Ngopi di Braga 1.

Hikmah macet berbuah ngopi.

BANDUNG, akwnulis.com. Disaat melewati jalan legendaris di Kota Bandung, kemacetan mendera. Sehingga mobil yang ditumpangi tidak bergerak sama sekali, eh bergerak kok, tapi per sentimeter.

“Salah sendiri, udah tau lewat sini pasti macet. Mbok yaa cari alternatif lain atuh!!” Gerutu hati memarahi diri sendiri. Aku terdiam, nggak nyaman sekali diomeli.

Ternyata sang Gerutu terus aja manas-manasin hati ditengah kemacetan yang menggila. Bikin panas bukan hanya hati, tapi sampai ke ubun-ubun hingga otak nggak bisa mikir lagi.

“Tunggu kamu disini!!!” Teriakanku membuncah menghempaskan sang Gerutu dari sisi pikiran ini, seiring dengan mobil yang digunakan langsung parkir di kanan jalan, mereka ternganga terdiam.

Segera kaki menjejak batu granit lalu trotoar, menyesap nikmatnya menjalani sejarah di pinggir jalan Braga yang legendaris. Bersiul dan bergerak disambut jajaran lukisan kehidupan aneka bentuk yang tertata nyeni di pinggir jalan, juga di dalam bangunan yang berubah menjadi sanggar.

Segera insting alami bekerja di jalan yang penuh cerita ini, culang cileung sambil jalan, nyari kedai atau kafe kopi. Teteeeep kopaay.

Sambil berjalan melewati Toko Roti French, terlihat roti garlic dan bagelen tersenyum juga roti granat berpose gagah. Hotel Gino ferucci terlewati dan berharap di Sugar rush ada kopi, ternyata Closed. Pas nengok ke sebelah kanan, ada rumah makan sekaligus cafe legendaris di Braga yaitu Restoran Braga Permai. “Sugan aya di dieu (siapa tau ada disini)”

Ya harap maklum karena jarang nongkrong dan beredar jadi agak kuper tentang kedai atau resto yang nyediain meno kopi manual. Jadi prinsip ‘Malu bertanya, sesat di kopi’ segera dilancarkan.

Sebelum duduk, tentu tanya-tanya dulu, “Om, menu kopi seduh manual ada?”
“Ada de, monggo duduk dulu. Ini menunya….” segera tersaji menu kopi manual brew dengan 4 pilihan kopi : arabica Gayo, Peaberry bean, robusta Curup Bengkulu, arabica Pangalengan dan kopi luwak. “Wuasyiiik”

“Pilihan manual brewnya juga empat, V60, tubruk, ibrik blooming dan french press.” lanjut pelayan. Mantaabs.

Nggak pake mikir lagi, cari tempat duduk strategis dan bersiap menikmati sensasi kopi disini sambil menunggu kemacetan melengang.

…….

(Bersambung ke Ngopi di Braga 2 yach, anak cantik ngajak main dulu, AKW).

Kopi Kesabaran

Ini dia kopi yang butuh rasa dan energi untuk menunggu.

PEKANBARU, akwnulis.com. Menjejakkan kaki di landasan bandar udara Sultan Syarief Kasim II Pekanbaru terasa begitu melegakan, ada rasa berbeda dibandingkan turun dari pesawat untuk perjalanan-perjalanan sebelumnya. segera mengabari ke istri tercinta yang full waswas pasca terhempasnya pesawat Lion Air JT 610 di Perairan Tanjung Karawang Jawa Barat.

Terasa bahwa sebuah tragedi tidak ingin dialami, meskipun tulisan takdir bukan untuk dihindari. Semoga keluarga dan kerabat para penumpang JT 019 diberikan kesabaran, ketabahan dan ketawakalan, Aamin.

***

Berbicara kesabaran, ternyata di Tanah Lancang Kuning ini bersua dengan sajian kopi yang bernama ‘Kopi Kesabaran’ lho.

“Woaah apa itu?”
“Sabar masbro, ini lagi perjalanan dulu dari Bandara menuju tempat menginap yang dituju yaitu Hotel Dafam Pekanbaru.”

