Nyoba MRT jakarta.

Akhirnya bisa menikmati MRT di negeri sendiri.

Photo : Kartu single trip MRT & kartu duit elektronik / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Sebuah kebanggaan menyeruak dikala meeting tuntas dan waktu luang masih tersedia sebelum tiba saatnya harus kembali ke Bandung menggunakan kereta api dari stasiun gambir jakarta.

“Emangnya moo kemana?.. ngopi yach?”

Ahay, pertanyaan tentang ngopi alias minum kopi menjadi common judge bagi diriku, sebagai penggila kopi, penyuka kopi yeaah… pokoknya minum kopi kapanpun dimanapun. Padahal, itu hanya pencitraan kok. Itu hanya sekelumit rutinitas kehidupanku yang merupakan salah satu syukur nikmat terhadap rejeki yang ada yaitu bisa menikmati kopi tanpa gula, kopi asli seduh manual dan offcourse without sugar, karena sudah manis seeeh….

Gubrak!!!!

Trus yang bikin keren adalah, semakin kita bersyukur dengan salah satu nikmat Illahi ini, semakin sering berkesempatan, berjumpa dengan beraneka jenis kopi atau kedai kopi, restoran yang menyediakan sajian manual brew hingga pas dapet kamar hotel…. eh ada mesin espressonya… ngopi lagi. Alhamdulillah.

Balik lagi ke waktu luang ini, meetingnya di area perkantoran SCBD (Sudirman Central Business Distrik) Jakarta, dan deket banget sama pintu masuk ke MRT Jakarta.

“Ohh… moo nyoba MRT, belum pernah yach?.. kacian”

Ya memang belum pernah, maklum jarang ke kota besar hehehe. Ah nggak usah dimasukin ke hati klo ada pernyataan nyinyir mah, biarkan saja. Memang belum pernah naik MRT di Jakarta, jadi mari kita coba. Cekidot.

Masuk dari stasiun Istora menuju Stasiun Bunderan HI, lalu keluar area stasiun… trus masuk lagi... jadi start resmi dimulai dari Stasiun Bundaran HI….. berangkaaat.

***

MRT Jakarta (Mass Rapid Transit) menjadi kebanggaan diriku sebagai warga NKRI, jadi bagi yang belum pernah mencoba MRT, nggak perlu musti terbang ke singapura. Sekarang tinggal beredar di ibukota, cari akses ke beberapa stasiun MRT….. langsung cobaa.

Oh iya, yang kepo dengan MRT ini, dari mulai sejarahnya, siapa yang jadi penanggungjawabnya, berapa biayanya termasuk bagaimana kelanjutan dari proyek MRT ini, tinggal pantengin aja.. eh emangnya radio.. 🤣🤣🤣, maksudnya klik aja website resminya DISINI.

Photo : Kolase ekspresi girang naik MRT / dokpri.

Nah karena aku juga baru berkesempatan nyoba sekarang, maka pengen berbagi sekaligus pamer, semoga menjadi informasi yang bermanfaat sekaligus ngomporin yang belum pernah nyoba, pasti ketagihan lho… dijamin.

MRT yang sekarang sudah resmi beroperasi terbentang dari Bundaran HI, nggak pas bundaran HI sih. Tetapi sedikit bergeser ke depan Plaza Indonesia ada petunjuk yang sangat jelas tentang pintu masuk MRT. Baik di kiri jalan depan Plaza Indonesia, di ssberang jalan Thamrin ataupun di jalur tengah tempat naik busway, cuman klo lewat jalur busway ini musti lewati dulu orang-orang calon penumpang busway baru di ujung ada jalan turun ke bawah tanah.

“Ticketnya gimana?”

Nggak usah khawatir, pokoknya turun dulu aja ke bawah tanah… cuss, bisa via tangga dengan anak tangga yang lumayan banyak… latihan dengkul, atau bagi calon penumpang prioritas tersedia lift yang diperuntukan untuk lansia, bumil, busui dll.

Nah pas nyampe lantai bawah, banyak penawaran kartu duit elektronik baik dari beberapa bank nasional seperti e-money mandiri, flazz bca, brizzi bri, jak-card ataupun tiket sekali jalan yang dikeluarkan pihak MRT yaitu single trip card yang berlaku selama 7 hari.

Klo yang pertama kali, mendingan pake kartu yang dikeluarkan MRT, lumayan buat kenang-kenangan, untuk selanjutnya bisa pake e-money yang sudah dipunyai.

