Gayo Wine Stasiun Kopi

Cerita perkembangan blogku sambil menikmati sajian V60 Gayo Wine di dekat Situ Buleud.

Photo : Sajian V60 Gayo wine di Stasiun Kopi / Dokpri.

Perjalanan hidup adalah misteri, meskipun sering kita ingin semua yang akan terjadi adalah sesuai alur fikir diri. Padahal disitulah indahnya kehidupan, ketidaktahuan adalah berkah kehidupan.

Begitupun diriku bersama blog akwnulis.com ini yang sudah melewati tahun pertama. Yup, dahulu masih platform gratisan yaitu akwnulis.wordpress.com. Cukup menikmati dengan berbagai kemudahannya, terutama dari sisi ke praktisan bisa nulis di Smartphone, masukin image, tuntaskan editing dan posting saat itu juga tanpa perlu membuka laptop atau PC.

Kekurangannya cuma satu, ada iklan dari wordpressnya yang tentu tidak bisa diriku kontrol, dan yang keren adalah iklan yang tampil di blog wordpress ini akan sesuai dengan tema iklan yang pernah di klik oleh seseorang yang sering berselancar di dunia maya.

“Wah asyik, blognya banyak iklannya, traktir donk”

“Kamu teh punya villa ya?, kok iklannya vila mulu”

Berbagai pendapat yang memberi semangat untuk membuat blog tersebut menjadi lebih baik dan bebas iklan.

Itu bukan iklan aku hiks hiks hiks.

***

Alhamdulillah seiring waktu, blog inipun sudah menanggalkan embel-embel gratisannya. Namanya menjadi akwnulis.com, dan yang paling signifikan adalah halaman blog ini adalah bersih dari iklan. Sehingga lebih nyaman dalam membukanya.

Eh kok jadi bahas blogku seeeh, kita khan mau ngopi dan nongki-nongki…

“Siaap?…”
Meluncurrrrr

Photo : Salah satu sudut cafe yang bebas asap rokok / dokpri.

Memasuki halaman kafe terasa nuansa cozy yang dibangun. Jajaran kursi outdoor juga yang berada di dalam ruangan. Sebelah kanan langsung terlihat kesibukan beberapa pegawai dan tentunya kasir yang melayani pembayaran.

Yeaah, Akw sudah tiba disini, Stasiun Kopi Purwakarta.

Pilihan tempat di siang hari ini masih sangat mudah, apakah mau smoking room ataupun ruangan yang bebas asap rokok. Pastinya “No Smoking room” jadi pilihan, rekanku yang perokok ngikut aja. Giliran dia mau merokok, yaa tinggal keluar aja, gampang khan.

Photo : Lesehan outdoor Stasiun Kopi / dokpri.

Akw memilih tempat duduknya yang strategis, disamping jendela yang langsung bisa melihat ke arah luar. Jadi kalau janjian dengan seseorang, bisa langsung lihat siapa yang datang, apalagi kalau blind date, siapa tahu yang datang nggak cocok dengan profilenya, khan bisa siap-siap.

****

Sajian pertama adalah kopi Arabica Gayo wine yang menggunakan teknik manual brew V60 dan sajian kedua adalah ‘fied enoki mashroom’, itu tuh jamur enoki digoreng crispi disajikan dengan saos siap cocol. Panduan yang tepat untuk cemilan menjelang makan siang.

Banyak lagi menu lainnya, termasuk kata pelayannya adalah ‘steak maranggi’, tetapi berhubung perut masih agak terisi, ya ditangguhkan dulu pesan makanan beratnya hehehehe.

Kopi Gayo winenya sesuai ekpektasi, disajikan dengan botol server hario dan gelas kecil. Dituangkan perlahan di gelas, srupuuut…. nikmaaat.

Sebuah rasa khas gayo wine menggoyangkan lidah, memberi sensasi rasa fruity yang mengena, paduan rasa berry dan anggurnya memberi suasana berbeda. Meskipun memang cukup kuat rasanya bagi pemula, tetapi nikmatnya disana, disaat lidah dan perasa di sekitar mulut disergap aliran acidity yang medium high dengan body medium tetapi menebal rasa pahit dan asamnya di akhir lidah, sebuah sensasi rasa memberi kesegaran penuh makna.

