Kopi Luwak Cikole.

Menikmati sajian kopi unik alami dari Cikole Lembang Jawa Barat.

LEMBANG, akwnulis.com. Bilboard besar di jalur jalan sebelah kiri Cikole Lembang memang sangat mencolok, tetapi kesempatan untuk bisa datang harus punya waktu khusus dan kesempatan nan elok sehingga akhirnya bisa berbelok.

Belok kemana kang?”

“Belok ke kiri kalau dari arah bandung, kalau dari arah subang yaa belok kiri dech”

Adduh Gubrak!!!

Maksudnya mau belok ke mana?”

“Iyaa ke kiri beloknya klo dari arah bandung…. “πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€…”

Maafkan kawan, ternyata bercanda itu obat lho, obat stres tetapi dengan syarat tidak bercanda berlebihan.

Beloknya ke arah Kopi Luwak Cikole, yang bilboardnya besar dengan petunjuk arah berwarna mencolok tea geuning.

Ohh…. mau ngopaay, ih kerjaannya ngopay muluu… apa nggak bosen.?”

“Hehehehe, boro-boro bosen, justru sangat banyak kesempatan ngopay di sekitar kita yang belum tersruputi, tapi kesempatan waktu dan dananya yang terkadang tidak pas. Dananya ada eh waktunya nggak sempet, begitupun sebaliknya pas waktunya nggak sempet ehh dananya ada… tetep nggak bisa. Malah pernah beberapa kali, dananya tersedia dan waktunya ada…. eh kedai kopinya tutup, pas lihat jam… jam 02.00 dini hari, Pantesaaaan….”

Udah ah bercandanya. Jadi sekarang kesempatannya hadir, bisa berbelok menuju tempat dimana kopi luwak diproduksi dan tentu bisa dinikmati yang tersaji dengan secangkir kopi alami…. lets go bro.

Photo : Secangkir Kopi Luwak Cikole / dokpri.

Dari arah bandung yang jadi patokan adalah komplek perkantoran UPTD dan sekaligus Rumah Sakit Hewan Provinsi Jawa Barat… ini letaknya di sebelah kanan… nah sekitar 200-300 meter dari situ (maaf kemarin nggak sempet diukur akurat).. sebrang sebelah kiri ada bilboard besar bertuliskan ‘Kopi Luwak Cikole’ dan kita bisa langsung ikuti arah jalan belok kiri masuk ke jalan desa. Jangan khawatir tersesat karena petunjuk jalan selanjutnya cukup jelas sehingga relatif mudah mengarahkan stir dan moncong mobil atau motor menuju TKP. Yang lebih simpel yaa pake google map or waze, tapi klo abis batere hapenya ya… kembali ke rumus tadi, petunjuk manual.

Tiba di lokasi kopi luwak cikole sebenernya sudah menjelang sore sehingga waktu yang terbatas ini harua dimanfaatkan sebaik-baiknya. Suasana cafenya cozy adem dan nuansa coklat kayu-kayu menenangkan rasa dan terlihat nyaman sebagai tempat rehat sejenak dari rutinitas duniawi.

Sebelum masuk ada juga kios merchandise tentang kopi luwak lembang ini dari mulai gantungan kunci, cangkir juga kaos-kaos. Tapi karena tujuan utamanya adalah menikmati kopi spesial maka langsung menemui petugas pelayan dan tanya sana sini.

Ternyata langsung ditawarin berkeliling dulu sambil menjelaskan tentang proses produksi dan sekaligus kehadiran para luwak, binatang unik penghasil eh… pengpermentasi alami biji kopi berkualitas.

Lingkungan yang bersih, SOP yang jelas serta keterangan-keterangan yang penting khususnya terkait perikebinatangan terpampang di tembok dilengkapi dengan kata lisan dari petugas yang mendampingi… edukasi singkat yang bermakna… tentang perikebinatangan penangkaran luwak ini ntar lagi nulisnya yaaa…. sekarang moo bahas kopi duluu…

Setelah puas dengan tur singkat dan bersua dengan beberapa luwak (dikandangnya), giliran tujuan utama yang harus segera dihadirkan. Pesanlah 2 cangkir kopi luwak dengan metode tubruk sana tubruk sini… eh metode manual tubruk… tubruknya pelan-pelan yaa… takut terjatuh, apalagi hati ini sedang rapuh… ahaaay uuh.

