Kopi Tiwus & Perfecto

Hadir lagi kenangan tentang filosofi kopi, sebuah janji dan kesederhanaan.

Photo : Kopi Tiwus + Perfecto + Novelnya / dokpri

JAKARTA, akwnulis.com. Ben dan Jody seakan muncul kembali, membawa catatan tersendiri tentang filosofi kopi. Dee Dewi Lestari yang sukses menggoreskan pena pada novel epiknya, 2014 tahun kelahirannya dengan 142 halaman yang memukau dan memberikan esensi semangat, kebersamaan, rasa kecewa yang akhirnya diperjuangkan hingga mewujudkan kepuasan serta rasa bahagia.

“Kenapa jadi inget Ben dan Jody?”

Sebuah pertanyaan singkat, namun penuh arti. Buku novel filosofi kopi adalah sebuah novel yang juga membuka lembaran bagi diriku untuk menjadi penikmat kopi tanpa gula, dengan mencoba memaknai setiap proses seduh manual yang perlu berbagai alat, persiapan serta sisa ‘anjang-anjangan‘ yang berantakan demi menghasilkan 1 cangkir kopi arabica atau robusta, sudah pasti tanpa ditemani sejumput atau sebutir gula.

Jika filosofi kopi memperkenalkan tentang ‘Kopi Yang Anda Minum Hari Ini Adalah Wujud Kesempurnaan Hidup’ yang tertulis di kartu pada sajian kopi Bens perfecto.

Lalu muncul kopi Tiwus yang diolah penuh cinta, kopi sederhana yang miliki rasa luar biasa. Sebuah perlakuan istimewa sang petani tradisional terhadap tanaman kopi sejak awal ditanam, dipanen, roasting hingga jadi bean siap saji yang sangat lengkap rasa serta asa dan mampu menggeser dominasi ‘Perfecto’-nya Ben.

Sepenggal cerita yang penuh makna,

Nah diriku juga nggak mau kalah,
diriku punya :

▪ Pahitnya kopi dapat mengurangi pahit getirnya kehidupan ▪.

Ada juga makna kopi versi istriku, *Kopi tanpa takaran bagaikan hidup yang tak terduga*

***

Udah ah… cerita Ben dan kopi perfectonya muncul lagi karena Fauzi. “Siapa lagi tuh?”

Photo : Kopi Tiwus edisi praktis bertengger di cangkir / dokpri

Anak magang di kantor, yang kemarin ijin nggak masuk kantor beberapa hari karena ada keperluan. Ternyata pergi ke Semarang dan Jogja dengan buah tangannya berupa Kopi Tiwus edisi seduh manual self drip coffee, kemasan praktis dengan bungkus biru. Dipacking kompak, isinya 10gr kopi bubuk yang bisa langsung ditangkringin di gelas. Ambil air panas 100ml, seduh pelan-pelan. Praktis bukan?…

Rasanya juga khas, Body medium arabica, ada harum khas dan acidity yang menengah, memberi sensasi nikmat yang muncul dari kesederhanaan sambil kembali mencipta gambaran kebun kopi di lereng pegunungan Wonosobo serta kedai sederhana yang menyajikan ‘Kopi Tiwus’.

Satu lagi bean kopi perfecto, woaaah kebanggaannya si Ben. Nanti ah diseduhnya, khan musti di grinder dulu… Alhamdulillah, thanks zie. Wassalam (AKW).

Arabica Wine & Ijen di Renjana

Menikmati V60 Arabica wine vs Ijen.

Photo : Sajian V60 Arabica wine – Renjana / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com.Pagi yang cerah dan senyum di bibir merah, sejuta rasa bahagia….’

….”Lhaa kok jadi nyanyiin lagu mendiang Chrisye seeh?”

Tapi ini emang pagi yang cerah meskipun bibir merahnya sih relatif. Merah karena obat merah, atau bibirnya kejemur atau polesan lipstik yang mungkin harganya mahal dari mulai Estee Lauder Pure Color Envy Sculpting (400ribuan) hingga Couture Beauty Diamond Lipstick yang harganya (ceunah) 187 Milyar karena bertabur berlian.

Pagi yang cerah ini, menjadi kesempatan berharga untuk menjajal program jalan 30 menit/hari. Kebetulan ada perintah buat ngewakilin bos rapat di salah satu kantor di daerah jl Riau – jl.Laswi. “Kayaknya nyampe kesitu jalan kaki 30 menitan”

Berangkaat…..

