Diary Coffee 2 – APPSI

Puisi ke-2 seputar Rakernas APPSI tapi tema utama tetaplah.. Kopi :).

Sekuntum mawar merah
Tersenyum merekah
V60 menyeduh hingga terengah
Hasilkan segelas kopi Gayo nan indah

Cold brew Kiwari Farmer beraksi
Selalu teguh munculkan sensasi
Rasa dingin bersaksi
Menemani Rakernas APPSI

Kopi Java Preanger Ahertiani
Memberi rasa wangi membumi
Rasa sweety bercampur rapi
Sajikan minuman segar mewangi

Pejabat dari Sultengpun minta lagi
Setelah cold brew luwak manglayang dinikmati
Java Preanger semua dirasai
Tiga varietas pulangpun menemani

Ibu pejabat Sulselpun tak mau kalah
Cicipi rasa kopi hilangkan lelah
Satu seruput kurangi resah
Ternyata dibalas dengan sepasang coklat besar yang renyah

Pejabat Sultra yang tak terlalu suka
Karena kopinya mesti tetap bergula
Jadi hanya coba sedikit saja
Lumayan agar menjadi pecinta kopi pemula

Masuk lift berbuah berkah
Bertemu bos Steven yang lagi sumringah
Proyek Cisanti makin merekah
Luwak Sukirya datang lebih dari tiga buah

Masih sekuntum mawar merah menemani
Berpadu dengan espresso yang berani
Single shot coba di jabani
Di Trans Luxury Hotel ini terjadi

Tugas L.O akhirnya kelar
Layani tamu Rakernas para bos amtenaar
Termasuk beberapa sosok tenar
Yang mungkin 2019 bersinar

Setelah 3 hari tunaikan tugas
Saat bersama keluarga hilangkan cemas
Tapi panen tomat cheri tak bisa lepas
Digabung dengan kopi segelas
Hasilkan rasa yang bikin gemas.

Cimahi Selatan, 240218. (AKW).

Diary Coffee 1

Sekelumit catatan ngopi dalam minggu-minggu ini.

Capuiku*)

Sebuah perjalanan menapaki hari
Bergerak acak tanpa kendali
Meski urusannya warna warni
Tapi tak lupa dengan diary kopi

Hotel Newton rapat Arsitek
Jadi delegasi Biro Sarek
Ambil kopi tak jelas merek
Ubah sikap jangan saklek

Rooftop D’pavildjoen menjamu sore
Sajikan dopio jangan sok kere
Swafoto sambil teriak, “Horeee!”
Semua hepi yuk mareee…

Cappucino juga tidak lupa
Meskipun hanya hiasan saja
Karena sekarang sudah tanpa gula
Hanya pandang kaca, manis terasa

Libur bersama keluarga
Espresso Tobi’s Estate pembuka
Babycinno tambah dua
Belajar merajut bahagia

Bumi Cemara V60 mewangi
Menyemarakkan sore yang sunyi
Biji puntang digiling berseni
Hasilkan seduhan aroma alami

Dinginnya diatas kota cimahi
Menjadi cerah karena sajian kedua kali
Kalita dan V60 berbagi
Kopi asli makin membumi

Hitam pekat berbuih roso
Yang pasti bukan baso
Juga buihnya bukan dari rinso
Ambroggio tetap nyoba espresso

Sisanya seduh sendiri saja
Biji asli kopi luwak sukirya
Manual brew takaran bersahaja
Hingga akhirnya habis tak bersisa.

Bye frend. Salam kopii. (Akw).

*)Catatan Puisi Aku.

Tubruk hingga Tosca Coffee

Disaat rasa pusing melanda di perjalanan, kopi pahit adalah obat mujarab. Dari tubruk hingga manual brew bikin harimu jauh dari kelabu.

Pagi gerimis di stasiun Cimahi tidak menciutkan nyali untuk tetap melangkah pergi. Masuk ke gerbong ekonomi Argo Parahyangan yang akan mengantarkan diri memenuhi janji untuk bersua dengan seseorang di seberang depan Taman Suropati dan satu lagi di bilangan Epicentrum Jakarta.

Sesaat kemudian sang ular besi bergerak dengan gemeretak dan desisan panjangnya. Meliuk dan bergerak cepat melahap rel yang mulai menanjak selepas daerah padalarang. Setelah duduk tenang di kursi penumpang, mencoba pejamkan mata sebentar saja. Sayang, mata tak mau terpejam karena diganggu beraneka pikiran yang terlintas di kepala tanpa jelas tujuannya.

