Maher Coffee.

Mengendalikan keinginan dengan Ngopay.

Photo : Arabica minang solok pake V60 / dokpri

TASIKMALAYA, akwnulis.com. Sebuah hasrat perlahan tapi pasti mengkristal menjadi keinginan kuat terhadap sesuatu. Secara sadar dan tidak disadari mulai menyusun pembenaran agar keinginan ini bisa segera diwujudkan, yang mungkin dengan berbagai ihtiar, metode dan doa.

Tetapi ternyata kristalisasi harapan ini berada di ranah angan karena ada hal fundamental yang tidak mungkin dilanggar….. akh… nyesek euy.

Kenyataan memang terkadang tidak sejalan dengan harapan. Disinilah kedewasaan berfikir berperan, bagaimana mengendalikan keinginan dan dengan cepat berusaha menerima kenyataan (padahal kenyataannya harus bersusah payah, karena yang tersulit itu adalah melawan keinginan diri sendiri).

Meskipun itu sangat berat dan butuh perjuangan, tetapi memang harus dilakukan, karena itulah kehidupan.

Urusan apa sih, kok kayaknya serius banget kakak”

Pertanyaan sederhana penuh rasa kepo-isasi, hampir saja menggoyahkan rahasia angan yang sebenarnya sedang berusaha dilupakan dan dihapushilangkan dari sisi memory di dalam neocortex ini.

Sudahlah, biarkan keinginan ini musnah dan melarut pada cairan hitam di gelas kaca yang memberi pengalih kenikmatan sehingga kembali bisa ajeg memaknai berbagai situasi kehidupan.

Yup, pahitnya kopi dan getirnya rasa dapat menggantikan kegetiran kenyataan hidup yang sederhana. Minimal bisa teralihkan dengan menyecap pahitnya kopi tanpa gula yang diproses manual penuh rasa suka cita oleh sang barista.

Kopi yang tersaji adalah arabica tolu batak keluaran Noah Barn (kayak kenal inih mah….) yang langsung diproses manual brew V60.

Hasilnya sajian kohitala panas yang menenangkan, dark coklat dan karamel menyapa di after taste dengan body dan acidity mesium… eh medium…. yummmy… srupuuuut.

Photo : Arabica tolu batak / dokpri.

Supaya seimbang pengendalian diri dari kristalisasi keinginan yang membuncah ini, maka tidak hanya sajian manual brew kohitala panas saja. Tetapi dilanjutkan dengan javanesse (manual brew dengan es batu yang siap di gelas untuk menampung cucuran eh tetesan hasil brewing)… pilihannya jatuh pada arabica minang solok dari Minatour roastery….

Monggo prosesss….

Sajian kedua kohitala japanesse (kopi es) semakin menyegarkan rasa dan menguatkan kendali perasaan untuk tetap berpegang pada realita tanpa tertelikung keinginan yang membabi buta.

Sruput lagiiii…..

Jangan takut dengan angan dan keinginan, tapi hadapi dan kendalikan. Sebagai pengalih perasaan, maka pilihlah kopi manual panas dan japanesse, insyaalloh perasaan kembali seimbang dan angan yang membuncah perlahan terkendali meskipun tidak berarti sirna sama sekali. Selamat berkawan dengan keinginan dan mengendalikan angan. Wassalam. (AKW).

***

Lokasi :
Maher Coffee, Jl. R.Ikik Wiradikarta No.6 Yudanagara. Kec. Cihideung Kota Tasikmalaya Jawa Barat.

Keinginan vs Berat Badan.

Keinginan harus memperhatikan banyak hal.

Photo : Masih 58-62 kg – 2005 / dokpri.

CHAPTER I

PURWAKARTA, akwnulis.com. Sejak beberapa tahun lalu, ada rasa yang tidak biasa, muncul suatu keinginan yang berbeda dikala melihat berita ataupun sekedar cerita tentang sesuatu yang menantang diri untuk dicoba.