Pembelian single trip cardnya bisa via petugas, harganya 20ribu untuk kartunya dan 14ribu untuk biaya dari stasiun HI sampai Stasiun Lebak bulus…. murah khaan?... atau juga melalui mesin.

Caranya gampang, baca petunjuknya secara seksama dan sejelas-jelasnya, ikuti instruksi, keluar deh kartu yang diminta… jikalau bingung, bertanyalah pada petugas…. ingat dengan pepatah lawas, ‘Malu bertanya sesat di jalan, besar kemaluan susah berjalan’.

Beres urusan kartu, baru menuju mesin entri. Tempel dan masuklah kita ke area keberangkatan, tengak temgoklah petunjuk yang bertebaran… ikuti instruksi.

MRT yang datang akan membuka pintu otomatis, maka prioritaskan orang yang keluar dan masuklah dengan tertib.

Jikalau dapat tempat duduk, duduklah. Tapi prioritaskan lansia, bumil, busui dan… lihatlah petunjuk diatas kursi prioritas… jelas kok disana.

Lebih aman berdiri sambil berpegang tali, jangan lupa ambil photo selpi dan segera upload karena para netizen menanti….. eaaaaaaa.

Dari Stasiun Bundaran HI kita akan berhenti di stasiun dukuh atas-setiabudi-benhil-istora-senayan-sisingamaraja-blok M-blok A-haji nawi-cipete raya-fatmawati-.. hingga berakhir di stasiun Lebak Bulus.

Klo udah nyampe, jangan lupa photo-photo lagi, trus tap tiket di mesin untuk keluar, dari situ cari mesin lagi atau petugas untuk beli tiket 14ribu atau top up kartu elektronikmu… masuk lagi dech dengan cara yang sama, tap lagi di pintu masuk…. cekidot.

Nah…. saran aku sih, pilih gerbong MRT terakhir… dijamin masih kosong melongpong.

Trus?….

Disinilah sifat asli wong ndesonya muncul. Pertama sih pose jaim (jaga image), lalu mulai sedikit berulah, pegang sana sini, loncat-loncat… ih bikin malu aja.

Malah diriku juga kepeleset saking semangatnya loncat dan diabadikan oleh seorang rekan…. hasilnya jadi bisa berpose tiduran di lantai gerbong MRT…. aduuh malu. Tapi apa mau dikata, sekarang semua orang jadi pewarta dengan modal smartphonenya, jadi harus ikhlas jikalau photo nggak kobe (kontrol beungeut/wajah) kita tiba-tiba nongol di WAgrup tetangga… alamaaak.

Ah udah ah seru-seruannya, akhirnya kembali duduk di kursi yang tersedia karena di stasiun berikutnya mulai masuk penumpang lainnya dan semua kembali jaga sikap seolah-olah tidak ada kehebohan apa-apa.

Trus yang menarik untuk MRT koridor Bundaran HI sampai lebak bulus itu akan kita dapatkan 2 pengalaman sekaligus. Yaitu perjalanan gelap dari bawah tanah, trus di daerah depan Al Azhar sebelum Blok M, gerbong MRTnya muncul ke permukaan dan langsung berada di atas jalan serta hamparan kota jakarta selatan, excited bingit.

Jadi, yang belum mencoba.. disegerakanlah, bukan hanya menikah bagi para jomlo yang sudah berani eh mampu yang disegerakan, tetapi menjajal MRT inipun harus menjadi prioritas…. mungpung masih agak lowong.

Photo : Dulu, naik MRT di Singapura / dokpri.

Besok lusa tentu akan menjadi lebih padat karena merupakan tulang punggung transportasi massal di Jakarta… percayalah.

Oh iya satu lagi, ada satu stasiun yang akses langsung ke mall yaitu stasiun Mall Blok M… keren khan?… jajal MRT trus nge-mall, shopping, masuk lagi MRT… tepat waktu, murah, cepat dan bersih….. ayoo cobaa.

Oke itu dulu aja cerita kelakuan ndesoku, jikalau dulu berteriak girang karena bisa menjajal MRT di negeri singa, sekarang lebih berbangga karena menikmati MRT di negeri sendiri. Wassalam (AKW).

Meraih Monas

Bekerja sambil berolahraga di area Monumen Nasional Jakarta.

