Manual Brew di Negeri Singa

Menikmati nge-manual brew di negeri orang…

Waktu menunjukan jam 23.30 WS (waktu singapura) disaat bubaran diskusi kelompok di Lobby Hotel Boss. Phisik yang mulai lelah karena terforsir agenda kegiatan yang padat tetap terhibur dengan celoteh jenaka rekan-rekan disaat diskusi dinamisasi persepsi tentang makna dari konsep kepemimpinan kolaborasi…. halaah serius pisan nyak?.. kalem ini mah tetep blog yang bertema sederhana kok.

Jadi moo bahas apaan?…

Bahas kopi..

#clingak
#clinguk

Amaan….. yuk nulis lagiiie.

***

Sebelum tiba di kamar, nyempetin dulu survey kolam renang fasilitas hotel yang berada di lantai 4…… keluar lift ambil arah kanan dan kiri sama saja bisa aksee ke kolam renang dan ruang terbuka serta area merokok yang bebas… (maklum di singapur khan nggak boleh merokok sembarangan)… air kolam renang membiru mengajak segera bergabung bercengkerama dalam gerahnya malam…

Sungguh menyenangkan andaikan bisa menceburkan diri di malam hari dengan background gedung tinggi terang benderang buricak burinong… nikmat sekali. Tapi harapan harus ditepis karena waktu untuk nyebur sudah habis……yaach… nggak sempet berenanggg….

Setiba di kamar tak lupa membersihkan diri dan shalat magrib-isya jama qashar (manfaatkan kemudahan fasilitas Allah).

Setelah semua tuntas baru nyiapin ritual kopi yang membahagiakan. Sebungkus kopi gayo aceh yang dibawa dari Jatinangor tersenyum ceria setelah seharian berhimpitan dalam koper hitam kesayangan. Corong V60 pinky, kertas filter segera tersaji sementara untuk air panasnya sengaja membeli cadangan air destilasi 1500 ml seharga 2 dolar singapura khawatir yang dua botol kecil fasilitas hotel nggak mencukupi.

Pemanasnya udah ready, fasilitas hotel… nggak pake lama, segera proses pembuatan air panas dimulai. Sambil menunggu mendidih, beresin dulu peralatannya di keramik hitam yang menjadi meja di kamar hotel….

Trekk!!!... suara katup mematikan sambungan listrik di ketel.. berarti udah mendidih nich. Diamkan dulu ahh…. teorinya supaya suhu turun dibawah 100 derajat celcius… karena manual brew itu aku mah yach ikutan di range 85 – 93 derajat celcius… supaya dapet originalitas ektraksi dari kopi yang akan tersaji.

***

Jangan lupa kertas filter di corong V60 di basahi air panas dulu… buang airnya. Lalu tuangkan bubuk kopinya kira-kira 4 sendok makan… siap-siap membebaskan oksigen melalui proses bloomin.. caranya tinggal seduh perlahan air panas di tengah2 bubuk kopi… sedikit saja… dan biarkan berbusa… itu klo berbusa.

Klo udah beres…. proses manual brew dengan kucuran air perlahan berputar dari luar searah jarum jam… biarkan bubuk kopi bersentuhan dengan panasnya air dan berekstraksi sempurna menghasilkan cairan kopi yang penuh citarasa.

Tunggu hingga tetes terakhir yang jatuh dari ujung V60 ke gelas yang ada.. gelas hotel. Soalnya klo bawa labu kaca buat nampungnya berabe.. takut pecah diperjalanan khususnya bagasi di bandara.

selamat menunggu.

***

Hasilnya…. Body medium cenderung bold.. kepahitannya agak getir heuheuheu. Acidity terasa tetapi stabil (medium), aroma biasa… tapi untuk rasa kebathinan begitu menggelora karena di negeri orang masih bisa menikmati kopi asli Indonesia dengan racikan V60 darurat versi peralatan ala kadarnya.

