Manual brew Arabica Malemdiwa

Nikmati kohitala aceh malemdiwa.

CIMAHI, akwnulis.com. Setelah sekian lama jarang posting tulisan sajian manual brew dengan V60 di rumah, maka kali ini kesempatan itu tiba. Tentu itupun disela-sela jadwal hari minggu yang padat merayap… heuheuheu gaya ya, kayak yang sibuk. Padahal biasa aja kok.

Jangan tanya aktifitas pagi ngapain ya, karena pasti kalau dijawab maka akan ditanggapi beragam. Jikalau sibuk tugas kerjaan kantor di sabtu minggu, maka labelling TKW (tenaga kerja weekend) yang tersemat. Namun jika sibuknya menemani anak kesayangan untuk beraktifitas juga bersama istri tercinta maka muncul komentar BUCIN dan sebagainya.

Yang penting adalah “work life balance” sebuah bentuk kesimbangan yang dinamis antara tugas pekerjaan dan kehidupan pribadi khususnya pola hubungan kebersamaan dengan keluarga.

Maka disaat kesempatan itu hadir, jangan sia-siakan kawan. Keluarkan dan hadirkan semua perlengkapan yang ada. Mulai dari teko kaca kesayangan, filter flat bottom, kertas filter dan jangan lupa beannya dong. Khan ceritanya mau nyeduh kopi manual.

Kopi yang akan di eksekusi, eh diseduh manual kali ini adalah kopi arabica peaberry Gayo Aceh merk malemdiwa coffee pemberian om DaLex. Tetapi tidak bisa terlalu mengexplore karena susah berbentuk bubuk siap seduh. Ya sudah kita syukuri saja, lha wong ini khan pemberian.

Maka siapkan air panas dan sendok takar 15 gram. Tidak lupa aor panasnya melumuri dulu kertas filternya sebelum bubuk kopi gayo ini mengisinya untuk siap berekstraksi mewujudkan sebuah rasa yang hakiki.. jeng jreng.

Air panas yang sudah mendidih langsung dituangkan di teko kaca. Bersiap untuk menyeduh bubuk kasar kopi yang menanti diatas kertas filter putih nan bersih. Langkah pertama adalah menuangkan air panas pada kertas filter yang ada. Baru langkah kedua adalah menuangkan air panas diatas bubuk kopi yang sedari tadi menanti.

Currr….

Rasa harum menyambar hidung, menusup ke otak sehingga memberi sejumput kedamaian, ahaay bahasanya. Putaran kanan teko kaca melengkapi prosesi seduh manual ini. Hmmm nikmaaat.

Tetesan cairan kopi yang dinanti sudah hadir menapaki bejana kaca. Kebeningan coklat hitam yang menggoda. Tanpa perlu lama, maka dituangkan di cangkir pyrex kesayangan. Siap dinikmati…

Sruputttt…. hmmmm sebuah rasa memenuhi dahaga ngopay kali ini. Ada rasa lembut yang menyapa mulut dan seulas kesegaran. Body coffeenya medium cenderung bold, acidity stabil dan aftertastenya agak sulit mengidentifikasi, tapi kayak stawberry dan jeruk lemon. Tapi nggak yakin ah, coba sruput lagi.

Srupuuut.. enak tenaan. Mbulet gitu si rasanya, tidak tajam menghenyakkan usus. Meskipun keharumannya relatif standar saja. Tapi yang paling disyukuri adalah momentum untuk bisa nyeduh kopi manual dengan kopinya yang hadir jauh dari aceh mengarungi perjalanan yang tidak sebentar. Selamat sruput hari ini dan jangan lupa untuk bersyukur. Wassalam (AKW).

Kopi & Tabungan.

Ngopi obat galau serta jadi bijak mengelola tabungan.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah bisikan senja menemani kegalauan hati yang sedang merana. Terdiam tanpa bisa menghasilkan rangkaian kata, tetapi hanya berputar di dalam amigdala dan neocortex saja bahwa hari ini begitu terasa menderita. Padahal mungkin sederhana jikalau ditelusuri penyebabnya, yaitu berawal dari kebingungan karena kebutuhan keuangan yang ternyata terjadi ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran.

Mengapa menjadi galau, khan pendapatanmu besar kawan?” Sebuah tanya membahana dan menohok rasa sehingga sulit memberikan jawabannya. Ingin rasanya memberi penjelasan rentetan kata betapa beban pengeluaran bulanan begitu ketat dan dipengaruhi urusan eksternal yang fluktuatif. Tapi sebuah gengsi menahan diri untuk tidak mudah mengeluarkan curahan hati sehingga kesan pria cengeng akan menjadi label abadi.