Photo : Fried Enoki Mushroom siap dinikmati / dokpri.

Nggak lupa juga ngemil jamur enoki goreng crispi sambil berbincang bersama kawan, colek saus sambalnya baru masuk ke mulut, renyah garing dan nikmat, Alhamdulillahirobbil alamin.

Bagi yang penasaran dan kebetulan beredar di Kabupaten Purwakarta, posisinya di pusat kota di dekat Situ Buleud. Tinggal ketik di googlemap ajaStasiun Kopi Purwakarta’, pasti jumpa.

Oh ya, klo bawa mobil parkirannya bisa masuk ke halaman 2-3 mobil ataupun dipinggir jalan saja. Itu jikalau siang hari dan bukan .alam minggu, karena dimalam minggu jalan ini ditutup, menjadi arena rendervouz dan kuliner jalanan yang penuh sesak dengan manusia lalu lalang.

Trus giliran bayar, semua free. Alhamdulillah, Pak Bos Purwakarta datang menemui, menemani minum lopi dan nongki-nongki hingga akhirnya ngebayarin semua yang tersaji, “Hatur nuhun pisan Pak Bos RH”

***

Oke gitu dulu ya para pembaca setia blogku. Selamat menikmati blog ini tanpa iklan dan jangan lupa ngopi,

“Kenapa harus ngopi?”

“Karena pahitnya kopi dapat mengurangi atau menghilangkan pahit getirnya kehidupan”

Sampai jumpa di tulisan berikutnya, Wassalam (AKW).

Garam Bakar (Uyah Beuleum)

Kuliner jadul di Priangan Timur.

Photo : Uyah beureum diatas piring yang dibalik / dokpri.

CIAMIS, akwnulis.com. Tampilannya sangat bersahaja, hanya berbentuk tempat seperti kendi dari tanah liat tetapi mulutnya relatif besar sehingga mudah untuk mengambil apa yang ada di dalamnya. Warna asli tanah liat yang dibakar menghadirkan nuansa merah bata alami, di dalamnya berisi butiran halus berwarna putih dengan rasa khas garam yaitu asin.

“Oh garam toh, lebay kamu mah cerita garam aja meuni repot beginih!”

“Kalem dulu jangan sewot, tulisannya belum tuntas kawan, sabar”

… lanjut nulis lagi.

Itulah ikon khusus warung nasi di perbatasan banjar – ciamis. Namanya Warung Jeruk.

Perkenalan dengan garam bakar atau lebih familiar dalam bahasa sunda adalah ‘Uyah beuleum’ itu udah lama, sekitar 17 tahun yang lalu… oww udah lama geuning.

Yup.. tahun 2001-an mampir pertama di warung nasi yang sederhana sangat sederhana, tetapi pa bos waktu itu, Bupati Sumedang mengajak berhenti disitu. Sesaat celingukan karena yang ada hanya warung nasi kecil.

Photo : RM Warung Jeruk 2018, lebih luas dan leluasa / dokpri.

Ternyata…. sajian makanannya istimewa, ayam goreng kampung dan ikan bakarnya begitu natural ditemani pilihan sambel yang lengkap dari sambel oncom, sambel terasi dadakan serta menu makanan sunda seperti pencok leunca, karedok juga beuleum peuteuy. Nah ‘Uyah beuleum’ pasti yang ditanyakan perdana.

Awal-awal nyoba sih yang terasa asinnya saja, tetapi dicoba dirasa-rasa ada rasa hangat yang berbeda, karena katanya dioleh dengan cinta… ahhaay.

Eh setiap ada tugas ataupun acara keluarga yang melewati perbatasan banjar ciamis maka seolah sudah protap untuk memenuhi kekangenan dengan makanan khas dan nyocol nasi panas ke si Uyah beuleum.

