Ngopi pagi di Pakuan

Bekerja di pagi hari sambil Nikmati sajian kopi asli di Gedung Negara Pakuan yang penuh harmoni.

Photo : Ruang utama Gd Negara Pakuan / Dokpri.

Disaat sang mentari masih bersembunyi dibalik lelahnya hari, raga ini sudah melesat membelah sepinya jalan menuju kediamanan Gubernur Jabar. Perjalanan dari Cimahi Selatan ke jalan Otista satu Kota Bandung bisa ditempuh 15 menit saja, padahal klo siang hari pas padat-padatnya para pengendara beredar kesana kemari maka bisa 1,5 jam hingga 2 jam.

Jarum jam menunjukan pukul 05.25 wib tepat disaat moncong toyota rush ini memasuki gerbang kediaman jabar satu yang disebut gedung negara pakuan. Disambut kehijauan taman yang asri memberi kesegaran hakiki. Mobil bergerak melengkung ke kiri mengikuti arah jalan menuju parkiran di halaman gedung art deco ini, eh ternyata bukan yang pertama karena sudah berjajar tujuh kendaraan yang bertamu pagi itu.

Setelah parkir sempurna, mengemasi berkas yang harua dibawa. Yah meskipun bukan panitia inti acara pagi ini tapi persiapan itu penting. Jadilah pendukung acara yang baik.

Segera bergegas mengajak kaki untuk melangkah menuju gedung yang indah. Gedung bercat putih terang penuh kelembutan, gedung negara pakuan yang penuh dengan kenangan.

Photo : Stand sarapan / dokpri.

Menaiki sepuluh anak tangga menapaki ruang tunggu tamu terlihat beberapa undangan sedang berbincang. Bergerak memasuki ruang depan disambut kemegahan kursi-kursi dan meja klasik bertabur hiasan ukiran yang mempesona. Belum selesai dari situ, bergerak kembali semakin masuk ke dalam gedung dan di ruang utama sudah tertata 14 meja bundar dengan kanan kiri stand – stand makanan minuman yang dipersiapkan untuk sarapan.

Yummy……

Photo : Stand kopi Java Preanger gnhalu / dokpri.

Daan… yang bikin hati ini lebih berbunga adalah satu stand yang membuat pagi ini semakin ceria dan dijamin acara pagi ini akan lebih berwarna. Gimana ga seneng, grinder listrik ready, bean sudah standbye 2 botol besar, peralatan menyeduhnya ada, kertas filter ada dan tentunya V60pun sudah melambaikan tangan agar segera digunakan. Tidak lupa pemanas air yang berdiam gagah disamping kanan. Tapi masih harus bersabar karena barista sang penyeduhnya belum terlihat. Sabaar.

Tepat jam 06.00 wib para Tamu undangan yang hadir dipersilahkan menikmati hidangan. Pejabat Pemprov Jabar mendominasi, Pangdam III Siliwangi, Bupati Majalengka dan Sekdanya, Kepala BPN Jabar, Kakanwil I BJB & rengrengan. Unsur dari Polda Jabar, Polda Metrojaya, Kodam Metro Jaya, Kejaksaan Tinggi Jabar, PT. BJB, PT BIJB sudah lengkap dan mulai menikmati hidangan yang tersaji.

Disaat para tamu mengantri di stand makanan berat, segera menyelinap dan berdiri disamping barista gaul, namanya Kang Yuda. Masih muda, gagah dan pinter nyeduh kopi, ya iyaaa atuh… khan dia Baristanya.

Tepat pukul 06.30 wib, Pak Aher muncul dan bergabung bersama tamu undangan untuk bersama-sama sarapan dilanjutkan acara resmi yang dipandu oleh bagian keprotokolan.

Aku mah masih stay ditempat strategis, deket stand kopi. Tapi tetap mengikuti acara dengan khidmat.

Suara grinder menjadi musik pagi yang membumi, memberi suasana ceria di pagi yang sendu ini. Menghancurkan biji kopi java preanger gununghalu menjadi serpihan semi kasar pake ukuran 4,5 sampai 5 sehingga tidak terlalu halus. Tujuannya agar bisa tersaji kopi panas dengan metode V60 yang mengedepankan rasa sweet fruity, terasa maniis gitcu kayak aku… ahay.