Srupuuut nikmat….. ingat ya untuk menikmati rasa original kopi wajib hindari gula dan pemanis lainnya. Gunakan temperatur yang cocok dan komposisi takaran kira-kira tetapi mendekati yang dikehendaki.

Trus jangan lupa mainkan imajinasi juga senantiasa berfikir yang positif, supaya ada keselarasan rasa dengan kopi yang dibuat dan dinikmati… jangan2 klo pas nyeduhnya sambil mikirin hutang piutang…. hasil kopinya bakalan pahiiiiiit bangeeeeddd…. silahkan cubbbbaa.

Oke itu saja sekelumit cerita tentang aktifitas singkat daaan…… nyeduh kopi di negeri singa, semoga besok lusa bisa hunting kopi di sini dan tentu menikmatinya disela-sela agenda kunjungan yang super duperr paddat merayap.

Balik ke meja dimana proses seduhan berada disini.

Wilujeng ngopi lur. Terima kasih, Wassalam (AKW).

Kopi Joss – Yogyakarta

Beredar ke Kota Kenangan, coba lagi nikmati kopi legendaris.

Poster Kopi Joss - Dokpri.

Menginjakkan kaki di Kota Yogyakarta serasa kembali ke rumah, kota yang penuh keramahan dan setiap hari adalah liburan karena banyak sekali orang-orang yang datang.

Meskipun kehadiran diri berbalut tugas dinas dan mendadak, tetapi tak perlu digerutui, ikuti perintah dan jalani dengan ikhlas, selesai. Tinggal teknis tiket pesawat dan hotel yang musti cepet supaya bisa tiba di Yogyakarta sesuai jadwal. Alhamdulillah dengan aplikasi Traveloka, dua hal tersebut tuntas melalui pertemuan jempol dan permukaan smartphone plus transfer duitnya via internet banking, kemajuan teknologi memudahkan kehidupan kita.

***

Tiba di Bandara Adisucipto disambut senja yang mengharu biru, lalu tancap gas dianter mas Bronto seorang sopir Transportasi Bandara dengan biaya resmi Rp 150.000. Bayar di loket di dalam area keluar penumpang bandara (taksi resmi)… dan kendaraannya Toyota Fortuner, Alhamdulillah.

Klo pake Grab Taksi di aplikasi biayanya Rp 55.000,- tetapi musti jalan kaki agak jauh dari area bandara menuju jalan raya Solo – Yogya. Yaa monggo terserah mana yang mau dipilih, penulis pernah nyoba pake grab termasuk grab-bike… juga nyoba bis trans Yogya… yang belum itu pake kereta dari stasiun Maguwo yang posisinya tepat berdampingan dengan bandara.

…… kembali lagi monggo, itu choice kita moo pake alat transportasi apa.

Hotelnya ntar dibahas ditulisan berbeda yaa… yang pasti nyampe ke hotel segera mandi dan shalat magrib-isya dijama.. tak terasa jam 19.30 tiba tanpa kata-kata.

Order grab lagii…..

Tring.. datang mas yusuf dengan avanza hitamnya. Capcuss..

***

Dalam waktu 10 menit sudah tiba di tempat yang diharap….. tempat nikmatin kopi khas di kota gudeg…… Kopi Joss.

Sebenernya menikmati kopi ini sudah beberapa kali tetapi saat itu hanya ikut-ikutan rombongan dan bukan tujuan utama juga dulu masih pake gula… sekarang beda, kopinya yang menjadi buruan.

Sejarah dan cerita dari kopi joss dipastikan banyak bertebaran di laman dunia maya. Tapi sekarang hadir disini ingin mencurahkan rasa via tulisan sederhana gimana klo menikmati lagi dalam suasana dan tujuan yang berbeda.

Lokasinya di seberang stasiun kereta api tugu Yogyakarta. Dari ujung utara jalan Malioboro tinggal jalan kaki lewatin eh nyebrangin rel. Photo bentar di tulisan STASiUN YOGYa yang eye chacthing trus jalan dikit.. belok kiri.. disitulah berjajar sekitar 16 sd 20an pedagang kopi joss. Klo pake taksi or transportasi onlen ya tinggal bilang aja moo kesitu.