Photo : Suasana kafe kopi luwak cikole / Dokpri.

Aturan mainnya adalah seduh manual tubruk dengan air mendidik… eh mendidih, bisa di refill air panasnya hingga 3x…. menarik juga tuh, dengan harga per sachet yang jadi secangkir kopi luwak cikole adalah 50ribu rupiah.

Sambil menunggu kopi tubruk luwak cikolenya hadir, shalat asyar dulu di musholanya yang cukup luas dan bersih juga nyempetin melewati peralatan roasting dan grinder-grinder di sebelah kiri kedai ini.

Tuntas shalat kembali ke meja…. saatnya menikmati kopi yang telah hadir di hadapan dengan kepulan asap tipis yang manis. 2 sachet gula pasir tentu disingkirkan karena akan mempengaruhi citarasa kohitala yang akan dinikmati.

Bismillah….. sruputttt…. hmmm harumnya kopi arabica menyentuh perasa indera penciuman, ada suasana alami yang hadir dengan keunikan tersendiri…. asli nikmat (ini baru permulaan)….

Selanjutnya… setelah cairan kopi hangat panas ini masuk ke mulut dan menari bersama lidah maka terasa body medium dengan acidity high yang unik, asemnya gimanaa gitcuu…. serta after tastenya ada sejumput citrun dengan aroma rumput… berpadu dengan keharuman kopi arabica yang terjaga sampai kopinya tandas menyisakan ampas kopinya…

Karena ada fasilitas refill air panas, langsung minta lagi…. currrr… diamkan dulu biarkan berekstraksi tanpa tekanan dari sana-sini.

Sore yang menyenangkan, meskipun gerimis mulai turun tetapi suasana tetap segar tanpa terganggu nuansa sendu.

Sruputtt…. hasil refill kedua diminum… ada tersisa acidity meskipun menjadi medium cenderung low. Body kopinya jadi mirip teh dan aftertastenya sudah hilang, meskipun aroma kopinya masih ada tersisa.

Srupuut… glek glek…

Refill lagi neng”
“Mangga Amang”…

Photo : Ini klaim manfaat dari Kopi Luwak Cikole / dokpri.

Currr…… air panas ketiga mencoba bercengkerama dengan sisa kopi luwak cikole yang sudah pasrah menyerah didasar cangkir….. kasian.

Hasilnya sesuai perkiraan, jadi seperti teh yang cawerang atau watery…. hambar, sehambar pasangan jadian yang ternyata hanya lamunan karena kenyataannya hanya sebuah kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan…. naon siih? πŸ˜€πŸ˜€.

Jadi, kembali ke sajian awal, cangkir pertama…. itulah nikmatnya kopi luwak cikole dengan metode tubruk manual hadirkan rasa alami yang unik dan tentu memiliki sensasi rasa berbeda… yummy.

Selamat sore, selamat menikmati sisa wikennya. Jangan lupa nikmati kopi tanpa gula tanpa susu tanpa banyak pikiran pokoknya mah.

Yakinlah bahwa kopi itu pahit dan… manis itu…….Kamuuuu.

Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
Kopi Luwak Cikole.
Jl. Nyalindung No.9 Cikole Lembang Kab. Bandung Barat Jawa Barat.

Outboundku

Hadir bersama dalam suasana ceria demi hasilkan kata soliditas dan kekompakan yang bersahaja.

Photo : Rombongan Jeep Mogok di Sukawana / dokpri.

LEMBANG, akwnulis.com. Sebuah pertanyaan menggelitik hari ini adalah, “Siapa sebenarnya yang mempopulerkan kegiatan outbound dan apa sih outbound ini?”

Langganannya jelas nanya ke mbah gugel dan om wikipedia yang bantu jelasin, ternyata kegiatan outbound dipopulerkan atau mungkin diciptakan sebagai model pendidikan yang kreatif oleh Kurt Hahn, seorang pendidik dari jerman (kata wikipedia).