Photo : Situasi Jl. Merdeka Barat menuju J. Thamrin Jakarta

JAKARTA, akwnulis.com, Mendarat di Gambir, atau tepatnya tiba di Stasion Gambir setelah menikmati perjalanan yang begitu lancar dengan Argo Parahyangan begitu menyenangkan. Meskipun kereta yang ditumpangi adalah kelas ekonomi premium, tetapi cukup nyaman, bersih dan bebas asap rokok. Ya sedikit pegal karena kaki tidak bebas bergerak karena berdempetan dengan kursi depannya. Maklum kelas ekonomi premium.

Apalagi godaan kesabaran muncul, di kala kursi depanku langsung ambil posisi kursi dengan sandaran maksimal sehingga hampir mengenai hidung ini. Tadinya mau di damprat, cuman pas liat, ibu-ibu. “Ah nggak berani sama emak-emak mah, biarin aja.” Anggap aja latihan kesabaran.

Dari gambir ke tempat meeting berada di seberang Monumen Nasional. Kami berdua nggak pesen grab dan gojek atau taksi yang ada tetapi menggunakan ‘skuter’ (suku muter : jalan kaki).

“Why?”
“Ngirit yaaa?”

Kembali senyuman yang menjadi jawaban. “Mau tau alasannya?”

“Kami lagi mengembalikan kembali pola olahraga rutin harian yang sudah bertahun-tahun ini dilakukan dengan asal-asalan dan sesempetnya aja. Padahal olahraga rutin jalan kaki minimal 30 menit tanpa jeda per hari itu bisa menjaga metabolisme tubuh khususnya pencernaan sehat dan lancar.”

Photo : Arus lalin di Jl. Merdeka Barat / akw.

Dan inilah aktifitas yang dilakukan, jalan kaki keluar dari stasiun gambir, mlipir ke kiri area monumen nasional dan berjalan menuju ruang meeting di seberang sana di Jalan Merdeka Barat Jakarta Pusat.

Lumayan 30 menit bisa dilalui dengan berjalan dan ada bonusnya lho, yakni meraih Monas.

“Maksuuudnya?”

“Iya mencapai puncak Monas dengan satu gerakan tambahan”

***

“Bagaimana caranya?”

Tanpa perlu banyak penjelasan, segera ambil ancang-ancang. “Satu.., duaa…., loncattt”

3x loncat akhirnya bisa meraih Monas, Alhamdulillah. Lumayan ngos-ngosan dan keringat mengalir deras setelah berjalan cepat dari Stasiun Gambir.

Tuntas meraih Monas, kembali berjalan menuju tempat meeting di Gedung Sapta Pesona Lantai 14. Tidak lupa menaiki jembatan penyebrangan dan mengabadikan kondisi lalu lintas di Jalan Medan Merdeka Barat termasuk yang menuju Jalan Thamrin Jakarta Pusat.

***

Jadi, hari ini bisa berdampingan antara tugas meeting di Jakarta dengan olahraga harian minimal, yaitu 30 menit plus plus berjalan kaki, maksudnya plus loncat hehehehe. Meskipun cerita jalan kaki ini belum tuntas, karena usai meeting adalah kembali mengejar jadwal kereta sesuai karcis yang dipegang. Semoga tidak hujan dulu, sehingga bisa kembali berjalan kaki dengan senang hati. Wassalam (AKW).

Gairah di Pantai Sanur

Menjejak langkah di pantai Sanur.

Photo pantai & kolam renang di Sanur / dokpri.

Sanur, akwnulis.com. Kecipak air memanjakan pendengaran yang terus terpapar oleh kompleksitas pekerjaan serta berbagai rutintas kehidupan. Bukan suara air sembarangan, karena ini merupakan perpaduan dari suara alami air di pinggir pantai yang mewujud dalam bentuk debur ombak menyentuh karang. Beberapa meter dari suara alami itu, gemericik air menjadi deburan penuh keriangan yang terjadi di kolam renang…. Yups kolam renang pinggir pantai, sungguh menyenangkan.

“Dimana itu mas?”

“Ih kepo”

“Jangan pelit info donk mas, plis plis” suara berharap dengan memelas, meruntuhkan benteng pertahanan keengganan. Munculnya trenyuh berpadu senang karena sudah bikin penasaran seseorang, padahal informasinya juga bukan hal baru. Tetapi itulah kehidupan, sebuah cerita akan berbeda makna apabila disajikan dengan dasar pengalaman dan diramu penuh cinta untuk hasilkan catatan abadi bagi diri, juga mungkin bisa berguna bagi orang lain suatu hari nanti.