Yang pertama pasti kangen sama si kecil yang tadi masih terlelap pada saat ayahnya harus berangkat dan juga ibunya. Meskipun sudah coba dibangunkan dari mimpinya tapi si kecil hanya memicingkan sedikit mata belo-nya, trus bobo lagi. Ya sudah ditinggal dengan bisikan lembut di telinga mungilnya, “Assalamualaikum.. ayah berangkat dulu.”

Kedua, so pasti urusan kerjaan. Meski pasukan ada beberapa yang ‘jaga warung’ , tapi tetep aja direction jarak jauh berlaku, jangan sampai melenceng dari rencana.

Ketiga, misi keberangkatan ke ibukota menjadi penting karena akan berkonsultasi tentang sesuatu yang strategis dan menjadi konsentrasi kebijakan baik pusat dan daerah terkait pembiayaan infrastruktur.

Wuih serius pisaan…..

Soalnya makin bingung baca regulasi, ya udah tanya sana sini terutama lembaga yang nerbitin regulasi itu. Tapi sorry sobat, konten konsultasinya nggak dibahas disini yaa… Ntar dibuat di laporan resmi dengan sebutan ‘Telaahan staf’ …. disini dibahas pusingnya aja hehehehe.

Cara terbaik mengurangi atau menghilangkan keruwetan di dalam kepala ini nggak terlalu rumit. Tinggal mau bergerak… eh berdiri dulu, trus jalan melewati koridor tengah dari 2 gerbong penumpang hingga tiba di kompartemen makan minum.

Melangkah sambil agak goyang-goyang jaga keseimbangan hingga akhirnya 2 gerbong terlewati. Ahaa…. kompartemen makan pas kosong, bisa duduk dengan nyaman dan order ‘Obat penghilang keruwetan’ yaitu…. segelas kopi pahit, titik.

Ya meskipun dapetnya kopi hitam tubruk tanpa gula, cukuplah untuk sesaat menenangkan jiwa mendamaikan pikiran sambil mencecap cairan hitam panas dengan penuh kenikmatan… Alhamdulillah.

Tiba di Gambir disambut sapa sopan supir Grab yang langsung standbye di pintu selatan. Tanpa basa basi membawa kami menuju tempat konsultasi yang pertama.

Seiring detik terus berdetak, 2 tempat konsultasipun sudah dijabanin. Bersua dengan teman-teman baru yang langsung akrab serta memberikan motivasi dan solusi serta berbagi kreasi agar kita terus bekerja dan lakukan aksi. Pertemuan pertama di sekitaran Taman Suropati berjalan lancar, begitupun pertemuan selanjutnya di bilangan Epicentrum penuh keakraban. Meskipun sebelum sampai lokasi ada sedikit salah belok hingga grabnya terdiam karena tiba-tiba mentok di daerah Imperium. Maklum kurang konsentrasi, mustinya Epicentrum eh salah jadi Imperium.

Tuntas berkonsultasi, kembali ke Gambir untuk nebeng lagi sama sang Argo Parahyangan agar bisa berkumpul kembali dengan keluarga tercinta di rumah yang penuh warna dan drama.

Di stasiun Gambirlah bisa bersua dengan Reza dan Richard sang Barista muda dan Iman di Cafe Tosca. Cafe simpel yang memberi sajian membahana, pilihan lengkap bagi pecinta black coffee ataupun coffee artnya dengan liukan ganas lukisan rasa diatas permukaan mocachino dan cappucino. Peralatan manual brew mulai dari Hario V60, Kalita hingga aeropress hingga mesin kopi yang standbye untuk sajikan espreso dan dopio…. Yummy dech.

Tanpa membuang waktu, Reza segera memproses manual brew Kalita dengan Ethiopia bean. Sebuah proses yang menarik, seperti yang mengada-ngada pake kertas filter segala, 28 gram menjadi panglima begitupun grinder di level 4 menjadi nyata. Suhu 90 derajat celsius mewakili kesempurnaan rasa berpadu dengan teknik blooming dan brewing yang penuh akurasi maka tersaji segelas ramuan hitam penuh sensasi. Itulah sensasi proses manual brew yang penuh misteri serta beraneka makna… lebaay dech.

Seruput pertama di coba oleh sang Barista sebelum siap disajikan kepada sang Penikmat. Alasannya sederhana, “Khawatir rasa tidak sesuai asa ataupun kalau beracun maka sang Barista yang akan terkapar pertama.”