Dengan rute Jl. Martadinata / Jl.Riau luruss aja ngikutin trotoar, dan beberapa kali menyebeberang di perempatan… ada 4 apa 5 per4tan. Mulai dari perempatan Istiqomah, Cihapit, ujung jalan Aceh, Gandapura hingga perempatan Jl. Anggrek…

Ternyata 24 menit sudah hampir tiba di TKP, wah masih ada spare 6 menit. Belok kanan dulu ke jalan Anggrek trus ke Jalan Pudak… ternyata ada 4 cafe kopi…. yang pasti ada kopi pudak, kopi Renjana dann…..halah 2 lagi lupa euy.

Photo : Barista Renjana beraksi / dokpri

Dari Jalan Pudak langsung balik badan dan kembali kepada jalan yang benar eh.. jalan yang menuju tempat rapat….. 35 menit akhirnya waktu berjalan dari daerah Istiqomah hingga ujung jalan Martadinata-Ahmad Yani. Keringat lumayan mengucur, tapi segar… aslinya segeerr. Yaa kalaupun ada sedikit bau keringet pas ntar rapat, itu mah resiko. Namanya juga jalan kaki, ya keringetan.

—- Cerita rapatnya nggak dibahas

Naaaah… jam 2 siang baru beres rapatnya…… setelah bubar…. jalan kaki lagi menuju jalan anggrek tadi… kemooon.

Photo : Sebungkus arabica wine / dokpri

Namanya Kafe Renjana, kata sang duo barista artinya ‘Rencana‘ tapi diwujudkan jadi cafe. Nama baristanya Rio dan Diki. Menunya banyak, dan ruangannya cozy serta rapih. Ada juga ruangan private buat meeting, itu mah musti booking dulu….. lha kok jadi iklan cafe seeeh!!.

Yang penting kopinya bro, manual brew V60 tea geuning….

Tanpa perlu lama, pilihan biji kopi yang ada dibaca satu persatu. Ah pilihan mah nggak boleh terlalu banyak, lagian yang lainnya udah tau karakter rasanya… wheleeeh wheleeh kayak yang udah nyicip ratusan kopi aja, sombong lu!!

Pertama, Arabica wine. Katanya beannya dari gunung manglayang. Oke deh gpp, ditunggu racikan manual brew V60nya.

Sambil duduk di meja sebelah dalam, mencoba menikmati suasana cafe Renjana dalam waktu yang sangat terbatas ini. Enak juga buat nongkrong, eh tapi jauh dari kantor. Ya sudah sesekali aja.

Tak berapa lama sajian kopi manual brew V60 Arabica wine ala Renjana cafe telah tiba dihadapan. Sebelum dinikmati tak lupa didokumentasi, wajiib itu!!

Ouuww…. bodynya bold dan ninggal di seputar bibir, aromanya oke dan ada taste fruitty yang ninggal plus selarik rasa karamel.

Kata baristanya pake perbandingan 1:15 alias 100ml dengan 15gr bean persajian… cucook deh.

Nggak pake lama, disruput habis tuh sajian kopi arabica wine. Eh sang pelayan lewat, sambil tersenyum berkata, “Om kayak minum air putih aja, teguk teguk habis.. itu khan pahit bingiit”

Senyum tersungging, salah besar. Ini sajian nggak pahit, justru nikmat dan bisa sesaat melupakan pahit getirnya kehidupan… ahaaay.

“Pesen lagi neng, Manual brew V60, kopinya Ijen”
“Oke Kakak”

Ahay kok berubah panggilannya dari Om jadi Kakak….

Photo : Sajian V60 kopi ijen / dokpri

Sajian kedua, manual brew V60 kopi Ijen. Sajiannya sama dengan gelas botol saji transparan dengan gelas kecil. Tanpa embel-embel, polos saja.

Perlahan disruput, kumur dikit dan glek.. glek.. glek… aroma harum dengan body lite, cocok buat pemula. Serta acidity medium. Taste tidak terlalu jelas, sangat tipis rasa fruittynya.. “Eh atau jangan-jangan efek arabica wine-nya belum hilang?”