***

Penasaran dengan asal usulnya, maka iseng nanya kepada pengelolanya, ternyata menu Uyah beuleum ini adalah menu pusaka dari ibu sepuh pemilik dan pendiri warung Jeruk ini. “Geura jieun uyah beureum, insyaalloh berkah”

Sedikit dipikirin, mungkin juga ‘Uyah beuleum’ ini adalah menu termurah yang disajikan. Kebayang khan nasi panas, sambel, lalapan dan ‘Uyah beureum’.. selesai sudah, ngalimed.

Udah ah, mau makan dulu yaa. Wassalam (AKW).

Kuli-ner di Kota Padang

Kuli sambil kuli-ner di Kota Padang…

Jadwal siang begitu padat sehingga tak sempat untuk beranjak dari tempat acara. Maka malam hari menjadi pilihan alami, untuk beredar mencari makanan yang ada di Kota Padang Provinsi Sumatera Barat.

Judul resminya ikutan jadi perwakilan peserta ‘Konreg-OPSDA Wilba’ … panjang kan?
Singkatan dari Konsultasi Regional Operasional dan Pemeliharaan Sumber Daya Air yang digawangi sama Dirjen Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri.. ntar ah laporannya, sekarang balik lagi ke makanan dan minuman yaaa cekidot.

Pertama, rendang dan ikan. Nggak nyari diluar soalnya makan siang dan makan malam di hotel Grand Inna Muara juga ada, dan rasanya nikmat..

“Ah Lu mah enak melulu, nggak rame’ Sebuah komplen menghembus di telinga. Nggak pake lama dijawablah dengan sok bijaksana, “Bukan salahku bro, buatku makanan itu hanya dua pilihan, nikmat dan nikmat bingiiit…”

“Ah Lu bisa aja….”

***

Sesaat malam menjelang, belum bisa keluar area hotel karena acara pembukaan masih berlangsung… sudah elekesekeng (Nggak betah duduk. Bahasa sunda).

Akhirnya… jam 22.30 wib acara kelar dan…. cussss segera keluar hotel, apalagi dianter dan disopirin langsung sama Kepala Balai DAS Agam… (kebetulan nebengers, diajak sama Pa Kadis Kehutanan)…

Jadilah menikmati kuliner kedua di Kota Padang, yaitu Sop Durian… uuuh Yummmy…… dilanjut sepiring Sate Padang dengan kuah khasnya yang penuh rasa rempah menghangatkan hati dalam suasana kekeluargaan.

Dilanjutkan Ketiga adalah Durian dan ketan… awww.. ‘Awas Kolesterol!!’, tapi ….. sesuai arahan Gubernur Sumbar Bapak Irwan Prayitno disaat Acara pembukaan, “Jangan takut para hadirin, semua makanan di Kota Padang tidak ada kolesterolnya, selamat menikmati. Kolesterol itu adanya di Laboratorium”

Di daerah Ganting Kota Padang bersua dengan pedagang durian. Meskipun bukan musimnya, tapi ada pasukan durian dari luar Sumbar..
Lagian aku mah rumus yang tadi… pilihan hanya 2, enak dan enak bingiiit.

Segera menikmati si buah harum berlemak, tak lupa mencomot ketan bertabur parutan kelapa… nikmaat, lupakan diet dulu yaa.

Nyam
Nyam
Nyam…..

Akhirnya lewat tengah malam baru bisa kembali ke hotel dengan perut kenyang dan hati was was hehehehe… takut kolesterol.

***

Keempat adalah Roti Jhon, kedainya di pinggir jalan sebrang hotel. Harganya 26Ribu yang kecil dan yang besar 45Ribu dengan aneka tambahan topping seperti sosis, mozarella dan daging.

Karena yang besar sudah habis, maka pesen yang ukuran kecil…. ternyata besarrrr juga lho.

Konsepnya adalah makanan Amrik sonooh… Hotdog. Tapi dinaturalisasi dengan konsep lokal dengan namanya berbau bule, Roti Jhon.