Maka sambil terdiam dan menata hati, pemikiran terus berjalan mengevaluasi diri tentang mengapa ini semua terjadi. Runutan data – data keuangan segera disingkap dan diingat kembali, berbagai peristiwa yang telah terlewati dan terbukti membutuhkan sejumlah uang kembali dihitung meskipun tanpa coretan tinta namun dihitung garis besarnya saja.

Sebagai pelengkap sebagai obat penyembuh kegalauan, tak lupa seduhan kopi manual tanpa gula dengan metode filter menemani dalam indahnya kepahitan rasa. Sekaligus mengingatkan bahwa kegalauan ini tidak seberapa. Karena ternyata cara terbaiknya adalah bagaimana mengendalikan dan melawan keinginan diri sendiri.

Maksudnya bagaimana melawan diri sendiri?”

Pertama adalah menata kembali kedisplinan diri dalam mengeluarkan uang untuk segala kepentingan. Ketatkan uang agar tetap bertahan di rekening agar tidak kering. Yakinkan diri agar tidak semudah itu menggesek kartu debit atau kredit plus scan QR di berbagai merchan karena sebuah keinginan semata atau rengekan anak dan permintaan istri, tetapi harus rasional.

Kedua adalah menjadi nasabah yang bijak sehingga dalam menggunakan produk perbankan tidak hanya terpaku terhadap satu produk dan fasilitas saja. Jalin komunikasi dan manfaatkan berbagai produk agar penyisihan uang kita lebih efektif dan bisa tersimpan dengan baik. Meskipun dengan perkembangan teknologi informasi saat ini betapa mudahnya uang yang ada di rekening kita mengalir keluar tanpa terasa, eh terasa sih. Tetapi secara psikologis kok ringan ya mengeluarkan uang 1 – 2 juta karena tidak melihat phisiknya.

Coba kalau kita ambil cash dulu di ATM, baru digunakan membeli atau membayar sesuatu, maka terasa berbeda.

Nah kalau mengacu data yang ada dari Publikasi Otoritas Jasa Keuangan dalam kurun waktu 1 tahun periode april 2021/2022 terdapat peningkatan tabungan sebesar 0,30% (Rp 652.125 Miliar) dan peningkatan tabungan sebesar 0,13% (Rp 325.042.Miliar) dari data tersebut terlihat bahwa trend menabung mengalami peningkatan dari sisi dana pihak ketiga yang terkumpul.

Makin banyak orang menabung, tinggal bijak tidaknya kita sebagai nasabah untuk menggunakan tabungan tersebut.

Ketiga adalah manajemen keuangan yang mengacu pada philosopi keuangan yaitu “Don’t put all your eggs in one basket”. Istilah ini umum di dunia investasi, tetapi menabungpun adalah salah satu investasi terdahulu yang sangat umum serta dikenal oleh kita semua. Maka sebagai nasabah yang bijak jangan hanya menyimpan uang dalam bentuk tabungan saja di bank BRI tetapi juga produk lain seperti deposito, tabungan berjangka, logam mulia ataupun KPR.  Perlu mulai juga mengenal dunia saham meskipun diawali dengan investasi recehan. Syaratnya adalah jangan takut mencoba tetapi banyak bertanya dan mencari referensi yang jelas tanpa tergiur oleh pihak yang bermulut manis menjanjikan gain yang tidak masuk akal.

Sruput kopinya dulu kawan, body dan acidity yang berpadu medium bold dilengkapi aftertaste rasa berry dan kesegaran lemon membantu kurangi kegalauan sore ini. Perlahan membuka hati bahwa semua hal harus direncanakan termasuk urusan keuangan.

Selain sebagai individu yang belajar melek tentang pengelolaan keuangan sekaligus belajar sebagai penyuluh digital yang membantu saudara kita lainnya untuk bersama-sama paham tentang pengelolaan keuangan. Juga sebagai pengendali diri sendiri dalam mengelola keuangan secara bijak dan terukur. Bagi yang sudah berkeluarga maka keputusan pengelolaan uang harus berdasarkan diskusi bersama sehingga bisa saling melengkapi dan menyempurnakan pengambilan keputusan yang ada.

Karena tidak sedikit dari kita yang pengelolaan keuangannya mengalir begitu saja. Dapat gaji bulanan atau pendapatan dari usaha dan langsung digunakan untuk keperluan bulanan. Di saat tertentu ternyata tertekan atau stres yakni pada saat keuangan tidak seimbang antara pendapatan dan pengeluaran, atau ada istilah tentang gaji ‘lima koma’ yang artinya bukan gajian sebesar Rp 5 koma sekian juta tetapi tanggal 5 sudah koma karena gaji habis untuk keperluan bulanan saja.