Nggak usah dipikirkan. Biarkan kopi arabica wine dan kopi ijennya bersepakat di dalam lambung untuk menghasilkan MOU perikekopian yang akhirnya akan keluar dari tubuh ini dalam bentuk yang relatif sama.

Photo : bean kopi Ijen / dokpri

Yang pasti keduanya nikmat dengan segmentasi peminat ya g berbeda. Mau yang strong atau medium, itulah pilihan.

Akhirnya sang waktu jua yang memaksa raga ini hengkang dari Cafe Renjana. Kembali ke alam nyata dan berpetualang menapaki jalan kehidupan yang terbentang sepanjang hayat. Wassalam (AKW).

***

Kopi Mundur

Ternyata bisa juga bergerak mundur untuk mencapai tujuan, sambil ngopi.

Photo : Kopi tahukah kamu?/dokpri

JAKARTA, akwnulis.com. Mentari masih malu-malu menampakan diri disaat kejadian ini diawali. Kisah nyata yang ternyata berbuah hikmah.

“Mau tahu?”

“Mauuuu!!”

“Ternyata dengan duduk dan bergerak mundur, bisa sampai juga ke tujuan”

“Ah seriusan?… nggak pusing tuh?”

“Agak siih, tapi takdir sudah memilih kami”

“Kerennn, kok bisa sih?”

“Gampang kok caranya, tinggal beli tiket kereta kelas ekonomi jurusan bandung – jakarta”

“Ahh kirain teh apa”

Tapi betul kok, duduk di kursi kereta api kelas ekonomi memang terbagi menjadi dua arah, 1abcd sd 11abcd akan berhadapan dengan 12abcd sd 20abcd, jadi 11 dan 12 berhadap-hadapan. Nah klo yang kebagian arah maju menyongsong tujuan sih fine fine aja.

Yang berabe adalah posisi berlawanan, sehingga mundur teratur tapi menuju tujuan. Jadi istilahnya ‘Terus mundur untuk mencapai tujuan’ heu heu heu.

Untungnya nggak sendirian yang mundur tapi maju ini, minimal satu gerbong ada 4×11 : 44 orang , belum gerbong ekonomi lainnya, klo ada 4 gerbong ekonomi berarti ada kawan 175 orang.. jadi yaa… nikmati.. jalani sambil munduriii.. hihihi.

Untuk yang pertama kali mungkin akan ada sedikit pusing dan bingung, dislokasi.. eh itumah tulang keseleo ya.. disposisi… eh misposisi yaa?…. terserah deh… tapi karena ini perjalanan ke sekian kali… yaa nikmati saja, yang penting bisa tiba di jakarta tepat waktu dan bebas macet.

Photo : Black coffee ResKa / dokpri

Naah… supaya kemunduran menuju tujuan ini terasa menyenangkan maka pesanlah kopi dari petugas restoKA yang akan datang melewati kita membawa dorongan makanan minuman dengan harga khusus… maksudnya khusus di kereta.

Pilihan makanan minumannya bervariasi, tapi bagi diriku cukup dengan satu cup kopi hitam panas tanpa gula…. haruuum dan nikmaaat.

Jikalau sang petugas memberi 2 sachet gula, tolaklah dengan tegas. Karena itu artinya sang petugas tidak meyakini bahwa kita ini ‘sudah maniss‘… kopi hitam tanpa gula adalah segalanya… “ihh mulai lebaay dech”

Saran penting, jangan langsung disruput tuh kopinya. Karena air panasnya bener-bener panas, ntar malah mulut dan tenggorokan terluka. Jadi diamkanlah beberapa saat sambil tetap menikmati ‘kemunduran’ yang nyata ini.

Meskipun mundur, pemandangan diluar tetap bisa dinikmati. Tapi semua dengan cepat terlihat, menjauh dan berganti… begitulah kehidupan. Sekilas menghijau, berganti dengan tanah merah, persawahan atau gelap memekat karena memasuki terowongan.

Ah sudahlah, sekarang saatnya menikmati kopi hitam ala KA Argo Parahyangan. Srupuut…. hmmmm.. nikmat. Body tebal dan getir menyambut, acidity praktis nggak ada, tastenya flat… ya begitulah. Tapi tetap aroma kopinya ada, dipastikan ini dasarnya kopi robusta.