Ukuran kecil ini jadinya 7 potong, bisa buat bertiga lho.

Kelima, ngopiii…. mulai dari kopi pembagian hotel di cangkir putih, espresso panas sambil nongkrong dipinggir kolam renang hingga akhirnya Kopi beneran….. penasaran?.. klik ajaNGOPI di PADaNG…. monggo.

…. bersambung.

Kuliner dini hari

Dinginnya pagi jangan menjadi alasan untuk berdiam diri, tapi sebuah tantangan untuk nikmati kuliner penuh arti.

Gelap masih menyelimuti hari, ditemani gigitan lembut dinginnya pagi yang mencengkeram raga dari segala sisi. Tapi itu semua tidak menyurutkan langkah untuk terus menyusuri jalan kehidupan yang terbentang di hadapan.

Bergerak menyusuri jalan perumahan yang masih sepi seolah kehidupan sedang berjeda. Tapi beberapa rumah sudah mulai terdengar gemericik air, sementara dengkuran halus masih mendominasi kenyataan. Ahh.. biarkan saja. Itu khan sesuai dengan komitmen masing-masing dengan prinsip hidupnya.

“Trus kamu ngapain jam segini sudah beredar?”, sepotong tanya lewati nalar, memberi peluang untuk tersenyum dan menjawab, “Ya pengen aja, apa pedulimu?” Agak ketus jawaban yang keluar, tapi tidak menjadi awal perseteruan karena dialognya masih berada dalam satu kepala.

Beberapa pemulung terlihat sudah berdinas, mengais kotak sampah warga untuk mengumpulkan plastik atau barang bekas yang mungkin berharga. Meskipun disaat diri ini melewati mereka, sapaan salam hanya dijawab dengan tatapan tanpa kata. Kembali permakluman menggema, mungkin memang sedang menghemat suara.

Setelah berjalan hingga 1,5 kilometer akhirnya tujuan pun sampai. Seorang ibu tua berkerudung menyambut dengan senyum ramahnya. Sementara satu tangan lagi sibuk mengatur posisi kayu bakar agar hasilkan panas yang sesuai. Harum adonan tepung beras dan oncom berpadu membuat aroma khas di pagi ceria, dingin dan lembab hilang sudah tergantikan oleh suasana penuh kehangatan.

Tak banyak cakap karena ternyata banyak juga yang datang mendekat. Transaksi singkat diperkuat oleh cahaya lampu mobil yang berkilat-kilat, menyaksikan peralihan barang dan uang di pagi buta penuh kekaguman.

Pilihan rasa terbatas tapi itulah yang menjadi makna kualitas. Menjaga rasa pantas serta kekuatan originalitas, membuatnya bertahan jalanani perubahan jaman tanpa takut turun kelas. Kuncinya adalah ikhlas dan melayani pembeli dengan prioritas.

Suguhan raja dan rakyat biasa atau disingkat SURABI, penganan sederhana yang miliki seribu makna. Meski pilihannya hanya surabi oncom dan surabi kinca, tapi disitulah sejarah kuliner lokal tetap membahana. Ibu tua ini berjualan dini hari mulai jam tiga, hingga ludes tepat jam lima. Jikalau jam enam pagi baru tiba, maka hanya rasa hampa yang akan mengemuka.

Wilujeng berburu dan menikmati surabi asli tanpa toping dan aneka varian yang warna warni.

Lokasi : di Sebrangnya Jalan Raya Kerkof No. 71 Leuwigajah Cimahi Selatan. Sebelum gapura pintu masuk Perumahan Cipta Mas Leuwigajah. Jam operasional 03.00 sd 05.00 wib… ya kadang ampe jam 06.00 Wib. Wassalam. (AKW).

Sensasi Kuliner Nostalgia

Melanglang nostalgia melalui indera perasa, mengingatkan memori masa silam yang sekejap sesaat dan nikmatt.

Photo : eskrim 3rasa/dokpri

Masa kecil adalah masa yang indah, sebuah ungkapan yang terasa mengena dan langsung membekas disaat bibir bersentuhan dengan buliran lembut es krim 3 rasa bercorong coklat muda.