Nah, diri inipun sekarang menyadari bahwa keputusan 2 tahun lalu dikala berinvestasi membeli rumah dengan mengambil KPR ke bank tentu memiliki konsekuensi untuk disiplin membayar cicilannya sementara rumah satu lagi yang digadang-gadangkan laku terjual, hingga saat ini masih betah menjadi bagian harta tidak bergerak yang menunggu jodoh pembeli. Akibatnya ketidakseimbangan terjadi dan disadari bahwa kedisiplinan dalam menghemat pengeluaran bulanan adalah harga mati. Meskipun disiplin ini begitu berat dan penuh godaan ingin berbelanja hehehehe. Lha malah curcol ya.

Kembali ke topik tulisan ini bahwa kegalauan sore ini bisa dimaknai memiliki berbagai sisi. Dimensi awal adalah pemahaman untuk pengendalian diri dan disiplin, lalu dilengkapi pemahaman tentang seputar perbankan dan sikap bijak nasabah yang baik serta dimensi luasnya adalah berbagi  wawasan dan pengetahuan plus tidak lupa menikmati kohitala (kopi hitam tanpa gula) sebagai mood booster pamungkas menghadapi tantangan kehidupan yang penuh variasi.

Selamat menghadapai tantangan dan cobaan eh godaan hari senin kawan, Wassalam (AKW).

KOKYO Coffee Pangandaran

Ngopi di KOKYO yuk.

BULAKLAUT, akwnulis.com. Jikalau pagi tadi dimanjakan oleh sajian KOPI & KELAPA di pinggir pantai barat dengan kopi yang seadanya di emak penjual jajanan maka dikala sore menjelang perlu mencoba sajian kopi yang diproses secara manual v60.

Bergeraklah jemari mencari informasi di sekitar layar smartphone dan muncul beberapa pilihan. Sebagai pelengkap maka tanya-tanya juga kepada beberapa orang yang kelihatannya adalah akamsi atau orang sini.

Om kalau kafe atau kedai kopi yang nyediain kopi seduh manual dengan V60 dimana ya?”

Wajahnya agak bingung, trus nunjuk salah satu kafe di depan. Yach sudah kayaknya harus sambil bergerak deh.  Kayaknya salah nanya hehehehe.

Di layar smartphone ada sebuah pilihan namanya KOKYO KOPi, kayaknya sih kopi susu begitu yang biasa anak muda sekarang dengan aneka campuran susu, matcha, coklat dan sebagainya. Tapi ternyata ada juga pilihan manual brew V60, nah ini baru pilihan tepat. Meluncuuur….

Hmmn.. tempatnya gabung sama restoran tapi agak depan dan akses tersendiri. Ruangannya juga enakeun dan benar saja, ada sajian manual brew dengan corong V60 dengan pilihan biji kopinya adalah Enrekang Bungin Nating, Anaerobic wash Exotic java dan Arabica Kerinci Natural.

Pilihannya jatuh pada arabica Exotic Java karena penasaran dengan noticenya yang menyebutkan ada sweet yang exotic.

Nah yang bikin penasaran juga adalah nama cafenya, KOKYO. Lontaran pertanyaan kepada teteh pelayan dan Yoga sang barista disambut dengan kebingungan tapi jadi pe er mereka untuk mencari tahu apa arti sebenarnya. Nah besok lusa mampir lagi harus sudah ada jawaban.

Jangan sampai artinya dalam bahasa indonesia sunda, yaitu ‘Kok Kieu?” Ini mah berarti rasa kopinya nggak enak jadi komplen hehehehe.

Maka jelas bahwa penamaan sebuah cafe coffee tentu harus ada philosopinya. Setelah itu sang owner wajib mengajarkan makna nama itu kepada seluruh pegawainya terutama front office dan barista. Jadi tidak akan bingung lagi disaat ada pelanggan iseng dan nanya-nanya.

Urusan rasa dari kohitala yang tersaji lumayan enak, ada keseimbangan body dan acidity serta aftertaste yang menyegarkan dilengkapi dengan suasana cafe yang ditata apik meskipun mungil tapi cantik.

Yang penasaran dan pengen ngopi disini yaa googling aja. Tapi kalau malas googling lokasinya sebelah kiri terhalang 2 bangunan daru hotel Arnawa Pangandaran. ‘Hotel arnawa sebelah mana?’… monggo googling lagi.

Udah ah, sekarang mah sruput dulu ah….. hasil karya barista KOKYO Coffee. Alhamdulillah. Wassalam (AKW).

Antara KOPI & MAKSI

Sebelum maksi sruput kopi.