Ngeeeng…. kendaraan carteran melaju kencang sepanjang jalan Sudirman Kota Pekanbaru.

***

Photo bersama GM Dafam Hotel Pekanbaru & Guide.

20 menit kemudian tiba di pelataran hotel Dafam dan disambut keakraban petugas yang penuh antusias melayani kami. Disinilah bersua dengan Kopi Kesabaran.

Rasa penasaran menyeruak mengalahkan lelah perjalanan, segera beranjak menuju lantai mezanine Dafam hotel mengikuti langkah sang GM hotel, pak Masturi.

Setelah memasuki lantai mezanine, terlihat cafe simpel yang menampilkan display kopi, … horayyy nggak usah jauh jauh cari kopi keluar hotel.

Photo : Sajian Kopi Kesabaran / dokpri.

Setelah duduk, datanglah kopi kesabaran yang dinanti… ternyata kopi arabika sidikalang yang disajikan menggunakan vietnam drip. Dan ternyata harus sabar menunggu setetes demi setetes sebelum bisa menikmati rasa kopi alami.

“Ohhh gitu tho asal muasal dinamakan ‘Kopi Kesabaran’, ide marketing yang cerdas sehingga bikin penasaran.”

Baik penikmat maniak ataupun penyuka kopi bergula pasti ingin nyoba.

Kalau bicara rasa, tentu nikmat karena disajikan biji kopi berkualitas, hanya saja musti sabar nungguin tetesan vietnam dripnya. Selamat mencoba jikalau beredar di Kota Pekanbaru, Wassalam (AKW).

Berubah….

Jangan takut hadapi perubahan, jalani dan…

Photo : Ilustrasi Patung Dewa Gajah yg sedang bertapa / dokpri

Disaat banyak pihak berlomba menunjukan kemampuan dan keahlian, disitu terlihat juga yang masih terdiam dan gagap dengan perubahan. Padahal selama hidup perubahan itu adalah keniscayaan, atau boleh disebut perubahan itu adalah kehidupan itu sendiri.

Tetapi ada juga yang terlihat tenang meskipun hati kecilnya bergejolak ingin menapaki perubahan dengan segala tantangannya. Hanya secara perhitungan memang perlu strategi yang tepat agar tidak menjadi korban kekonyolan ditengah perputaran turbulensi kepentingan.

Apa yang harus dilakukan?..

Pertama adalah kenali diri

“Maksut lo, salaman tangan kanan ama tangan kiri trus senyum sendiri?”

“Ahay jangan sewot dulu kawan, baca dulu tulisan selanjutnya” senyum manisku memberi ruang berfikir sesaat dan mengurangi tensi emosional sang penanya yang begitu agresif dengan segala kekuranglebihannya.

Kenali diri tentu bicara komprehensif, disini yang paling sederhana adalah mengukur potensi diri serta ketahanan mental selama ini dalam hadapi aneka persoalan yang terjadi baik urusan gawean juga kehidupan pribadi. Itu dua sisi yang harus memiliki keseimbangan dan kesetimbangan. Bukan berarti harus 50 : 50 tetapi ada sisi flexibilitas disini, monggo terserah masing-masing ngitung persennya.

Kedua, pelajari seksama pokok penentu perubahan itu.

Apakah karena pimpinan baru dengan kebijakannya yang mengharuskan perubahan dan percepatan yang menuntut responsifitas tinggi, atau karena mertua baru (ini khusus yang baru nikah atau nikah lagi), perlu penyesuaian mental dan hati sehingga kondusifitas dunia perkawinan terjaga sempurna. Atau bisa juga karena perpindahan tempat tugas karena sebuah seremonial mutasi, ini juga berdampak serius jika tidak disikapi arif bijaksana.

Nggak percaya?, monggo coba aja”

Ketiga adalah jual diri. Jangan dulu berfikiran negatif dengan istilah jual diri, ini memiliki makna menunjukan potensi diri sesuai dengan pangsa pasar yang memang memerlukan kemampuan ‘khusus‘ kita. Klo kemampuan kita diukur rata-rata air dan sulit meningkat, ya tinggal ditambah dengan kemampuan soft skillnya sehingga memberi kenyamanan dan kedamaian bagi pihak yang menjadi pokok terjadinya perubahan.