……Ah bisa ajah. Yang penting adalah segera sajikan manual brew Ethiopia versi kalitanya… aromanya sudah menyambar ujung hidung dan disaat perlahan dikumur dan diteguk maka rasa body mediumnya dapet dan low aciditynya plus sedikit sweet memberi kesan lapang dan nikmat.

Hanya 3x teguk, tandas sudah sajian pertama. Yang selanjutnya dijajal adalah bean Tolu Batak. Tetap dengan teknik manual brew kalita yang disajikan apik oleh sang Barista Tosca Cafe. Mau tau rasanya?… lebih nendang bro. Bodynya strong dipadu acidity medium, aroma jelas berikan suguhan keharuman yang mendamaikan.

Sruput… jleb…

Srupuut… mmmmmm… Yummy

Nikmat dan nikmat pisaaan..

Tapi ternyata pesta kecil ini harus bubar karena sang Argo Parahyangan tak mau kompromi dengan keterlambatan. Siapa yang telat ya ditinggal. Segera bayar sesuai sajian kenikmatan dan …..

“Kereta Argo Parahyangan jurusan Bandung telah tersedia di jalur dua…!!”

Kembali panggilan membahana, membuat kaki mempercepat langkah dan pamitan kepada sang Barista yang sebenernya sudah siap-siap di depan mesin kopinya untuk wujudkan double espresso andalannya.

Ciao… selamat bertemu di lain waktu. Wassalam. (Akw).

mBarista demi Anak Tercinta

“Ayah bikin kopiii” sebuah mantera yang mengubah malam temaram menjadi kesenangan, hilangkan kantuk hadirkan kedamaian.

Disaat malam hampir menyentuh batas dini hari, raga masih termangu menemani si kecil yang masih full energi loncat-loncat dan ketawa-ketiwi. Anak semata wayang yang sering begadang sambil menunggu ayahnya pulang. Jam 22.00 wib baru tiba di rumah setelah rapat dinas di Jakarta, segera mandi dan berharap bisa rebahan sejenak meluruskan badan dan terlelap dalam kedamaian.

Tetapi melihat tingkah polah anak yang masih lincah dan ceria maka kembali terlarut dalam rasa syukur kehidupan untuk menjaga titipan Allah, menemani bermain hingga hampir tengah malam. Dan celoteh yang bikin dahi berkerut sambil senyum dikulum adalah, “Ayah bikin kopiii laah.”

Ibundanya yang sejak sore hingga malam ini mengawal, menemani dan menyusuipun agak menyerah karena sang anak memaksa untuk terus keluar dari kamar dan bermain bersama ayah. Tangan mungilnya menarik jemari ini sambil beringsut mengajak keluar kamar. Sekali lagi request spesialnya terdengar, “Ayah bikin kupiii.”

Jangan sayang, udah malam” suara selembut mungkin ternyata disambut dengan tangisan dan rengekan yang ‘keukeuh‘ untuk bikin kopi. Disini terasa ilmu negosiasi tumpul, sudah dicoba digunakan strategi sabar dan mengulur waktu, ternyata malah semakin membuat sang anak gusar dan cenderung mengamuk dengan suara tangis yang semakin keras mengguncang.

Masa kalah sama anak kecil” bicara dalam hati. Tapi, “Kasian juga nangis terus” suara hati selanjutnya. Ahh…. perbincangan dalam pikiran ini menjadi warna kehidupan, melatih kesabaran dan tentunya memberi pelajaran bahwa disinilah seni kehidupan berkelindan.

Akhirnya mengalah untuk berharap (nanti) menang. Sambil tangan kiri menggendong si kecil, tangan kanan mengumpulkan stock coffee yang ada. Sebotol cold brew Aceh Gayo-nya 258.. diambil dari kulkas, coffee luwak Soekirya hadiah seorang kawan, Mandailing coffee hasil hunting di Bandara LIA serta Toraja Kalosi Excelso. Semua tersaji di meja, dan bocah cilik dengan wajah berbinar memegang semua pilihan bak barista tenar, sambil senyum-senyum penuh kemenangan.

