Sunset, Kopi& Janji.

Menanti mentari pagi, bersua di sore hari, besoknya kembali ngopi dan jalan-jalan sendiri. Disini.

Photo : Semburat Sunset di Batukaras / dokpri.

BATUKARAS, akwnulis.com. Gelombang ombak yang meninggi mengantarkan papan selancar dengan dorongan tenaga alam yang menakjubkan. Tinggal tunggu waktu yang tepat, berdiri di papan selancar dan jagalah keseimbangan maka… wuuuus… terdorong kencang meniti permukaan air laut dengan wajah riang dan hati senang.

Gampang banget lho, kalau ngeliatin mah. Padahal…. nggak semudah itu. Tapi memang watak penonton khan pasti (merasa) lebih pinter dari pemain… bener khan?… ngakuuu… pasti klo lagi posisi penonton mah.. kecenderungannya bakal begituuuh.

Yup, pantai batu karas, sekitar 30 menit jalan darat dari pantai pangandaran menyuguhkan suasana pantai berbeda. Relatif tidak terlalu ramai dan lebih banyak pengunjung adalah berniat latihan selancar air, juga terlihat beberap turis asing… atau malah mayoritas belajar selancar atau surfing.

“Kamu ngapain kesituh?”

Ajaw pertanyaan kepo, ya terserah aku donk, kemana kaki melangkah disitu berharap berkah. Dimana langit dijunjung maka disitu Allah disanjung… aih kok malah berpuisi.

Photo : Abadikan Ombak di Pantai Batukaras / dokpri.

Aku kesini mau mengejar mentari!!!…. karena tadi pagi dan kemarin pagi bukannya mendapatkan semburat mentari tetapi suasana sendu dan sepi hati, meskipun ditemani secangkir kopi.

Monggo baca KOPI & PILU.

Meskipun hanya bisa menangkap semburat cahaya mentari dibalik pepohonan sebelum tenggelam di batas horison, kurasa itu cukup, cukup untuk melepas dahaga ingin mengabadikan asa yang ada dari semburat cinta sang mentari yang bersahaja.

Photo : Terdiam memandang pantai / pic by DH.

Warna semburat kuning dan merah, memberi rasa damai walaupun secercah. Sementara debur ombak tak mau berhenti menghiasi pantai menghasilkan musik alami yang natural tanpa intervensi pihak-pihak berkepentingan.

Akhirnya malampun datang, dan cerita mentari sementara berganti dengan rembulan. Namun sayang agenda pertemuan ternyata menghadang, terpaksa malam ini dihabiskan dengan hanya berbincang dalam ruangan ditemani sajian makanan seafood alakadarnya, Yap… lumayan. Mari berbincang….

***

Esok hari kembali menyeduh kopi dan membawa ke pinggir pantai timur pangandaran. Suasana tidak terlalu sendu, tetapi memang hadirnya mentari masih malu-malu.

Photo : Kopi & Pantai, beda fokus / dokpri.

Akhirnya bermain-main dengan kamera smartphone dengan fokus segelas kopi asli atau pantai yang menjadi backgroundnya… begitupun sebaliknya…

Iseng amat ih!!!

Jangan digubris, biarkan saja. Berkesempatan mengabadikan suasana adalah berkah, jadi selama memori smartphonenya cukup dan yang diambil gambarnya nggak protes… lanjutt aja bung.

Meskipun jikalau beredar di jagad IG, banyak disuguhi photo dengan mayoritas wajah pemilik akun karena memang hasil selpi berkala. Awalnya suka eneg, tapi setelah dipahami bahwa itu adalah akun pribadi dan (mungkin) merupakan bentuk aktualisasi keeksisan diri…. ya sudahlah nggak usah peduli.

Kembali ke pangandaran, setelah selesai dengan kopi di pantai timur maka bergeser ke pantai barat untuk melihat suasana dan mungkin ada spot photo yang mungkin bisa berguna dan miliki makna.