Keempat, lakukan dan segera berubah.

Yang pasti mari senantiasa berubah, lha wong Ksatria Baja Hitam aja selalu ‘BERUBAH‘. “Masa kita enggak?”

***

Salam perubahan, sambil tak lupa menikmati seduhan manual kopi lanang EL’s hasil racikan Kang Fajar sang Barista Stocklot. Wassalam (AKW).

Jurig Kopi – fbs

Geuning kitu saujratna mah.

Akwnulis.com, CIMAHI. Peuting nu simpé lain jadi tibra saré pikeun ngamalirkeun kacapé, tapi geuning ngadon nyileuk cénghar, teu puguh rarasaan.

Buru-buru babacaan tilu surat quran pangtungtungna, lumayan masih apal sanajan sok pabeulit jeung surah lianna, tapi angger cènghar. Tungtungna mah ngahérang. Ngagambar dina lalangit bari ngitung cakcak nu anteng balakécrakan.

Sabot panon anteng niténan lalangit.
Bray, lalangit muka dibarung sora ngahégak nu matak soak.

Uing ngagoak, tapi sora jadi peura, baham calawak teu disada.

Leungeun buluan kaluar tina lalangit, Uing ngayekyek musna pangacian. Kaciri ramo-ramona nyekel téko kaca, eusina cai hideung teu mangrupa.

Sora handaruan ngaruntuhkeun kawani, “Arabika atawa robusta?”

Uing disada, “Aaa..ra.. biii..ka”

Cur cikopi tina sungut téko nyurulung kana baham Uing nu ujug-ujug calangap.

Glek glek glek, nikmat pisan. Alhamdulillah.

Ti peuting harita, teu bisa saré saminggu lilana, cénghar satuluyna. (AKW).

Kopi Kintamani Bali

Menggapai senja mencipta rasa.

Senja meredup ditelikung keharuan, tetes air hujan membasahi bumi meski perlahan tapi pasti.

Saatnya ‘ninyuh kopi’…

Kopi Bali Kintamani, oleh-oleh Pak Ketut Adhi segera dieksekusi.

Agar rasanya bisa stabil dan original maka manual brew V60 menjadi pilihan diri.

Hasilnya segelas kopi panas harum mewangi memenuhi ruangan di senja ini. Body strong dan low acidity memberi spirit kesegaran yang hakiki. Tastenya pahit pisan kuy.

Tapi itulah indahnya kopi, kepahitan bukan untuk diratapi tetapi kepahitan adalah bagian dari kenikmatan. Wassalam (AKW).

Kopi Coldbrew Harimau

Bikin kopi versi Coldbrew bersama harimau.

Jangan terjebak dengan judul ya. Photo yang ditampilkan ini bukan bermaksud menjebak pandangan atau mengarahkan opini tentang kopi harimau. Tetapi sebuah kebetulan dimana dipertemukan antara proses penyeduhan kopi versi kopi dingin dengan sang boneka harimau belenuk yang mendapatkannya cukup menyita waktu disaat bertugas di Pulau Bali.

Cold brew, itu metode penyeduhannya. Kopi yang diseduh dingin adalah pemberian Bu Een Kota Sukabumi, “Hatur nuhun Bu”

Metode seduh dingin sangat sederhana. Yang pasti siapin dulu alat dan tempatnya. Trus kelengkapan terpenting itu tadi kopinya sudah ready Kopi Liong, ini kopi blend khas bogor, robusta dan arabika. Elemen penting lainnya air dingin matang dan gelas ukur.