“Ini ayah, bikin kopii!” Tangan mungilnya megang Toraja Kalosi, satu-satunya yang berbentuk bean karena yang lain sudah digiling dan juga yang dibotol siap minum. “Oke cantik, ayah buat dulu yaa” Sebuah jawaban kompromi memecah sunyi sepi, disambut wajah berbinar sang anak kesayangan. “Giling ayaah… giling” rengekan berbentuk perintah menggerakkan tangan menyiapkan grinder, nyolokin kabel ke steker dan membuka bungkus kopinya.

Nggak pake lagi takaran, dengan rumus kira2 segera grinder bekerja di ukuran 2 saja karena berharap dapet ‘body‘ meski nggak mengesampingkan accidity, klo urusan aroma ya jangan ditanya… pasti mempesona……

Terrrrrr‘, harum khas kopi memenuhi ruang hati, menebar sensasi rasa di malam sepi menjadi penuh warna. “Wangiiii!!!”, Teriak mulut mungilnya menghilangkan penat dan ngantuk padahal tengah malam baru saja lewat.

Si Kecil cantik melonjak-lonjak girang, tangannya menyoel bubuk kopi yang sudah jadi.. langsung dimasukan ke mulutnya, “Mantapp.”

Jadi terkekeh melihat tingkahnya, indahnya titipan Allah SWT. Tangan kiri pegalpun hampir terlupa, karena larut dalam prosesi sakral memproses si hitam harum ini.

Cerita belum berakhir, karena proses brewing alias penyeduhan adalah tahap selanjutnya. Segera menyiapkan senjata perangnya : Hario V60, bejana, ketel, termometer dan tidak lupa filter paper plus ya….. air panasnya donk.

Owwww……. Tengah malam yang sibuk.

Jeng.. jreeeeng.

Akhirnya ng-brewing Toraja Kalosi pake V60 dengan tangan kanan, air dari dispenser lumayan 72 derajat celcius, dan tangan kiri tetep jagaain anak syantiik yang nempel terus nggak mau turun sambil senyum-senyum liat mBak-rista dadakan ini berkeringat di tengah malam.

Tetesan kopi menyentuh bejana jadi tontonan bersama hingga akhirnya tuntas menyajikan cairan hitam yang melenakan penuh keharuman. Ampas kopi yang tertinggal di V60 ternyata jadi mainan, ditoel pake tangan mungilnya trus dimakan, “Yummy ayah!” Terdengar seperti sebuah mantra yang melengkapi keajaiban menjalani hidup ini. Lelah, kantuk dan gundah pupus dan musnah, terganti senyum bahagia dalam tasyakur binnikmah.

***

Secangkir kecil kopi hitam seduhan malam ini dinikmati perlahan dan sedikit mampir di mulut anak kecil kesayangan. Senyum bahagia dan rona cerianya menuntaskan cerita dini hari tadi. Meskipun 30 menit kemudian harus bermain dengan boneka gajah dan beruang, akhirnya bisa terlelap di kamar nenek karena sudah lelah dan puas ‘ngerjain‘ ayah.

Met ngopi guys… slruup.. yummy. (AKW).

(Bukan) Resensi ‘Bagaimana Saya Menulis’

Sebuah catatan kecil (bukan) resensi buku dari kumpulan pengalaman dan perjalanan penulisan para pegiat Gerakan Birokrat Menulis.

Photo : Buku Bagaimana Saya menulis + kopi / dokpri.

Malam telah kembali sunyi, gelak tawa anak semata wayangpun telah tergantikan dengkuran halus sambil mulut mungilnya tak mau lepas dari nenen ibunya. Untaian doa rutin sebelum tidur mengantar mereka terlelap di malam ini. Perlahan melirik jam meja ternyata sudah pukul 23.05 Wib, persiapaaan……

Me time mulai berlaku. Berjingkat keluar kamar dengan suara minimal. Buka tutup pintu ekstra hati-hati. Bergeser ke ruang makan, menggelar koran sebagai alas di meja makan karena khawatir ada tetesan sisa minuman atau ceceran makanan yang bisa merusak mood karena harus bersih-bersih dan lap-lap dulu.

Amplop besar warna coklat yang menyambut kedatanganku tadi ba’da isya di ruang tamu begitu menggoda untuk segera dibuka dan dibaca. Meskipun raga masih terasa lelah karena sabtu tanggal merah inipun harus dinas luar ke wilayah Cirebon dan Majalengka. Tetapi klo lihat ada paket kiriman buku baru, tidak ada kata kompromi untuk segera dinikmati. Ditemani seduhan kopi Arabica Java Preanger ‘Gunung Tilu’ versi pribadi pake V60, rasa segar menyeruak dan paket buku segera dibedah.