***

Kopi Joss disajikan dengan sederhana dan seperti bikin kopi biasa. Masukin bubuk kopi ke gelas tambah air panas dann…. tanpa gula yaaa…. nggak aneh khan?… yang bikin khas adalah setelah itu dimasukin arang memerah bara.. masukin ke gelas.. Josssss…. suara pertemuan bara arang dengan air membuat suara khas dan menciptakan citarasa berbeda.

Sabar dulu… jangan asal sruput ntar bibir ma lidah melepuh mas bro..

Tunggu… sabar.. nah sambil nunggu kopi dingin, ada pilihan nasi kucing, indomie tante (tanpa telor), aneka sate (kikil, ayam, kerang, baso, hati, usus, telor puyuh dan lainnya) dengan harga 1 tusuknya Rp 3000…

Harga kopinya Rp 6000 saja, penasaran kopi apa yang dipake… ternyata kopi yang dikemas tradisional dengan merk Murni Baru, lengkap dengan nomor PIRTnya.

Ayo kita coba… sruputtt… ahhh segerr.. hati2 bibir berjumpa arang yang menuhin gelasnya hehehe… aromanya lite, bodynya medium strong… maybe proses roastingnya dark roast. Tastenya.. nggak muncul tapi overall kopinya enak… tentunya tanpa gula atau pemanis lainnya.. kecuali klo wajah siih udah maniss dari sonoh nyah….

Sambil ngopi nggak lupa, nyobain 3 tusuk sate, satu tusuk telor puyuh, suwir daging ayam dan usus.. nikmaat.

Nggak pake lama nongkrong di Kopi Joss ini karena sendirian.. eh berdua sama mas yusuf sopir grab… lalu bergegas kembali ke hotel di daerah Wirobrajan, Yogyakarta. Matur suwun, Wassalam (AKW).

Kopi Kenya-Starbucks

Kembali lagi menjajal kopi benua afrika, yakni berasal dari Kenya… mari kita cubbbaa…

Ternyata kawan, apa yang terjadi dalam jalinan keseharian terasa tanpa kesengajaan padahal semua sudah diatur dan merupakan takdir kehidupan.

“Urusan apa kang?”

“Eeuuh… kopii!”

“Kopi deui wae… bosen”

“Duh kopi mah bukan untuk diperdebatkan tapi untuk dinikmati”

“Hayu atuh… ngopaay”

Percakapan singkat dalam pertemuan dengan kawan lama ternyata terngiang kembali dari mulut Kang Hasan, Barista Starbucks Coffee di Bandara HuseinSastranegara, yakni….

‘Kopi bukan untuk diperdebatkan tapi kopi untuk bersama dinikmati’.

Dari pertemuan singkat di depan showcasenya Starbucks lantai 2 ruang tunggu penumpang, berbicara tentang biji kopi yang dipajang dan merekomendasikan kopi KENYA… apalagi yach?

Kemarin baru dibahas santai tentang kopi Afrika yakni Kopi KIBUYE sekarang ketemu lagi sama yang inih.

Hati-hati kawan, jangan berfikir ini bahasa sunda ya. Karena kalau bahasa sunda.. KE NYa itu artinya Ntar dulu.. atau nanti dulu yaach… jauh bingit khan?

Padahal yang akan dibahas adalah kopi darii…. lagi2 benua Afrika… kopi KENYA.

Kata kang Hasan, ini adalah kopi andalan para Barista di outlet-outlet Starbucks untuk di seduh manual… makin penasaran.

***

Sebenernya di outlet ini nggak nyediain manual brew untuk menikmati kopi tampa gula, yang ada standar siih… Americano dan klo moo bold ya espresso… tapi klo espresso khan bisa kehilangan sensasi originalitas kopinya. Jadi awalnya hanya tertarik untuk membeli biji Kopi KENYa ukuran 250gr yang dijual 95rb rupiah.