Dalam bahasa indonesia disebut ‘mancakrida‘ yang berasal dari kata manca = asing atau luar dan krida = olahraga/perbuatan/tindakan… meskipun terus terang kayaknya jarang denger atau baru tahu kalau mancakrida itu adalah outbound hehehe…

Oh iya outbound itu berarti gabungan kata dari outward dan bound yang merupakan peristilahan bagi pelatihan manajemen dan kepemimpinan di alam terbuka dengan pola pendekatan pelatihan yang unik dan sederhana serta kreatif, karena tidak berdasarkan teori tetapi lebih mengedepankan aktifitas sehari-hari… eh kok malah berteori sih?

Kenyataan yang sering dirasakan mengikuti outbound adalah memang membangun kebersamaan dengan dilandasi keceriaan, penuh tawa canda tetapi tetap jelas hasilnya. Seperti bersama-sama membawa air di gelas plastik beralas kain dan tidak boleh tumpah, memadamkan api tetapi diawali perang air antar kelompok dan banyak lagi aktifitas di luar ruangan yang menyenangkan.

Photo : Menanti ketidakpastian berlatar alam / dokpri.

Tetapi ada hal yang menggelitik pada saat diskusi outbound ini di kalangan orang sunda, karena istilah outbound atau dilafalkan outbond ini adalah berasal dari kata out = luar dan bon = singkatan dari kebon atau artinya kebun.

Karena aktifitasnya pasti diluar ruangan dan biasanya di kebon atau kebun, jadi aja disebutnya outbon hehehehe… ampyun maksaa.. tapi ada benernya juga. “Bener khan?“…

“Klo dolbon apa artinya?”

“Ah kamu mah ada-ada aja, nanti itu di pembahasan berbeda”

Yang pasti outbound kali ini bener-bener nyebrangin kebon eh kebun dan menembus hutan pinus serta kebun teh yang indah menghijau… tapi nggak jalan kaki karena akan menimbulkan kegemporan berjamaah, jadi digunakan media jeep landy yang membawa raga-raga haus refreshing ini menyusuri trek tanah berlumpur dan tebing sempit yang begitu menantang.

Photo : Barisan Landy siap menemani / dokpri.

Raga diombang ambing gerakan jeep landy yang bergerak ganas menghasilkan sensasi perasaan bercampur aduk antara senang, bingung, takut, malu dan juga khawatir.

Ada yang berbadan besar tapi ekspresi penuh ketakutan, ada juga yang tetap santai malah hampir ketiduran disaat guncangan kendaraan semakin menggila.

Ada juga yang badannya timbul tenggelam hingga mengglosor ke lantai landy saking ringannya dan terguncang keras, kasian sih tapi kok jadi tertawa-tawa?……..

Termasuk yang bisa sampai ketiduran, …. aneh memang, tetapi setelah ditanya di akhir perjalanan, dijawab dengan ringan, “Saya sih enak tidur, serasa naik angkutan umum ELF yang melayani transfortasi dari kampung saya dulu di masa kecil, jadi yaa de javu, nikmatt”

Kami berpandang-pandangan, “Kampungnya dimana gitu?”

“Gununghalu”

“Ohhh….”

Itu sih masa lalu, disaat jalan masih rusak dan kondisi alam yang labil sehingga aspal (plastik) akan senantiasa kalah dengan air hujan yang menggenangi jalanan. Sekarang kampung itu sudah maju, jalan mulus dan perekonomian yang jauh lebih baik.

Udah ah… balik lagi keu outbound kali ini. Perjalanan begitu penuh sensasi dan pinggang serta punggung siap-siap dengan segala rasa yang ada. Tetapi kebersamaan semakin terasa dan kebebasan bersuara eh berteriak menjadi kepuasan tersendiri yang nggak mungkin bisa dilakukan di gedung kantor tempat kita bekerja.

Photo : Let’s go Maksi / dokpri.

Di sesΓ­ makan siang, suasana semarak makan bersama beralas daun pisang di pinggir hutan melengkapi suasana ‘bermain di kebon’ semakin bermakna. Dilanjutkan acara semi formal dalam lomba sambutan serta bernyanyi bersama yang tak kalah ceria….. eh tidak lupa sebelumnya menyegarkan diri di hangatnya air panas sari ater Subang yang mengandung mineral multiguna.

Selamat menikmati kebersamaan diluar kantor dan akan kembali ke pekerjaan rutin dengan soliditas sempurna. Wassalam (AKW).

Arabica Cibeber Golden Honey at Aspacia Coffee.