Caranya, baca basmallah dulu. Lalu timbang bubuk kopinya. Karena ini pake perbandingan 1 : 10, maka ditimbanglah 100 gram lalu masukinn perlahan kedalam tempat seperti tabung saringan yang terletak di tengah bejana. Lalu ukur air dingin sebanyak 1 liter, dikucurin perlahan… eh bahasa sunda. Dituangkan airnya perlahan menimpa bubuk kopi hingga tuntas 1 liter itu berpindah tempat. Jangan khawatir, bejana kaca merk Hario itu kapasitasnya 1,5 liter.

Sesudah selesai, tutup bejana atasnya. Simpan di kulkas minimal 8 jam.

Gitu aja?”
“Nggak bisa dinikmati langsung?”

“Maafkan kawan, metode cold brew memang bukan untuk dinikmati langsung, tapi butuh kesabaran”

“Ahh kirain langsung, ya udah moo nyeduh pake V60 aja!!”

“Silahkan”

***

Boneka harimaupun tersenyum sambil memperlihatkan pose terbaiknya disamping bejana cold brew berisi Kopi Liong yang berekstraksi perlahan menuju kenikmatan rasa di esok hari. Wassalam (AKW).

Ruang Seduh – Jkt

Kemacetan di Jalan Kemang Raya Jakarta bukan menjadi masalah karena memang tidak setiap saat melewati jalan ini.

“Ih kamu mah egois, coba emphati dong dengan kami yang menjadi rutinitas lewat jalan ini!!!”

“Ups maaf kawan, tiada maksud begitu. Tapi aku mah apa atuh, bisa ke Jakarta aja paling 3 bulan sekali. Maaf yaa”

Kami bersalaman virtual dengan suara tanpa wujud. Nggak pake lama, kami berteman tanpa ikatan. Meski kemacetan tetap menghadang, tapi minimal rasa lelah antri agak teralihkan.

***

Jadi yang lamanya di Jalan Kemang Raya, hampir 1 jam hingga tiba di tempat tujuan.

“Kamu mau kemana sih?”

Bukan jawaban suara yang keluar, tetapi bahasa tubuh menunjuk ke arah kanan jalan. Jajaran toko dan salah satu tokonya menjadi tujuan utama.

‘Ruang Seduh’ tertulis sebuah nama yang unik. Itulah tujuan malam ini. Berdasarkan info dari IG, tempat ini ada 2 lokasi. Yang satu di Yogyakarta dan satu lagi disini, di Jakarta.

Sebuah tempat menikmati kopi yang disuka para millenial untuk berjumpa, bercengkerama, bekerja ataupun menyendiri menikmati seduhan kopi sambil membaca bermacam buku-buku yang tersaji cantik di rak-rak minimalis yang ditata dengan tema penuh kehangatan.

***

“V60 Kopi Aceh Wonderkid dan Croisant Coklatnya!”

“Oke bang”

Dialog singkat yang menjadi momen penyamputan di kafe ‘Ruang Seduh’. Pelayannya anak muda, wajah datar tanpa senyum.

“Kok nggak sehangat penyambutan seperti beberapa review di IG-nya??” Pertanyaan kecil menggelitik hati, tapi kembali didebat, “Mungkin mereka sudah cape atau memang begitu sama orang yang pertama datang. Atau memang harapanku yang terlalu tinggi disaat membaca IG-nya, ah sudahlah”

Setelah duduk di tempat kosong, memandang sekeliling. Tempat yang menyenangkan untuk bercengkerama menikmati sajian kudapan dan kopi. Sambil kongkow dengan temen-temen. Juga bisa sekaligus bekerja karena konsep mini co-working space tersaji disini. Colokan listrik berhamburan diberbagai tempat, memanjakan golongan Facok ‘fakir colokan’, jadi jangan khawatir lowbatt kawan-kawan.

Photo : V60 Aceh Wonderkid + Croisant / dokpri

Trus di kanan terdapat beraneka buku-buku yang bisa dibaca sambil santai, duduk di bangku-bangku yang berbentuk kubus atau kursi meja yang ditata variatif, ditambah juga pilihan sajian gelato yang bisa diorder terpisah, masih di dalam kafe ‘Ruang Seduh’ ini.

