Rakutak kopi di ARMOR.

Sruput rakutak nggak bikin otak berontak..

Photo : Sajian Arabica Rakutak by V60 / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Kehadiran cafe atau resto atau kedai yang mengusung salah satu pilihan menu Kopi hitam tanpa gula (kohitala) semakin banyak hadir di tempat yang kebetulan menjadi tempat beredar atau perlintasan karena suatu urusan.

Tentu kafe inipun tidak melulu menghadirkan kohitala, tetapi bejibun menu yang hadirkan berbagai pilihan yang menyisir berbagai kalangan khususnya millenial dan para pihak yang masih semangat millenial padahal…. sudah masuk generasi kolonial hehehehe.

Jadi mampir kesinipun dituntun oleh jalan takdir, karena pas lagi menanjak di jalan raya kolonel masturi Cimahi utara… eh memasuki wilayah Kabupaten Bandung Barat, ada plang cafe baru dan sudah jelas pasti ada sajian kopi-nya, pasti da.

Photo : Sebelum masuk / dokpri.

Jadi nggak menggunakan banyak pertimbangan, langsung kurangi kecepatan pasang sein gupay (pake tangan melambai-lambai).. sein kiri maksudnya dan beloklah pada halaman parkir yang begitu luas…. menyenangkan. Apalagi pas lihat jam di handphone, masih ada waktu sekitar 45 menit sebelum tiba waktu janjian.

Aihh janjian sama siapa Kakak?”

“Ups… jangan ribut ah, kepo aja kaww…”

***

Nama Cafenya ARMOR KOPI, buat yang sering ngopay di sekita kota bandung diyakini sudah tahu lokasi cafe yang berada di daerah jalan Bukit Pakar Utara Ciburial dan juga di jalan sersan bajuri Cihideung arah lembang. Nah sekarang hadir juga di daerah kolmas cimahi utara dan inilah ternyata tempatnya.

Photo : Barista sedang beraksi / dokpri.

Masuk ke cafenya suasana homy begitu terasa, nuansa gudang besar masa lalu langsung berubah karena telah disulap menjadi cafe yang go green, penuh dengan tumbuhan dan udara segar bandung utara serta menggunakan desain warna warni cerah yang memanjakan mata, maka pilihan ngopi kali ini semakin bermakna.

Kopi yang dipilih kali ini adalah jenis kopi arabica yang berasal dari Gunung Rakutak Cianjur sehingga dinamai Kopi arabica rakutak. Dilanjutkan oleh sajian kopi dingin Javanesse Gununghalu honey yang semakin melengkapi kenikmatan kohitala kali ini.

Photo : Salah satu sudut Armor Coffee / dokpri.

Tadinya ingin menulis tentang profile rasanya, tapi inget ada yang komplen, katanya cuman ngabibita saja (cerita doang hingga bikin pembaca kepengen, tapi nggak pernah ngajakin ngopi…😀😀😀)… jadi biarkan masuk ke ranah misteri dan membuat penasaran saja, meskipun saya simpulkan bahwa sajian kohitalanya banyak pilihan, barista-nya jagoan, salah satunya Kang Umay dan suasana cafenya luas – segar – menyenangkan.

Srupuuut… sueeger. Wassalam (AKW).

Nyeduh Kopikir Bogor

Nyeduh kopi sambil mikir, kopi apa ini, misterius, tapi ah.. kok dipikir, nikmati aja Kopikir.

Senin pagi setelah tuntas mengaji, segera menggerakkan kaki untuk bersiap apel pagi. Tetapi karena waktu masih banyak maka dilanjutkan dengan diskusi bersama membahas banyak hal bersama para pejabat eselon dua, dari topik sederhana hingga yang agak serius , pembicaraan mengalir terbangun alami.

Tapi akhirnya segera undur diri karena ada tugas mandiri yang harus segera dimulai, apa itu?…. nyeduh kopiiiiii.

“Kenapa jadi penting?”

Pertanyaan yang standar, tapi selalu ada hal yang bisa dijadikan alasan. Pertama karena memang suka banget kopi dan kedua ini kopi gratis tis tis, dikirim via paket dari Bu Dewi yang bekerja di Pemerintah Kota Bogor. Ketiga, ini kopi lokal nusantara. Karena beberapa minggu belakangan hampir semua kopi yang tersaji adalah kopi luar negeri. Padahal kopi Nusantara is the best lho.

Hatur nuhun ya Bu Dewi.

Sudah 2 minggu lebih sang kopi ini dibawa kesana kemari. Tetapi belum ada kesempatan untuk menyeduh sendiri. Maklum lagi sok sibuuk hehehehe. Jadi menikmati kopi tanpa gulanya lebih banyak yang disajikan manual brew oleh orang lain.

Nah pagi ini… saat yang tepat sebelum apel pagi untuk menyeduh si hitam bubuk harum dari bogor ini.

Bungkusnya menarik, alumunium foilnya berlapis warna putih dengan gambar depan yang minimalis bertuliskanKopikir‘... maksutnyaa?… kopi + kir atau ‘kau pikir’ kali yaa?… atau kok pikir pikir?… entah lah, yang pasti dibawahnya ada tulisan kopi bogor.

Nggak pake lama, stalking dulu via gugel dan medsos, Instagramnya lucu… dan disebut berbagai varietas kopi di Nusantara, ada Gayo hingga Toraja juga Balinese and Javanesse… yang ini dari mana ya?… bungkusnya di bolak balik. Ada gambar kijang dan dibawahnya gambar karikatur yang menggambarkan suasana kota Bogor… jadi penasaran. Misterius yeuh.

***

Alat tempur segera disiapkan, kertas filter, V60, termometer, timbangan, gelas ukur dan tentunya air panas sesuai harapan. Nggak lupa basahin dulu kertas filternya dengan kucuran air panas sebelum bubuk kopi diseduh dengan sepenuh hati.

Setelah semua siap, 48 gram bubuk kopi segera disentuh perlahan oleh kucuran mesra 400 ml air panas temperatur 90 derajat celcius…
Hmmm…. aroma harum kopi memenuhi ruang harap, bikin senin pagi semakin semangat setelah tadi pagi jam 03.00 wib sudah mandi karena jadwal shubuh berjamaah sudah menanti.

Tes….

Tes….

Tes…. tetesan cairan hitam kopi berkumpul di bejana kaca transparan.. ah nggak sabar nich untuk segera menikmati.

Tuntas di bejana segera dituangkan pada cangkir kecil kesayangankuu….

Daan…. srupuuut…. kumur dikitttt…. glek….

Dessss…… sebuah rasa menyeruak di pagi ceria. Aroma harum dengan kepahitan merata dan tertahan lama dibawah lidah (body bold… kayaknya blended arabica dan robusta… atau roastingnya maksimal.. dark roast.) Aciditynya rendah, taste yang muncul rasa dark coklat dan selarik rasa kacang tanah… yakin ini bukan javanesse coffee…. apa yaa?

Ah tapi nggak perlu banyak tanya, tapi nikmati aja.

Ntar klo ketemu bu Dewi, baru tanya-tanya lagi. Yang pasti kopikir yang sudah dikirim ini begitu nikmat. Malah 400 ml hasil manual brew hanya bertahan sesaat di bejana karena segera habis di nikmati bersama.

Hatur nuhun bu Dewi, Wassalam (AKW).