Rasanya masih sama…. disaat dahulu, 30 tahun lalu bercanda ria di alun-alun Bandung bersama kedua orang tua.

Rasanya masih sama………. racikan eskrim lokal yang diolah tradisional rumahan. Dicecap lidahku yang mungil jaman harita. Kembali terbayang teduhnya alun-alun, ceruanya anak-anak yang bermain ceria. Juga tukang photo polaroid yang saat itu terlihat begitu canggih karena photo langsung jadi. Syaratnya hasil photonya di kipas-kipas dulu supaya gambarnya segera muncul.

Sekarang rasa itu kembali hadir dengan harga Rp 3.000,- , eskrim cone yang begitu ngangenin. Mencair di bibir membawa rasa tiada hingga, melupakan sesaat masalah hidup dan kerjaan yang ada. Menjelma sesaat menjadi anak kecil yang tak punya beban masalah kehidupan. Me-lamotan eskrim tiga rasa dengan nikmat tiada tara di saat mentari begitu garang memanggang hari.

Ya siang ini sensasi masa lalu 31 tahun silam seolah kembali lagi, hadir sesaat meskipun hanya berhitung menit yang akhiri oleh prosesi habisnya eskrim tiga rasa tandas tak berbekas di halaman Pusdai Jawa Barat, menanti waktunya sholat jumat tiba.

Sesi kuliner kenangan tidak hanya oleh secorong eskrim, karena ada juga semangkok sajian yang menjadi jajanan wajib semasa menjadi mahasiswa… ya sekitar 18 tahun lalu.

Apa itu?…

pasti para pembaca tau dech..

CUANKI…

Hayooo pasti pada tau khan?… Sajian semangkok baso berkuah ditambah tahu putih, siomay dan jika mau tambah kenyang untuk modal perkuliahan siang hingga malam… ya tambah indomie sebagai pelengkap penyempurna. Paten pokonya mah.

Jangan lupa saus sambalnya agak banyakan… pedas merangsang keringat untuk mengucur, memberi sensasi kegerahan yang menggembirakan. Trus jangan salah guys, istilah cuanki bukan bahasa dari negeri tiongkok tapi istilah asli yang muncul di tanah priangan yang miliki arti nasional, Cuanki kependekan dari ‘Cari UANg jalan kaKI’ jadi ngider membawa baso dan kawan-kawannya lengkap juga panci dan kompor yang menjamin air kuah panci tetap panas menggelegak sepanjang hari.

Ingin rasanya makan cuanki lengkap dengan indomienya, apa daya sang protokol melarang. Tapi urusan dokumentasi tetap jalan. Tinggal menunggu yang jajan datang dan minta ijin di photo…. mangkoknya bukan orangnya. (Soalnya ada yang ge-er disangka moo photo wajah trus ngarep jadi viral, ampyun dech!!).

Jadi dech kenangan kuliah melintas lengkap di pikiran, pa lagi jaman harita masa-masa duit terbatas. Semangkok cuanki kumplit dan bonus semangkok kuahnya doang sangat cukup mengganjal perut hingga malam menjelang. Sekarang harganya Rp 10.000,- per mangkok dengan status kumplit termasuk indomie 1 bungkus.

Photo : Mamang Cuanki & teteh Eskrim/dokpri.

Yang penasaran, ditunggu ama teteh tukang eskrim dan mamang Cuanki di halaman depan Pusdai Jabar. Khususnya hari jumat, ya jam 10an. Karena selain aneka kuliner juga di jalan raya arah timur adalah pasar kaget mingguan.

Photo : Shalat jumat 080917/dokpri

Jadi met hunting kuliner nostalgia, murah rasanya, muanteeebb kenangannya. Saya mah moo sholat jumat duyu…..

Selamat berbelanja dan berkuliner nostalgia. (Akw).

11 Kuliner di Makassar

Coba kumpulkan beraneka rasa makanan khas selama berkunjung di Kota Makasar yang menyajikan beragam varian kelezatan daaan…. kolesterol.