Ngopi di hutan dulu…

Photo : Arabica Cibeber GH / dokpri.

LEMBANG, akwnulis.com. Semerbak aroma hutan memberi rasa alami yang melegakan. Sang angin yang tadinya garangpun menjadi santai setelah bercumbu dengan basahnya pucuk lembut daun pinus. Ah memang nuansa hutan mendamaikan.

Apalagi disaat berjumpa dengan sajian kopi dan teh yang diolah dengan tangan terampil plus senyuman, makin lengkaplah hari ini.

Kopi yang menjadi pilihan kali ini adalah Arabica Cibeber Golden Honey, diproses manual brew V60 dengan air panas 85Β° celcius dan perbandingan 1 : 18 menghasilkan sajian kopi yang beraroma harum, body dan acidity medium serta after taste muncul mixberry serta selarik rasa dark chocolate.

Eh lupa… “Dimana ini teh?”

Tempatnya di Aspacia Coffee di area Orchid Forest Cikole Lembang.

“Trus pilihan tea eh teh nya gimana?”

Buat jawab pertanyaan ini maka semua teh dipesan, ada 3 pilihan yaitu green tea, black tea dan olong tea….

Photo : Coffee + Tea + Nasgor cikur / dokpri.

Rasanya…. masing-masing punya karakteristik rasa tersendiri. (Bikin penasaran yaaa?’)

Oh ya…. saran sih, klo moo kesini bareng-bareng keluarga karena memang suasana hutan yang sangattt luas dan ditata dengan berbagai sisi yang instagramable. Baik tentang aneka anggrek yang ditata begitu teratur dan menawan, tersedia juga tempat bermain anak, rabbit park, mini golf, kuda tunggang, foodcourt, mushola, toilet dan toko souvenir yang pantang dilewatkan.

Photo : Tempat barista beraksi / dokpri.

Nah Aspacia Coffee ini adalah restoran awal yang akan menyambut pengunjung disini.

Cuman saran, jangan ajak orangtua ke area sini, apalagi yang punya keluhan sakit kaki dan persendian. kontur jalanan berpaving-block menurun, cukup menyulitkan.

Itu dulu yach infonya, soalnya ngetiknya butuh perjuangan, sambil goyang-goyang di mobil yang berjalan agak cepat karena ada ada tugas yang musti segera merapat… Hatur nuhun, Wassalam (AKW).

***

Aspacia Coffee.-Orchid Forest. Cikole Lembang, KBB Jawa Barat

Glamping di Trizara Resort

Camping mewah di Bukit Lembang… dingin dan indah.

Photo : Gerbang awal Trizara di sore hari / dokpri.

LEMBANG, akwnulis.com. Sebuah nama ‘Trizara Resort’ menjadi 2 kata yang segera dimasukan ke kolom pencarian lokasi di Guggelmap, well… lokasinya dekat kok, belum nyampe ke Lembang, atau kota lembangnya. Terletak diantara Jalan raya Bandung – Lembang dan jalan Sersan Bajuri.

“Moo ngapain kesitu?”

Sebuah tanya yang musti dijawab dengan segera. Ini adalah tugas dalam pekerjaan sekaligus menambah wawasan karena undangan ini adalah sebuah kesempatan pelatihan yang diselenggarakan oleh PT Jamkrida Jabar, salah satu BUMD milik Pemprov Jawa barat yang bergerak di sektor Penjaminan kredit daerah.

Akses ke Trizara ini banyak pilihan, satu, dari jalur jalan Bandung – lembang langsung belok kiri memasuki jalan pager wangi. Kedua via jalan sersan bajuri ada 2 pilihan, cuman memang jalannya kecil, berkelok dan nanjak, jadi musti ekstra hati-hati. Ketiga akses dari jalan Kolonel Masturi, jadi dari atas, tinggal masuk ke gerbang arah Trizara dan luruss….. lalu ada pertigaan tinggal belok kiri, sampai dech. Tapi ingat, semua pilihan jalan tersebut akan menemui tanjakan yang cukup terjal, jadi musti bawa, pake atau diantar oleh mobil yang fit dan kuat nanjak.

Photo : Tangga kembar mengapit aliran air / dokpri.