SETIABUDI, akwnulis.com. Suara alarm perut mulai berdentang disertai sukacita air liur yang berkumpul terbayang kelezatan sajian makan siang. Namun meeting masing berlangsung dan kemungkinan besar akan menabrak waktu istirahat makan sholat eh istirahat sholat makan (Ishoma). Meskipun biasanya ismasho, karena makan dulu dikejar demi kekhusukan shalat dhuhur. Daripada shalat dhuhurnya nggak konsentrasi karena khawatir kehabisan sajian parasman makan siang hehehehe, alasan ini mah.

Maka strategi lainnya adalah mengalihkan perhatian dari rasa keroncongan ini menjadi aktifitas lain yang lebih menarik. Tapi mau ngapain ya?…

Kebetulan kawan di sebelah berbisik dan nawarin untuk ambil kopi dulu sebelum sempat nanti jadwalnya istirahat.

Ide bagus kawan, hayu!” Tanpa basa basi raga bergerak menuju sudut snack break dan memproses sajian kopi dengan peralatan dan bahan yang ada.

Kopinya tentu standar meeting hotel berupa kopi bubuk hitam dan gula yang diwadahi pada keler terpisah serta termos besar berisi air panas. Ya sudah proses saja, yang penting kohitala bisa bersua.

Seperti biasa, setelah secangkir kopi hitam tanpa gula ini tersaji maka sebuah photo dokumentasi adalah bagian dari catatan hakiki. Bagaimana sebuah fragmen kehidupan dalam mencintai sajian kopi menjadi legacy.

Tibalah saat mencicipi, sruputt.. hmmm. Pahit lempeng dan tiasa asam-asamnya. Ketebak oleh lidah sebuah merk kopi, tapi tak perlu ditulis disini demi sebuah privasi. Untuk lebih meyakinkan maka ditanyakan kepada petugas yang mengawal sajian break meeting ini dan direspon dengan anggukan untuk mengiyakan.

Tapi sudahlah yang penting dapet kesempatan menyeruput kopi hitam tanpa gula meskipun sedikit berbeda plus gretongan. Sruput saja sampai tandas.

Alhamdulillah senada dengan harapan, ternyata pas sruputan terakhir ternyata meetingpun usai. Mantaabs, berarti tinggal dilanjutkan dengan kesempatan pertama menikmati sajian makan siang yang begitu dinanti, baru lanjut shalat dhuhur dengan perut telah terisi. Wassalam (AKW).

Asap Misteri & Kopi.

Penasaran itu penting, tapi hati-hati.

SUBANG, akwnulis.com. Selarik asap tipis hadir tanpa diundang, menemani kegalauan yang tetiba datang tanpa diundang. “Tapi apakah ini nyata atau sekedar halunisasi belaka?”

Perlahan mendekati sumber hadirnya asal tipis tadi, ternyata berasal dari pinggir kolam renang yang sedikit temaram. Wah menjadi menarik nich, perlu di eksplore lebih mendalam.

Langkah kaki berjingkat untuk menghindari hadirnya suara sepelan mungkin, mendekat setapak demi setapak. Ternyata asap tipisnya banyak dan tidak hanya dari pinggir kolam, namun dari tengah air kolampun muncul. Penasaran, kolam didekati dan jemari menjulur menyentuh air kolam yang ternyata terasa hangat dan menenangkan.

Met malem pak” Suara agak berat mengagetkanku.

Astagfirullohal adzim” Kaget setengah mati, tiba – tiba ada suara disamping kiri. Seorang pegawai yang mungkun piket menjaga lokasi ini.

Ini airnya hangat ya, tapi nggak sembarang bisa dimasuki?”

Iya pak, tapi memang bisa diakses kalau ada kegiatan”  petugas memberi penjelasan tambahan.

Tring, tiba-tiba ada ide. “Pak, klo buat survey boleh?. Rencana memang kami akan ada kegiatan disini.”

Boleh pak, silahkan. Sebentar saya nyalakan dulu lampu-lampunya”

Wah senangnya, secepat kilat kembali ke villa yang relatif dekat dengan kolam rendam ini. Bawa kopi hasil seduhan manual yang baru tadi dibuat.

Kembali ke tempat tadi, sebuah kolam renang air hangat alami telah tersaji, diterangi lampu sorot yang menjelaskan fenomena asap tipis tadi. Itu berasal dari kolam renang air hangat yang bersumber dari panas bumi Gunung Tangkuban perahu.

Maka bersandinglah segelas kopi hitam tanpa gula dengan kehangatan alami dari air kolam renang dan rendam ini menghasilkan suasana ketenangan alami yang menyentuh hingga ke hati. Apalagi pada saat sruputan kopi arabica natural ini membasahi lidah dan tenggorokan sementara kedua kaki telah otomatis terendam kehangatan malam ditemani asap tipis yang sekarang menjadi teman, bukan misteri seperti awal perjumpaan tadi.