Sruputt…. nikmat. Terasa perjalanan kemunduran ini lebih bermakna, hingga akhirnya 3 jam sudah bermundur bersama dan tiba di stasiun Gambir tepat waktunya.

Jadi ternyata bergerak mundur itu bukan kemunduran, tapi bergerak mundur demi mencapai tujuaaan. Udah ah nglanturnya. Wassalam (AKW).

Obat Penenang – Kopluprégar

Ketenangan hadir melalui obat yang tepat.

Photo : Sajian Koplupregar lengkap dengan peralatan/ dokpri

JATINANGOR, akwnulis.com. Dinginnya malam di Kamar 103 Kampus Kiarapayung begitu kejam menghujami kulit tipis kami. Sesekali angin menyelusup, menyapa dengan seringainya menyusuri kuduk yang kerap meremang.

Untung saja obat penawarnya ada, beberapa bungkus obat penenang tradisional dengan peralatan lengkap satu kontainer plastik. Dibawa khusus untuk menghadapi situasi seperti ini.

“Obat penenang?, hati-hati ah, jangan sembarang bawa obat begitu. Nanti diciduk petugas”

“Udah selow aja kata Wahyu juga (maksudnya lagu Selow yang dinyanyiin Wahyu), cuman segini doang” sambil mengeluarkannya dari dalam kontainer.

Wahhh… ini mah banyak sekali, ah bahaya ini mah.. bahaya” suara parau kawanku yang phobia dengan penangkapan. Tangannya tak henti meremas bungkus alumunium voil.

“Baca atuh bungkusnyaaa…. ini bukan tablet isinya bro, isinya bijiiiii…. biji kopiiii”

“Biji kopi?… tadi katanya obat penenang?”

“Iya penenang hati yang sedang galaw karena rasa dingin dan kegamangan.. ahaaay”

“Sialaaan”

Segera berlari menghindari kejaran kawan yang kalap karena nggak terima dengan kejadian ini.

Makanya jangan phobia berlebihan.

***

Setelah peralatan lengkap di meja, prosesi dimulai. Pasang kertas filter dicorong V60, timbang biji kopi dan digrinder dengan ukuran suka-suka, goyang-goyang 2-6. Siapkan air panas dengan termos pemanas.. josss.

Sang waktu menjadi saksi dikala air panas membasahi dulu kertas filter, serpihan biji masuk saringan, proses blooming bikin harum ruangan yang sebelumnya diawali oleh aroma biji kopi Luwak Garut yang terpecah oleh keperkasaan mesin grinder.

92° celcius sebuah angka yang tepat untuk menyeduh biji kopi spesial dari salah satu tokoh di garut, nuhun pak haji Aam… currr, puter-puter.

Tes.. tes… obat penenang menetes di bejana kaca transparan.. horee.. horeeee…

Aroma khas arabica menyeruak menjadi penenang pertama, diikuti dengan acidity maksimal khas kopi luwak (jangan sambil bayangin kopi yang keluar dari ‘anu’ luwak yaaa….. ), body kopinya medium dan dari keseluruhannya nikmat maksudddnyaaah.

Photo : para pemburu ketenangan / dokpri.

By the way, anyway…. obat penenang itu bernama Kopi Luwak Premium Garut (Koplupregar) versi spesial yang diproduksi oleh CV Dwi putra laksana….

Srupuuut.. srupput, gelas-gelas mini menyambut kehadiran obat penenang suasana ini secepat kilat, sehingga 50gr kopi yang berubah jadi cairan hitam coklatpun tandas dalam waktu singkat.

“Alhamdulillah, udah pada tenang semuanya,……”

“Iyaaaaaaa.. tenang dan senang”

Dinginnya malam sekarang menjadi sahabat, karena dipererat kebersamaan yang berbalut ketenangan. Canda dan tawa serta cerita Bali, Bogor dan Sukabumi serta Cimahi menguatkan kembali chemistry yang telah terjalin kuat di kaki Gunung Manglayang ini. Wassalam (AKW).

Longbérry di Legok Emok

Rinéh sakedap bari ngarénghap, ni’mat.

Photo : Kopi V60 Arabica Longbérry / doklang.

KBB, akwnulis.com. Legok Emok hiji wilayah nu salin jinis jadi cikal bakal dayeuh anyar di kuloneun Bandung ayeuna. Kitu ogé Bojong Haleuang, kaséréd ku robahna jaman jeung kawijakan Karajaan Pajajaran.