Nah… pas nyampe depannya, disambut dengan pintu gerbang berupa benteng di Paris Prancis yaitu benteng kemenangan Arc De Triomphe, tapi didekati lagi terlihat nuansa india. Ya sudah ah…. masuk aja… eiit… mobil di parkir dulu di seberang gerbang. Ada lapangan parkir. Trus terlihat lapang bola volley, lapangan futsal dan arena bermain ATV… wuaah kayaknya seruuuu…

Memasuki pintu gerbang, disambut suasana pemandangan yang menenteramkan hati. Sebuah karpet raksasa berwarna hijau senada dengan hamparan rumput hijau di sekitarnya dengan tulisan besar ‘Trizara Resort’ memberikan penyambutan pertama, ruar biasa.

Melewati resepsionis, langsung meniti rangga… eh tangga menurut yang ditemani gemericik air bening berundak senada undakan tangga menuju ruang meeting yang berbentuk renda.. eh tenda besar berwarna putih…. keren euy, pelatihan di dalam tenda, tapi jangan-jangan panass…. jadi penasaran.

Photo : Suasana di Tenda sambil dengerin pembukaan oleh ibu bos / dokpri.

Ternyata….. perkiraan saya salah. Tenda pertemuan yang bisa menampung hingga 75 orang ini termasuk meja dan kursi ini nyaman lho, tidak panas karena ventilasi yang bagus ditambah kipas angin yang sudah disetting dipasang diatap tenda juga standing fan yang bikin suasana tetap menyegarkan. Ditambah dengan jendela-jendela tenda yang memungkinkan angin dari luar bisa masuk…. segerr dech.

Photo : 2 kursi santai depan tenda / dokpri.

Diseberang Tenda pertemuan ini ada juga ruang kelas dengan kapasitas lebih kecil, kapasitas sekitar 25 orang. Cocok untuk rapat terbatas tim kecil.

Nahh makan siangnya naik lagi ke atas, ke restoran yang cozy dengan sajian makan siang yang rata-rata hangat sedikit membara, maksudnya bumbu yang disajikan rata-rata bercabe… tapi enak, cuman agak khawatir sakit perut (ternyata tidak, baik-baik aja kok). Di dekat restoran ini, turun satu undakan tangga tersedia mushola untuk 3 orang lengkap dengan tempat wudhu. Satu undak ke bawah disitulah toilet bersemayam… eh berlokasi.

***

Giliran yang ditunggu-tunggu telah tibaaa…. pembagian kunci tenda. Berupa kunci gembok lengkap dengan nama tendanya yaitu Nasika 09.

Wuih nama-namanya unik, yang ternyata memiliki makna tersendiri. Semuanya terinspirasi dari bahasa sansakerta, mulai dari Trizara yang berarti kebun/taman di surga. Lalu area tenda dengan nama-nama dari aneka indra. Ada yang namanya Netra (penglihatan), Nasika (penciuman), Zana (sentuhan), serta Svada (Rasa) yang menjadi nama-nama untuk kawasan tenda dengan ukuran, dan keunggulan masing-masing. Kayaknya tenda Zana (sentuhan) yang dikhususkan buat honeymoon yang bikin penasaran nich… hehehehehe.

Termasuk kafenya juga bernama indriya cafe terletak di awal, di dekat resepsionis.

Photo : Menikmati Gunung Tangkuban Perahu / dokpri.

Tenda mewah untuk acara berkemah yang glamorous sehingga dikenal dengan istilah Glamping (Glamorous camping) adalah konsep yang diusung disini. Jadi pengen segera ajakin anak istri dan sanak saudara nginep bareng-bareng disini…

Tenda yang didapat adalah tenda Nasika, berkapasitas 4 orang. 1 bed ukuran king size untuk dua orang, 1 bed single tapi cukup lebar juga dan dibawahnya bisa ditarik sebuah bed yang tidak kalah nyaman.

Colokan banyaaak…. disamping kanan bed king size ada 5 colokan, didalam peti kayu harta karun ada 5 colokan, dibawah meja ada 3 colokan dan satu colokan deket pintu kamar mandi… berarti 14 colokan. Dikurangi buat teko pemanas, lampu sorot depan dan buat obat nyamuk elektrik.. sisa 11 colokan buat berempat… lebih dari cukup.

***

Photo : Suasana dalam tenda tipe Nasika / dokpri.

