Lapangan Banteng – Jakarta

Jalan pagi di sini, lapangan banteng Jakarta pusat.

Photo : Sinar mentari di sekitar lapangan banteng / dokpi

JAKARTA, akwnulis.com. Sang mentari masih sembunyi dikala raga ini bergerak menapaki kesegaran di jantung ibukota. Jikalau di kesempatan sebelumnya area monumen nasional menjadi tujuan utama. Maka hari ini pilihan jatuh disini, sebuah area lapangan yang ikonik, Lapangan Banteng.

Awalnya disebut dengan Lapangan singa karena terdapat patung singa disana sebagai bentuk peringatan kemenangan Napoleon di Waterloo… dulu disebut juga Waterloopline, wow jauh bingit ya sejarahnya.Tetapi jaman pendudukan jepang, patung singa itu dirubuhkan.

Photo : Lapangan banten dilihat dari lt18 / dokpri

Era pemerintahan Presiden Soekarno dibuatlah Monumen Trikora Pembebasan Irian Barat yang menggelorakan semangat perjuagan rakyat indonesia merebut Irian barat. Berwujudlah patung pemuda pejuang kekar yang terbebas dari belenggu penjajahan karya pematung Edhi Sunarso yang diawali sketsa oleh Henk Ngantung.

Di tahun 2018 dilakukan renovasi besar-besaran sehingga mewujud menjadi taman yang indah dan fungsional dengan 3 zona yaitu Zona Monumen, zona olahraga dan zona taman.

Photo : Taman bermain dan berolahraga / dokpri

Hari ini, menjejakkan kaki disini. Menikmati sepoi angin pagi dengan belaian mesranya. Raga berkeliling menyusuri taman, amphiteater dan zona monumen. Juga berkeliling ke area olahraga dan tempat taman bermain anak, lengkap sudah. Apalagi di tengah-tengah terdapat air mancur yang (katanya) menjadi ikon malam minggu, mengundang ribuan orang untuk menikmatinya.

Tak terasa berjalan kesana kemari, naik turun tangga hingga 45 menit. Keringat membanjir dan dahaga mulai terasa. Segera terobati oleh hadirnya keran-keran air minum yang siap minum, senangnya.

Pagi ini juga bersua dengan Pak Rahmat, warga sekitar yang rutin berlari pagi di lapangan banteng ini. Berbagi sekelumit kisah hidup juga profesi sebagai pengamanan sekaligus ahli pijat refleksi yang siap dipanggil dikala senggang. Nambah kenalan menjalin silaturahmi di pagi yang alami di jantung ibukota.

Tetapi karena waktu meeting sebentar lagi tiba, segera bergegas kembali ke hotel. Bersiap mandi dan bersolek, agar hadir meeting tepat waktu dan molek…. ih masa laki-laki bersolek dan molek, berdandan atuhh!!.

Sebelum naik ke lantai 10, mampir dulu di restorannya. Aneka sajian makanan berlimpah, tapi sesuai janji, hanya potongan buah saja untuk isi perut di pagi ini. Maka semangka, melon dan pepaya yang berada di piring saji dan dengan segera dinikmati.

Wilujeng sarapan bray, Wassalam (AKW).

Keringat di senin pagi

Manfaatin waktu di senin pagi, didera jenuh dan ingin mencoba tampil beda, ternyata….

Photo : Sunrise di Gasibu / Dokpri.

Mentari pagi masih malu-malu menyapa hari, sehingga gerimis di rerumputanpun tetap bercengkerama sebelum terbang berpisah menjadi hampa. Tapi dari sela pucuk dedaunan mulai bergerak semburat pagi terbelah oleh tiang bendera putih yang tegak berdiri setiap pagi.

Trek biru tua dan muda masih basah tergenang air di beberapa bagian lapangan Gasibu. Tetapi itu semua tidak menyurutkan berpuluh pasang kaki bergerak menurut irama diri dalam drama lari pagi atau sekedar berjalan perlahan melancarkan nadi.

Ini senin pagi bung, tetapi dengan berbekal training dan sepatu olahraga maka bisa mengawali kerja dengan berjoging ria. Setelah tadi sholat subuh bersama maka sekarang lanjut berjamaah mengayunkan langkah menyusuri lintasan biru yang tiada ujungnya.

Trus jangan salah tafsir bahwa sholat shubuhnya pake trening. Tetap baju koko dan celana hitam kesayangan yang menemani pagi buta menembus jalanan lengang penuh makna dilanjut shalat bersama… berrr..sama.

Photo Trek lapangan Gasibu / dokpri.