Meskipun terus terang terasa sangat riskan dengan kondisi sekarang, maksudnya kondisi phisik yang sangat berbeda dengan masa lalu yang bugar, segar dan ringan.

“Kok ringan sih gan?…”

Sebuah pertanyaan pendek yang ternyata malah menjadi terawang panjang akan cerita masa silam. Dimana masa-masa ideal…. ahay. Maksudnya berat badan masih dibawah 60 kilogram, tepatnya 58 kilogram dengan penampilan unyu-unyu dan badan tegap baru lulus pendidikan…..

Tapi… hanya berselang 3 tahun, peningkatan berat badan begitu cepat bergerak bagaikan deret ukur bukan deret hitung, hingga menyentuh angka 100 kilogram, fantastis…… hampir meningkat 2x lipat.

“Kenapa itu bisa terjadi?”

Jikalau diingat lagi, ini adalah kombinasi dari berbagai faktor yamg saling melengkapi. Pertama, disiplin olahraga yang musnah ditelan rutinitas baru menjadi pns muda. Lari pagi rutin sudah ditinggalkan, push-up 100x perhari sudah terlupakan serta olahraga rutin lainnya.

Kedua, makan tidak teratur. Maksudnya bukan jarang makan, tetapi jarang makan tepat waktu…. jadi makannya kapan saja dan lebih sering sehingga bukan sehari 3x… bisa sehari 7x hingga 8x… ajib khan?

Ketiga, yang dimakannya adalah makanan enak berlemak dan santan bikin nikmat. Sesekali sih sayuran dan buah, tetapi mayoritas adalah makanan resto padang, kikil/tunjang, gule kepala kambing, lidah, sop kaki, sop buntut, sate lemak dan beragamnya, rendang, seafood, serta bakso rudal, bakso keju, mie ayam, cuankie indomie, aneka kerupuk dan keripik, plus kue-kue serta snack yang selalu tersaji hampir setiap saat (waktu itu).

Keempat, aktifitas begadang yang cukup sering seiring tugas jadi ring 1 orang nomor 1 di Sumedang waktu itu ditambah status bujangan yang masih mencari pencerahan jiwa, sehingga waktu 24 jam serasa kurang untuk menjalani kehidupan.

Kelima, ketersediaan makanan dan kudapan serta minuman yang always ready di rumah dinas ataupun ditempat acara, tinggal ambil nikmati dan bahagia.

Photo : Posisi 99 Kg / dokpri.

Keenam, tentu tekanan tugas yang bejibun dan tak kenal waktu termasuk tiada kalender libur sabtu minggu, maka kompensasinya adalah jika tertekan maka makan, sedih langsung makan, senang juga makan, akhirnya setiap bulan musti ukur ulang baju yang dipakai karena lingkaran pinggang terus membesar.

“Oh my God”

Singkat cerita, 3 tahun ‘penggemukan‘ telah berlalu dan seiring perubahan rezim yang berkuasa maka kesempatan berpindah tugaspun terbuka…. Nyatanya, mengembalikan berat badan ke berat ideal semula terasa sia-sia karena di tugas lapangan justru semakin besar kesempatan kita bertatap mata dengan masyarakat yang begitu bersukacita di kala kita bisa menyantap dengan lahap hidangan yang disajikan oleh mereka.

“Oalaaah… terus sekarang udah kelihatan lebih ramping gan”

“Ramping pale lo, ini masih di angka kepala sembilannnnnn sembilaan”

“Lemu nian gan, heu heu heu”

***

Perbincangan sengitpun berhenti seiring dengan rencana dan keinginan yang terpendam ini, sebuah pertanyaan menggelayut, “Dengan berat badan sekarang, kira-kira mampu nggak yaaa?”

“Mampu apa siih?”

Penasaran yaaaa?…. sebagai jawabannya monggo klik DISINI SAJA : CHAPTER II. Wassalam (AKW).

***