Kegalauan perlahan sirna digantikan kenikmatan dan kesegaran yang berbeda. Momentum keberuntungan ini tercipta dari kesiapan kopi hasil seduh manual yang dimasukan ke tumbler dan kesempatan bersua dengan asap tipis penuh misteri yang berasal dari kolam renang rendam air panas alami. Srupuut.. gujubaar. Wassalam (AKW).

Arabica V60 di Teras Kiara.

Kopi, tugas dan kesempatan.

KIRPAY, akwnulis.com. Semilir angin pegunungan dan suasana damai menyeruak di tempat ini. Bersama selembar kertas menu laminating, menanti untuk dibaca secara rinci dan sesingkat-singkatnya untuk segera dipesan karena menunya memang sesuai dengan harapan.

Menu apa itu kaka?”

Seperti biasa, aneka menu makanan dan minuman khususnya kopi manual brew dengan metode V60 yang ternyata begitu menarik hati. Apalagi yang hadir kali ini bukan orang-orang sembarangan, beberapa orang kedua di OPD provinsi menyempatkan hadir di waktu maksi pada sela-sela rangkaian rapat yang datang silih berganti.

Kebetulan tempat untuk menikmati kohitala dan berbagai menu lainnya ini cukup menarik meskipun posisinya cukup jauh menanjak dari jatinangor, berada di wilayah Sukasari.

Patokannya gampang, ada Kampus LAN RI, lewati dikit dan terlihatlah cafe Teras Kiara. Sekarang dengan tuntasnya jalan tol cisumdawu trase awal, terasa lebih dekat. Karena dari tol gate hanya 900 meter saja. Jadi beres maksi dan sruput kohitala bisa langsung masuk tol an ngabretlah ke kantor untuk menyambut dokumen yang bejibun serta agenda lain yang sudah tersusun.

Tempatnya di lantai atas memberi kita kesempatan melihat kehijauan dan juga kampus LAN RI dimana pernah menjadi tempat ditempa di tahun 2018 dalam kerangka Reform Leader Academy. Suasana cafe yang ditata apik memberi pilihan suasana berbeda. Ada yang lesehan dengan bean bag warna warni, ataupun dengan meja kursi. Juga sofa untuk bersantai sambil sruput cikopay.

Kami memilih meja kursi kayu di area outdoor dan memesan bermacam-macam cemilan plus makanan berat karena judulnya khan makan siang. Tapi tetap menu utamanya adalah sajian manual brew V60 dengan pilihan kopinya adalah arabica halu honey. Sebuah pilihan tepat karena dengan acidity plus body seimbang dilengkapi sejumput rasa manis alami yang menenangkan hati.

Srupuut…. enak. Juga rasa nikmat mengunyah menu makanan dari panggang pisang madu, tahu cabe garam hingga nasi bakar dan sop buntut kekinian.

Semilir angin kiara payung memberi kedamaian. Menemani bincang santai dan makan siang yang bernilai. Karena jarang sekali kami berkumpul dalam suasana ceria seperti ini. Biasanya bersua pada rapat serius yang padat dan perlu tindaklanjut.

Akhirnya tugas juga yang membuat kami bubar tergesa. Bergerak menuju kantor masing-masing demi tugas negara. Wassalam (AKW).

Kopi Kompak

Kompak itu tak selalu baik.

CIMAHI, akwnulis.com. Pagi yang cerah ternyata tidak semua perjalanan menjadi mudah. Perjalanan yang biasanya cukup 30 menit untuk tiba di kantor, sekarang berlipat menjadi tiga dengan 60 menitnya terdiam dan atau bergeser perlahan seolah tanpa harapan.

Jika bicara agenda kegiatan maka jelas sudah berantakan, jadwal meeting pagi terpaksa delay, anak sekolahpun sudah jelas kesiangan. Suara hardikan dan klakson silih berganti tanpa menghasilkan solusi?

Ada apa ini?….

Kalau nafsu sih akan bicara bahwa ini salah aparat ….. eh tapi khan diriku juga bagian dari aparatur sipil negara hehehehe…. ga jadi ah, atuh nyalahin diri sendiri. Meskipun suasana kali ini macet dimana-mana nggak ketulungan, bikin stres.

