Kartu vs Surat

Terkadang perbedaan itu disadari bersama , tapi…..

Sebuah kesepahamanan turun temurun bisa menghasilkan suatu kata atau istilah yang memiliki arti atau bentuk nyata yang bertolak belakang dengan keberadaan kata atau istilah itu sendiri.

“Ah masa sih, teori apa itu?”

“Ih bukan teori, tetapi kenyataan lho”

“Asal ceplak aja, mana bukti istilahnya?” Tantangan untuk beradu pembuktian menghasilkan semangat untuk menggali lebih banyak tentang istilah, arti kata dan makna harfiah sebuah kata atau istilah, yaitu :

Kartu & Surat

“????..?”

“Nggak usah bingung, yuk kita bahas atu-atu”

Pertama tentang kata KARTU, berdasarkan kbbi.web.id adalah (noun)
Kertas besar berbentuk persegi panjang (untuk berbagai keperluan, hampir sama dengan karcis). Trus klo versi bahasa inggrisnya (sumber : google dictionary) ada 2 pengertian yaitu :
1. a piece of thick, stiff paper or thin pasteboard, in particular one used for writing or printing on. (selembar kertas tebal atau kaku atau papan tulis tipis, khususnya yang digunakan untuk menulis atau mencetak)
2. a small rectangular piece of plastic issued by a bank, containing personal data in a machine-readable form and used chiefly to obtain cash or credit. (sepotong kecil persegi plastik yang dikeluarkan oleh bank, berisi data pribadi dalam bentuk yang dapat dibaca mesin dan digunakan terutama untuk mendapatkan uang tunai atau kredit).

Nah klo baca pengertian yang versi bahasa inggris ada benernya juga jikalau kartu itu tidak hanya berbentuk kecil tapi dalam bentuk selembar kertas. Meskipun kenyataannya secara umum pasti sepakat bahwa kartu itu bentuknya kecil sementara untuk selembar lebih cocok disebut surat…

“Bener nggak bro?”

“Benerrr!!!”

Kenyataannya kontradiktif lho…
Coba telaah Kartu Keluarga (KK) dan Surat Ijin Mengemudi (SIM).

“Kartu Keluarga itu bentuknya selembar kertas sementara SIM itu bentuknya kartu… bener khan?”

…..emmmh….

“Bener jugaa”

***

Tapi yang lain bener ah, KTP, Kartu BPJS, Kartu Kredit, Kartu ATM… berarti Kartu Keluarga aja sama SIM yang missleuk (beda sendiri).

“Jadi moo diusulin ke pihak berwenang buat ngecilin Kartu Keluarga dan SIM digede-in jadi selembar kertas?”

“….emmmmh….”

“Nggak usah, biarin jadi wacana dan hiburan semata. Lha wong everything it is Ok… lumayan buat hiburan plus jadi bahan tulisan blog dengan tema ‘iseng’, hatur nuhun” (AKW).

Enggan

(Puisi) hanya enggan yang membelit asa bersahabat dengan prasangka

Photo : Dokumentasi Pribadi

Kepak sayap menggoyah takdir, Muncratkan riak benamkan air,           Sunyi menyita asa penyair,                     Yang hanya mampu sesaat mampir.

Seruling senja semburkan doa,         Berpadu padan dibelah rasa,             Tangguh & rapuh hanya berbatas kata, Tanpa kepastian berbalut hampa

Berujar mengantar uraian makna,  Bersikap lapang meski bukan harapannya,                                                 Tapi tindak harus terlihat nyata,         Dibalik kabut tebal penguasa

Biru langit tinggal kiasan belaka, Menghijau hutan hanya cerita lama, Gambar pemandangan adalah jagoannya, Semua sepakat sawah harus tetap ada

Anak gembala masih ceria,             Meskipun kerbau telah beralih rupa,  Tidak lagi bau dan sering sendawa,  Karena sekarang hanya ada di genggaman mata

Terkadang kenyataan berpihak  ke masa lalu, Membuat yang terlibat terbelit malu, Meskipun tak sedikit yang jadi mau, Padahal ancaman berujung pilu

Santun tergantikan arogansi,                   Rasa sabar tinggal basa-basi,                     Pijit smartphone semua beraksi,          Tetapi bukan untuk berdemonstrasi

Kepak sayap menjauh sunyi,       Menunduk malu menatap bumi,               Ini bukan lagi masalah janji,                    Tapi tepatnya pertaruhan harga diri

Gajahenam230717 (Akw)