Ayeuna mah geus obah jadi jalan leucir, sasak tohaga wangunan jangkung halughug. Jlug jleg imah jeung buruan sagala ukuran. Matak hélok ogé waas, wewengkon tegalan paranti ngarit ayeuna jadi ladang duit. Sayang jangkrik jeung ngala simeut, kari carita nu matak gemet.

Alhamdulillahna, tutuwuhan haréjo masih dijagi tarapti. Tangkal badag dipelak, dicéboran saban mangsa. Sanaos diwates kluster ogé, ku papagon ti town manajemen.

Kumargi tos janten dayeuh, geuning sangu cikur sareng karédok teu sayogi. Ayana Ékuator salad, daging hayam bodas, diawuran bubuk roti. Diluhureunna dangdaunan, aya salada, léttuce tur daun kalé nu tos di pasihan cairan haseum ditambih kéju bubuk seungit meueusan. Teu hilap endog ceplok ogé aya. Digayem téh ngawitanna nyureng tapi salajengna anteng, geuning raos. Direncangan hiliwir angin ti basisir Saguling.

Photo : Salad Cafe Ekuator KBP / doklang.

Bari nyawang ka nu anggang, suruput kopi saring V60 arabika longbèrry. Nikmat matak peureum beunta, ngepas pisan kana mamarasna. Body-na kandel, napel lami dina handapeun létah tur sawujud baham. Acidityna pas, sedeng tapi najong. Teu hilap seungitna ngadalingding cicirén nu ninyuhna nganggè rasa miwah élmu. Karaos aya tasté bérry nu haseum tapi seugeuuur….

Kangge sagelas nu aya dipayuneun, 25 gr kopina teras digiling. Atos ancur digelutkeur sareng 250 ml cai panas nu haneutna 90° celsius.

Kadé teu kénging digulaan, istuning kopi sosoranganan. Ni’mat pisan, geura cobian. Tempatna di Cafe Ekuator KBP, nu kapungkur tegalan paranti ngangon domba basa tikotok dilebuan.

Ulah hilap, langkung nikmat kedah disarengan ku jimat, garwa rancunit nu salawasna ngait. Silih simbreuh kadeudeuh, nu salawasna pageuh. Wassalam (AKW).

Swimming Pool Grage Sangkan Kuningan

Menikmati kolam renang di salah satu hotel Kabupaten Kuningan.

KUNINGAN, akwnulis.com. Birunya air membawa ketenangan, gemericiknya membuat ritme jiwa kembali selaras setelah didera tugas dan dinamika kehidupan. Suasana alami adalah janji bumi, yang membuat rasa hakiki bahwa manusia dan alam harus bersinergi.

Sebuah konsep yang ditawarkan oleh salah satu hotel di Kabupaten Kuningan ini begitu memanjakan harapan dan menenangkan perasaan bagi yang datang dengan tujuan tugas ataupun berlibur bersama keluarga tersayang.

Anugerah subur menghijau di dataran kaki Gunung Ciremai serta berkah air panas alami yang menjadi keunggulan tersendiri berpadu disini, di Hotel Grage Sangkan.

Bagi yang kepo dan penasaran, udah nggak usah bingung dan galaw. Tinggal buka smartphone, googling, google map atau waze. Pesan via traveloka, tiket.com dan aplikasi sejenisnya… selesai. Karena tulisan ini mah bukan iklan, tapi ceritaku AKW yang nulis. Siapa tahu memang ada yang perlu dengan informasi ini, titik.

“Ih kamu kok jadi sensitif?”
“Bukan gitu, cuma klarifikasi aja”

Lanjuut…..

Photo : Ngopay di Kolam renang / dokpri.

Kembali ke birunya air, maka swimming pool yang menjadi arah tulisan ini. Kolam renang utama yang menjadi fasilitas hotel ini terletak di dalam area hotel setelah melewati lobby. Diapit oleh beberapa ruang pertemuan dan tempat makan atau restauran dengan pemandangan luas alam kuningan bernuansa hijau alami.

Sebelum ke kolam renang, sebenernya terdapat kolam air panas alami dan bagi penginap dapat voucher masuk free. Nah, pas mau masuk dan rencananya ambil photo, ternyata ibu-ibu semua, mungkin rombongan arisan kali. Jadi nggak enak, urunglah mengambil photo kolam air panas ini.