Dua buah buku mungil bersampul semburat mentari sore yang menjadi latar alami seseorang termangu di dermaga sederhana di tepi pantai berjudul ‘Bagaimana Saya Menulis’ memberi energi baru untuk melahap 127 halaman tanpa jeda. Karena berisi pengalaman dan perjalanan penulisan para pegiat gerakan birokrat menulis.

Eh jeda kok disaat menyeruput kopi hangat seduhan sendiri, nikmat tak tergantikan.

Buku yang disusun oleh para penggiat gerakan ‘Birokrat Menulis’ ini mulai dibolak balik dan entah apa yang mendorong diri ini untuk baca dari halaman 127 dulu. Berjumpa dengan para penulis yang berkontribusi lengkap dengan photo dan CV singkatnya sebanyak 13 orang. Para birokrat yang sukses menulis dan karyanya telah bertebaran di berbagai media internal ataupun media massa. Jadi iri dech…

Mas Muji Santosa (Nyebut mas ah, soalnya moo pake pak atau bapak, kok jadinya serasa bikin nota dinas atau telaahan staf hehehe) yang sudah menginspirasi banyak orang dengan buku-buku tentang pengadaan dan kontrak. Dilanjut dengan tulisan Mas Raden Murwantara mengupas tuntas tentang penulisan Jurnal Ilmiah internasional yang begitu lengkap dari mulai persiapan hingga syarat-syarat. Menjadi tantangan pribadi untuk bisa membuat tulisan jurnal ilmiah dan berkelas internasional hungga bisa terindeks SCOPUS & SCIMAGO dengan impact factornya. Meskipun bahasa inggris pas pasan tapi yang penting khan keberanian untuk menuangkan ide dan gagasan seperti kata Bang Marudut R. Napitupulu. Jangan lupa ikutin tahapan proses mendengarkan – membaca – berbicara – dan terakhir menulis seperti yang terjadi disaat ikutan test IELTS.

Test IELTS atau International English Language Testing System, itu sodaranya TOEFL (Test of English as a Foreign Language), Sebagai syarat untuk kuliah di luarnegeri.

Photo : Peralatan nyeduh sang kopi / dokpri.

Lanjut yaa…….

Mas Ilham Nurhidayat yang aktif di majalah kantor hingga mempersiapkan pembuatan bukunya. Kegelisahan menjadi energi awal untuk menuangkan sesuatu menjadi tambang ide tulisan menurut mas Setya Nugraha, hingga filosofi jalinan kata dari Bang Mutia Rizal yang menggugah selera membaca dengan mencontohkan berbagai tokoh penulis dunia dan indonesia. Memaksa diri untuk terus setia membuka lembar berikutnya padahal jam dinding sudah melewati dini hari.

Menulis itu mengasyikan, apalagi bersua dengan seseorang dan lingkungan yang mendukung untuk terus menghasilkan karya seperti kata Mas Eko Heri Winarno juga Kakanda Andi P.Rukka yang hasil karyanya telah menghiasi perpustakaan National Library of Australia. Hingga tips keenam yaitu Write first-Edit laternya mas Ardero Kurniawan semakin membubungkan semangat untuk menggerakkan jemari ini menuangkan kata demi kata.

Mbak Nur Ana Sejati melengkapi dengan aktivitas catat mencatat itu sangat penting karena akan sangat membantu memahami apa yang sedang dipelajari. Didukung oleh Bang Adrinal Tanjung bahwa menulis itu tidak untuk menggurui orang lain tetapi menulis itu menggurui diri sendiri maka menulis itu bukan perkara sulit. Disusul oleh Mbak Pratiwi Retnaningdyah yang fokus pada konsepsi pelayanan umum dari pengalamannya di dalam dan di luar negeri, membuka pemikiran diri untuk terus menulis apapun khususnya kegiatan sehari-hari yang terkait pekerjaan atau profesi di jajaran birokrasi.

Dan…. terakhir tulisan yang tersaji adalah wejangan dari Bang Rudi M.Harahap berbagi tips agar bisa membuat tulisan berkualitas adalah peran mentor dan motivasi kita menulis sesuatu. Ide bisa muncul dimana saja maka gunakan fasilitas catatan di smartphone untuk mencatat topik yang menarik untuk ditulis. Serta segera tulis, tulis dan tulis.