Ternyata… gayung bersambut. Disaat menyatakan untuk membeli sebungkus kopi tersebut, kang Hasan ngasih penawaran, “Mau dibuatin manual pake french press kang?…”

“Mau pisan, emang boleh gitu?”

“Boleh donk, saya ambil 20gr untuk di grinder dan akang silahkan lakukan pembayaran trus milih meja yang disukai”

“Okay…” wuiih seneng bangeet. Disaat tadi sedikit terdiam karena mendengar penerbangan delay, sekarang justru senang karena bisa menikmati manual kopi disini, dibuatin lagi… Fabiayyi alaa irobbikuma tukadziban.

***

Sambil menikmati Cheese Quiche sebagai pengganti makan siang yang tertunda, pikiran melayang dan teringat wajah orang-orang tercinta andaikan ini liburan sama mereka, betapa menyenangkan. Tapi ya sudah meskipun hadir disini karena perintah, yang pasti jalani semua dengan hati yang pasrah. Menerima kenyataan adalah obat dan cara manjur untuk kehidupan tanpa beban pikiran berlebihan.

“Selamat siang kang, maaf menunggu agak lama” Suara kang Hasan memecahkan lamunan. Ternyata datang dengan senampan persenjataan barista profesional. Kopi KENYA sudah hasil menggiling, french press, es batu, gelas mini untuk espresso dan ada 2 gelas putih lain yang berisi sesuatu… “Apa itu kang?” Kepo donk.
“Ini lemon… nanti saya sajikan dengan kopi… dan rasakan sensasinya”

***

Ternyata di Starbucks ada namanya coffee talk, sebuah pelayanan kepada pelanggan yang memiliki interest tinggi kepada si biji hitam harum kecoklatan. Menyajikan kopi diseduh oleh sang barista di meja pelanggan sambil berbincang ringan… yummy. Tapi jangan lupa, beli dulu biji kopi pilihannya sebelum di grinder dan disajikan.

***

Sajian pertama dengan menggunakan french press, suhu air 90 derajat celcius dan dibiarkan berektraksi selama 4 menit. (Nggak lupa kang Hasan bawa stopwatch). Setelah itu ditekeeen.. dan langsung disajikan ke gelas yang tersedia. Takarannya 1 :15 ya… jangan lupa sisa kopi di tabung french pressnya dialihkan ke tempat berbeda, agar tidak terus berekstraksi dan menghasilkan rasa berbeda.

“Mangga kang…”

Harumm menyentuh hidung…

Srupuuut….. hmmmm… sebuah aliran misterius menggenangi mulut merendam bawah lidah, perlahan ditahan. Terasa nikmatnya menyerap, body dan acidity medium, ada selarik rasa berry yang mampir diujung bawah lidah, taste yang menyegarkan…. yummy.

***

Sajian kedua ditambah es batu menghasilkan ice coffee yang segeer pisan…

Dan sajian ketiga adalah ice coffee dicampur lemon… jadi gimana rasanya ya?.. penasaran.

Ternyata… rasanya luar biasa… segernya sensasi berbeda. Kesegaran lemonnya dominan disaat minuman menyentuh lidah tetapi pas diakhir rasa kopinya tertinggal begitu pas bikin pengen lagi… komposisinya monggo sesuai selera… apalagi kata kang Hasan ditambah sedikit gula.

“Nggak bakal tergoda ah dengan sedikit gula… udah maniees”

Awwww…..

Terima kasih atas kesempatan menikmati sajian manual kopinya kang Hasan.

***

Akhirnya pengumuman petugas bandara yang memisahkan kita. Karena nggak lucu khan klo ketinggalan pesawat gara-gara terlarut dalam menikmati kopi. Wassalam (AKW).

Kopi Kibuye d’Ambrogio

Menikmati lagi Kopi dari benua Afrika, cekidot.

Menikmati kopi memang bukan harga mati yang musti tiap hari wajib tersaji. Tetapi anugerah Illahi yang selalu membuka pintu rejeki untuk bisa dan dimampukan menikmati secangkir minuman penuh sensasi dan berbalut misteri.