Segera bergeser ke kolam renang yang besar dengan kedalaman 1,8 meter. Biru mengharu menyambut rindu, terang berpendar menjejak sinar. Dasar kolam yang biru ditambah tulisan ‘Grage’ memberikan identitas jelas sedang berada dimana sekarang. Disamping kanannya ada kolam anak, ukuran 5×3 meter, lumayan buat bercanda dengan anak tercinta.

Tak lupa secangkir kopi ikutan didokumentasikan di pinggir kolam. Kopi jatah rapat, tetapi tetap rasanya nikmat.

Jam operasional mulai pukul 07.00 wib sampai jam 20.00 wib. Peralatan handuk tersedia lengkap, jangan lupa kepada petugas tunjukan voucher hotelnya. Kamar bilas berada di arah utara kolam renang, sekaligus akses menuju kolam air panas.

Jadi beres berenang di kolam air dingin, bilas sebentar, lanjut berendam di kolam air panas, nikmatnyaaa. Sayang sekali sore ini meetingnya masih berlanjut, sehingga momen bercengkerama dengan gemericik rasa akan sedikit tertunda. Mungkin baru bisa besok atau lusa. Met ngojay bray, Wassalam (AKW).

***

Alamatnya :
Hotel Grage Sangkan Kuningan
Jl. Sangkanhurip No.1 Kuningan Jawa Barat
Telp 0232-614545

V60 Mandailing di Gedogan Cafe

Menikmati sajian kopi, sambil memandang kendaraan lalu lalang disini.

Photo : Sajian kopi V60 Mandheling ditemani mawar merah/dokpri

DAGO, akwnulis.com. Semerbak aroma kopi menyebar di atmosfer rasa, laksana buih menggenggam samudera. Mengisi relung hari yang penuh dinamika, menjadi lebih ceria meskipun tugas yang terus mendera.

Sebuah kafe di Jalan Ir. H. Juanda nomor 116 ini menggugah selera untuk mampir dan tentu mencoba racikan kopinya seperti apa. Namanya Cafe Gedogan, menyajikan aneka makanan minuman dan tentu ada kopiiii…….

Cafe yang buka 24 jam ini tentu bisa menjadi pilihan untuk mengusir penat juga kerisauan hati, dengan nongkrong memandang arus lalu lintas jalan dago sambil nyruput sajian kopi manual brewnya… kayaknya nikmat.

Apalagi bagi orang-orang yang diberkahi kenikmatan disaat meminum sedikit demi sedikit sajian kopi yang bagi sebagian orang adalah kopi pahit yang tidak enak.. hueek.

Photo : Suasana Gedogan Cafe Dago/dokpri.

Padahal nikmaat bingit, ingat falsafah kopi yang wajib dipegang teguh, ‘Pahitnya kopi bisa mengurangi atau malah memusnahkan pahit getirnya kehidupan’.

Ingat ituu….

***

Kali ini pilihannya jatuh pada bean Mandailing arabica. Segera diproses tanpa banyak kata. Mengikuti Sang Barista Jajang Nurjamil memainkan peralatan manual brew V60 dengan komposisi ala Cafe Gedogan dengan harga 21ribu + ppn 10%.

Tadaaa…. hasilnya tersaji apik di botol kaca agak tinggi yang berfungsi menjaga suhu tersaji tetap dengan panas yang stabil. Juga cangkir mini plus 1 buah kue kecil. Ditemani vas bunga berisi bunga mawar artifisal memberi suasana berbeda.

Srupuut….. eh photo dulu buat di blog ini.

***

Bodynya lite, aciditynya juga lite ke medium. Tastenya tidak terlalu detail, ringan-ringan saja… yaa udah aja gitu. Cocok buat pecinta kopi hitam pemula.

Photo : Ngopay bray / dokpray.

Klo buat yang seneng kopi hitam dengan body agak berat, mungkin sedikit kecewa dengan sajian ini. Tapi ya begitu karakter kopinya dan juga komposisi takaran plus suhu air memiliki kontribusi pengaruh yang signifikan.

Over all, nongkrong disini menyenangkan. Mungkin besok lusa bisa mencoba menu kopi manual brew lainnya dalam suasana berbeda. Met ngopay bray, Wassalam (AKW).