***

Over all, kafe ini enak buat kongkow atau juga untuk menyendiri. Tentunya ditemani secangkir kopi pilihan diri yang bisa diorder berulangkali, tapi jangan lupa membayar lagi hehehehehe.

Alhamdulillah, rasa lelah dan kesal menembus kemacetan dari Jakarta Utara hingga ke daerah Kemang terbayar sudah. Keluarin buku bacaan andalan, juga kabel charger smartphone sambil menkmati harumnya kopi dalam suasana cozy.

Udah ah gitu dulu yach. Sruput. GoodBye. (AKW).

Sendiri & Kopi Wine

Mencoba menyendiri agar menyerap diksi dan aksi dalam warnai kehidupan hakiki.

Terdiam memandang meja coklat yang seakan menyeringai, mencemooh kesendirian ini. Tidak mengusik semedi cantik di siang bolong yang cukup terik.

“Bukan tak ingin bercengkerama denganmu sang meja, tapi kesendirian ini pun penuh makna” sebuah ungkapan pembenaran yang memang apa adanya. Meja coklat tersenyum simpul.

Beberapa menit kemudian, kesendirian ini terusik oleh hadirnya senampan harapan yang berisi.gelas kaca beserta bejana yang berisi cairan hitam nan harum. Sesaat terpaku oleh sihir natural yang datang tak diundang. Mematung meski otak tetap waras, mata menyipit mencoba membaca mantera yang tertera di secarik kertas coklat lusuh, “Kintamani Wine!!!”

Aku tidak sendirian.

Sebelum cairan hitam nan harum ini berubah wujud, maka secepat kilat sekuat guntur, segera menuangkan ke gelas kaca. Angkat gelas senyuman kopi Wine mengubah kesendirian menjadi kehangatan dan jalinan persehabatan.

Masalah rasa jangan ditanya, Kintamani Wine dengan manual brew V60 memberi sensasi tersendiri. Aroma, body dan aciditynya memiliki citra kuat dan penuh kesegaran.

Sekali lagi aku tidak sendirian.

Banyak kawan-kawan Kintamani Wine yang juga bersedia menemani, tapi apa daya sang waktu dan kekuatan perut juga yang membatasi perjumpaan ini.

Dengan berat hati, kesendirian ini disudahi. Kembali bergabung dengan kumpulan para pencari jatidiri yang terus berdiskusi meskipun hari sudah tidak pagi lagi. (AKW).

***

Catatan : Lokasi Genesis Cafe, Jalan Raya Lembang No.70 Gudang Kahuripan – Bandung Barat (Sebrang RM Pengkolan).

Diary Coffee 13

Lanjut yaa Diary Coffee-nya.

Photo : Kopi Wanoja / Dokpri.

Photo di meja sudah biasa
Kini saatnya coba yang beda
Bawa keluar biar berasa
Latar alam indah rasanya

Kopi wanoja dari Majalengka
Giliran mantab untuk dicoba
Tetep V60 jadi perantara
Nggak tanggung, 1 liter nyeduhnya

Rasa harum kopi arabika
Sedikit manis memberi rasa
Body biasa tapi bermakna
Nikmati kopi sendiri saja

***

Photo : Kopi & Anggrek Ungu / dokpri

Kopi Majalengka terasa nyata
Langsung dituang pada gelas kaca
Biar keren photonya
Ditemani anggrek yang berbunga

Ungu bunga sebar semangat
Bikin jiwa semakin kuat
Yakinkan diri kuatkan niat
Jika benar segera perbuat

***

Photo : Kopi & Anggrek Kuning / dokpri

Anggrek kuning menebar janji
Ditemani secangkir kopi
Mengubah suasana pagi ini
Menjadi cerah dan berseri

Tanpa gula itu utama
Hingga raga bisa bersua
Memberi sensasi berbeda
Dengan aneka rasa penuh warna

***

Ngopi Takengon Longberry dkk di Kota Padang

Akhirnya bisa menikmati manual brew di Kota Padang, yummy…

Akhirnya di hari ketiga yang merupakan hari terakhir bertugas di Kota Padang, sempet juga icip-icip kopi beneran.