Tulisan kali ini mengulas kenikmatan kopi tanpa gula dari benua afrika sana. Jika sebelumnya udah dinikmati dan dibahas Kopi Afrika Mbirizi-Burundi… Trus Kopi Kamwangi AA – Kenya, nah sekarang kita nikmati Kopi Kibuye-Bukirasazi-Burundi.

Judul awalnya adalah makan siang sama istri dan anak tercintah… ya dengan siapa lagi atuh. Karena merekalah yang menjadi kawan sejati dalam hidup ini juga nanti di akherat kelak…. dan pilihan makan siangnya jatuh ke sebuah restoran eksotik nge-hits di Kota Bandung yakni Restoran Ambrogio Patisserie di jalan Banda Nomor 62 Bandung.. kebetulan pas kesitu ada tempat untuk parkir (biasanya klo weekend, parkirnya penuh mulu…) yang penasaran monggo gugling aja.

Setelah dapet meja dan nggak lupa minta baby chair, peseen makanan dan bla bla bla… (makanannya nggak diulas disini ya, maaf).

Disinilah kenalan sama si kopi Afrika Kibuye. Akang pelayan dengan senang hati ngeliatin dulu biji kopi dalam bungkusnya… tulisan sederhana tapi dengan packing standar sehingga bisa menjaga keutuhan kopi.. (ahayy keutuhan rumah tangga kaleeee).

***

Nggak pake nunggu lama, orderan kopi manual brew V60 Kibuye tersaji. Aromanya terasa lembut menyapa cuping hidung dan memberi rasa nyaman. Nggak lupa diabadikan dulu.. Cetrek!!!

Tapi… agak mengernyitkan dahi karena disajikan dalam poci abu-abu tua lengkap dengan cawan mini berwarna senada, pake tatakan kayu yang warnanya matching plus segelas air putih ukuran sedang yang udah berisi irisan melon eh lemon, buat penetral rasa dan perasaan yaaa….

Serasa minum teh lho.

Tapi bayangan suasana minum teh tergantikan setelah nyeruput kopi di dalam cawan. Aciditynya medium high, body medium dan taste-nya ada selarik rasa floral yang menyejukkan…. nikmaat.

Sampe-sampe dikomplen ibu negara lho, saking seriusnya nikmati dan abadikan kopi… istri tercinta nggak diphoto-photo…. Ampyuuun dech.

***

Itulah sekelumit rasa yang selalu menggelora, menikmati sajian asa dalam segelas.. eh sepoci kopi yang datang dari benua Afrika. Hatur nuhun, Wassalam (AKW).

Pagi & Rejeki Kopi

Rejeki nyeduh kopi di pagi hari, bukannya habis … eh malah makin bejibun. hayuuu nyeduh kopaaay.

Pagi hari setelah berolahraga keliling bukit di kaki manglayang, sebuah ritual penting dipastikan harus dilaksanakan. Tentu dengan persiapan yang matang, ketelitian mendalam serta konsentrasi sepenuh hati untuk mengikuti tahapan yang miliki arti hakiki.

“Emang lo mau ngapain?”
“Ritual apaan?”

“Weits kalem dulu mas bro, ini bukan urusan kepercayaan kepada sang pencipta. Tapi ritual memaknai sebuah proses kehidupan yang tentu berkorelasi dengan hasil yang dicapai”

“Busyet dah tuh jawaban bikin pusing tapi penasaran, cepetan lo moo ngapain?”

***

Bukan jawaban yang dihadirkan tetapi tindakan nyata yang segera dilaksanakan. Keluarin 2 toples kopi hasil gilingan sendiri, ada Diq coffee-Ciwidey dan Kopi Lestari Arabica ditambah sebungkus Kong Djie Coffee sisa kemarin pemberian pa Doktor Bambam.

Corong V60 pink, filternya, gelas ukur dan sendok serta botol tabung buat nampung langsung tersaji.