Photo lumpia & Jalangkote : Dokpri

Waktu yang terbatas, berada jauh dari rumah disela agenda meeting luar pulau luar provinsi yang berjadwal padat, maka pilihan yang paling tepat adalah berusaha menyempatkan diri mencicipi makanan khas yang ada di daerah tersebut. 

Bisa di malam hari jikalau memungkinkan, atau disela perjalanan menuju bandara. Karena kalau lagi meeting kabur dulu sangat tidak dianjurkan, apalagi cuma demi icip-icip makanan khas. Meeting ya meeting, klo moo santey dan banyak waktu ya liburan bersama keluarga. Nabung dulu trus ngajuin cuti ke kantor. Baru bisa mengatur agenda pribadi beredar baik dalam dan luar negeri.

Kali ini Kota Makasarlah yang menjadi tempat berburu makanan khas. Sebuah Kota yang berkembang semakin pesat seiring pertumbuhan ekonomi khususnya se provinsi Sulawesi Selatan  yang mencapai 7,01% diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Sebuah kota yang sibuk dan titik kemacetan semakin menyebar, tapi ya sudah kita nikmati saja. 

Bukan hanya makanan khas lokal saja, tapi makanan yang ada di Kota Makasar dan sempet di icip-icip yaitu :

Photo : dokpri

Pertama, Jalangkote. Makanan khas Makasar yang serupa dengan pastel di tanah jawa tapi isinya padat atau munu’u (bhs sunda). Bisa dinikmati ditempat ataupun dibawa pulang. Jangan lupa minta yang setengah matang jika untuk oleh2. Trus nyampe rumah masukin kulkas dulu. Bisa tahan 5 hari kata Ibu hj Diana yang jualan di Jalan Lasinrang Kota Makasar. Harga di range 6.500 hingga 7 ribu perbuah. Tapi klo di rumah banyak orang yaa nggak usah masukin kulkas, tinggal goreng, tiriskan, sajikan dannn…. habis tandas tiada sisa.

Photo Lumpia mentah & tetehnya (Dokpri)

Kedua, Lumpia. Sebenernya sama aja dengan lumpia di Bandung. Bedanya dari bumbunya saja. Klo masalah enak dan tidak, buat saya yang hobi makan ya pasti enak. Khan rumus makanan itu ada 2 pilihan. Enak dan enak bingit plus enaak bingiit (itu klo makanan khasnya dibayarin temen, bos, sodara, sponsor atau siapapun yang berbaik hati). Harga sama antara 6500 sd 7000 rupiah.

Photo tempat kuahnya segede gaban (dokpri)

Ketiga, Sop sodara. Ini sop berkuah yang pilihannya kikil, daging, lidah, paru plus perkedel kentang yang tersaji panas dengan mangkuk kecil. Untuk tambahan ada telur asin yang disajikan terpisah. Yang terkenal enak terletak di jalan Irian (itu juga kata travel) dan ternyata enak bingit karena pas laper setelah seharian meeting dan kunjungan lokasi yang cukup melelahkan. Eh lupa, Nasi sebagai pendukung utama sop sodara ini. Tapi saya cukup sop sodara campur aja dan minta 2 porsi. Lupa nggak nanya harga, soalnya pas bayar langsung ditotalin.

Photo coto makassar : dokpri

Keempat, Coto Makasar. Disajikan di mangkok kecil dengan pilihan Coto Daging, Coto Paru, Coto Ludah eh lidah, Coto jeroan, atau Coto Campur klo pengen kumplit semua ada. Tempat makan Coto tersebar di penjuru kota, yang direkomendasi sama sopir travel itu di jalan nusantara. Rasa?… enak donk. Kuah panas berpadu daging, jeroan, paru dan lidah dicampur bawang goreng dan bawang daun tidak lupa jeruk nipis dan sambel plus kecap… pedas mantabs. Lontong tersedia, tapi saya cukup semangkuk coto daging plus semangkuk coto campur hehehe. Harga 25ribu per mangkuk, lontong dan air teh atau juice nambah lagi.