“Lha coffee break tiap hari sama pas sarapan di hotel khan ready coffee mas bro, kagak bersyukur ini mah!!!” Suara geram menimpali keinginan ini.

“Maafkan jika pilihan kata-katanya kurang berkenan, euh.. belum minum kopi asli yang langsung di grinder trus seduh manual… itu maksutnyaah!”

“Ah dasar kau, maniak kopi!!”

Aku hanya tersenyum simpul, memang klo minum kopi dari hari pertama udah donk. Tapi kopi yang udah tersedia di hotel.. daan.. lumayanlah.

Photo : Segelas Espresso ala Gran Inna resto/dokpri

Trus nyoba segelas espresso buatan restoran hotel, rasanya nikmat.. tapi standar karena memang dibuat oleh mesin ‘yang tidak berperasaan’. Yang bikin menyenangkan adalah nyrupuut espressonya di pinggir kolam renang, suasana berbeda dan tenang….

***

Naah… giliran menikmati kopi beneraaan.. eh kopi manual brew… itulah cerita di hari terakhir.

Photo : Segelas Takengon Longberry hasil V60/dokpri.

Cafenya deket banget dengan Hotel tempat nginep, tapi karena jadwal yang padat nggak keburu mampir hingga akhirnya bisa terlaksana di hari terakhir. Namanya EL’ S Coffee, bangunan yang elegan dan suasana yang cozy. Disaat memasuki pintu depan, suasana keramahan terasa menyapa. Dan… ahaaa….. jejeran biji kopi yang disimpan dalam wadah kaca besar begitu menggoda… ini dia.

Sebenernya banyak juga menu lainnya, tetapi tujuan utamanya adalah ngopi manual brew donk… untuk pelengkap pesan 1 porsi spaghetti Carbonara dan minumannya lemon-grass honey.

Photo : Spaghetti Carbonara ala El’s Cafe/dokpri.

Kesempatan pertama adalah Kopi Takengon Longberry. Sambil menunggu hadirnya sang kopi, pesen dulu Spagheti Carbonara… wuiih berlemak dan berkeju… nggak dibahas ah. Khan moo bahas kopi.

Akhirnya…. setelah menanti 15 menitan, datang juga bejana hario berisi hasil V60 Kopi Takengon Longberry dan segelas kosong sebagai alat menikmati, atuh nggak lucu kalau diminum langsung dari bejana harionya, ntar disangka kesurupan.

Glek…. slrup….. Wuiih cairan kopi memenuhi mulut menenggelamkan lidah yang sudah haus dengan rasa kopi beneran yang di seduh manual secara langsung. Aroma fruitynya tercium meski tidak terlalu harum, body medium dan acidity hampir medium tersisa sejumput rasa asam dibawah lidah dan bertahan beberapa menit setelah cairan kopi lewat menuju lambung dan perut. Untuk taste notenya rasa asam dan sedikit karamel serta ada sedikit atau selarik rasa berry.

Photo : Sajian hasil V60 Wamena coffee/dokpri.

Sebagai bagian dari evidence based bukan hoax maka photo atau video menjadi kewajiban. Meskipun akhirnya hanya photo-photo yang tersaji karena keterbatasan kuota dan kemalasan edit video yang butuh tenaga, waktu serta pemikiran ekstra.

Karena ini adalah saat-saat terakhir di Kota Padang maka ngopinya dilanjut. Pesen lagi manual brew V60 kopi Wamena… mungpung disini.

“Kenapa nggak nyoba kopi Padang?”

“Itu dia, ternyata yang disediakan hanya arabica solok saja dan itupun habis, Jadi… kopi yang ada ajaa…”

Tapi sayang Kopi Wamenanya agak sulit mendeskripsikannya, mungkin udah kekenyangan atau kesalip rasa kopi Takengon Longberry?… padahal udah minum dulu air mineral untuk menetralisirnya.

Jadi body-aciditynya dan tastenya nya bercampur, jadi rasa lumayan.. enak we lah.

Begitulah, segores pena digital tentang petualangan ber-kopi di Kota Padang. Wassalam (AKW).