Tak terasa bercengkerama dengan buku yang diterbitkan ‘Birokrat Menulis‘ telah usai. Meskipun masih ingin membolak baliknya, tetapi harus adil juga berbagi rasa dengan raga yang harus beristirahat juga untuk menyongsong hari esok yang senantiasa bahagia serta ceria.

Terima kasih mas Ardero Kurniawan atas paket bukunya. Semoga menjadi jalan kebaikan bagi kita semua dan tentu semakin suksesnya para punggawa serta anggota ‘BM’ dimanapun berada. Wabilkhusus BM semakin berkibar dan menjadi wahana berlatih dan menghasilkan tulisan bernas serta ilmiah untuk kemajuan bangsa.

Tak lupa gelas kedua seduhan kopi Arabica JP Gunung Tilu menutup sesi dini hari ini. Dentang jam dinding pukul 01.30 wib di hari terakhir tahun 2017 ini mengingatkan kembali untuk menutup percengkramaan dini hari ini. Wassalam. (Akw).

Ngopi pagi di Pakuan

Bekerja di pagi hari sambil Nikmati sajian kopi asli di Gedung Negara Pakuan yang penuh harmoni.

Photo : Ruang utama Gd Negara Pakuan / Dokpri.

Disaat sang mentari masih bersembunyi dibalik lelahnya hari, raga ini sudah melesat membelah sepinya jalan menuju kediamanan Gubernur Jabar. Perjalanan dari Cimahi Selatan ke jalan Otista satu Kota Bandung bisa ditempuh 15 menit saja, padahal klo siang hari pas padat-padatnya para pengendara beredar kesana kemari maka bisa 1,5 jam hingga 2 jam.

Jarum jam menunjukan pukul 05.25 wib tepat disaat moncong toyota rush ini memasuki gerbang kediaman jabar satu yang disebut gedung negara pakuan. Disambut kehijauan taman yang asri memberi kesegaran hakiki. Mobil bergerak melengkung ke kiri mengikuti arah jalan menuju parkiran di halaman gedung art deco ini, eh ternyata bukan yang pertama karena sudah berjajar tujuh kendaraan yang bertamu pagi itu.

Setelah parkir sempurna, mengemasi berkas yang harua dibawa. Yah meskipun bukan panitia inti acara pagi ini tapi persiapan itu penting. Jadilah pendukung acara yang baik.

Segera bergegas mengajak kaki untuk melangkah menuju gedung yang indah. Gedung bercat putih terang penuh kelembutan, gedung negara pakuan yang penuh dengan kenangan.

Photo : Stand sarapan / dokpri.

Menaiki sepuluh anak tangga menapaki ruang tunggu tamu terlihat beberapa undangan sedang berbincang. Bergerak memasuki ruang depan disambut kemegahan kursi-kursi dan meja klasik bertabur hiasan ukiran yang mempesona. Belum selesai dari situ, bergerak kembali semakin masuk ke dalam gedung dan di ruang utama sudah tertata 14 meja bundar dengan kanan kiri stand – stand makanan minuman yang dipersiapkan untuk sarapan.

Yummy……

Photo : Stand kopi Java Preanger gnhalu / dokpri.

Daan… yang bikin hati ini lebih berbunga adalah satu stand yang membuat pagi ini semakin ceria dan dijamin acara pagi ini akan lebih berwarna. Gimana ga seneng, grinder listrik ready, bean sudah standbye 2 botol besar, peralatan menyeduhnya ada, kertas filter ada dan tentunya V60pun sudah melambaikan tangan agar segera digunakan. Tidak lupa pemanas air yang berdiam gagah disamping kanan. Tapi masih harus bersabar karena barista sang penyeduhnya belum terlihat. Sabaar.

Tepat jam 06.00 wib para Tamu undangan yang hadir dipersilahkan menikmati hidangan. Pejabat Pemprov Jabar mendominasi, Pangdam III Siliwangi, Bupati Majalengka dan Sekdanya, Kepala BPN Jabar, Kakanwil I BJB & rengrengan. Unsur dari Polda Jabar, Polda Metrojaya, Kodam Metro Jaya, Kejaksaan Tinggi Jabar, PT. BJB, PT BIJB sudah lengkap dan mulai menikmati hidangan yang tersaji.

Disaat para tamu mengantri di stand makanan berat, segera menyelinap dan berdiri disamping barista gaul, namanya Kang Yuda. Masih muda, gagah dan pinter nyeduh kopi, ya iyaaa atuh… khan dia Baristanya.