Tujuannya menyajikan kopi tanpa gula cenderung fruitty adalah langkah bernas untuk memperkenalkan cara menikmati kopi tanpa gula dengan rasa yang relatif bisa diterima oleh seseorang yang bukan penikmat kopi. Bener saja, seorang bapak gagah berseragam mendekat, “Minta kopinya kang”

“Silahkan pak” Segera mengucur cairan kopi yang harum ke cangkir kopi karena kebetulan baru persekian detik tuntas membuat racikan perdana.

“Duh pahit nich, ga pake gula ya?”, Bapak berseragam meringis. Kami tersenyum, Kang Yudi menjawab, “Nggak pak, ini kopi asli dan dinikmati tanpa gula.”

Setelah bapak tadi berlalu, segera mengambil cangkir yang sudah terisi kopi. Menyeruput pelan-pelan, terasa sensasi manis buah-buahan menyeruak di seluruh rongga mulut. Enak dan kayaknya cocok untuk yang tidak biasa ngopi. Tapi dari sisi body kurang paten, acidity sedang dan ya itu tadi sweety diutamakan. Rasa manis ini didapatkan dari proses penyeduhan diatas V60.

V60 itu yang mirip corong dan digunakan untuk nyeduh kopi bubuk. Jangan lupa sebelum nyeduh menggunakan kertas filter yang disiapkan khusus. Tapi sekarang udah banyak yang jual. Harga V60 dari mulai 70ribuan yang berbahan plastik hingga ratusan ribu atau jutaan, itu yang keramik dan stainless stell. Sebelum kopi dituangkan dalam V60 yang udah dilengkapi kertas filter, basahi dulu kertas filter dengan air panas. Lalu tuangkan kopi bubuk yang sudah digiling tadi dengan ukuran 28gr/sajian/cangkir. Air panas yang dituangkanpun harus diukur, kang Yudi ini pake di 75 sd 85 derajat celcius. Jadi termometer adalah teman setia barista.

Proses penyeduhan pun harus bertahap. Tahap awal adalah blooming, yakni menyeduh sedikit bubuk kopi tersebut dengan tujuan melepas CO2 yang terjebak di dalam bubuk kopi. Diam beberapa saat, klo udah kelihatan ngaburukbuk ada gelembung udara itu tandanya proses blooming selesai dan siap seduh.

Ternyata cara nyeduhnya ini yang bisa hasilkan rasa kopi yang berbeda. Jika ingin mendapatkan rasa sweety maka putaran seduhan melingkar searah jarum jam dan berputar dari arah luar sementara untuk meraih rasa body atau level pahitnya kopi (ini biasanya untuk yang udah biasa ngopi item.. ya espresso juga dopio) maka menyeduhnya fokus dari tengah secara dominan.

Karena nempel terus sama sang Barista, maka yang bisa dinikmati adalah 2 cangkir versi sweety dan 2 cangkir versi body yang dapet rasa pahitnya citarasa kopi asli parahyangan dari dataran tinggi Bandung Selatan.

Itulah sekelumit kisah tentang ngopi gratis kedinasan. Pekerjaan tuntas dan ngopi aslipun bisa bergelas-gelas. Jangan merasa ribet dengan proses dan aturan pembuatan kopi yang berbelit dan memakan waktu. Karena jangan salah dalam proses itu terletak suatu makna keindahan. Bagaimana sebuah proses seduhan yang berbeda menghasilkan rasa yang berbeda?…

Amazing bingit dech.

Trus rasanya kok pahit?… coba pelan-pelan dan kontinyu. Maka lidah akan terbiasa dan mampu membedakan mana yang memang dibuat pahit karena ngejar bodi, keasaman aciditynya ataupun rasa manis buah-buahannya. Yakini kopi tanpa gula itu nikmat, tidak pahit karena lebih pahit kehidupan ini.

Jikalau kopi yang tersaji masih teuteeeep terasa pahit, ambil kaca. Sruput kopi pahit sambil pandangi wajah kita yang manis. Insyaalloh hati sedikit berbunga dan mulut senyum dikulum.

“Nanaonan ari kamu, nginum kopi bari ngeunteung?!!”