‘Oke, balik lagi ke cerita yaa’

“Tempatnya di Pantai Sanur Bali yaa”

“Oh di Bali, ih kamu jalan-jalan melulu, kapan kerjanya?” pertanyaan nyinyir dari seorang kawan yang merupakan kombinasi antara rasa iri dan ‘kabita’(kepengen) langsung bikin makin semangat untuk bercerita lebih banyak. Bukan untuk bikin makin iri tetapi membuka wawasan bahwa di sela-sela bekerja, bisa juga meluangkan sedikit waktu untuk mengintip tempat wisata dan jangan lupa menjadi bahan cerita.

Photo kapal berlabuh di Pantai Sanur / dokpri.

Lha wong klo ngobrol kerjaan, ya sami mawon, gitu-gitu aja. Tinggal bagaimana mengkemas dan memaknai semua gerakan kehidupan menjadi jalinan kalimat penuh makna.

“Kembali ke urusan air di sanur ya guys!”

***

Sebelum sesi pertemuan malam hari, maka jalan sore di pantai menjadi menu wajib. Pantai Sanur yang berpasir putih memiliki daya tarik untuk segera dinikmati. Secara kebetulan penginapan dan acara pertemuan bertempat di Grand Inna Sanur Hotel yang miliki akses langsung ke pantai Sanur. Jadi lebih efektif dan efisien.

Photo pantai sanur sebelum pasang / dokpri.

Pantai Sanur memiliki panjang pantai cukup panjang… “Ih nggak jelas!’ itu pasti respon netizen. Tetapi itulah kenyataannya, pertama melalui jalur search via mang gugel ada yang nyebut panjangnya + 3 km, ada juga yang 9 km, entahlah… lagian penulis pas nyoba jalan, lumayan panjang juga, tetapi menyenangkan, suasana segar nan bersih, klo panas sih udah pasti tetapi dengan semilir angin pantai yang terus mengelus perasaan maka rasa senangnya yang lebih dominan.

Pantainya pun terasa landai karena ada barrier batu karang yang menjadi pelindung dari ganasnya ombak lautan. Sehingga kami bisa bergerak agak ke tengah laut, sekitar 100 meter dari bibir pantai dengan kedalaman air laut hanya mencapai betis.

Photo : mencoba terbang hindari air pasang / mr. Ronni pic.

Beningnya air hampir saja melenakan kami yang terus bergerak ke tengah lautan, sebuah teriakan mengingatkan,

“Awas air pasangg!!”

“Astagfirullahal adzim, lari Mang!!” suaraku berbaur dengan gerakan cepat dari rekan-rekan.

Terengah dan tersengal terasa melegakan setelah sampai di bibir pantai berpasir, meskipun harus merelakan dompet ikut basah karena terendam sedalam pusar.

Smartphone aman karena dipegang dengan tangan dan mengacung menggapai langit.

Alhamdulillahirobil alamin, hampir saja musti berenang di air asin hehehe, padahal niatnya cuma moo berpose di pantai dengan tinggi air sebatas betis, ternyata datangnya air pasang nggak terdeteksi terhalang keceriaan dalam kebersamaan.

***

Esok hari menjadi menu wajib untuk mengabadikan hadirnya sang mentari disaat mulai menyinari bumi, inilah hasilnya :

Photo Sunrise di Pantai Sanur / dokpri.

Semburat keemasan menyapa permukaan air laut di Pantai Sanur, memberi nuansa gairah yang membangkitkan keinginan untuk bahagia. Siluet nyiur melambai memberi harapan bahwa kehidupan adalah perjalanan panjang.

“Info kolam renangnya gimana?”

“Sabarr, tunggu tulisan berikutnya yaa” Hatur nuhun. (AKW).

Photo loncat & Aku. Kamu?..

Ternyata berlevitasi telah dilakukan 3 tahun lalu dan sekarang dilanjut lagi. Hayuu… cobaa.

Menatap layar gadgetku, tersenyum sendiri melihat photo-photo terbang kawan-kawan dan juga bos-bosku. Mereka melayang beberapa senti diatas tanah, dengan wajah ceria dan sebagian tahan nafas. Sedikit tergurat rasa lelah, tapi sesaat terhapus oleh suasana gembira.

Wajar temen-temen dan para bos merasa hepi karena hasil photonya menyenangkan hati. Itupun bukan hasil instant, karena perlu persiapan untuk meloncat berulang kali agar mendapatkan moment terbaik.

Memang untuk berlevitasi alami butuh perjuangan lebih keras, tapi minimal sampai level jumpshot ceria sudah bisa dicapai. Alhamdulillah.