Tepat pukul 06.30 wib, Pak Aher muncul dan bergabung bersama tamu undangan untuk bersama-sama sarapan dilanjutkan acara resmi yang dipandu oleh bagian keprotokolan.

Aku mah masih stay ditempat strategis, deket stand kopi. Tapi tetap mengikuti acara dengan khidmat.

Suara grinder menjadi musik pagi yang membumi, memberi suasana ceria di pagi yang sendu ini. Menghancurkan biji kopi java preanger gununghalu menjadi serpihan semi kasar pake ukuran 4,5 sampai 5 sehingga tidak terlalu halus. Tujuannya agar bisa tersaji kopi panas dengan metode V60 yang mengedepankan rasa sweet fruity, terasa maniis gitcu kayak aku… ahay.

Tujuannya menyajikan kopi tanpa gula cenderung fruitty adalah langkah bernas untuk memperkenalkan cara menikmati kopi tanpa gula dengan rasa yang relatif bisa diterima oleh seseorang yang bukan penikmat kopi. Bener saja, seorang bapak gagah berseragam mendekat, “Minta kopinya kang”

“Silahkan pak” Segera mengucur cairan kopi yang harum ke cangkir kopi karena kebetulan baru persekian detik tuntas membuat racikan perdana.

“Duh pahit nich, ga pake gula ya?”, Bapak berseragam meringis. Kami tersenyum, Kang Yudi menjawab, “Nggak pak, ini kopi asli dan dinikmati tanpa gula.”

Setelah bapak tadi berlalu, segera mengambil cangkir yang sudah terisi kopi. Menyeruput pelan-pelan, terasa sensasi manis buah-buahan menyeruak di seluruh rongga mulut. Enak dan kayaknya cocok untuk yang tidak biasa ngopi. Tapi dari sisi body kurang paten, acidity sedang dan ya itu tadi sweety diutamakan. Rasa manis ini didapatkan dari proses penyeduhan diatas V60.

V60 itu yang mirip corong dan digunakan untuk nyeduh kopi bubuk. Jangan lupa sebelum nyeduh menggunakan kertas filter yang disiapkan khusus. Tapi sekarang udah banyak yang jual. Harga V60 dari mulai 70ribuan yang berbahan plastik hingga ratusan ribu atau jutaan, itu yang keramik dan stainless stell. Sebelum kopi dituangkan dalam V60 yang udah dilengkapi kertas filter, basahi dulu kertas filter dengan air panas. Lalu tuangkan kopi bubuk yang sudah digiling tadi dengan ukuran 28gr/sajian/cangkir. Air panas yang dituangkanpun harus diukur, kang Yudi ini pake di 75 sd 85 derajat celcius. Jadi termometer adalah teman setia barista.

Proses penyeduhan pun harus bertahap. Tahap awal adalah blooming, yakni menyeduh sedikit bubuk kopi tersebut dengan tujuan melepas CO2 yang terjebak di dalam bubuk kopi. Diam beberapa saat, klo udah kelihatan ngaburukbuk ada gelembung udara itu tandanya proses blooming selesai dan siap seduh.

Ternyata cara nyeduhnya ini yang bisa hasilkan rasa kopi yang berbeda. Jika ingin mendapatkan rasa sweety maka putaran seduhan melingkar searah jarum jam dan berputar dari arah luar sementara untuk meraih rasa body atau level pahitnya kopi (ini biasanya untuk yang udah biasa ngopi item.. ya espresso juga dopio) maka menyeduhnya fokus dari tengah secara dominan.

Karena nempel terus sama sang Barista, maka yang bisa dinikmati adalah 2 cangkir versi sweety dan 2 cangkir versi body yang dapet rasa pahitnya citarasa kopi asli parahyangan dari dataran tinggi Bandung Selatan.

Itulah sekelumit kisah tentang ngopi gratis kedinasan. Pekerjaan tuntas dan ngopi aslipun bisa bergelas-gelas. Jangan merasa ribet dengan proses dan aturan pembuatan kopi yang berbelit dan memakan waktu. Karena jangan salah dalam proses itu terletak suatu makna keindahan. Bagaimana sebuah proses seduhan yang berbeda menghasilkan rasa yang berbeda?…

Amazing bingit dech.

Trus rasanya kok pahit?… coba pelan-pelan dan kontinyu. Maka lidah akan terbiasa dan mampu membedakan mana yang memang dibuat pahit karena ngejar bodi, keasaman aciditynya ataupun rasa manis buah-buahannya. Yakini kopi tanpa gula itu nikmat, tidak pahit karena lebih pahit kehidupan ini.

