Bikin Detox Margarita.

Mencoba buat sendiri, Detox Margarita…. hasilnya…

Photo : Detox Margarita-ku / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Setelah mereview minuman sehat ‘detox margarita, hadir seuntai janji untuk mencoba membuat sendiri, tentu dengan resep ala-ala. Ditambah beberapa request dari pembaca setia blog ini yang penasaran gimana cara buatnya, maka… mari kita coba.

Kembali ke beberapa hari lalu, pas pertama kali menikmati ‘detox margarita’ala Greenandbeans yang menyegarkan dilanjutkan dengan membongkar sisa-sisa minuman….. yang hadir di hadapan mata adalah potongan batang sereh, daun sirih yang diremukkan, potongan jeruk lemon dan es batu yang sudah hampir hilang karena berubah menjadi cairan.

Nggak banyak cingcong, pada kesempatan pertama ke supermarket, tentu dengan full masker, handsanitizer dan jaga jarak dengan semua orang maka beberapa bahan tersebut bisa dibeli sebagai persiapan membuat minuman segar ini di rumah.

pendek cerita… sang waktu bergulir…

Sekarang sudah siap dengan semua bahan yang ada, tapi eits…. ada yang salah… yang dibeli bukan daun sirih ternyata… tapi daun salam… wkwkwkwk dasar bapak-bapak, ini mau bikin sayur kali yeee?…

Tapi bingungnya tidak lama sebagai pengganti daun sirih hijau, karena di halaman belakang ada tanaman sirih meskipun sirih hitam. “Yang penting daun sirih, ya khaaaan?”

Setelah semua siap, resepnya eh caranya adalah :

1 lembar daun sirih hitam
1 buah batang sereh/serai
2 potongan jeruk lemon
1 sendok teh madu dan 400-500 ml air panas

Pertama, bersihkan semua bahan dan cuci dengan bersih.
Kedua, batang serai dipotong 3 bagian dan digeprek agak remuk.
Ketiga, daun sirih diremas agar sedikit hancur.
Keempat, masukan ke dalam gelas atau botol atau poci satu persatu.
Kelima, siram dengan air panas sekitar 400-500 ml

Biarkan 15 – 20 menit, dan setelah itu siap dinikmati.

Panas dan hangat dong?”

Aku sih senengnya yang hangat-hangat panas, meskipun aslinya pake es batu, jangan salah kawan, dengan kehangatan ini lebih nikmat lho.

Yaa klo moo ikutan aslinya, tinggal ditambah es batu aja, gampang toh.

Lagian ini adalah eksperimenku juga, seperti ditambah madu untuk pemanis, itu dikira-kira aja. Bisa lebih banyak tergantung selera. Tapi aku sih sedikit aja madunya karena memang udah maniees dari sonohnyah… ahaay.

Aku sih pake botol plastik bekas minuman yang berukuran 500ml, lalu diminumnya dituangkan ke gelas kecil… sruputt.. nikmat.

Alhamdulillahirobbil Alamin, rasanya pas, mirip dengan yang dipesan kemarin. Daun sirihnya tidak pahit pahang, malah segar dan sedikit menjadi nyereng rasa mint ditambah sedikit rasa manis dari madu dan segar hangaaat pokoknya mah…

Berhasil…. berhasilll… berhasill..

Srupuut…..

Malah dicoba seduh lagi untuk kedua kalinya dengan 400ml air panas dari dispenser, tetep muncul rasa segar bahan-bahan alami tersebut.

Begitu deh, pembuatan ‘detox margarita’ ala akwnulis.com, selamat mencoba. Wassalam (AKW).

Beda sendiri

Beda sendiri, siapa takuut….

Photo : Beda sendiri / dokpri.

SETIABUDI, akwnulis.com. Terdiam dalam kesendirian bukanlah sebuah kenestapaan, tetapi justru menjadi suatu celah peluang untuk menunjukan segenap potensi dan kemampuan.

Meskipun memang awalnya perlu perjuangan keras dalam kerangka penyesuaian, tetapi selanjutnya bisa lebih landai nyaman dan mendatangkan kedamaian.

Termasuk juga sebuah kesempatan langka, karena dari awal sudah dianggap berbeda, maka tunjukanlah kelebihan potensi diri tanpa menjatuhkan harkat martabat rekan di kanan kiri.

Kemampuan lebih bisa ditonjolkan tetapi tetap berbalut etika dan kesopanan.

***

Photo : Ternyataa…. 🤣🤣 / dokpri.

Kotretan singkat …… yang terinspirasi disaat melihat jeruk dekopon ukuran jumbo berada di tengah-tengah buah mangga.

………Ternyata ada jari jemari kecil yang memindahkannnya. Wassalam (AKW).

Sarapan Goim-Jekisam

Mencoba sarapan dengan jenis makanan yang berkualitas, tapi kok rasanya asing?

Photo : Sajian Sarapan Goim-Jekisam/ dokri.

PURWAKARTA, akwnulis. Pagi meninggi dan mentari berseri. Ada kewajiban diri yang tak bisa dihindari. Apa itu?… makan pagi.
“Hahaha, kirain boker.. eh buang air besar”

“Ah kamu mah mikirnya itu aja, dasar obok!”

Makan pagi alias sarapan, sangat dianjurkan. Mayoritas gaya hidup dan gaya diet mensyaratkan sarapan alias makan pagi.

Ingat yaa…. makan pagi.. sarapan.. makan pagi!!!

“Bukan makan nasi?”