Dikejauhan terlihat bangkai kapal yang karam, maka lensa smartphone mencoba mengabadikan dengan segala keterbatasan. Hasilnya lumayan daripada lu manyun hehehehe.

Udah ah cerita-ceritanya, selamat berkarya dan selamat kembali bersua dengan keluarga tercinta di waktu wiken yang sangat berharga. Wassalam (AKW).

Lara di Pantai Utara.

Di kala lara masih tak bisa dipisah oleh logika, mungkin laut penyembuhnya.

Photo : Pantai utara karawang / dokpri.

KARAWANG, akwnulis.com. Di kala sebuncah lara mendera jiwa yang hampa, maka setitik harapan sangat sulit untuk direngkuhnya. Semua detak dan degup jantung kenyataan, seolah semakin memghimpit hadirnya peradaban.

Pada titik inilah, jalan terbaik harus dilakukan. Jangan sampai rasa sesal semakin menenggelamkan nalar sehingga mengambil langkah pintas yang sebetulnya awal dari kehancuran yang sesungguhnya.

“Sudahlah kawan, tak usah dipikirkan, ambil hikmah dari semua kejadian”

“Ngomong sih gampang, kamu memang tidak tahu apa yang sedang kurasakan!!!” Teriakan ketus menyanggah luncuran kata bijak yang berusaha membangkitkan semangat. Kalah oleh aroma keterpurukan yang begitu ketat menelikung dari berbagai arah kemunafikan.

“Tak usah rintangi aku, biarkan diri ini mencari damai dengan alam”

Terlihat wajah sendumu membeku, menatap hampa tanpa ada reaksi apa-apa. Hanya anggukan angin yang merestui tindakan ini.

Kaki langsung berlari menapaki tanah berpasir yang sudah tidak bisa teriak tentang keadilan, menuju jembatan penantian yang akan mengantarkan kepada titik penghabisan di depan sana.

Photo : mancing yuk…

Tapi sebuah papan pengumuman retribusi menahan buncahan semangat yang begitu tinggi. Sesaat tertegun tapi sudah tidak butuh basa-basi, keluarkan uang 10.000,- dan segera beraksi.

Bergerak lurus melewati jajaran tenda-tenda bambu hingga akhirnya menapak pada ujung jembatan bambu yang menggapai panjang ke laut lepas.

Bergerakkk…

Nuansa lara masih menggumpal dalam dada, di kala kaki menjejak menuju ujung dermaga, terasa pondasi bambu yang dibangun begitu sederhana, tapi itulah dunia.

Di ujung dermaga tertegun, menatap bentang alam laut lepas yang begitu damai dan dalam. Sang lara perlahan luruh, perlahan tapi pasti kesedihan mulai berganti dengan secercah harapan yang susah payah muncul kembali…… ini adalah janji.

Hamparan birunya laut ternyata bernuansa coklat, menjadi cerminan sebuah penyambutan bagi jiwa yang sedang menanggung lara. Meskipun di ujung sana, laut membiru telah menanti, tetapi kecoklatan tak bisa melepaskan fungsinya untuk menghibur dan menghilangkan kesedihan yang begitu mendalam.

“Selamat tinggal bangunan kehampaan!!!” Teriakan pamit membahana ke ujung langit. Menggoyangkan horizon dan batas ketiadaan, semua terdiam.

Jebuuuur!!!!!……

Prosesi penyatuan kepentingan terjadi. Jiwa yang sedih melarut dengan segarnya air laut pantai utara. Menghasilkan gelombang ketegaran yang penuh misteri bertabur janji-janji.

Tapi yang pasti, lara dan duka sudah pergi terbawa gelombang coklat yang tak banyak kompromi. Tinggal sekarang adalah semangat yang tersisa harus dipupuk serta dipelihara, agar kelak menjadi penentu derajat dan makna kehidupan fana. Wassalam (AKW).

