nggak tau om, saya beredar di hutan terus ada pohon kopi siap makan, ya makan dech…… trus entar…… procot….. legaaa” gitu Sang Luwak yang makin menggelendot manja, meskipun gigi tajamnya mulai iseng gigitin jari, meskipun gigitannya penuh kasih sayang…. tapi jari jemari penuh dengan air liur luwak itu… sesuatu bingiiiit……

Tisu basaah… mana tisu basaaah!!!..

***

Sajian kopi luwak liar diproses oleh (neng) Ayu sang baristi, dengan panas air 80° celcius menggunakan perbandingan 18 gram diadu dengan 230ml air….. “gimana rasanya yaaa?”

Asli bikin penasaran….

Nunggu dulu sambil mengamati proses manual brewnya, tangan sang baristi cekatan mengolah proses mengawal sebuah cerita tentang prosesi kopi yang bisa memberi arti dan jalinan cerita yang terkadang tidak untuk dimengerti, tetapi melekat di hati.

Tak berselang beberapa menit…..

“Silahkan Mas”

“Makasiiih”, Secangkir cup kertas disorongkan ke muka, dengan cekatan segera di terima. Di cafe ini, kopinya tidak disajikan dengan bejana saji dan gelas kaca tetapi cukup dengan cup kertas di tambah stiker bertuliskan ‘Wild luwak Coffee’…. Srupuuuut…..

Woaah rasanya agak asing… enakkkkk ….. Bodynya low, acidity medium tetapi aftertastenya muncul rasa manis alami yang agak sulit di definisikan… dan ternyata inilah khasnya kopi luwak liar…. ada rasa manis alami yang selarik muncul tetapi dengan rasa khas alami…. eddddun euy.

Menurut Ayu baristi, kopi luwak penangkaran menghasilkan rasa asam (acidity) yang tebal dan ninggal, tetapi minim rasa manis seperti kopi luwak liar ini…. sayangnya tidak keburu menikmati kopi luwak penangkaran karena agenda perjalanan ada yang harus dituntaskan.

Akhirnya harus berpisah dengan si monyong lucu yang menggemaskan, seekor luwak yang sudah agak jinak, meskipun wajahnya tetap memperlihatkan pandangan tegas dan berbahaya.

dahhh luwak..
dah baristi…. dadaah semuaa… muaach… good bye.

Untuk harga per cup eh persajian agak lupa karena ada yang nraktir hehehe… makasih mas DK & kang IR… jangan bosan yaaa.

Akhirnya kembali melewati kembali pasar kerajinan dengan membawa sebuah kenangan, pernah bercengkerama dengan Sang Luwak sekaligus menikmati sajian kopi luwak liar, Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
Cafe Bali Star
Jl. Karna, Pasar Kriya Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.

Obat Penenang – Kopluprégar

Ketenangan hadir melalui obat yang tepat.

Photo : Sajian Koplupregar lengkap dengan peralatan/ dokpri

JATINANGOR, akwnulis.com. Dinginnya malam di Kamar 103 Kampus Kiarapayung begitu kejam menghujami kulit tipis kami. Sesekali angin menyelusup, menyapa dengan seringainya menyusuri kuduk yang kerap meremang.

Untung saja obat penawarnya ada, beberapa bungkus obat penenang tradisional dengan peralatan lengkap satu kontainer plastik. Dibawa khusus untuk menghadapi situasi seperti ini.

“Obat penenang?, hati-hati ah, jangan sembarang bawa obat begitu. Nanti diciduk petugas”

“Udah selow aja kata Wahyu juga (maksudnya lagu Selow yang dinyanyiin Wahyu), cuman segini doang” sambil mengeluarkannya dari dalam kontainer.

Wahhh… ini mah banyak sekali, ah bahaya ini mah.. bahaya” suara parau kawanku yang phobia dengan penangkapan. Tangannya tak henti meremas bungkus alumunium voil.

“Baca atuh bungkusnyaaa…. ini bukan tablet isinya bro, isinya bijiiiii…. biji kopiiii”

“Biji kopi?… tadi katanya obat penenang?”

“Iya penenang hati yang sedang galaw karena rasa dingin dan kegamangan.. ahaaay”

“Sialaaan”

Segera berlari menghindari kejaran kawan yang kalap karena nggak terima dengan kejadian ini.

Makanya jangan phobia berlebihan.

***

Setelah peralatan lengkap di meja, prosesi dimulai. Pasang kertas filter dicorong V60, timbang biji kopi dan digrinder dengan ukuran suka-suka, goyang-goyang 2-6. Siapkan air panas dengan termos pemanas.. josss.

Sang waktu menjadi saksi dikala air panas membasahi dulu kertas filter, serpihan biji masuk saringan, proses blooming bikin harum ruangan yang sebelumnya diawali oleh aroma biji kopi Luwak Garut yang terpecah oleh keperkasaan mesin grinder.