Photo : dokpri

Kelima, Pisang Ijo. Itu sajian cuci mulut yang nikmat. Dengan terpaksa melanggar rumus diet karena penganan ini sarat karbo dan gula. Tapi demi review blog yaa terpaksa dinikmati (hehehe… alasannya klise ya?). Pisang ambon dibungkus lapisan terigu berwarna hijau, disajikan di piring ditemani seperti bubur sumsum berwarna putih plus diguyur kuah merah manis dari sirup plus gerusan es batu. Nikmat pisan, dingin, manis dan manis… ups. 

Photo Konro Bakar : Dokpri

Keenam, Konro. Ada dua pilihan penyajian, bisa berkuah atau konro bakar, disajikan terpisah dengan kuah. Daging rusuk yang besar, dibakar berbumbu khas, mirip bumbu sate dan enak, sedikit rasa manis beradu dengan rasa asin segar dari kuahnya yang sudah dikucuri perasan jeruk nipis… yummmy. Ini posisinya di Jalan Karebosi Kota Makasar. Beberapa warung dan rumah makan yang menyajikan konro, disini relatif luas dan ada 2 lantai sehingga bisa leluasa menampung rombongan. Sebagai teman setia tentu nasi sepaket dengan konro. Kecuali yang nggak makan nasi tinggal di oper ke temennya yang gembul. Harga 55 ribu untuk sop berkuah dan 57 ribu yang konro bakar.
Ketujuh, Risolles. Ini mah biasa di bandung juga ada. Tapi tetep penasaran jadi dijabanin barang satu dua buah. Lumayan buat ganjal perut malam-malam. Dengan isi potongan sosis, daging asap plus mayonnes enak di makan panas-panas. Harga 8 ribu per biji.

Photo : dokpri

Kedelapan, Sop Kepala Ikan. Sajian sop Kepala Ikan laut di Rumah Makan Pallu Kaloa, jalannya lupa euy. Membebaskan rasa lapar di siang terik yang begitu memanggang raga. Tersaji lagi-lagi dengan nasi. Tapi yang asyik selain nasi adalah telur ikan goreng yang rasanya garing gurih sedikit asin. Terasa daging kepala ikan yang maknyus memanjakan mulut meluncur ke perut. Alhamdulillairobbil alamin, terima kasih atas rejeki dan nikmat-Mu Yaa Allah. Ini rasanya nikmat bingit pake bingit lagi karena di traktir teman ya g sudah jadi pejabat di Kota Makassar. Thanks bro.

Kesembilan, ikan bakar. Sebetulnya berbagai jenis tetapi yang paling enak (kata pa Asda EkbangKesra Pemprov Sulsel waktu sambutannya di Kantor Gubernur Sulsel) Khasnya adalah ikan laut dalam jenis napoleon, tapi kesempatan waktu ternyata tidak memungkinkan. Mungkin next trip or next meeting ke Kota Makasar baru bisa mencicipinya. Trus ternyata disini tidak ada ikan, yang ada adalah Ikang (tambah hurup G di belakang :)) apapun itu yaa jadi catetan aja dulu.

Photo : dokpri

Kesepuluh, Baklave Irfan Hakim. Klo di Bandung Brownies Amanda lagi dikepung sama Makuta Laura CB, kue Princess sama kue.. lupa euy Mamanya Rafi Ahmad. Nah di Makasar ada Irfan Hakim dengan bakavenya. Tokonya di jalan Hasanuddin  Kota Makasar, harga perkotak 65 ribu dengan varian rasa original, coklat, keju, grinti (green tea) dan kacang. Ya ikutan coba beli meskipun tinggal 2 varian. Ntar diicip di rumah sama istri, anak dan keluarga.

Kesebelas… pengennya bahas otak-otak tapi …… euh udah ah. Ini juga udah eneg kekenyangan heu heu heu. Ntar klo kekenyangan bisa-bisa ngorok di ruang tunggu bandara dan ditinggal pergi pesawat karena hingga panggilan terakhir masih tertidur dengan lelapnya di kursi ruang tunggu bandara. Audzubillahimindzalik.