***

Catatan :
1. Ini hanya goresan pena, jalinan reka kata cerita fiksi belaka, yang terinspirasi dari…..
2. Lokasi Pantai Tanjung Baru, Cilamaya Karawang.

Gairah di Pantai Sanur

Menjejak langkah di pantai Sanur.

Photo pantai & kolam renang di Sanur / dokpri.

Sanur, akwnulis.com. Kecipak air memanjakan pendengaran yang terus terpapar oleh kompleksitas pekerjaan serta berbagai rutintas kehidupan. Bukan suara air sembarangan, karena ini merupakan perpaduan dari suara alami air di pinggir pantai yang mewujud dalam bentuk debur ombak menyentuh karang. Beberapa meter dari suara alami itu, gemericik air menjadi deburan penuh keriangan yang terjadi di kolam renang…. Yups kolam renang pinggir pantai, sungguh menyenangkan.

“Dimana itu mas?”

“Ih kepo”

“Jangan pelit info donk mas, plis plis” suara berharap dengan memelas, meruntuhkan benteng pertahanan keengganan. Munculnya trenyuh berpadu senang karena sudah bikin penasaran seseorang, padahal informasinya juga bukan hal baru. Tetapi itulah kehidupan, sebuah cerita akan berbeda makna apabila disajikan dengan dasar pengalaman dan diramu penuh cinta untuk hasilkan catatan abadi bagi diri, juga mungkin bisa berguna bagi orang lain suatu hari nanti.

‘Oke, balik lagi ke cerita yaa’

“Tempatnya di Pantai Sanur Bali yaa”

“Oh di Bali, ih kamu jalan-jalan melulu, kapan kerjanya?” pertanyaan nyinyir dari seorang kawan yang merupakan kombinasi antara rasa iri dan ‘kabita’(kepengen) langsung bikin makin semangat untuk bercerita lebih banyak. Bukan untuk bikin makin iri tetapi membuka wawasan bahwa di sela-sela bekerja, bisa juga meluangkan sedikit waktu untuk mengintip tempat wisata dan jangan lupa menjadi bahan cerita.

Photo kapal berlabuh di Pantai Sanur / dokpri.

Lha wong klo ngobrol kerjaan, ya sami mawon, gitu-gitu aja. Tinggal bagaimana mengkemas dan memaknai semua gerakan kehidupan menjadi jalinan kalimat penuh makna.

“Kembali ke urusan air di sanur ya guys!”

***

Sebelum sesi pertemuan malam hari, maka jalan sore di pantai menjadi menu wajib. Pantai Sanur yang berpasir putih memiliki daya tarik untuk segera dinikmati. Secara kebetulan penginapan dan acara pertemuan bertempat di Grand Inna Sanur Hotel yang miliki akses langsung ke pantai Sanur. Jadi lebih efektif dan efisien.

Photo pantai sanur sebelum pasang / dokpri.

Pantai Sanur memiliki panjang pantai cukup panjang… “Ih nggak jelas!’ itu pasti respon netizen. Tetapi itulah kenyataannya, pertama melalui jalur search via mang gugel ada yang nyebut panjangnya + 3 km, ada juga yang 9 km, entahlah… lagian penulis pas nyoba jalan, lumayan panjang juga, tetapi menyenangkan, suasana segar nan bersih, klo panas sih udah pasti tetapi dengan semilir angin pantai yang terus mengelus perasaan maka rasa senangnya yang lebih dominan.

Pantainya pun terasa landai karena ada barrier batu karang yang menjadi pelindung dari ganasnya ombak lautan. Sehingga kami bisa bergerak agak ke tengah laut, sekitar 100 meter dari bibir pantai dengan kedalaman air laut hanya mencapai betis.

Photo : mencoba terbang hindari air pasang / mr. Ronni pic.

Beningnya air hampir saja melenakan kami yang terus bergerak ke tengah lautan, sebuah teriakan mengingatkan,

“Awas air pasangg!!”