Levitasi adalah seni photography yang menghasilkan photo melawan gravitasi. Seakan terbang tidak menapak bumi, tapi bukan terlihat meloncat. Klo terlihat meloncat, itu namanya ‘jumpshot‘.

Ada juga yang menggunakan photoshop dan diedit sehingga melayang hasilnya. Tapi aku mah yach… alirannya yang alami ajah. Biarin ngesang (berkeringat) dikit, itu resiko perjuangan. Trus pakenya juga bukan kamera DLSR, cukup gadget we yang ada, khan cuman buat seru-seruan. Saat itu Samsung Galaxy Note 3 yang mulai digunakan cukrak cekrek.

Tapi sejak kapan yach mulai gandrung dengan gaya photo melayang?

……..

Penasaran… coba diingat..

Sumber : capture screen my IG

Eh sekarang khan jaman canggih. Tinggal buka instagram olangan… dan tralala… ternyata baru 3 tahun lalu, Agustus 2014 dan korban perdananya yang musti keringatan karena musti loncat 20x lebih adalah kawan-kawan di tempat kerja lama di jalan malabar Kota Bandung.

Sumber : capture screen my IG

Ada temen yang moo upacara HUT Kemerdekaan RI ke-69 dibajak dulu buat loncat-loncat pake baju Korpri, trus dilanjut bapak satpam yang baik hati sedang nyapu halaman.. disuruh juga lompat-lompatan dan diabadikan dengan smartphone yang ada.

Sumber : capture screen my IG

Begitupun di akhir agustus ada acara pekan olahraga di halaman gedung sate, 3 rekan berseragam olahraga melompat bersama. Termasuk sepupu yang sedang berwisata ke Tahura Dago, tak lepas dari permintaan untuk meloncat dan lumayan keren hasilnya (maaf muji sendiri).

Sumber : capture screen my IG

Dan sekarang, 3 tahun berlalu. Semangat jumpshot dan levitasi kembali menggelora. Tentu dengan strategi bagaimana agar tidak banyak loncat tapi hasilnya yahuud.

Jumpshotku di P. Belitung, 2017

Ternyata tetep saja harus take gambar lebih dari 10x loncat untuk satu photo melayang. Tapi hikmahnya memang terasa suasana gembira dan keceriaan serta dipaksa berolahraga dengan mode loncat-loncat ceria. 

Berlevitasi di Tanjung Aan, Lombok, 2017.

Cerita tahun ini tentang jumpshotku terasa lebih berwarna karena ada kawan yang pintar mengambil gambar pose melayang plus pelajaran berharga dari anak-anak kecil yang piawai bermain smarphone  sehingga bisa ikutan ‘terbang’ dan ‘melayang’.

Photo : Dokumen Pribadi

Terakhir ini photo Mr T yang cool dan cuek, akhirnya tertarik untuk mencoba sesaat terlepas dari bumi menjejak eksistensi.

Yang penting adalah, jalani kegiatan ini easy going, manfaatkan moment perjalanan baik urusan dinas atau pribadi dan jangan lupa, suruh orang lain loncat dan hasilkan photo ‘melayang’nya. 

Wassalam.

@andriekw

Gajahenam,   syawal 1438  H

Ber-Levitasi di Pulau Belitung

Akhirnya sebuah cerita tentang kami, grup dadakan yang senang loncat-loncat meski usia sudah tidak muda tuk wujudkan photo-photo levitasi kami

Demi mewujudkan mimpi bersama untuk dapat menghasilkan photo levitasi terbaik kami, maka disaat yang memungkinkan di sela pekerjaan yang bejibun, kami berusaha membuat photo levitasi terbaik versi kami.

Agar hasil photo levitasi kami tidak terlalu mengecewakan maka lokasi pemotretan harus yang kereen. Meskipun kami kurang berhasil atau tidak berhasil melayang… yaa minimal jump shot di dapat atau paling minimal lokasi dan pemandangan yang ada tidak kalah ciamik.

Baca juga : 

  • Mimpi & persiapan betLevitasi

Maka…… eksotisme Pulau Belitung menjadi pilihan kami yang kebetulan mendapat kesempatan berkunjung ke sini dalam rangka menunaikan pekerjaan. Suatu kebetulan atau keberuntungan?… yang pasti harus disyukuri dan ditafakuri.

Perkenalkan anggota levitasi kami yaitu :
1. Mr P

Anggota kami yang pertama mr P, orangnya humoris dan pantang menyerah, kuat mental diketawain banyak orang tapi tetap cool. Wajah sumringah dan ceria. Berlokasi di pantai putih Pulau Lengkuas Belitung, loncatannya begitu membahagiakan kami.