Jadi karena apa?…. coba dirunut lagi lebih makro, apakah ini terkait dengan ketidakseimbangan pertumbuhan kesediaan jalan dengan peningkatan jumlah kendaraan yang beredar di masyarakat?.. atau karena memang pergerakan rutin manusia dari rumah di pinggiran kota ke kota untuk bekerja adalah penyebabnya?…

Udah jangan pusing ah, daripada mikirin kemacetan mending menikmati kopi hitam. Caranya gampang, buka termosnya … eh salah, siapkan dulu mejanya, pasang gelas kaca mini kesayangannya baru buka termos dan tuangkan… cuuur.

Sajian kopi hitam tanpa gula arabica natural sylvasari gununghalu yang harum mengubah suasana kemacetan menjadi tetap macet tapi suasana hati lebih damai. Ya iya atuh macet mah tetep aja, tapi suasana hati lebih tenang dan bisa menerima kenyataan.

Srupuuut…..
Nikmaat.

Ternyata kalau melihat samping kanan kiri depan belakang dalam suasana macet ini, terdapat satu hal yang mendasar dan membuat kemacetan ini terjadi. Jika dibuat kalimat adalah, “Tidak semua kekompakan itu baik hehehehe”…

Pagi ini semua kompak lho, padahal mayoritas tidak kenal satu sama lain. Kompak hadir bersama-sama dengan motor dan mobil kesayangan pada waktu yang sama meskipun tujuannya berbeda tetapi harus bersua di tempat yang sama.

Kompak banget semuanya, padahal nggak ada broadcast all dan woro-woro untuk berada di jalan ini. Semuanya berkumpul dari utara jalur Baros, selatan dari Margaasih dan Cibogo dari barat adalah Cangkorah dan Batu jajar serta dari timur Cimindi semua berlomba memenuhi ruas jalan Leuwigajah yang segitu-gitunya.

Sudah ah, dipikirin juga tetep aja macet. Ya sudah sruput lagi kohitala manual brew arabica natural yang diseduh tadi pagi di rumah. Srupuut.. Alhamdulillah, kemacetan karena kompak ini ternyata bertahan lama. Sabar sabar dan sabar, Wassalam. (AKW).

Kohitala versi Hotel di Kuningan.

Studi banding kopi di restoran pas breakfast… ternyata.

CILIMUS, akwnulis.com. Setelah dini hari menyeduh kopi lalu tidur dengan lelap karena raga yang lelah memang perlu beristirahat. Ba’da shubuh perlahan menuju balkon dan kembali menyeruput kohitala buatan sendiri sambil memandang suasana pagi gunung ciremai. Betapa indahnya lukisan alam ciptaan Tuhan, Alhamdulillahirobbil Alamin.

Edisi kopi asli tanpa gula buatan sendiri akhirnya habis disruput ditemani kehangatan mentari pagi yang perlahan tapi pasti menyebarkan kedamaian dan keberkahan setiap pagi di dunia fana ini.

Tulisan tentang menyeduh kopi dini harinya bisa dibaca di KOPI & GUNUNG CIREMAI.

Sebagai lanjutannya maka perlu dilakukan studi banding tentang kopi yang ada. Meskipun tidak terlalu berharap banyak dengan rasa dan kualitas kopi tanpa gulanya.

Bersegera mandi dan keringkan badan dengan handuk lalu berdandan… halah berdandan, maksudnya cuman pake body lotion dan minyak rambut saja. Cukup itu. Lalu bergegas ke lantai lobby tempat restoran berada.

Setelah berkeliling lumayan juga pilihan menu untuk sarapannya, ah jadi inget anak istri. Ntar ah diajak nginep disini. Kaki bergerak mengelilingi area restoran hingga akhirnya menemukan yang dituju. Setoples kaca bening berisi kopi bubuk dan setoples lagi gula pasir serta termos besar berisi air panas.

Tanpa perlu dinanti-nanti, segera buka toplesnya dan ambil 2 sendok mucung bubuk kopi ini lalu dituangkan di cangkir yang tersedia. Terus air panasnya dicurahkan perlahan – lahan. Maka terciptalah secangkir kopi hitam panas tanpa gula dengan keharuman yang menggoda, entah kalau urusan rasa.

Beranjak dari situ mencari meja dimana tempat berlabuh, eh tapi lebih tertarik untuk ngopaynya di samping kolam renang yang areanya diluar restoran. Lengkap sudah temanya Ngopay dan Ngojay. Bergegas pamit ke petugas restoran sekaligus ijin, karena cangkirnya akan dibawa keluar menuju pinggir kolam renang.

Udara pagi menyapa serta pemandangan indah Gunung Ciremai yang begitu menggoda. Sungguh kohitala yang penuh makna, karena bukan hanya bicara rasa tetapi juga makna dibalik lukisan alam yang nyata.