“Astagfirullahal adzim, lari Mang!!” suaraku berbaur dengan gerakan cepat dari rekan-rekan.

Terengah dan tersengal terasa melegakan setelah sampai di bibir pantai berpasir, meskipun harus merelakan dompet ikut basah karena terendam sedalam pusar.

Smartphone aman karena dipegang dengan tangan dan mengacung menggapai langit.

Alhamdulillahirobil alamin, hampir saja musti berenang di air asin hehehe, padahal niatnya cuma moo berpose di pantai dengan tinggi air sebatas betis, ternyata datangnya air pasang nggak terdeteksi terhalang keceriaan dalam kebersamaan.

***

Esok hari menjadi menu wajib untuk mengabadikan hadirnya sang mentari disaat mulai menyinari bumi, inilah hasilnya :

Photo Sunrise di Pantai Sanur / dokpri.

Semburat keemasan menyapa permukaan air laut di Pantai Sanur, memberi nuansa gairah yang membangkitkan keinginan untuk bahagia. Siluet nyiur melambai memberi harapan bahwa kehidupan adalah perjalanan panjang.

“Info kolam renangnya gimana?”

“Sabarr, tunggu tulisan berikutnya yaa” Hatur nuhun. (AKW).

Ngojay

Maksad ngojay niiskeun pikir ngajaga haté di basisir Pangandaran.

Hiliwir angin ngageuing haté nu rungsing. Lambak ngagupay karang ngahiap, hayu urang ulin di basisir pikeun mopohokeun karudet. Suku ngagedig muru tukang parahu jeung séwa alat, négo sakeudeung tuluy hanjat kana parahu, angkaribung mawa tumbak, snorkling jeung sapatu bangkong.

Ancrub kana cai nu hérang ngagenclang di basisir pasir putih pangandaran. Karasa seger pikir seger lahir. Kapusing sirna kaganti rasa bagja. Kokojayan kaditu kadieu, ningali taman laut nu éndah. “Hanjakal anjeun teu aya digigireun, éh tapi pan nu matak rungsing téh gara-gara anjeun nu loba kahayang seueur paménta?” Nyéréngéh sorangan. Tuluy ngojay deui rada ka tengah sagara.

Sabot anteng rada teuleum nitenan batu karang jeung lauk warna warni, geuleuyeung dihandapeun aya nu ngojay nangkarak, raray reksak lambey ranghap.

“Astagfirullohal adzim!!!”

Gedung putih Tenjolaut

Jalan pagi mengejar Sun-ASI sambil bercanda bersama kabut yang setia di Tenjolaut Palutungan.

Gedung putih tenjolaut

Photo : Gedung putih Tenjolaut.Dokpri

Dingin masih menggigit kulit disaat langkah mengayun menuju daerah Cigugur, Kuningan. Tak lagi bermanja untuk berjalan cepat di trek menurun, tapi bergegas menuju tanjakan mengular menuju daerah Cipari. Betis terasa berat menyokong raga disaat menanjak curam, tetapi mengejar agar keringat segera keluar memang butuh perjuangan.

Perjalanan sang langkah kaki berlanjut memasuki jalan provinsi menuju daerah cigugur hingga sampai ke pertigaan yang memberi pilihan ke kiri Kota Kuningan, ke kanan arah Ciamis. Klo lurus ya mentok, khan udah di jelasin ini mah pertigaan. Belok kanan kira2 300 meter ada jalan ke kanan, itulah arah yang dituju. Arah menuju dataran tinggi Palutungan di wilayah Desa Cisantana Kecamatan Cigugur…

Photo : Tanjakan Palutungan/dokpri

Segera kaki menanjak lagi hingga 30 menit disambut gagahnya gunung Ciremai yang berbinar disinari mentari sesekali karena kabut masih terus melungkupi….. dan akhirnya ngaso dulu karena cape juga… hihihi… maklum beberapa bulan belakangan ini agak malas olah tubuh… jadi 5 km menanjak dirasa cukup dulu ah (sambil ngelirik aplikasi endomondo di Smartphone, lumayan 498 calori terbakar, katanyah).