Kamar mandinya yang keren, wc duduk, shower air panas, wastafel, penyimpanan handuk berupa tangga, lengkap dengan sikat gigi, sabun, shampo, shower cap, dan body lotion dengan lantai tembok yang kokoh. Beda banget dengan camping beneran yang darurat, BAB nya ke semak-semak sambil bawa cangkul kecil dan air di botol plastic .. heu heu heu masa lalu.

Juga terdapat berbagai aktivitas outdoor yang menantang seperti bermain ATV berbasah kotor, flyng fox, trampolin, jogging, jojjing atau bermain futsal dan volley ball…. yang pasti memberi peluang untuk berolahraga dan beraktifitas di luar tenda, bersama-sama.. itu kereen pisan. Apalagi tidak ada TV dan AC, begitu alami dan menjadi cara memaksa agar nggak ngendon di tenda, tetapi beraktifitaslah diluar bersama kawan dan keluarga.

Klo urusan kopi disini nggak ada manual brew tapi gpp… bisa pilih espresso dan americano… cerita lengkapnya klik aja Kopi Trizara Resort... monggo.

Menu sarapannya juga standar hotel berbintang, lengkap banyak pilihan. Tetapi karena diriku sarapan hanya buah-buahan, jadi potongan semangka dan melon saja yang menjadi pengisi perut di pagi yang cerah ini.

Sebuah plang pengumuman yang cocok dengan suasana hati, diantara plang berwarna hijau dengan tulisan putih tersebar di berbagai titik area Trizara resort ini. Tertulis ‘Destinasi seseorang bukanlah sebuah tempat, melainkan sebuah cara baru untuk melihat sesuatu’.

***

Ah masih banyak kata yang ingin dicurahkan tentang Trizara ini, tetapi ternyata tersekat sampai disini saja, biarkan kelanjutan ceritanya menjadi kesempatan orang lain untuk bercerita.

Photo : Photo barengan

Segera mengambil payung yang tersedia di dalam tenda. Dibuka dan digunakan menembus derasnya hujan di malam hari menuju restoran tempat makan makan tersaji. Wassalam (AKW).

Terima kasih PT Jamkrida Jabar.

***

Kopi Trizara Resort

Ngopay di dataran tinggi Bandung Utara sambil kemping, nikmat pisan, yukk ah…

Photo : Kopi di gerbang Trizara Resort / dokpri.

LEMBANG, akwnulis.com. Terdiam sambil mengatur nafas agar selaras dengan suara rintik hujan yang jatuh menimpa tenda di tengah malam terasa begitu menenangkan. Sepinya malam di daerah Pagerwangi Lembang memberi kesempatan pikiran untuk berkreasi, memilih jalinan kata agar bisa bersua dengan kata lain sehingga miliki makna.
Sesekali terdengar anjing ‘babaung‘ eh menggonggong memecahkan kesepian malam, menemani kesendirian di tenda mewah atau yang sering disebut sebagai glamour camping (glamping) setelah seharian mengikuti sesi pelatihan tentang dasar-dasar penjaminan dan sejumput informasi tentang pengadaan barang dan jasa.

Suasana tenda tipe Nasika ini sepi dan tenang, karena tidak ada Televisi dan radio. Pengelola resort ini memiliki salah satu tagline yaitu : ‘Tanpa elektronik, hidup kita bisa bahagia‘,

Kereen nggak?… 2 hari puasa televisi… ternyata bisa dan biasa aja. Lagian di rumah juga jarang nonton tv. Seringnya malah ditonton tv, kitanya merem depan tv dan tvnya nyala terus sambil nontonin kita yang mereeem hehehehe.

Balik lagi kesinih, sebuah tempat spesial yang memberikan pengalaman berbeda. Camping mewah yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan.

Untuk cerita lengkapnya Trizara Resort versi AKW silahkan klik disini : Menikmati Glamping di Trizara Resort.

Sekarang mah mau cerita tentang kopinya dulu ah.

Selama 2 hari di Trizara Resort ini, bisa menikmati beragam kopi tanpa gula. Yuk kita runut satu-satu :

Photo : Kopi di kelas / dokpri.