Duduk di kursi dan secangkir kopi di meja pinggir kolam renang Hotel Horison Tirta Sanita begitu mendamaikan hati dan mencerahkan pikiran serta menghilangkan kegalauan. Tapi perkara nyebur ke kolam renang terpaksa ditunda dan dikendalikan karena waktu yang tersedia begitu mepet, apalagi dapat informasi Bos besar dua akan hadir secara langsung di acara, jelas kita harus hadir lebih dulu….. semangaat.

Oh iya, sruputannya lupa. Sambil memandang jernihnya kolam renang maka prosesi bibir menyentuh cangkir lalu cairan hitam penuh sensasi ini memberikan pengalaman berbeda. Bismillah.

Srupuuut… hmmm…

Kopi hotel cenderung blend dengan mayoritas robusta yang miliki rasa flat pahitnya serta minus acidity dan aftertaste. Bodynya yang menonjol, tetapi pada kopi tubruk ini ada rasa harum yang menghibur dalam rasa yang terbatas.

Sruput lagi… suegeer.

Itulah cerita singkat kohitala versi manual brew dengan biji pilihan yakni arabica wine versus kopi tubruk breakfast hotel yang juga tanpa gula. Insyaalloh masing-masing memiliki nikmat dengan sudut pandang yang berbeda.

Selamat ngopay gaiis, jangan lupa dinikmati disyukuri dan tulis atau dokumentasikan agar menjadi warisan literasi yang (mungkin) suatu saat akan berarti. Wassalam (AKW).

Ngopay & Gunung Ciremai

Nikmati kopi dini hari, dijamin nikmat dan tunduh…

CILIMUS, akwnulis.com. Tepat tengah malam raga ini menjejakkan kaki dihalaman hotel berbintang di wilayah kabupaten Kuningan. Terasa sepi dan tenang, ya iya atuh khan tengah malam dan lokasinya jauh dari jalan utama. Lengkap sudah.

Tapi tenang kawan, ini bukan cerita horor. Tapi catatan kecil seputar kopi dan kopi yang ternyata selalu memberi ide dan menciptakan jalinan kata untuk membuat jempol bercerita dan mulut terdiam tetapi komat kamit mengunyah ide sekaligus sebait doa karena lorong menuju kamar terasa panjang dan berbeda.

Ayat kursi dan Alfatihah terus dibaca hingga akhirnya masuk ke kamar yang sudah dipesan sebelumnya, “Assalamualaikuuum”

Teriakan salam menguatkan hati memasuki kamar yang sudah dipesan sebelumnya. Terasa sepi dan dingin karena semburan udara dari AC. Nah sebelum bersiap menyeduh kopi, bersih – bersih badan dari mulai cuci tangan, cuci muka, cuci kaki hingga badan… atau lebih singkatnya disebut mandi, segera dilakukan.

Segeeer…..

Jam menunjukan pukul 01.00 wib, sudah harus terlelap dalam tidur pagi ini. Namun efek dari perjalanan yang dipenuhi suasana merem serta terkantuk-kantuk alias nundutan, eh sampai di hotel malah segar, apalagi sudah mandi. Makin fresh.

Sambil menunggu sang kantuk menghampiri, maka pagelaran peralatan kopi manual disiapkan yang sengaja dibawa dari kediaman. Kopi kali ini masih setia dengan arabica winenya Sylvasari Coffee Gununghalu, lumayan 2 X lagi nyeduh masih bisa gaiis.

Kertas filter V60, corongnya, juga gelas bejana kaca tak ketinggalan. Kalau air panasnya tenang, ada fasilitas hotel. Jadi tinggal dipersiapkan saja.

Jengjreng….

Bubuk kasar arabica wine bersatu dengan seduhan air panas dari teko hotel menghasilkan tetesan kenikmatan dan keharuman khas yang mendamaikan. Suasana dini hari terasa semakin berarti.

Setelah semua siap tersaji maka prosesi yang pasti adalah sruput dulu diawali Basmallah dalam hati. Srupuut… nikmaaaat.

Setelah 2 gelas tuntas membasahi tenggorokan, maka sisanya dimasukan ke dalam termos tabung yang sengaja bawa juga dari rumah. Tujuannya untuk dinikmati dipagi hari manakala mentari sudah terbit berbuncah cahaya dengan latar belakang gunung ciremai yang perkasa.

Ternyata 2 gelas eh ternyata masih kurang, maka segelas kecil lagi sajian kohitala ini membasahi tenggorokan. Perlahan rasa kantuk datang dan mendekati tempat tidur lalu pelan-pelan merebahkan raga yang sebenernya sudah lelah dan perlu istirahat…… zzzzzzz.