92° celcius sebuah angka yang tepat untuk menyeduh biji kopi spesial dari salah satu tokoh di garut, nuhun pak haji Aam… currr, puter-puter.

Tes.. tes… obat penenang menetes di bejana kaca transparan.. horee.. horeeee…

Aroma khas arabica menyeruak menjadi penenang pertama, diikuti dengan acidity maksimal khas kopi luwak (jangan sambil bayangin kopi yang keluar dari ‘anu’ luwak yaaa….. ), body kopinya medium dan dari keseluruhannya nikmat maksudddnyaaah.

Photo : para pemburu ketenangan / dokpri.

By the way, anyway…. obat penenang itu bernama Kopi Luwak Premium Garut (Koplupregar) versi spesial yang diproduksi oleh CV Dwi putra laksana….

Srupuuut.. srupput, gelas-gelas mini menyambut kehadiran obat penenang suasana ini secepat kilat, sehingga 50gr kopi yang berubah jadi cairan hitam coklatpun tandas dalam waktu singkat.

“Alhamdulillah, udah pada tenang semuanya,……”

“Iyaaaaaaa.. tenang dan senang”

Dinginnya malam sekarang menjadi sahabat, karena dipererat kebersamaan yang berbalut ketenangan. Canda dan tawa serta cerita Bali, Bogor dan Sukabumi serta Cimahi menguatkan kembali chemistry yang telah terjalin kuat di kaki Gunung Manglayang ini. Wassalam (AKW).

Bukan Kopi tapi Makanan Sehat-i

Bukan hanya kopi tapi makanan sehari-hari bisa menjadi inspirasi.

Photo : Soup buah ala Serasa / dokpri

CILAKI, akwnulis.com, Setelah membombardir kawan sahabat, kenalan, bos-bos dan berbagai kontak di aplikasi whatsapps dengan link tulisan blogku ini, ternyata feedbacknya variatif. Mayoritas memuji tetapi ada juga sebuah cibiran yang mengiris hati. Trus dari sisi kesadaran membaca isi blog via link yang dikirimkan via japri, ternyata masih dibawah 50%… oalaaah, kebanyakan baca judul dan mini judul… udah aja ngasih simbol jempol.

“Lho kok tau panjenengan?”

“Jamannya wis canggih, ada data statistik yang bisa diolah lho”

Tapi tidak mengapa, itu semua nggak bakalan ngelunturin semangat menulis ini. Meskipun nulis tanpa kerangka baku, yang penting aliran ide dalam kepala menjadi buah pikir yang tersaji melalui tulisan, meskipun bukan cerminan utuh diriku yang fana ini.

Photo : Kopi Luwak Lembah Cimanong dijagain sama tikus besar.. eh luwak aneh / dokpri.

Banyak juga yang komplain dengan tulisan nglanturku tentang kopi.

“Kopi lagi kopi lagi”

“Mbok ya ngirim kopinya gitu lho, bukan tulisan aja”

“Bosen ih, ganti nulis yang lain donk”

Tapi tidak sedikit yang mendukung, apalagi dilanjut ngajak ngopi… ini yang asyik. Ada juga yang ngirim sampel kopi untuk diseduh sendiri dan minta dibuat review di blog ini.

Alhamdulillah, dengan tulisan tentang kopi, blog ini terus bisa tersaji. Karena kopi itu bisa ditulis dari berbagai sisi dan dimensi. Terkadang miliki makna hakiki atau juga hanya menjadi perlintasan malam yang sepi.

Kini menulis tentang hal bisa, yaitu menu makan siang. Hal yang biasa tetapi ternyata miliki berjuta makna.

Konsepnya adalah makanan berbasis sayuran dan buah, tetapi dengan penyajian yang apik biss memberi nilai tambah dan tentu urusan harga bisa berbeda.

Photo : Sajian salad roll ala Serasa yang ciamik / dokpri

Makan siang kali ini, adalah Salad roll dan soup buah ala Cafe Serasa yang bertempat di Jalan Cilaki Bandung, depan Pet Park dech atau klo yang doyan makanan jepang, diseberang bunderan Shabuhaci.

Aneka sayuran dibungkus pake kulit kayak lumpia gitu tapi tipis banget sehingga terlihat transparan. Dalamnya ada wortel, paprika, mentimun, kol ungu dan apalagi yaa?… disajikan dengan dressing home made yang rasanya enak.

Capit pake sumpit, celup ke mangkuk kecil dressingnya.. happ, nyam.. nyaam.

“Kenyang nggak?”

“Nggak euy hehehehe”

Buat ngenyanginnya pesen soup buah yang ditata ciamik, diatasnya ada taburan cornflake. Buahnya potongan apel, buah naga, semangka, mangga, melon dan…. euh keburu abis dimakan.

Oh ya dressingnya itu yoghurt lembut dengan rasa halus, terasa menyatu disaat masuk ke mulut, ada sedikit asam dan segurat rasa manis.

Gitu dech makanan kali ini, insyaalloh makanan sehat dan sehat-i, Wassalam (AKW).