(“Kamu ngapain, minum kopi sambil bercermin?”) Paling itu yang bakalan terucap.

Nggak percaya? Silahkan coba.

Photo : Gubernur & pimpinan Instansi / dokpri.

Alhamdulillah, pak Gubernur Jabar tuntas berpidato setelah prosesi penandatangan dengan beberapa pihak dalam rangka pengamanan pilkada 2018 dan juga percepatan pembebasan lahan PT BIJB. Diakhiri dengan doa dan photo bersama. Kamipun tuntas menyeruput cangkir kopi ke-5, buatan sang Barista.

Hidup pagi ceria. Wassalam.(Akw).

Berseru hari berkawan hujan.

Biarkan sang hujan menjatuhkan diri ke bumi membuat goresan petualangan yang tak lekang oleh jaman….

Photo : Suasana Cafe di Cimahi Utara / dokpri.

Gemericik butir hujan menyentuh dedaunan dan atap yang menaungi kebersahajaan, membentuk melody kehidupan yang meresonansi jalinan kenyataan menjadi bentuk tafakur yang berbuah hikmah penuh berkah.

Peristiwa jatuhnya hujan terkadang dianggap penghalang, padahal hujan adalah pembawa berkah bagi semesta yang senantiasa menantang. Disitulah bedanya titik hikmah yang bisa menjadi tak serupa karena sudut pandang yang dipahami berdasarkan ilmu yang dimiliki.

Bagaimana cara menikmati gemericik hujan yang datang tidak terduga?….. banyak cara, tapi ada satu yang mudah yaitu ‘berkawanlah dengan dia, kopi’.

Pertama, jika berada di rumah bersama keluarga itulah saat luar biasa. Setelah selarik doa syukur terpanjat tentu menikmati penganan hangat dengan secangkir kopi panas plus senda gurau gelak tawa anak adalah keindahan rasa yang tak bisa dinilai. Tapi ingat usahakan kopi giling yaa… bukan kopi gunting atau sacetan (tah.. tah… tah mulai lagi urusan kopi).

Photo : Double shot espressoku / dokpri.

Jika tak punya coffee maker maka lakukan manual drip dengan V60 atau……. yang paling gampang adalah bikin kopi tubruk. Karena kopi tubruk adalah kepolosan yang menyimpan kejutan rasa nikmat, tanpa banyak basa basi kata Ben (Cicho Jericho) sang Barista dalam Filosopi Kopi The Movie. Tinggal pilih biji kopi pilihan hati, di grinder manual sambil melibatkan rasa dan cinta maka akan memunculkan sebuah citarasa yang tiada tara. Bagaikan kopi ‘tius‘ kopi tradisional dataran Dieng racikan Pak Seno yang bisa mengalahkan ‘Perpecto‘ nya kedai Filosopi kopi.

Kedua, disaat gemericik hujan mendera bumi dan kita posisi sedang dalam garis edar alias sedang beredar, maka menjambangi kedai kopi adalah sebuah sensasi tersendiri. Bisa juga cafe yang miliki varian produk kopi, peralatan dan tentunya barista handal yang ramah dan rendah hati.

photo kopi tersaji by V60 / dokpri.

Bagi penyuka kopi pahit, maka paling simple cukup beberapa pilihan dulu aja. Yaitu espresso, dopio alias double shot espresso atau kopi tubruk, atau bisa juga pake V60. Cold brewpun masih cocok meski dingin bersaing dengan derasnya hujan. Long black juga bisa menjadi teman setia.

Apa lagi klo cafe khan selain citarasa kopi juga pasti menjual suasana, bikin betah berlama-lama. Apalagi bersama istri tersayang yang memang lebih dulu ‘mencintai‘ kopi. Gemericik hujan terdengar berdentang riang, menemani sruput demi sruput angan yang berpendar keindahan.

Itulah secuil rasa yang bisa disesap dan dinikmati bersama sang kopi disaat langit sore sedang sendu terkungkung lembayung ungu. (Akw).

Cikidang nggak jd Begadang

Menembus malam menjemput harapan, sebuah perjalanan yang menjadi bukti ketaatan dari tugas pekerjaan berbalut rindu terhadap keluarga yang penuh kehangatan

Photo Meeting Tim KEK / Dokpri.