Hari pertama, diawali dengan kopi standar Trizara yang tersedia disaat coffeebreak, tinggal geser ke belakang, ambil teko berisi kopi diatas kompor pemanas… currr. Dilanjutkan dengan pasca makan siang, maka pilihannya adalah secangkir americano versi resto yang juga dibawa ke kelas karena sesi materi selanjutnya sudah dimulai, tetapi sebelumnya diabadikan disamping patung gajah kecil dengan background benteng pintu masuk ke Trizara ini.

Photo : Double espresso di resto / dokpri.

Hari kedua, pagi hari langsung dihajar dengan double espresso di resto sekaligus dilengkapi segelas americano… nikmat pisannn. Serta sebelum sesi penutupan, kopi coffeebreak di kelas menjadi pelengkap hari terakhir sebelum semuanya bubar kembali ke kediaman.

Sebenernya di tas sudah tersedia peralatan, jikalau harus menyeduh kopi sendiri dengan kopinya dari Pak Ali – Lembang. Tetapi dengan bejibun agenda pelatihan, akhirnya dibawa kembali utuh karena tidak sempat tersentuh.

Malam inipun tidak berani menyeduh di tengah malam. Khawatir sulit tidur dan juga takutnya lagi asyik nge-manual brew, eh tiba-tiba ada suara dari balik gerumbulan pepohonan di belakang tenda, “Bholeeh mintzaa nggakz?”… khan berabe guys.

Akhirnya, lebih baik telentang di kasur yang empuk ditemani bantal bulu angsa yang memanjakan kepala. Memandang kembali langit-langit tenda yang masih setia menemani diri bersama musik ritmis dari rintik hujan sambil melewati pertengahan malam menuju dini hari yang dingin menusuk kulit ari-ari hingga tulang di dalam diri. Selamat tengah malam kawanku, Wassalam (AKW).

Kopi Lembang Pak Ali.

Ngopay kopi dari pak Ali…..

Photo : Nyeduh kopi sambil ngasuh / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Tanggal merah ditengah minggu tentu menjadi anugerah, bisa dimanfaatkan untuk mencurahkan perhatian kepada anak semata wayang juga pasti kepada ibunya.

Tapi tetap, ngopay jalan terus. Peralatan manual brew V60 sudah siap di rumah dan di kantor. Sehingga tidak perlu dibawa kesanah kesinih…. cukup bermodal niat, kesempatan, kopi bubuk dan air panas 90Β°… maka bisa ngopay dengan nikmat.

“Trus sama anak gimana?”

Sebuah pertanyaan yang menarik, tapi itulah indahnya mengasuh anak sambil ninyuh… eh sambil nyeduh kopi ala manual… maka pola seni dan kompromi yang dimainkan.

“Gimana caranya?”

“Bentar atuh… sekarang pilih dulu, kopi mana yang akan diseduh manual”

“Ayahhh…..!!!, hayu main di kotak” rengekan manja anak princes segera disambut dengan anggukan dan senyuman.

Horeee!!!,

Binar berjingkrak kegirangan. Raga ini beringsut menuju ‘kotak‘, selembar karpet tebal yang berisi mainan dengan pagar plastik yang terbuka. Sebagai wilayah demarkasi untuk bermain dan berkreasi sang anak tercinta.

***

Jadi….. nyeduh kopinya sambil ngasuh. Sehingga kompromi terjadi… gambar proses seduhan kopi yang tadinya hanya kopi diatas corong V60 dan bejana saji serta gelas kecil kaca kesayangan, harus bersanding dengan warna warni ceria dari mainan disney yang ada yakni donald duck yang lagi boncengan sama mickey mouse.

Eh ternyata photo sajian kopinya jadi aneka warna. Ngasuh jalan dan ngopaypun tetap terlaksana, kehidupan terus berjalan.

Kali ini hadir kopi tanpa label, pemberian dari Bapak Ali yang punya sendiri kebun hingga produk kopi dari daerah Lembang… disaat bersua minggu lalu, memberi sebungkus kopi bubuk ukuran kira-kira 200gr.

Alhamdulillah, milik tah….

Photo : Manual brew v60 kopi pak Ali / dokpri.

Sore ini di eksekusi dengan fi-sixti, suhu air 89Β° celcius dengan komposisi 1:1, yups.. 30gr beradu dengan 300 ml air….. jreng jreng.. tes.. tes.. tes.