“Oohhh bikin kopiii…. ini ritual yang kami tunggu…” sebuah jawaban tegas yang juga sekaligus meninggalkan diriku.

“Wah jangan-jangan beliau tersinggung” dalam hati bercerita sendiri.

Ya sudah.. segera ritual manual brew V60 digelar. Kopi Diq Coffee menjadi pembuka dilanjutkan menyeduh kopi Kong Djienya Belitung….

Jreng….

Currr….

***

Ternyata dugaanku salah besar. Yang tadi seolah tidak acuh dengan ritual nyeduh kopi sudah kembali dengan segenggam kopi…. asyikkk.

Kopi yang ada belum tuntas diseduh.. ternyata meja panjang ini sudah penuh dengan aneka kopi dari berbagai wilayah.. Alhamdulillahirobbil alamin.

Betul kata agama, rejeki itu datang dari arah yang tidak terduga. Tanpa dikomando terkumpul berbagai kopi yang siap dinikmati diantaranya :

Pertama, Singa coffee Java Arabica dibawain sama om Roni.

Kedua, kopi sumatera Mandheiling versi Indoculinaire yang bawa pakde Adhi & Om Jun.

Ketiga, kopi Sumatera Mandheling by Exelso di kasih oleh om Mukti.

Keempat, Aceh Coffee Ulee Kareng ini dibawain lagi sama Om Roni.

Kelima, kopi bubuk Cap Liong Bulan, Bogor dibawain sama om Ajaw.

Keenam, Kopi Aroma Mokka Arabica Giling halus dibawain om Yayan.

Ketujuh, 3 rangkaian kopi dari Indoculture yaitu : Kopi Bali, Kopi Toraja dan Kopi Aceh… ini teh lupa euy.. om Bambam kayaknya.

Ke delapan, Sumber Coffee Kopi Manggar dari Kang Agus dapur. Lengkap sudaah.

***

Jadi stok bejibun…. Alhamdulillah. Penyeduhan semakin gampang karena kopi bubuk sudah tersedia dari berbagai sumber yang ada. Tinggal bagaimana menyeduhnya, apa rasanya dan yang pasti….. bisa menikmati bersama hasil manual brew V60 tanpa gula ya mas broo.. Wassalam (AKW).

Kopi Kamwangi AA – Kenya

Menikmati Kopi Spesial dari Afrika bersama Keluarga kecil yang ceria.

Hari minggu sekarang terasa begitu berharga karena satu-satunya hari yang bisa bercengkerama dengan keluarga kecilku. Setelah senin hingga sabtu sore tergadaikan oleh kesibukan yang menyita waktu tanpa perasaan.

Tapi itulah hidup, kesibukan adalah keniscayaan apalagi dibalut oleh tanggung jawab dalam mengelola komitmen. Klop sudah kawaan.

Profesi diri menjadi suatu cerminan bahwa dimanapun berada dan kapanpun beraktifitas perlu menjaga sikap yang disebut istilah ‘Religius disiplinus’

Mari kita jaga sopan santun, toleransi dan kebersamaan.

“Eh jadi serius nulis beginian?”

“Justru beginian itu yang bakal bikin kita survive dan akhirnya memenangi pertautan semu antara abu-abu hingga menghitam.

Hayu ah ngopi manual brew duuuluuu……

***

Karena posisinya sedang beredar bersama istri tercintah & anak semata wayang. Maka pencarian kopinya menyesuaikan dengan tempat dimana kami bertiga sedang kukurilingan.

Cafe Toby’s Estate yang jadi pilihan kali ini. Terletak di Lobby depan Mall Paskal23 Bandung.

Awalnya moo pilih-pilih aneka kopi untuk di manual brew pake V60… eh ternyata cuman ada 1 jenis… ya gpp… siapa tau emang the best coffeenya.

Langsung orderrrr……

Sajian perdana adalah babycino yang nggak pake lama disruput Neng Binar hanya hitungan detik.

“Tambah lagi ayaah” rengekan anak kicik yang mengagetkan. Lha wong bapak ibunya blom ngopi eh nich anak udah curi start aja.