Manusia berencana tetapi Allah-lah yang Maha berkehendak, menghadiri acara di Cikidang Kabupaten Sukabumi yang awalnya 2 hari ternyata harus diubah karena ada tugas lain menanti. Tanpa banyak bersensasi, segera pamit undur diri dari area Cikidang Plantation Resort yang menjadi tuan rumah pertemuan alias meeting tentang penyusunan proposal pengusulan Kawasan Ekonomi Khusus di Jawa Barat khususnya dari Kabupaten Sukabumi serta 5 daerah lainnya.

Photo Club House Cikidang dari parkiran / dokpri.

Setelah adzan isya, kami bergerak meninggalkan Club House Cikidang yang berdiri megah diatas bukit penantian. Perjalanan malam membelah kabut yang begitu erat memeluk. Foglamp hampir menyerah karena tak sanggup menembus tebalnya tirai alam yang berbalut misteri. Foglamp alias lampu anti kabut, karena gara-gara satu huruf bisa bermakna lain yaitu froglamp berarti lampu katak, yang gimana itu?…..

Photo : Lampu mobil menembus kabut / dokpri.

Lampu jauh tak berkutik sehingga kami merayap turun penuh taktik, detik demi detik. Waspada menjalari dada, memanjangkan mata dan menjulurkan telinga agar semua tetap baik-baik saja.

Adrenalin merambat naik, detak jantung berdegup bulak-balik. Terasa ada ketegangan memynculkan prasangka, bersatu dengan bebasnya otak membayangkan yang tidak-tidak. Segera ditepis bayangan seram dengan logika dan setangkup doa agar hati tetap damai dan rasa kembali berbunga.

Rush hitam meliuk menuruni jalan berkelok yang licin karena rintik hujan yang tak berhenti, perlahan tapi pasti hingga mencapai jalan besar menuju arah pulang untuk bersua dengan keluarga tercintaaah. Seatbelt tetap terpasang meski duduk di jok belakang, bukan pupujieun tapi guncangan terasa semakin kencang, perlu ada pengikat sehingga kuat bersandar dalam kebersahajaan.

Photo : Toko Moci Kaswari ‘Lampion’ / dokpri.

Photo : Pilihan moci Kaswari ‘Lampion’ / dokpri.

1,5 jam berlalu dan tibalah di Kota Sukabumi. Tanpa basa basi segera menuju burung kasuari eh jalan kasuari untuk memborong moci, penganan khas daerah sini yang enak dan aneka rasa. Banyak pilihan toko disini, tapi harap maklum klo kami bapak-bapak muda belanja pasti cari yang praktis. Karena jam 21.00 wib tinggal sesaat lagi, nyaris tak bisa beli moci. Untungnya diberi toleransi dan tanpa basa basi segera masing2 membeli.

Sebelum perjalanan dilanjut lagi, demi bugarnya sang sopir sejati serta berharap menemukan Vsixty maka berlabuh sesaat di Coffee Toffee jl. Suryakencana12 Sukabumi. Tapi ternyata untuk black coffee hanya espresso dan kopi tubruk yang bisa tersaji. Akhirnya double shot espresso Toraja yang membawa pilihan.

Photo Double Shot Espresso Toraja / Dokpri.

Sang sopir larut dengan hot coffee Caffe latte serta vicol pacarnya yang bekerja di ibukota, yaa harap maklum sopir abege.

Hanya 15 menit rehat sudah cukup mengembalikan stamina dan mood untuk segera melanjutkan perjalanan. Selamat beristirahat kawan. Wassalam. (Akw).

Kepahitan yang melenakan

Perlahan menapak kepahitan dalam ketenangan. Menyentuh rongga perasa dan memahitkan kemauan serta memperjuangkan harapan.

Photo : Cold Drip + Es batu / Dokpri.

Semarak sore terus menggemuruh diiringi alunan bayu berpendar rindu di pelataran kehidupan. Dihadapan terhampar meja besar sebuah bagian pohon yang dipernis sehingga menjadi cerah cemerlang seolah berbalut kristal alam yang memantulkan kerinduan.

Membentuk pantulan rasa yang memberi refleksi nyata tentang apa yang dirasa. Sambil bercengkerama dengan semilir angin sore, sebotol kecil coffee dingin cold press dan segelas es batu menjadi padu serasi yang sukses mengisi siang menuju sore hari.