Dikala bungkus coklatnya dibuka, rasa harum aroma kopi terasa menyambar penciuman. Ada rasa buah yang muncul tapi sulit mendefinisikan, pokoknya selarik banyangan rasa manis hadir dalam sekejap.

Penasaran….. setelah tetesan air seduhan tertampung sempurna. Pindah ke gelas duralex kecil… srupuuut…

Hei…. rasanya enak kawan. Body medium cenderung boldnya menyisakan after taste yang ninggal diujung lidah belakang, meskipun tidak lama tapi berpadu dengan acidity medium khas kopi arabica menambah nikmat ngopay sore ini. Dari sisi tastenya ada selarik rasa lemon, dan kakao plus setipis rasa karamel.

Ah takut salah… coba sruput lagi…. slurp.. slurpp….

Enak euy… dikala temperaturnya menurun. Body dan aciditynya menguat… pahitnya sedikit meningkat tetapi makin nikmat. Karena pahit asamnya sajian kopi bisa mengurangi dan menutupi pahit asamnya kenyataan hidup…. eaaaaa, apa seeeh kamuuh.

Sruput lagii…….

Hatur nuhun Pak Ali, wilujeng ngopay bray. Wassalam (AKW).

***

Kopi Lembang Red Honey

Pahitnya kehidupan versus pahitnya kopi Lembang RH.

Photo : Quote di IGku @andriekw / dokpri

CIMAHI UTARA, akwnulis.com. “Pahitnya Kopi bisa mengurangi atau menutupi pahit getirnya kehidupan” Sebuah quote yang pernah diupload di IG dan FB ternyata menuai berbagai pendapat. Ada yang setuju, ada yang menentang dan ada juga yang setengah-setengah. Seolah menentang padahal dalam hati meng-iya-kan.

Eh ada juga yang comment lebay alias berlebihan.

“Trus?…. gimana donk?”

Jejak digital sudah tersimpan disaat kita mengirim tulisan, gambar, video di media sosial, sekaligus tanggungjawab sebagai pengirim menjadi melekat.. wadduh.

Eits tapi tenang dulu, daripada pusing mikirin postingan quote yang udah menjadi milik publik, sekarang mah introspeksi aja trus lebih berhati-hati dalam memposting dan meng-upload sesuatu.

***

Sebagai jawaban postingan pribadi tadi di alinea pertama. Segera dibuktikan saja dengan menyinggahi Cafe Kupu-kupu di jalan raya Kolmas Cimahi Utara yang menyediakan aneka menu makanan minuman dan tentunya kopi seduh manual yang menjadi favoritku, metode V70…. eh kelebihan, maksudnya V60.

“Kang, pesen V60 ya. Eh beannya apa?”
Pertanyaan singkat sama pelayan cafe, tapi sang pelayan terlihat bingung.
“Maaf mas, saya masih training, saya tanya ke belakang dulu yaa”
“Oke”

Tak berapa lama, “Kopinya pake kopi dari Lembang”
“Oke kang, peseen!!”
“Baik Mas”

Photo : Sajian Kopi Lembang RH dg V60 / dokpri

Percakapan singkat yang mengandung kejujuran. Pelayan yang masih magang dan belum tahu tentang menu kopi V60 dengan sopan minta maaf dan segera bertanya ke petugas lain. Bagus. Soalnya pernah mampir di suatu kafe, pelayannya nggak ngerti menu kopi tapi sotoy, jadi illfeel. Ini mah bagus, jujur dan sopan.

***

Kopi Lembang Red Honey produk dari @homesteadcoffeebdg tersaji apik pada gelas server dan gelas kaca kecil, tak lupa bean yang terbungkusnya ikut dimejengin sesaat di meja, memanjangkan tatapan mata dan semilir angin di Cimahi utara, betul-betul melupakan pahit getirnya kehidupan… ahaaay.

Photo : gelas terakhir / dokpri

Bodynya medium menyegarkan, aromanya harum dengan acidity khas arabica priangan yang medium high serta taste fruittynya begitu menggoda lidah untuk terus menyeruputnya hingga tandas.

Ternyata, kopi tanpa gula Lembang red honey tanpa gula ini tidak pahit lho, begitupun kehidupan, selama kita senantiasa bersyukur dan bersabar maka perjalanan hidup ini senantiasa diliputi ketenangan dan kebahagiaan. Wilujeng ngopi lur. Wassalam (AKW).