Akhirnya nyerah setelah 25x loncat, “Nanti dicoba besok setelah tenaganya pulih kembali”, ujar Mr P sambil telentang ngos ngosan di pantai.

Dan…. ternyata kata-katanya menjadi kenyataan. Dengan background replika SD muhammadiyah Gantongnya Andrea Hirata, mr P berhasil loncat dan menghasilkan jump shot ciamik di dekat bendera. Hebaat!!!!

2. Mrs L

Dia anggota baru tetapi cepat belajar, mungkin juga karena tubuhnya ringan sehingga berhasil meloncat meski belum sepenuhnya melayang.
Good job mis!!

3. Mr K

Ini anggota lama dan sudah sehati dengan penulis sehingga cukup lompat sekali sudah berhasil melepas pijakan di pantai.

Tapi ternyata susah juga, semua butuh pengorbanan no pain no gain ceunah dan akhirnya berhasil melayang di atas pasir pantai Lengkuas Belitung.

Selanjutnya posisi hormat bendera berhasil didapatkan di halaman SDnya Laskar Pelangi meski belum sempurna berlevitasi yaa… minimal sudah mendekati.

4. Mr L

Ini sih jump shot, tapi lumayan untuk pemula. Dan ekspresinya sangat cocok seperti yang di kejar monster laut… tulung.. tulung.

5. Mr A

Sebut saja begitu, penulispun harus berpeluh dulu sebelum dapat gerakan loncat yang membanggakan.
Jump shot di pasir putih Pantai Lengkuas Belitung.

(Hampir) levitasi di SDnya Laskar Pelangi, tapi kok jadi bantet yaa?….

Lokasi di Kecamatan Gantong Belitung Timur.
Itulah cerita tim levitasi kami yang bernama PLLAK team, gabungan dari nana-nama depan kami.
Salam melayang

Salam jumpshot

Salam Levitasi
Ciaooo….

@andriekw 

Belitong15160617

Mimpi bikin photo Levitasi

Tulisan iseng demi sebuah mimpi menghasilkan photo levitasi

Niatnya ngikutin grup photograpy yang membuat photo melayang, melawan gravitasi. Grupnya disebut aliran levitasi. Untuk mewujudkan hal tersebut ternyata banyak faktor penentu. Diantaranya :

1. Niat.

Niat ini adalah faktor strategis utama karena bisa mendongkrak keinginan serta memberi motivasi lebih kepada siapapun yang ingin menghasilkan gambar photo levitasi terbaik. 

2. Daya tahan phisik.

Daya tahan phisik menjadi hal yang diperhitungkan karena proses pengambilan gambar harus didukung kemampuan loncat – loncat dan loncaaat yang mumpuni.

3. Tidak pemalu

Nah perilaku pemberani menjadi penting, apalagi pas lincat-libcat depan orang banyak. Klo anak kecil sih dimaklum atau Abege. Klo orang tua mah ntar disangka masa kecil tidak bahagia. Tapi demi hasil yang endeees blegedes mantaab, rasa malu ditekan dan loncaaat.. jepret.

4. Sarapan 

Faktor penting adalah isi perut dengan sesuatu, minumal segelas teh hangat atau kopi hitam tanpa gula. Jangan terjebak sarapan itu nasi dan kawan-kawannya lho guys. Bisa juga cuman setetes madu ditambah 2 sendok Virgin Coconut Oil. Ciaooo…

5. Pakaian

Harus diingat bahwa pakaianpun harus yang berbahan kuat. Khawatir pas melompat dengan gerakan tiba2 langsung robek, apalagi depan orang banyak. Bisa jadi bahan tertawaan dan memori kelam seumur hidup.

6. Kamera

Peralatan yang ideal adalah Kamera LSR atau D-LSR tapi asumsi itu bisa salah, karena dengan kamera smarphonepun bisa hasilkan photo levitasi yang bagus. Tinggal menghafalkan shutter lag nya dan pencahayaan yang pas, jadi deh.

7. Jempol sensitif.

Jadi sang ibu jari wajib banyak berlatih untuk memencet shotter atau layar Hape tepat waktu, karena urusannya detik demi detik.

Catatan terakhir adalah jangan terjebak dengan jump shot alias photo loncat. Levitasi itu loncat dengan seni, yaitu ekspresi datar, pakaian tidak tersingkap tetapi mengambang diatas bumi.

Udah ah segitu dulu.

@andriekw Cimohay_170617