“Bukannn… tapi makan pagi”

“Ah nggak kenyang makan pagi mah, aku tetep makan nasi”

“Ih ngeyel kamu, cubiit geura”

***

Sarapan pagi tidak harus nasi, atau aneka karbohidrat saja. Bisa lontong, bubur, leupeut, kupat, hucap, bacang, lemper, tangtang angin, buras, jagung, kentang, talas, ubi, singkong…. trus golongan gorengan seperti bala-bala, gehu, rarawuan, comro, misro, karoket, lumpia, dan gorengan lainnyaaa…. eh semuanya karbo ya????

Iyaaaa….. 🙂 🙂 🙂

Ada juga yang sarapan dengan minum kopi doang dan rokok, atau gorengan dengan rokok, atau buah-buahan, atau dengan sereal dan banyak pilihan lain.

Tapi kembali ada hal yang hakiki dimana sarapan ini menjadi seni mensyukuri. Sebuah momen yang harus dipahami sebagai bagian penting kasih sayang Allah SWT. Karena mungkin saja, saudara kita dibelahan dunia lain atau mungkin tetangga kita masih kesulitan untuk mendapatkan sarapan di hari ini.

Eh ada juga yang tidak sarapan dengan yang disebutkan tadi, tetapi cukup teguk setetes madu dan 2 sendok teh cairan virgin coconut oil (vco), ini aliran diet ketofastosis (klo nggak salah).

Klo yang sarapan buah-buahan itu biasanya aliran diet food combining, atau memang penyuka buah yang sudah konsisten istiqomah.

Tetapi rasa bosan itu terkadang menghinggapi, sehingga perlu variasi dan inovasi dalam sarapan di pagi hari.

Menu diawal tulisan ini mencoba mewakili. Alhamdulliah rasanya jadi aneh dan menantang. Padahal dipilih potongan jeruk yang berkualitas, goreng ikan mas yang menggugah selera serta sambel dadak yang begitu menggiurkan.

“Tapi kok rasanya aneh dan asing?”

Akhirnya disadari bahwa menggabungkan sesuatu yang menurut kita enak dan baik belum tentu berujung baik manakala komposisinya tidak tepat. Kecuali emang nekat, ya monggo tanggung reskio eh resiko sendiri.

Nama sajian ini GoimJekisam (Goreng Ikan Mas Jeruk Sunkist Sambel). Rasanya campur-campur, manis asin hanyir pedas heu heu heu…..

“Berani?… silahkan cobaa!!”

Photo : Secangkir kopi luwak ala-ala / dokpri.

Tidak lupa secangkir kopi luwak ala-ala dengan metode seduh biasa, disajikan menjadi teman sarapan pagi ini.

Selamat sarapan dan makan pagi setiap pagi kawan, jangan sarapan yang macam-macam juga jangan macam-macam dengan sarapan. Wassalam (AKW).

Garam Bakar (Uyah Beuleum)

Kuliner jadul di Priangan Timur.

Photo : Uyah beureum diatas piring yang dibalik / dokpri.

CIAMIS, akwnulis.com. Tampilannya sangat bersahaja, hanya berbentuk tempat seperti kendi dari tanah liat tetapi mulutnya relatif besar sehingga mudah untuk mengambil apa yang ada di dalamnya. Warna asli tanah liat yang dibakar menghadirkan nuansa merah bata alami, di dalamnya berisi butiran halus berwarna putih dengan rasa khas garam yaitu asin.

“Oh garam toh, lebay kamu mah cerita garam aja meuni repot beginih!”

“Kalem dulu jangan sewot, tulisannya belum tuntas kawan, sabar”

… lanjut nulis lagi.

Itulah ikon khusus warung nasi di perbatasan banjar – ciamis. Namanya Warung Jeruk.

Perkenalan dengan garam bakar atau lebih familiar dalam bahasa sunda adalah ‘Uyah beuleum’ itu udah lama, sekitar 17 tahun yang lalu… oww udah lama geuning.

Yup.. tahun 2001-an mampir pertama di warung nasi yang sederhana sangat sederhana, tetapi pa bos waktu itu, Bupati Sumedang mengajak berhenti disitu. Sesaat celingukan karena yang ada hanya warung nasi kecil.

Photo : RM Warung Jeruk 2018, lebih luas dan leluasa / dokpri.

Ternyata…. sajian makanannya istimewa, ayam goreng kampung dan ikan bakarnya begitu natural ditemani pilihan sambel yang lengkap dari sambel oncom, sambel terasi dadakan serta menu makanan sunda seperti pencok leunca, karedok juga beuleum peuteuy. Nah ‘Uyah beuleum’ pasti yang ditanyakan perdana.

Awal-awal nyoba sih yang terasa asinnya saja, tetapi dicoba dirasa-rasa ada rasa hangat yang berbeda, karena katanya dioleh dengan cinta… ahhaay.

Eh setiap ada tugas ataupun acara keluarga yang melewati perbatasan banjar ciamis maka seolah sudah protap untuk memenuhi kekangenan dengan makanan khas dan nyocol nasi panas ke si Uyah beuleum.

***

Penasaran dengan asal usulnya, maka iseng nanya kepada pengelolanya, ternyata menu Uyah beuleum ini adalah menu pusaka dari ibu sepuh pemilik dan pendiri warung Jeruk ini. “Geura jieun uyah beureum, insyaalloh berkah”

Sedikit dipikirin, mungkin juga ‘Uyah beuleum’ ini adalah menu termurah yang disajikan. Kebayang khan nasi panas, sambel, lalapan dan ‘Uyah beureum’.. selesai sudah, ngalimed.

Udah ah, mau makan dulu yaa. Wassalam (AKW).