Awalnya lari-lari kecil dilanjutkan dengan jalan cepat hingga semi lari. Tapi tak berani terlalu berkeras hati untuk berlari karena semua ada waktu dan tahapannya. Termasuk musti juga pemanasan agar otot tak tegang tiba-tiba. Sambil berlari pikiran ikut berlari menapak khayal berbaur keinginan memngkristal menjadi inspirasi yang ingin segera dieksekusi meski tetap harus berhitung tentang pentingnya eksistensi.

Sambil bergerak mengitari trek biru belang biru (B3) ini, tiba-tiba ada rasa jenuh karena selama hampir 2 tahun belakangan ini (maksudnya larinya sih sekali-kali hehehe. Nggak tiap hari)..

yang bikin jenuh itu adalah larinya pasti arahnya berlawanan dengan arah jarum jam dan semua sepakat ikut arah treknya seperti itu dan selalu seperti itu. Mbok ya sekali2 bisa berbalik arah sehingga searah jarum jam atau bisa aja satu dua orang berlawanan arah, khan jadi variatif dan rame.

Cuman resikonya mungkin dicemooh sama pejalan dan pelari lainnya. Tapi ternyata tak ada itu, semuanya taat dan patuh dengan alur trek seperti itu. Ayo dong ada yang berbeda arah…. tapi itu belum terjadi. Tadinya pengen nyoba, tapi sebelum itu perlu juga tabayun dan uji literasi mandiri via mbah gugel agar tak salah kaprah karena penasaran akibat jenuh dan keisengan bisa berakibat tidak menyenangkan.

Jadi search dulu donk, trus jangan kelamaan juga searchnya ntar ga jadi-jadi tulisannya. Langkah kaki terus bergerak menapak trek biru yang dibeberapa titik tertulis ‘bank jabar banten’ lengkap dengan logo serta dititik lain ada tulisan ‘Regupol‘ … eh penasaran juga, kayaknya merk cat yang digunakan di trek lari ini.

Photo Regupol / dokpri.

Buru2 buka smartphone sambil tetap berjalan cepat… tadaaa… ini penjelasannya begitu jelas dan lugas : ….…….Produkty BSW to producent podłóg sportowych, nawierzchni bezpiecznych, mat sportowych, wyrobów elastomerowych dla izolacji dźwięków krokowych i izolacji drgań, mat antypoślizgowych do zabezpieczania ładunków, a także mat ochronnych i mat przekładkowych…..

Euleuh ora muddeng, bahasa aon?… Ternyata kesalahan mata, ada logo bendera merah putih ternyata tibalik, atuh diterjemahkeun kana bahasa polandia… beuu.

Buru-buru dikoreksi, Regupol ternyata merk produk dari karet elastis yang di buat sedemikian rupa digunakan untuk melapisi trek atletik dan lantai lapangan beberapa cabang olahraga dengan berbagai fungsi.. udah ah gitu aja, yang penasaran mah search we olangan.

Kembali ke pertanyaan tadi tentang arah lari yang selalu memutari trek itu berlawanan dengan arah jarum jam ada bahasan simple tapi jelas dari brilio.net yang menjelaskan bahwa :

…..dari AnythingLeftHanded, Sabtu (16/5), meski terdengar sangat sepele, arah lintasan balapan yang berlawanan dengan arah jarum jam ternyata punya alasan tersendiri. Arah tersebut memang sudah menjadi kesepakatan internasional. Dalam Aturan 163.1 International Association of Athletics Federations (IAAF), tertulis, “The direction of running shall be left-hand inside.

Sedangkan menurut alasan medis, superior vena cava mengumpulkan darah melalui pemompaan jantung. Pembuluh ini membawa darah yang kaya akan karbon dioksida dari kiri ke kanan di tubuh. Gaya sentrifugal yang berlawanan arah jarum jam membantu proses pemompaan ini. Sebaliknya, jika kamu berlari searah jarum jam, maka gaya sentrifugal akan menghambat jalannya proses pemompaan……

Terjawab sudah kepenasaran senin pagi ini, nuhun mbah gugel. Tadinya niatan mau lawan aruspun tak jadi. Langkah terus berlanjut hingga tak terasa keringat meleleh berbulir bulir pertanda badan sudah bereaksi dan waktu berjalan cepat harus segera diakhiri. Karena setelah jalan pagi ini harus segera mandi lagi, berganti baju seragam dan bersiap ikutan apel senin pagi… Ciaooo.

Tak lupa sebagai penutup gerak badan senin pagi ini, push up 25x secara riil dan 75x di otak sehingga total 100x….

Have a nice monday guys.