Selamat memaknai hari dan mengurai mimpi dalam rasa syukur yang tiada henti. Wassalam (AKW).

TEKOFF coffee & Roastery

Tetap bersama sambil menikmati sajian kopi dan segala suasananya.

JOGJA, akwnulis.com. Sebuah kebersamaan dengan keluarga tidak hanya dijalani tetapi harus juga diciptakan ataupun sedikit dipaksakan. Karena dengan kesibukan rutinitas yang mendera setiap hari baik di hari kerja ataupun (sesekali) disaat weekend memang perlu di manage dengan baik.

Apalagi umur anak yang beranjak menuju 7 tahun, sebuah momentum kebersamaan yang harus dirutinkan. Karena seiring bertambah usia anak, mereka akan punya dunia sendiri dan cenderung malas jika berkegiatan bersama orangtua (kata para senior eh teman, saudara dan kolega yang rata-rata anaknya sudah beranjak masuk bangku kuliah atau sekolah menengah atas).

Maka jika ada sempat dan waktu yang tepat, manfaatkanlah berkegiatan bersama. Ayah ibu dan anak dalam suasana yang berbeda dari rutinitas yang ada. Salah satunya adalah membuat sebuah bentuk sasaran bersama atau tema yang sama.

Apa kira-kira yang menyatukan kami?”

Jawabannya adalah jalan bersama, dalam suasana berbeda dan menikmati sajian makanan atau minuman yang disukai bersama. Kalau bapaknya jelas kohitala, berarti pilihannya manual brew coffee dengan metode pour over, V60, plat bottom atau kalau ada dengan shyphon dan ini adalah golongan sajian kopi tanpa gula.

Istri jelas memilih kopi juga tetapi ditemani fresh milk atau steamed milk, maka cafelatte, capucino, picollo atau affogato yang menjadi pilihannya. Sementara anak semata wayang juga sudah punya pilihan menu minuman lho, yaitu babycino dan hot chocolatte, lengkap khan… berarti tempatnya sama yaitu kedai kopi atau cafe kopi…. cusss berangkaaat.

Supaya lebih bermakna dan menantang, maka bingkai pencarian kopi ini ngikutin gaya generasi z dan millenial yaitu dengan kata kunci ‘hidden gems‘.

Jadi mari kita hunting tempat kopi yang tersembunyi, tentu versi kami. Berarti tidak perlu jauh tetapi memang relatif tersembunyi. Kebetulan kali ini, kami bertiga sedang beredar di Kota Jogjakarta.

Tempat pertama di sekitar daerah Sagan, dengan mengandalkan info dari Intagram lalu ditindaklanjuti dengan searching di google map plus didampingi sopir yang cukup hafal jalan ninja, maka tempat menikmati kopipun dapat ditemukan.

Namanya TEKOFF coffee & roastery, sebuah tempat ngopi yang homy. Jauh dari kebisingan jalan raya dan sepintas jika melewatinya tidak terlihat keramaian penikmat kopi. Hanya banyak motor parkir saja. Satu dua mobil yang parkir pinggir jalan. Pas melangkah masuk awalnya agak ragu karena ternyata banyak sekali yang lagi kongkow dan anak muda semua. Tapi cuek aja dan mencoba masuk menuju sang barista yang sedang beraksi.

Ternyata di dalam terdapat ruangan lagi yang ber-AC dan relatif kosong karena mayoritas pengunjung menggunakan tempat diluar untuk ngopi sambil merokok serta memang spacenya lebih luas. Nama IGnya @tekoffyk.

Kami bertiga leluasa ngobrol dengan mas Kiki, baristanya. Jelas pesanan kopinya kohitala, manual brew V60 dengan biji terbaiknya… eh ternyata arabika puntang… mantabbs. Istriku memilih cafelatte dan anak tersayang menunjuk hot coklat. Berhubung anak kecil ini cerewet dan nanya terus tentang kafe ini, ternyata dikasih bonus, segelas babycino, Alhamdulillah. Tidak lupa sopir juga pesan kopi susu gula aren dan menikmatinya di area luar karena sambil merokok.

Sebuah kebersamaan yang dapat dinikmati sesuai keinginan hati. Kopinya dapet, kumpul keluarga kecilnya juga. Sebuah kesempatan berharga yang akan menjadi kenangan indah disaat anak kesayangan ini beranjak dewasa.

Hidden gems tentang kopi yang kedua dan seterusnya adalah… tunggu ditulisan selanjutnya hehehe. Pantengin aja blog ini. Hatur nuhun. Wassalam (AKW).

****

TEKOFF Coffee & Roastery
GK 5 1053B Jl. Sagan Tim, Terban. Kec Gondokusuman Kota Yogyakarta.