Pembelaannya, “Khan 5kmnya nanjak, jadi dirasa cukup”. Perjalanan ke bukit palutungan dilanjut dengan kendaraan. Waktu baru 06.45 Wib tetapi mentari sudah tinggi dannn….. tertutup awan agak tebal. Gagal dech ngambil sun-ASi (sunrise agak siangnya). Tapi mumpung ada mobil, kita anggap aja survey pendahuluan.

Setelah mengamati dan waspada terhadap petunjuk jalan di daerah palutungan ada beberapa pilihan tempat yang bisa menjadi tujuan kunjungan keluarga. Antara lain : Beberapa restoran dengan parkiran yang cukup luas, Taman Cisantana, Wisata Bukit Sukageuri, Bumi perkemahan Palutungan, Curug Puteri atau sebelum jauh menanjak terdapat juga tempat wisata religi Goa Maria yang sudah dikenal lebih dulu.

Ternyata……. kepagian tiba di lokasi, jadi akses ke Curug Putri gerbangnya masih terkunci… nyubuh teuing lurr. Rush hitam bergerak lagi memasuki area parkir tempat wisata bumi perkemahan palutungan. Disambut jajaran kios, kayaknya kios souvenir tapi lagi-lagi masih tutup.

Trus Ada petunjuk yang tertulis ‘Tenjo laut’ (melihat laut), wow ini menarik, ada area yang bisa melihat laut, tapi laut mana?…. wilayah kabupaten kuningan khan di tengah pulau jawa?… jadi penasaran. Segera bergerak lagi, masuk jalan berbatu, jalan kecil hanya cukup 1 mobil. Kanan kiri semak belukar… asyik petualangan. Jalan berkelok menghijau dan ternyata sisi kirinya jurang… musti extra hati-hati.

Photo Merah putih di antara kabut/dokpri.

dan…. jreng…. tak berapa lama terlihat bangunan putih nan megah. “Apakah ini nyata?” Sedikit rasa khawatir menelusup kalbu, tapi segera dienyahkan dengan berdzikir kepada Illahi robbi. Semakin dekat dan semakin jelas bahwa itu bangunan nyata apa adanya. Bangunan besar berwarna putih berdiri megah dalam kesunyian.

Perlahan mendekat dan tentu penasaran karena pengen liat laut (khan namanya Tenjo laut). Masuk dari pinggir kiri sampai hingga ke halaman gedung, sang merah putih menyambut dengan kibaran semangat berangin pagi. Ternyata kabut belum berkenan untuk pergi dari gedung putih tersebut, tetap setia menyelimuti sehingga tak bisa melihat pemandangan sekitar.

Dingin pagi terus menusuk kulit, memaksa untuk segera pergi dari lokasi tersebut. Usut punya usut, gedung itu adalah gedung millik Kementerian Sosial Direktorat Rehabilitasi Sosial KP Napza IPWL RumahTenjolaut.

Photo loncat tapi kedinginan / dokpri.

Setelah mencoba bertahan dengan harapan sang kabut terurai dan pemandangan terhampar, ternyata belum terwujud. Mencoba loncat-loncat gerak badan, tetap saja kedinginan. Akhirnya menyerah untuk melihat pemandangan di Tenjolaut ini, karena kabut terlalu setia menemani. Padahal jam sudah bergerak di jam 08.00 wib. Kendaraan bergerak bergegas meninggalkan lokasi untuk kembali menyusuri jalan sempit berbatu menuju akses jalan raya dan kembali ke basecamp di wilayah kuningan kota.

Alhamdulillah sudah bisa menikmati udara pagi sambil berolahraga plus nambah pengalaman berkenalan dengan gedung putih di Tenjolaut Palutungan. (Akw).