Eng.. ing.. enggg.

Alhamdulillah Lion Air JT 883 Dengan pesawat jenis Boeing 737-800 New Generation bisa take off tepat waktu untuk mengantarkan kembali ke Kota Bandung berkumpul kembali dengan keluarga tercinta. Wassalam. (Akw).

Kepala Kakap & Burung Punai

Enaknya kepala kakap dan burung punai goreng, yummy…

Sumber photo : Dokumen pribadi

Tawaran makan siang gratis memang tak bisa ditolak, apalagi setelah meeting sang perut sudah kerasa nagih untuk diisi. Maklum 18 jam perut hanya diisi air putih dan teh saja plus dua glek VCO dan setetes madu… 

Lagi pengobatan?..

Lagi diet?….
Nggak!!, cuman mencoba gaya hidup yang insyaalloh cocok untuk diri ini. Dan yang terpenting adalah pola gaya hidup (diet) ini akrab bingit dengan yang namanya rumah makan padang. Karena rumus sederhananya adalah Stop Karbohidrat, Stop Gula dan Ganti Lemak. Serta dipadu dengan pola puasa… entar aja dongeng lengkapnya yach. Khan moo cerita dulu tawaran makan siang lho, bukan cerita diet he he he.

Sumber photo : Capture Google maps

Ternyata tidak jauh dari sekitaran Monas tempat meeting pertama, dalam kendaraan tebengan yang meluncur membelah jalanan siang jakarta yang padat menuju bilangan pasar baru, tepatnya di jalan Krekot Bunder. RM Padang Medan Baru, itu nama rumah makannya. Tiba di depannya, sudah penuh mobil berderet parkir. Terlihat dari luar tidak terlalu luas. Tetapi setelah kaki menjejak ke dalam rumah makan, terasa luas dan panjang. Maka tanpa basa-basi menuju tempat yang sudah disediakan oleh sponsor :), duduk manis sambil ngeceng makanan yang disajikan, terutama itu tadi kepala kakappp…

Sumber photo : Dokumen pribadi

Ternyata kesampaian juga menikmati sajian kepala kakap di rumah makan ini. Termasuk bonus yang juga andalannya adalah burung punai goreng. Sedikit lebih kecil dari puyuh dan dagingnya empuk serta harum. Sajian rendang dan balado lainnya tidak sempat dicicipi karena sudah keburu terhipnotis oleh lezatnya kepala kakap dan burung punai goreng.. of course Tanpa Nasi.

Sayangnya burung punai goreng lupa diabadikan dulu, karena baru saja dihidangkan langsung menjadi rebutan para hadirin penikmat makan siang ini, kalaupun photonya adalah tumpukan tulang belulangnya serasa tak elok karena tidak beda dengan kumpulan tulang ayam goreng.

Maksi ini ditutup dengan segelas jus alpukat tanpa gula. Disajukan cepat dan betul-betul alpokat mentega less water, less Ice and no sugar. Segerrr. Nikmat. 
Alhamdulillah perut kenyang pikiran tenang. Sebagian teman berpindah duduk ke ruangan tanpa AC atau di luar area rumah makan untuk melakukan ‘ritual’ pembakaran sebatang dua batang rokok. 
Pas nyari toilet dan mushola, pegawai menunjuk arah belakang. Segera bergerak dan dibalik banyak orang cacaleuhakan eh makan-makan tersembunyi mushola yang asri dan bersih lengkap dengan tempat wudhu yang nyaman. Pokoknya musholanya rekomended dech… kecil tapi nyaman.

Setelah semua selesai maka rombongan dengan beberapa mobil bergerak ke tempat meeting berikutnya. Terima kasih kepada sponsor yang sudah mentraktir kami semua, semoga dibalas dengan rejeki yang lebih banyak dan berkah.

Wassalam

@andriekw kihapit160717