Photo : Segelas black coffee di sela meeting / dokpri.

Cita rasa coffee arabika yang berani mengoyak ujung lidah dengan ‘pahit tegas’ nya semakun mengukuhkan rasa cinta untuk menikmati kopi… just a coffee… tanpa gula. Jika dulu favorite nongkring itu adalah affogato atau cappucino, dimana sang eskrim vanilla meleleh berpadu dengan rasa kopi pekat, bergumul sesaat hingga akhirnya menyatu dalam cita rasa yang membuat waktu seakan terhenti sesaat untuk ikut menikmati rasa yang tersaji sempurna. Sesekali kopi vietnam-pun menjadi pilihan.

Photo : Kopi luwak dan tumbuk halus merk Kiwari / dokpri.

Sekarang ada perubahan karena sudah cukup lama memisahkan kopi dari gula meskipun lidah belum faham mana robusta dan mana arabica tapi tetap yakin kalau afrikana rasanya beda.. ups ngarang itu mah :).

Photo : Kopi bubuk tumbuk halus sudah ready / Dokpri.

Maksudnya kopi saja tanpa gula, tanpa susu, tanpa krimer, tanpa teman pendamping setianya. Ternyata memang semakin di dekati, semakin penasaran. Biasanya untuk menikmati kopi hitam nan praktis, cukup 2 sachet nescafe kopi hitam dengan secangkir kecil air panas. Tapi semakin mengenal si hitam manis mulai berkolaborasi dengan coffee produk asli bandung yang terkenal yaitu merk Aroma. Meskipun awalnya nebeng bin minta dari istri tercinta yang udah demen lama. Sekarang makin rajin mencoba berbagai kopi hasil dari bumi parahyangan.

Photo : Didit 238Coffee lagi bergaya depan conternya / dokpri.

Apalagi 2 even ngopi saraosna yang digeber temen-temen humas jabar di halaman gedung sate makin melebarkan rasa penasaran dan memperluas ke-kepo-an tentang si hitam ngangenin ini. Ditambah sajian coffee yang diolah versi wine oleh 238coffee dengan tagline ‘sundawine‘ menyajikan rasa ‘berani‘ yang menantang lidah untuk terus menikmati. Meskipun ada pertanyaan menggantung, “Klo bikin mabuk gimana?… khan ga bisa juga disebut mabuk syariah?”

Ntar ditulis di tulisan selanjutnya setelah nanya ustad dan ulama.

Photo : Hario Dripper V60 + Filter / dokpri.

Nah supaya lebih kukuh dalam menikmati kopi hitam ini, coba ikutan beli V60 yang terjangkau plus filternya. V60 atau visixty… kata urang sunda mah ‘pisikti‘ hihihi… kata sayah ketang. Yang bentuknya mirip cangkir tapi dibawahnya bolong. Disimpan diatas gelas, bejana atau wawadahan untuk menampung coffee siap minum.

Pas udah beli tuh pede aja, langsung pake. Cuci dulu ding. Simpen diatas gelas, pasang kertas penyaring, isi dengan kopi bubuk. Currr…. dituang air panas dari dispenser.

Daaan…. hasilnya caw√©rang alias hambar. Itulah namanya sotoy tanpa ilmu, tapi hikmahnya jadi tau, klo caranya salah ya hasilnya ga sesuai harapan.

Coldbrew Sunda Wine / dokpri

Setelah sadar bahwa semuanya ada ilmunya baru nonton blog tentang kopi dan baca-baca yutub… ternyata tekniknya salah.

Malu aku… malu aku.

Kesalahan pertama, kertas penyaringnya setelah disimpen di V60 musti di basahin dulu dengan air panas hingga merata. Kesalahan kedua, air panas yang dituangkan musti panasnya stabil dengan suhu tertentu. Ketiga, nuangin air panasnya pun ada teknik tersendiri. Pokona mah semua ada ilmunya.

Berhubung senjatanya baru V60 + filter didukung dispenser doang, akhirnya ngalah dech… ambil kunci motor, nggak lupa ajak anak istri dan ngloyor ke kedai kopi… ngopi yuuuk. Wassalam. (Akw).