Jikalau kopi yang tersaji masih teuteeeep terasa pahit, ambil kaca. Sruput kopi pahit sambil pandangi wajah kita yang manis. Insyaalloh hati sedikit berbunga dan mulut senyum dikulum.

“Nanaonan ari kamu, nginum kopi bari ngeunteung?!!”

(“Kamu ngapain, minum kopi sambil bercermin?”) Paling itu yang bakalan terucap.

Nggak percaya? Silahkan coba.

Photo : Gubernur & pimpinan Instansi / dokpri.

Alhamdulillah, pak Gubernur Jabar tuntas berpidato setelah prosesi penandatangan dengan beberapa pihak dalam rangka pengamanan pilkada 2018 dan juga percepatan pembebasan lahan PT BIJB. Diakhiri dengan doa dan photo bersama. Kamipun tuntas menyeruput cangkir kopi ke-5, buatan sang Barista.

Hidup pagi ceria. Wassalam.(Akw).

Berseru hari berkawan hujan.

Biarkan sang hujan menjatuhkan diri ke bumi membuat goresan petualangan yang tak lekang oleh jaman….

Photo : Suasana Cafe di Cimahi Utara / dokpri.

Gemericik butir hujan menyentuh dedaunan dan atap yang menaungi kebersahajaan, membentuk melody kehidupan yang meresonansi jalinan kenyataan menjadi bentuk tafakur yang berbuah hikmah penuh berkah.

Peristiwa jatuhnya hujan terkadang dianggap penghalang, padahal hujan adalah pembawa berkah bagi semesta yang senantiasa menantang. Disitulah bedanya titik hikmah yang bisa menjadi tak serupa karena sudut pandang yang dipahami berdasarkan ilmu yang dimiliki.

Bagaimana cara menikmati gemericik hujan yang datang tidak terduga?….. banyak cara, tapi ada satu yang mudah yaitu ‘berkawanlah dengan dia, kopi’.

Pertama, jika berada di rumah bersama keluarga itulah saat luar biasa. Setelah selarik doa syukur terpanjat tentu menikmati penganan hangat dengan secangkir kopi panas plus senda gurau gelak tawa anak adalah keindahan rasa yang tak bisa dinilai. Tapi ingat usahakan kopi giling yaa… bukan kopi gunting atau sacetan (tah.. tah… tah mulai lagi urusan kopi).

Photo : Double shot espressoku / dokpri.

Jika tak punya coffee maker maka lakukan manual drip dengan V60 atau……. yang paling gampang adalah bikin kopi tubruk. Karena kopi tubruk adalah kepolosan yang menyimpan kejutan rasa nikmat, tanpa banyak basa basi kata Ben (Cicho Jericho) sang Barista dalam Filosopi Kopi The Movie. Tinggal pilih biji kopi pilihan hati, di grinder manual sambil melibatkan rasa dan cinta maka akan memunculkan sebuah citarasa yang tiada tara. Bagaikan kopi ‘tius‘ kopi tradisional dataran Dieng racikan Pak Seno yang bisa mengalahkan ‘Perpecto‘ nya kedai Filosopi kopi.

Kedua, disaat gemericik hujan mendera bumi dan kita posisi sedang dalam garis edar alias sedang beredar, maka menjambangi kedai kopi adalah sebuah sensasi tersendiri. Bisa juga cafe yang miliki varian produk kopi, peralatan dan tentunya barista handal yang ramah dan rendah hati.

photo kopi tersaji by V60 / dokpri.

Bagi penyuka kopi pahit, maka paling simple cukup beberapa pilihan dulu aja. Yaitu espresso, dopio alias double shot espresso atau kopi tubruk, atau bisa juga pake V60. Cold brewpun masih cocok meski dingin bersaing dengan derasnya hujan. Long black juga bisa menjadi teman setia.

Apa lagi klo cafe khan selain citarasa kopi juga pasti menjual suasana, bikin betah berlama-lama. Apalagi bersama istri tersayang yang memang lebih dulu ‘mencintai‘ kopi. Gemericik hujan terdengar berdentang riang, menemani sruput demi sruput angan yang berpendar keindahan.

Itulah secuil rasa yang bisa disesap dan dinikmati bersama sang kopi disaat langit sore sedang sendu terkungkung lembayung ungu. (Akw).