Ibunya akhirnya tersenyum lega setelah pesenan kopinya datang, cafelatte yang menggugah selera. Tapi teteep kurang bisa menikmati aku mah, beda jalur…. khan aliran kopi tanpa gula dan tanpa lainnya… susu, cream, dll.

***

Kesempatan terakhir, tibalah sajian single origin manual brew V60 hasil racikan barista Toby’s State… tradaaaa : 200ml kopi ‘Kamwangi AA’ dari Kenya Benua Afrika sana.

Tersaji apik dengan gelas tabung plus ada ukurannya serta satu gelas kecil untuk digunakan menikmati sajian kopi sedikit demi sedikitt…. serta satu kartu informasi kopi yang apik dan lengkap.

Aromanya harum menyegarkan… wuihhh tak sabar segera srupuuut. Srupuut… pelan tapi pasti. Bodynya medium light…. buat pemula nggak terlalu bikin kuagheet

Nah acidity-nya juga medium… trus tastenya muncul rasa tomat dimulut, lidah bawah serasa menari digelitik asam segar rasa tomat dan sedikit orange plus nuansa tropis terasa memenuhi ruang imajinasi, melupakan sesaat rasa hati dan seakan tidak menjejak bumi… aaaw lebay.

***

Ternyata sesaat tuntas menikmati manual Brew Kamwangi AA… anak cantik juga abis 2 gelas ‘Babycino‘… waddduh gaswaat…. ntar kita bahas khusus tentang BABYCINO ini yaa….

Yang pasti, bersama keluarga adalah utama tapi ngopi hitam adalah keharusan. Wassalam (AKW).

Catatan :
Alamat Toby’s Estate Bandung
Lobby Cai, Lt 1 10 -11, Jalan Pasirkaliki, Kebon Jeruk, Andir, Kb. Jeruk, Andir, Kota Bandung, Jawa Barat 40181

Nikmatnya Kong Djie Coffee.

Yuk nyeduh kopi Kong Djie…

Ngoopi yuuuk….

Jangan lupa photo dulu tuh penampakan kopi dan bungkusnya.

Bungkus alumunium foil keemasan melindungi bubuk kopi bermerk ‘Kong Djie Coffee’ pemberian pa Doktor Bambam sudah berpose…. cekr├ęk….. photo dulu.

Kemoon, nggak pake lama.. breweek bungkus kopi keemasan disobek paksa.

V60 + kertas filternya + air panas + gooseneck ketel udah ready…

Dengan menggunakan otomatisasi gramasi alias kira-kira, karena timbangan elektroniknya ketinggalan di kantor. Maka kopi bubuk sudah siap diseduh… eh jangan lupa basahin dulu kertas filter V6pnya supaya meluruhkan sisa-sisa bahan kimia di kertas filter tersebut.

***

Proses seduhan berlangsung dan musti sabar menunggu air kopinya menetes. Karena bentuk kopinya sudah bubuk halus maka manual brew pame V60 agak lama nembus kerapatan kopi bubuknya. Harum rasa menyambar ujung hidung yang tak sabar menyecap rasa.

Tes

Tes

Tes…..

Akhirnya kesabaran berbuah hasil. Cairan hitam misterius tersaji. Ready to drink….

***

Sruputt…. kumur dikit… glek.

Body jelas bold alias pekat menghitam, aroma cukup harum memikat dan ada sedikit aroma amis sisik ikan…. kenapa ya?

Tapi selarik aroma sisik ikan nggak bikin mual, malah memberi kesegaran serasa minym kopi di pinggir pantai..

Bukan lebay lho, tapi kopi dan imajinasi adalah kawan karib sejati.

Mungkin karena sumber kopi ini dari Pulau Belitung sehingga muncul sensasi itu…. ah cocokologi atau bisa juga bener.

…. nggak usah dipikirin…. nikmati aja… enak kok. Apalagi dapet gratis.. Alhamdulillah.

Wilujeng ngopiiii lur. Wassalam (AKW).